Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Apakah kamu juga mau membantuku berganti baju di dalam?


__ADS_3

"Aku bisa pulang sendiri, aku akan mengantarmu sampai rumah." Ucap Setya berusaha meyakinkan Intan


"Gak mau! Aku yang akan mengantar kak Setya. Kak Setya itu lagi sakit, jadi aku mau pastikan kak Setya sampai rumah dengan selamat!" Tolak Intan dengan melipatkan tangan didada, tanda tak mau dibantah.


"Tuan putri, aku hanya sedikit terkilir. Lagian, rumah aku lebih jauh darimu. Jadi, biarkan aku yang mengantarmu pulang ok?" Ucap Setya dengan lembut agar Intan luluh.


"Gak mau, kak Setya sayang. Lagian, aku juga mau ketemu tante dan Tasya kok. Sudah seminggu lebih aku gak ketemu tante dan Tasya." Kilah Intan mencari alasan.


"Aku itu khawatir padamu, kalau kamu harus pulang sendirian. Jadi, biarkan aku mengantarmu, hm?" Ucap Setya sembari membelai rambut panjang Intan.


"Enggak. Nanti, Intan bisa minta ayah jemput Intan kok, sekalian sepulangnya ayah dari kerja. Jadi, biarkan Intan nganter kak Setya yaa.." Pinta Intan dengan wajah menggemaskan. Tentu saja membuat Setya luluh dan akhirnya mengalah.


"Baiklah ... Tapi, aku ada permintaan padamu jangan pernah menunjukkan wajah menggemaskan ini selain padaku dan ayahmu ya?" Ucap Setya tegas sambil mencubit pelan kedua pipi Intan.


"Siap bos!" Seru Intan dengan senyum kemenangan, karna akhirnya Setya menyetujui permintaannya untuk mengantar Setya.


Saat ini mereka sedang di dalam taxi. Karna, Setya yang terluka tak dapat mengendarai sepeda motornya. Dan mereka terus berdebat untuk saling mengantarkan, tanpa memperdulikan supir taxi yag terus menggelengkan kepala melihat kelakukan sepasang kekasih itu.


Akhirnya, setelah perdebatan yang panjang selama perjalanan sampailah mereka di depan rumah Setya. Intan dengan hati-hati dan lembut membantu Setya berjalan. Setya, tersenyum senang melihat perhatian Intan padanya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Setya dan Intan bersamaan saat memasuki rumah Setya.


"Wa'alaikum salam ... Intan sayang, uh.. tante kangen!!" Seru mama Setya langsung memeluk Intan dengan sayang.


"Intan juga kangen sama tante. Maaf ya tante, Intan baru kesini lagi sekarang." Ucap Intan merasa bersalah.


"Gak apa-apa kok, sayang. Tante uda seneng liat Intan disini sekarang ... Tapi, ada apa dengan kakimu Setya?" Tanya mama yang baru melihat pergelangan kaki Setya yang diperban.


"Kak Setya, tadi cidera waktu pelajaran olah raga, tan. Kakinya terkilir dan gak boleh banyak gerak dulu. Kata dokter, juga gak boleh naik sepeda motor sendiri, mangkannya Intan anterin kak Setya." Ucap Intan menjelaskan.


"Dasar ceroboh! ... Makasih ya sayang, uda anterin Setya. Intan makan malam disini ya hari ini?" Ucap mama dingin pada Setya namun lembut pada Intan.


"Hm, mungkin lain kali saja ya tante. Nanti sepulang ayah dari kantor, ayah akan jemput Intan." Tolak halus Intan.


"Sayang sekali. Tapi, kalau camilan pasti bisa dong, kebetulan tante habis buat puding coklat." Ucap mama antusias.


"Wah, terima kasih tante." Jawab Intan dengan senyuman.


"Tante minta tolong antarkan Setya ke kamarnya ya. Tante akan siapkan pudingnya." Ucap mama lembut.


"Tentu saja tante." Jawab Intan sembari kembali memapah Setya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Saat mereka sudah di depan kamar Setya, Intan terlihat gugup juga penasaran. Karna, sebelumnya ketika Intan kesini, ia hanya melihat kamar Setya dari jauh saja. Saat Setya membuka pintu kamarnya, mata Intan dengan cepat menelusuri pemandangan didalamnya.


Intan melihat kamar Setya yang terlihat sangat rapi, dengan nuansa biru muda dan abu-abu yang memperlihatkan sisi maskulin seorang pria. Walaupun, bukan pertama kalinya Intan melihat kamar pria yang rapi, karna kamar adiknya juga tergolong rapi. Entah kenapa, Intan merasa berbeda sekarang, dia terlihat senang. Karna, bisa melihat tempat dimana Setya sering menghabiskan waktunya.


