Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
28. Kedatangan Tara


__ADS_3

ENTAH sudah berapa lama ia duduk melamun memandang langit penuh bintang.


Cuaca malam ini cerah, kontras dengan suasana hati Kekira yang galau.


Ia memikirkan kembali peristiwa yang menimpanya akhir-akhir ini.


Penculikan, teror dari Veni, tekanan dari Riga, sampai Ayah sakit.


Sungguh ia ingin semua berakhir. Namun tidak kunjung berani mengungkap semua pada Ayah Bunda. Karena di mata mereka, Riga calon menantu yang sempurna.


Masih muda, mapan dan sukses.


Apalagi persiapan pernikahan mereka sudah berjalan.


Seandainya Veni berbuat nekat, ia sungguh berharap pernikahannya dengan Riga batal tanpa harus melukai Ayah Bunda juga Pak Reza yang sudah baik padanya.


Tanpa sengaja pandangannya tertuju ke arah kolam renang.


Matanya menyipit.


Ngapain Akbi di situ?


***


Kenapa malem ini perasaan gue nggak tenang?


Gue ngerasa, sesuatu bakal terjadi.


Sesuatu yang bikin semua runyam.


Ada apa ini sebenernya?


Gue masih nggak ngerti apa yang gue rasain sekarang.


Kenapa tiba-tiba gue inget Tari?


Ada yang aneh dengan kata-kata Tari sebelum meninggal.


Memikirkan itu semua membuat Akbi bingung.


Tari meninggal karena ditabrak motor.


Tapi kenapa Tari bisa tau orang yang menabraknya itu anggota geng motor?


Nggak semua pengendara motor itu anggota geng motor.


Akbi tercenung, berpikir keras.


“Berarti kemungkinannya, Tari kenal sama orang itu. Tapi siapa? Tari kan orangnya tertutup. Jarang bergaul. Masa’ iya dia kenal sama anggota geng motor?”


“Bi..”


Ia tersentak dan menoleh.


“Kekira? Ngapain kamu ke sini?”


Kekira mengernyitkan alis. “Lah kamu sendiri ngapain malem-malem ngelamun di kolam renang? Masuk angin lho ntar.”


“Gampang… tinggal minta dikerokin sama kamu,” goda Akbi.


“Yeee maunya..”


“Kirain udah tidur. Eh duduk dong, berdiri mulu kayak satpam.”


Kekira duduk. “Nih aku bikinin cappuccino kesukaan kamu.”


Akbi menerima senang. “Thanks ya, emang istri yang perhatian.”


“Eh!” Kekira melotot. “Sejak kapan kita jadi suami istri?”


“Lho emang belum ya?” Akbi pura-pura bloon. “Kalo gitu, kita resmiin aja jadi suami istri, gimana?”


“Iiihh bercandanya nggak lucu ah..” Kekira buang muka cemberut.

__ADS_1


Akbi terkekeh.


“Kamu lagi mikirin apa, tadi?” tanya Kekira.


“Ngg… mikirin, kalo kita nikah mau bulan madu ke mana.” Akbi tersenyum usil.


“Iiihhhh Akbi mah bercandanya gitu….”


Akbi tertawa dan mengelus kepala Kekira sekilas.


Muncul Nenek dan Tante Vina. Mereka langsung berdiri.


“Bi, Nenek sama Tante mau berangkat ke Sukabumi. Kakek Hamdan meninggal.”


“Innalillahi wa’ inailahi roji’un..” ucap Akbi dan Kekira berbarengan.


Kakek Hamdan itu kakaknya Nenek di kampung.


“Kapan meninggalnya, Nek?” tanya Akbi.


“Sejam yang lalu. Makanya Nenek harus ke sana.”


“Akbi anter ya, Nek?”


“Tidak usah. Nenek mau menginap beberapa hari. Kamu kan mesti kuliah.”


“Tante juga nginep?”


Tante Vina menggeleng. “Tante cuma anter Nenek. Besok juga Tante pulang. Soalnya ada meeting dan minggu-minggu ini jadwal sidang klien Tante lagi padat.”


“Kekira sayang, tidak apa-apa kan kalo Nenek tinggal?” tanya Nenek lembut.


Kekira tersenyum kecil. “Nggak pa-pa, Nek.”


“Akbi, karena ada anak perempuan di sini, Tante peringatin jangan aneh-aneh.”


