Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
38. Trauma


__ADS_3

TIGA hari berlalu semenjak kejadian mengerikan itu.


Kekira masih trauma.


Semua korban berhasil diselamatkan.


Polisi melakukan penggerebekan besar-besaran dan menemukan 15 korban perempuan yang dikurung dalam satu ruangan, tanpa diberi makan dan minum.


Tiga diantaranya meninggal ketika dibawa ke rumah sakit karena mengalami infeksi saluran pernafasan dan dehidrasi akut.


Lokasi penyekapan berada di tengah hutan daerah dingin di Puncak.


Polisi mengumpulkan barang bukti berupa tali, cambuk, tongkat, dan banyak lagi.


Para korban yang trauma diamankan polisi.


Tapi sayangnya, Riga dan Evan alias Andra berhasil lolos.


Kakak beradik itu berkomplot.


Wajah penculik yang dilihat Kekira sewaktu di gua adalah Evan yang ada di foto geng-nya Akbi.


Akbi cs berhasil menemukan mereka ketika menyadari GPS di tubuh Tara sudah tidak terlacak, karena dirusak oleh Evan.


Untung saja GPS di jam tangan Kekira tidak ditemukan, dan mereka berhasil menyelamatkannya sekaligus.


Kekira, Tara, dan Veni dirawat di rumah sakit yang sama.


Tara mengalami patah kaki. Riga menghantam kakinya dengan kayu ketika berusaha melarikan diri.


Kini kaki Tara harus menggunakan kursi roda.


Veni keguguran dan shock kehilangan bayinya.


Sedangkan Kekira dirawat setelah mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan gegar otak ringan.


Masih untung nggak sampe amnesia.


Namun, masalah belum selesai!


***

__ADS_1


Pintu kamar terbuka.


“Veni, ini aku.”


Veni menoleh lemah dengan muka merah habis menangis. Jarum infus masih menancap di tangannya.


Kekira yang juga mengenakan piyama pasien menghampirinya.


“Gimana keadaan kamu, Ven?” tanyanya prihatin.


Mata Veni berkaca-kaca. “Ngapain lo ke sini?”


“Cuma liat kondisi kamu.” Kekira duduk di sebelah tempat tidur. “Alhamdulillah kamu selamat.”


Tangis Veni pecah. Kekira langsung mengusap tangannya.


“Bayi gue, bayi gue, Adinda! Dia udah nggak ada…”


“Sabar, Ven. Yang penting kamu selamat.”


Veni menggeleng sedih. “Gue mau mati aja!”


“Astagfirullah, Veni.. kamu jangan bicara begitu.”


Kekira kaget. “Tiga kali?”


“Ya. Gue bodoh. Sengaja jatuh ke lubang yang sama sampai gue kehilangan tiga calon bayi gue. Waktu SMA gue udah pacaran sama Riga. Dan saat gue hamil, Riga maksa gue aborsi karena saat itu dia masih kuliah. Kedua kalinya gue hamil, ternyata kandungan gue lemah karena Riga kasih gue obat penenang. Kali ini Riga sendiri yang menghabisi bayi kami dengan nyiksa gue habis-habisan.”


Mendengarnya membuat Kekira merinding.


“Kenapa kamu bisa sampai ditangkep Mas Riga?”


“Setiap gue minta dia tanggung jawab, dia selalu ngehindar. Dia kirim video-video penyiksaan itu buat nakutin gue. Dan kemaren itu gue dateng ke kantornya untuk minta tanggung jawab karena ketiga kalinya gue hamil. Tapi dia nggak mau. Dia bilang mau terusin pernikahannya sama lo, karena kalo enggak, Papanya nggak bakalan kasih dia warisan sepeser pun. Karena elo itu calon menantu pilihan Papanya. Gue marah, dan ngancem mau beberin semuanya. Saat itu Riga langsung pukul gue sampai gue pingsan. Begitu sadar, gue udah di vila. Gue ambil HP penjaga suruhan Riga. Saat itu gue cuma kepikiran sama lo, makanya gue chat share location berharap lo dateng nolongin gue.”


Kekira terdiam. Ternyata Veni meminra tolong.


“Tapi begitu polisi datang, semua terlambat. Bayi gue udah nggak ada.” Veni terisak lagi. “Dan kali ini, gue nggak bisa punya anak lagi. Rahim gue udah rusak.”


Kekira memeluk Veni berusaha menenangkannya.


“Kenapa lo baik sama gue?” tanya Veni. “Padahal gue udah jahat sama lo.”

__ADS_1


“Karena kita sama-sama perempuan.” Jawaban Kekira sederhana tapi menusuk halus. “Aku ngerti gimana perasaan kamu. Mungkin selama ini kamu cinta buta sama Mas Riga. Tapi belum terlambat memperbaiki semua.”


Veni melepas pelukannya dan menatap Kekira penuh haru.


“Gue bener-bener nyesel udah nyakitin lo. Lo mau kan maafin gue?”


Kekira mengangguk tulus.


“Gue harus banyak belajar sama lo, untuk jadi orang yang lebih baik.”


“Setidaknya kita bisa jadi temen. Kamu nggak perlu anggap aku musuh.”


“Mengenai pernikahan lo sama Riga, gimana?”


Kekira menggeleng. “Nggak mungkin aku lanjutin pernikahan ini.”


Terbayang wajah Akbi, dan ungkapan isi hatinya.


Sudah tiga hari ia tidak melihat cowok itu.


Hampa rasanya, malu mengakui Kekira sangat merindukannya.


“Gue yakin lo bakal dapet cowok baik-baik.”


Kekira tersenyum.


DEG!


Ia kaget dan menegang.


Kenapa dia merasa ada yang mengintai mereka?


“Lo kenapa, Adinda?” tanya Veni heran.


“Ahh ngg nggak… nggak pa-pa.”


Kekira menoleh sekeliling.


Kamar VIP ini hanya ada mereka berdua.


Kenapa perasaanku nggak nyaman? Batinnya cemas.

__ADS_1


***


__ADS_2