"Kenapa?" Tanya Setya menyadarkan Intan.


"O-Oh. Ti-Tidak apa-apa. Kamar kak Setya sangat rapi. Hehe." Jawab Intan asal, entah kenapa dia merasa malu.


Setya tersenyum mendegar ucapan Intan. Kemudian, ia berusaha berjalan seorang diri dengan terseok-seok ke arah lemarinya, Setya hendak mengambil baju ganti.


"Kak Setya duduk saja. Biar aku yang ambilin." Seru Intan, sembari memapah Setya untuk duduk di tepi tempat tidur. Kemudian, Intan menuju lemari pakaian Setya.

__ADS_1


"Hm, apakah pintu yang ini?" Tanya Intan sebelum membuka lemari Setya. Dia ingin memastikan lebih dulu yang dia buka benar atau tidak. Setya mengangguk mengiyakan.


Setelah mendapat anggukan dari Setya, Intan segera membuka lemari pakaian Setya didepannya saat itu. Ia melihat baju-baju Setya tergantung rapi disana, Intan juga bisa mencium aroma wangi dari baju-baju Setya.


Baju-baju kak Setya aromanya sangat wangi..


Aroma yang selalu aku cium saat kak Setya memelukku..


Hm, aku mengambilkan pakaian kak Setya seperti ini, kenapa seperti ...


Ah!! Hentikan pikiran bodohmu Intan!!


Seru Intan dalam hati, berusaha menyingkirkan pikiran bodohnya. Ia segera fokus untuk memilih pakain santai untuk Setya. Dia mengambil kaos biru muda dengan celana pendek biru tua.


"Pilihanmu sangat tepat. Aku menyukai setelan ini." Ucap setya saat Intan memberikan baju pilihannya pada Setya. Intan tersenyum senang dan terus menatap Setya.


Setya segera berdiri dan hendak berjalan ke kamar mandi. Intan dengan sigap kembali membantu memapahnya dengan hati-hati.


"Ehm, tuan putri, aku bisa sendiri ... Apakah kamu juga mau membantuku berganti baju di dalam?" Tanya Setya menggoda Intan yang tak kunjung melepaskan lengannya saat mereka sudah di depan kamar mandi.


"Ti-Tidak! Tentu saja tidak! ... Kak Setya ganti baju sendiri saja. Aku akan melihat tante dibawah." Seru Intan gugup bercampur malu. Ia segera berlari keluar kamar Setya dengan tergesa-gesa.


"Huh! Kak Setya selalu saja menggodaku!" Gumam Intan kesal. Ia berjalan menuju dapur tempat mama Setya berada.


"Tante, ada yang bisa Intan bantu?" Tanya Intan menawarkan.


"Tidak perlu ini sudah selesai. Baru saja tante akan ke atas. Kamu kenapa turun? Padahal Kamu bisa menunggu di atas dan tante bisa mengantarkannya." Ucap mama dengan lembut.


"Kak Intan?" Seru Tasya yang baru saja sampai rumah, setelah sekolah.


"Hai Tasya. Baru pulang?" Tanya Intan lembut.


"Iya, hari ini Tasya ada jadwal piket ... Tasya, kangen sama kak Intan." Jawab Tasya sembari memeluk Intan dengan sayang.


"Aku juga." Jawab Intan lembut sembari membalas pelukan dari Tasya.


"Oh ya ada apa kak Intan kesini sekarang dengan masih pakai baju seragam begini?" Tanya Tasya bingung.


"Aku mengantarkan kak Setya karna kakinya terkilir tadi saat jam olah raga." Ucap Intan menjelaskan.


"Terkilir? Apa parah? Kira-kira berapa hari sembuhnya kak? ... Huh, kak Setya memang ceroboh padahal kan bentar lagi mau pesta ulang tahunnya." Gerutu Tasya khawatir bercampur kesal.


"Ulang tahun? Kak Setya?" Tanya Intan bingung.


"Iya, satu minggu lagi kak Setya akan berumur 17 tahun. Dan rencana akan dirayakan. Apakah kak Setya belum memberitahu kak Intan?" Tanya Tasya bingung.


"Tidak. Kak Setya, tidak mengatakan apapun padaku." Gumam Intan terlihat kecewa.


"Mungkin belum. Karna, sebenarnya Setya masih belum memberikan keputusan mau tidak diadakan pesta. Kalau tante sama Tasya sih ingin mengadakannya, karna usia 17 tahun itu peristiwa sekali seumur hidup." Ucap mama menjelaskan.


