
Setelah dari rumah Intan, Tasya segera bersiap untuk berangkat menuju mall tempat dimana dia sudah janjian dengan teman-temannya. Hari itu salah satu temannya berulang tahun dan mereka semua berjanji akan merayakan bersama.
Sesampainya di mall, dia segera menuju ke salah satu cafe tempat mereka janjian. Disana sudah ada teman-temannya dan beberapa pria , tentu saja kekasih teman-temannya.
"Hai, maaf aku terlambat." Seru Tasya sembari menarik kursi untuknya duduk.
"Akhirnya kamu datang Sya. Oh ya, ini temannya Dion, Rico. Hari ini dia ikut untuk.merayakan pesta ulnag tahunku. Kamu gak keberatan kan Sya. Tania dan Tina gak keberatan sih. Bagaimana denganmu?" Tanya Tika teman Tasya.
"Ehm, yah gak apa-apa kalau semua sudah setuju. Perayaan ulang tahun kan memang harus ramai." Ucap Tasya dengan sedikit senyuman. Sebenarnya, ia kurang nyaman dengan kondisi saat itu karna ia sama sekali tak mengenali pria didepannya itu.
"Kamu gak apa-apa?" Bisik Tania pelan, memang diantara Tina dan Tika, Tasya lebih dekat dengan Tania. Tasya mengangguk mengiyakan.
"Okey, sebelum kita keliling kita makan dan tiup lilin yuk!" Seru Tina mengusulkan. Dan disetujui oleh yang lainnya.
Akhirnya, mereka dengan riang merayakan pesta ulang tahun Tika. Tasya berusaha mengabaikan keberadaan orang yang tak ia kenal itu dan berusaha untuk menikmati acara. Padahal, tanpa ia sadari Rico teman Dion itu terus menatap Tasya dengan kagum. Karna, Tasya begitu cantik menurutnya. Ia tertarik pada pandangan pertama pada Tasya.
Setelah makan dan tiup lilin, muda-mudi itu berjalan keluar untuk menyusuri berbagai toko yang ada dalam mall. Tika berjalan dengan kekasihnya Dion, begitu juga dengan Tina yang berjalan dengan Ilham kekasihnya, sekaligus ketua kelas dikelas Tasya. Jadi, Tasya mengenalnya. Sedangkan Tasya berjalan bersama dengan Tania dibelakang. Tania sebenarnya juga sudah punya kekasih yaitu ketua osis, hanya saja dia tak bisa datang hari itu. Rico sendiri berjalan tak jauh dari Tasya, ia terus mencuri pandang pada Tasya.
Setelah menyusuri berbagai macam toko, mereka memutuskan singgah di salah satu toko aksesoris. Di sana Tasya berkeliling dengan antusias melihat benda-benda lucu itu. Sampai ia menemukan gantungan kunci seperti milik kakaknya. Dia mengambil gantungan itu dengan senyum diwajahnya.
"Kamu sudah punya pacar? Sepertinya itu gantungan couple." Tanya Rico yang tiba-tiba berdiri disebalah Tasya.
"Tasya tuh masih jomblo Ric. Coba deketin aja barangkali kalian cocok. Kau kan juga masih jomblo." Seru Tika menggoda.
Tasya cukup sakit hati mendengar perkataan Tika. Kalau dipikir-pikir memang sebelumnya Tika dan Tina sering menyudutkannya karna hanya dirinya yang jomblo. Tapi, apakah jomblo itu sebuah kesalahan?! Tasya merasa dari kata-kata Tika seakan mengatakan kalau jomblo itu merupakan status yang rendah. Padahal, ada banyak alasan orang masih memilih jomblo bukan?!..
"Apa aku tidak boleh membelinya, hanya karna aku masih jomblo?! Aku pun punya hak untuk membelinya karna suka bukan? Aku juga mampu untuk membelinya." Jawab Tasya dingin. Kemudian, ia mengambil gantungan beruang itu ke meja kasir setelah itu ia berjalan keluar toko lebih dulu diikuti oleh Tania.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Tania khawatir.
"Ya. Hanya saja moodku sedikit berantakan." Jawab Tasya yang terlihat masih kesal.
"Sya, maafin aku ya. Jangan marah, ok? Ini kan hari ulang tahun aku." Pinta Tika yang menyusul Tasya keluar dari toko diikuti yang lain.
"Iyaa.." Jawab Tasya sambil menghembuskan nafas panjang.
"Ya sudah, bagaimana kalau sekarang kita nonton saja!" Usul Tika untuk mencairkan suasana. Dan diangguki oleh yang lain.
Mereka segera menuju gedung bioskop dan memesan tiket film yang akan dia lihat. Tepat saat Tasya dan teman-temannya berjalan hendak memasuki ruanh film, Dika datang bersama teman-temannya. Tasya tak menyadari kehadiran Dika, berbeda dengan Dika yang mengetahui Tasya.
__ADS_1
Gadis bodoh itu juga disini rupanya ... Dika
"Eh, kita mau lihat film apa nih?" Tanya salah satu teman Dika.
"Ehm, mbak. Gerombolan yang baru saja tadi masuk pesan tiket film yang mana ya?" Tanya Dika pegawai bioskop.
"Oh, film X ini kak. Sebentar lagi filmnya akan diputar. Kakak juga mau tiket film yang sama? Kebetulan masih banyak kursi kosongnya kak." Jawab pegawai ramah.
"Ya 4 tiket dan tolong pilihkan tempat duduk beberapa baris dibelakang gerombolan tadi." Putus Dika cepat.