“Iya lah Tante.. keponakan Tante yang cute ini nurut pastinya sama Tante yang cantik..”


“Hmm mulai deh, pasti ada maunya.”


“Yeee enak aja.. emangnya aku kesambet disiram air mawar.” Akbi sewot.


Tante Vina dan Nenek tertawa.


“Ya sudah kalian jaga diri ya. Kekira, kalau butuh apa-apa bilang sama Bi Nanik saja.”


“Baik, Nek.”


Nenek dan Tante Vina pergi diantar supir.


“Nenek asli Sukabumi?” tanya Kekira.


Akbi menyesap cappuccino-nya. “Iya. Tadinya Nenek mau tinggal di kampung aja. Tapi karena Nenek sakit-sakitan, Tante Vina bawa Nenek ke sini.”


“Pantesan aku belum pernah liat.”


“Waktu kita di Bandung Tante Vina masih kuliah hukum di Prancis. Jelas lah kamu nggak pernah liat.”


Obrolan mereka terhenti ketika HP Akbi berbunyi.


Akbi membaca pesan dan memandang Kekira.


“Kamu belum ngantuk?”


Kekira menggeleng.


“Kalo gitu ikut aku yuk?” Akbi menghabiskan minumannya.


“Ke mana?”


“Ikut aja. Ntar juga kamu tau.”


“Oke deh. Aku ambil jaket dulu.”

__ADS_1


“Buruan.”


***


“Hoy sorry gue telat. Orangnya udah dateng?” Akbi bergabung dengan geng-nya di sebuah kafe.


“Masih otw. Wuihh lo bawa siapa, Bi?” tanya Hendri melihat Kekira.


“Oh ya kenalin ini Kekira. Ki, duduk sini.”


Kekira duduk di samping Akbi sambil senyum kaku pada semua yang memandangnya.


“Hendri, udah disiapin semuanya?”


“Beres, Bi. Tinggal action pokoknya.”


“Good. Pokoknya rencana kita harus berhasil.”


“Rencana apa, Bi?” Kekira belum connect.


“Jadi gini, Ki. Kita berencana mau jebak si penculik, pake umpan cewek yang jago bela diri. Nah si cewek ini bakal kita pasangin GPS sama alat penyadap biar bisa kita lacak.” Egi yang menjelaskan.


Kekira kaget. “Umpan? Apa nggak terlalu ekstrim?”


“Tenang aja, Ki. Temen gue ini atlet muaythai yang handal. Dia pasti berhasil.” Gery menyahut.


“Kalian belum tau kan penculiknya nekat? Aku liat sendiri gimana dia nyiksa korbannya.”


“Makanya harus kita tangkap biar nggak makan korban lagi.”


Akbi menyentuh bahunya. “Kamu tenang aja, Ki. Aku tau kamu masih trauma karena disekap. Tapi meski resikonya besar, ini harus kita ambil, supaya nggak berjatuhan korban lagi.”


Kekira masih tidak tenang.


“Eh tu dia dateng!” seru Gery membuat semua memandang ke arah yang ditunjuk.


Seketika Akbi terkesiap melihat seorang cewek cantik berambut sebahu, mengenakan celana jins ketat, tank top, dan jaket jins.


Sporty dan agak tomboy.


“Kenalin ini namanya Tara. Dia yang akan bantu kita untuk misi penjebakan ini.”


Tara tersenyum datar. “Udah kewajiban gue ngebantu. Apalagi ini menyangkut nyawa dan ketenangan banyak orang.”


Semua memandang Tara penuh kagum.


Tatapan Tara mengarah pada Akbi.


Sejenak mereka berpandangan.


Akbi tidak melepaskan pandangannya.


Apa ini jawaban pertanyaan gue tadi? Batinnya.


Kekira menyadari Akbi berpandangan dengan Tara, penuh makna.


Entah kenapa dia tidak nyaman.


***


Semenjak bertemu Tara, sikap Akbi berubah lebih pendiam.


Kekira pun tidak mengerti karena Akbi tidak cerita apa-apa.


Makan sedikit, jarang bicara, bahkan selalu murung.


Kekira mengira ada yang tidak beres.


Tara memang cewek tomboy yang cantik.


Namun kenapa Akbi sedemikian gelisahnya?


Apa Akbi jatuh cinta pada Tara?

__ADS_1


***


__ADS_2