Apa alasan kak Setya belum memberi keputusan ya? Tidak mungkin karna aku kan?!


"Ehm, tante. Intan ke atas bawakan cemilanya buat kak Setya dulu ya?" Pamit Intan sembari mengambil alih nampan berisikan puding coklat dari tangan mama Setya. Mama Setya pun mengangguk dengan senyuman.

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok


"Kak Setya, apa sudan selesai?" Tanya Intan memastikan sebelum memasuki kamar Setya.


"Sudah. Masuklah." Jawab Setya dari dalam.


Setelah mendapat jawaban dari Setya, Intan pun segera memasuki kamar Setya. Dia melihat Setya yang sudah berganti pakaian dan duduk ditepi tempat tidur. Ia berjalan mendekat ke arah Setya dan meletakkan nampan berisi puding coklat disebelah Setya.


"Makan dulu kak." Ucap Intan pelan tanpa melihat Setya.


"Kamu juga makan, puding coklat buatan mama gak kalah enak sama buatan tante loh." Ucap Setya dengan senyuman.


"Iya." Jawab Intan singkat, sembari memakan puding coklat tanpa memperdulikan Setya yang menatapnya bingung.


"Ada apa?" Tanya Setya bingung melihat sikap Intan. Intan tak menjawab dan terus memakan puding cokltanya.


"Intan, ada apa? Jawab aku?" Pinta Setya yang melihat Intan terus mengabaikannya. Mendengar itu Intan menghembuskan nafas panjag sebelum menjawab.


"Kenapa kak Setya selalu mengorbankan kebahagiaan kakak demi aku? Tidak bisakah kakak sekali-kali juga memikirkan diri kakak sendiri? Kenapa harus selalu mendahulukanku?!" Seru Intan sembari menatap Setya dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa bersalah dan kesal. Setya, selalu menghujani dengan cinta. Namun, dia sendiri belum melakukan apapun untuk Setya.


"Apa maksudmu? Aku gak paham sama yang kamu katakan.." Ucap Setya menatap Intan bingung.


"Minggu depan kak Setya ulang tahun kan? Dan keluarga kak Setya mau merayakannya. Tapi, kak Setya belum kasih jawaban, apa itu karna aku yang masih berusaha melawan traumaku sebelumnya?" Tanya Intan dengan tatapan penuh tanya pada Setya.


Setya, terkejut karna Intan tahu. Mungkin mama atau Tasya lah yang sudah memberitahu Intan. Dia memang gak ingin membuat Intan mencemaskan hal lain dan fokus pada pemulihannya. tapi, tanpa ia sadari dia malah menyakiti Intan.


"Maaf, aku salah. Memang seharusnya aku memberitahu kamu. Tapi waktu itu aku ingin kamu tidak terlalu memikirkannya ..."


"Kak Setya, aku memang bahagia kalau kak Setya selalu ingin membuatku bahagia dengan selalu mendahulukan kebahagiaanku dulu daripada diri kakak sendiri, karna itu tandanya kakak memang cinta sama Intan. Tapi, Intan gak ingin seperti itu. Intan, ingin kita hadapi semuanya bareng-bareng kak. Kak Setya juga perlu memikirkan diri kakak juga. Seperti kakak yang bahagia melihat aku bahagia, akupun juga akan jauh lebih bahagia kalau melihat kakak bahagia." Ucap Intan memotong perkataan Setya.


Setya terdiam mendengar ucapan Intan, apa yang dikatakan Intan memanglah benar. Bahkan, ia sendiri pernah meminta hal yang sama pada Intan. Tapi, dia sendirilah yang mengingkari itu. Dia memendam semuanya sendiri, sampai membuat Intan kecewa.


Tring ... Tring ...


Suara pesan masuk dari ponsel Inran menghentikan obrolan mereka. Intan segera membuka pesan itu.


"Intan pulang dulu. Ayah, sudah menjemput Intan. Kakak gak perlu turun, nanti tante yang akan naik mengambil piring kotornya. Ingat pesan dokter, kak Setya jangan banyak gerak dulu." Ucap Intan sembari beranjak dari duduknya dan hendak melangkah meninggalkan Setya.


"Intan.." Paggil Setya sembari menarik pergelangan tangan Intan pelan.


Setya gak ingin Intan peegi seperti ini, saat mereka sedang marahan. Intan melepas genggaman tangan Setya dengan pelan.


"Intan pergi dulu." Ucap Intan sebelum benar-benar meninggalkan Setya.


Intan jangan marah ...


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2