"Hey, kita kan mau lihat film horor, kenap jadi romance, sih?!" Gerutu teman Dika kesal.
"Sudah ikuti saja. Aku yang traktir." Sanggah Dika kemudian bergegas menuju ruang film. Teman-teman Dika hanya bisa menggerutu dibelakangnya.
Karna lampu sudah dipadamkan, Tasya tak menyadari kedatangan Dika. Dia sudah fokus untuk melihat film yang ditayangkan. Dari tempatnya Dika terus menatap Tasya.
"Hey, kau menyukai salah satu dari gadis itu?" Bisik teman Dika yang daritadi mengamati perilaku Dika.
"Tidak! Mana mungkin!" Seru Dika tegas.
"Lalu untuk apa kau memesan tiket film yang sama, bahkan kai memesan tempat duduk disini? Ini bukan posisi yang enak, kau tau?!" Sindir teman Dika sinis.
Dika hanya diam mendengarkan perkataan temannya itu. Sebelumnya, dia bertindak tanpa berpikir. Dan jika dia pikir-pikir lagi memang aneh sih, kenapa dia sampai mengikuti Tasya.
Seru Dika bingung dalam hati. Sampai saat dia melihat pria yang duduk di sebelah Tasya dengan sengaja meletakkan tangannya dibelakang kursi Tasya, seakan memeluknya.
Apa dia pacarnya?! Huh.. Apa sih yang sebenarnya aku lakukan ini?!
Gerutu Dika kesal dalam hati. Akhirnya, sepanjang film Dika terus menatap Tasya dan pria itu dengan kesal.
2 jam kemudian ..
"Kau tidak ingin mengikuti gerombolan itu lagi?" Sindir teman Dika saat mereka selesai menonton film.
"Tidak! Dari awal kan aku sudah bilang aku tidak mengikuti mereka. Biarkan saja, kita pergi dari sini." Seru Dika mengambil arah berlawanan dari Tasya.
"Apa yang akan kita lakukan lagi sekarang?" Tanya Tika pada yang lain.
"Aku ingin makan ice cream." Ucap Tina dengan tatapan manja pada Ilham, kekasihnya.
__ADS_1
"Baiklah. Kita beli ice cream dan istirahat di foodcourt dulu saja." Jawab Tika menyetujui.
Akhirnya, semua segera menuju ke foodcourt. Hanya para gadis yang memesan ice cream, sedangkan para pria memesan minum biasa. Lagi-lagi Rico memilih duduk didekat Tasya. Sebenarnya, Tasya merasa tidak nyaman. Tapi, dia masih berusaha menjaga sopan santu saja.
Saat mereka asyik menikmati ice cream sambil bersenda gurau. Tiba-tiba Rico menyentuh sudut bibir Tasya yang ternyata belepotan ice cream. Hal itu membuat Tasya tersentak kaget.
"Ah, maaf. Ini ice creamnya belepotan. Makanlah dengan perlahan saja." Ucap Rico dengan lembut. Sedangkan Tasya menatap tajam pada Rico dengan pandangan tak suka.
"Aih, kalian ini uda romantis loh. Gak ada salahnya kan kalau coba deket?" Seru Tika yang mulai menjodoh-jodohkan Tasya lagi. Tasya yang semula kesal dengan tindakan Rico, kini semakin kesal saat mendengar perkataan Tika.
"Huh! Kau mulai lagi. Suasana hatiku semakin berantakan sekarang ... Aku sudah menahannya dari tadi Tika, karna hari ini ulang tahunmu. Tapi, aku tidak bisa menahannya lagi. Kalau kamu temanku, bukankah harusnya kau tahu aku tidak nyaman dengan topik pembicaraanmu? Tidak kah kau bisa mengerti aku?!" Seru Tasya kesal.
"Apa sih salahnya dengan itu? Aku kan mengatakan itu dengan niat baik. Aku merasa kasihan saja padamu, karna hanya kamu yang masih jomblo diantara kita." Seru Tika tak mau kalah.
"Sudah-sudah. Tika, kamu juga ada salahnya. Keputusan untuk berpacaran atau tidak kan hak Tasya." Ucap Dion berusaha melerai perseteruan antara Tika dan Tasya.
"Oh, sekarang kamu belain dia daripada aku?! Aku tahu kamu selama ini selalu memperhatikan Tasya diam-diam bukan? Kenapa?! Kamu tertarik padanya?! Apa karna wajah munafiknya itu?!" Teriak Tika marah.
"Munafik?! Jadi, selama ini kau menganggapku seperti itu?!" Seru Tasya tak percaya.
"Ya! Karna kau sengaja kan senyum-senyum pada Dion untuk menggodanya?! Senyummu itu palsu, kau tahu?!" Seru Tika tajam.
"Tika! Hentikan perkataanmu itu. Dia temanmu." Seru Dion mengingatkan.
"Teman? Teman macam apa yang menusuk temannya dari belakang?!" Seru Tika pada Dion.
"Dan untuk kau, aku muak melihat wajah munafikmu itu! Pergilah, aku tak butuh kehadiranmu disini lagi.!!" Seru Tika tajam pada Tasya. Tasya masih terkejut dengan sikap Tika padanya.
"Kenapa kau tak pergi?! Apakah kau tuli?! Kau tahu dengan sikap munafikmu itu, gak bakalan ada pria yang mau denganmu!" Seru Tika semakin marah.
"Ayo pergi.!!"
Tasya terkejut karna tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Dia menatap pria itu dan dia sangat terkejut saat mengatahui pria itu adalah Dika.
Dika? Kenapa dia disini??
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..