Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Kabar yang ditunggu..


__ADS_3

Setya segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Walaupun Intan sudah sadar dan mengatakan tak apa, masih jelas terlihat ekspresi khawatir di wajahnya.


"Kak Setya, Intan beneran gak apa-apa ..."


"Uda, nanti dokter yang akan menentukan kamu beneran gak apa-apa atau enggak. Sekarang, kamu istirahat saja." Ucap Setya dengan tegas. Intan tak bisa menolak lagi.


Tak berselang lama akhirnya merekapun sampai di rumah sakit. Setya dengan sigap turun dari mobil dan berlari mengambil kursi roda yang disiapkan oleh rumah sakit dipintu masuk. Intan melihat apa yang dilakukan sang suami dari dalam mobil dengan rasa heran.


"Kak Setya, untuk apa pakek kursi roda? Intan bisa jalan sendi ..."


"Uda kamu nurut aja dan duduk. Kamu itu kecapekan dan baru saja pingsan. Dengerin aku dan jadilah gadis yang baik, ok?" Seru Setya sambil menatap sang istri.


"Haahh.. Baiklah." Jawab Intan pasrah. Lagi-lagi dia tak bisa menolak permintaan sang suami.


Kemudian, dengan sigap Setya mendorong kursi roda Intan untuk mendaftar terlebih dahulu. Beberapa orang terlihat memperhatikan Intan. Mereka pasti mengira kalau Intan tak bisa berjalan atau dugaan lain. Intan sendiri cukup malu, karna dia merasa sehat dan baik-baik saja sebenarnya untuk berjalan.


Apalagi, kalau kebetulan dia berpapasan dengan pasien lansia yang masih berjalan seperti biasa. Rasa malunya semakin meningkat. Setelah mendaftar Intan dan Setya bisa langsung masuk untuk menemui dokter, karna pasien sudah tidak ada saat itu.


"Silahkan duduk. Ada keluhan apa?" Tanya dokter dengan ramah.


"Ini dok, istri saya baru saja pingsan. Dia mengatakan sudah tak apa-apa, tapi saya ingin lebih memastikannya saja." Ucap Setya menjelaskan.


"Tentu saja boleh. Anda benar-benar suami yang sigap." Ucap dokter sembari tersenyum kecil.


Setya tampak bangga dengan pujian itu. Sedangkan, Intan hanya bisa tersenyum malu. Dia berpikir, pasti dokter mengira kalau dirinya sakit parah karna Setya membawanya dengan kursi roda.


"Mari silahkan berbaring disana dulu " Ucap dokter lagi.


Kemudian, Intan dibantu oleh Setya segera berbaring ke ranjang periksa yang sudah disediakan. Kemudian, dokter mulai memeriksa kondisi Intan.


"Bagaimana dok? Apa istri saya baik-baik saja." Tanya Setya cemas.


"Istri bapak baik-baik saja. Tapi ..."


"Tapi apa dok?" Potong Setya panik.


"Kak Setya, mangkannya dengerin dulu dong dokternya mau jelasin." Seru Intan terlihat kesal. Setya pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan senyum kikuk.


"Tapi, istri bapak sedang hamil muda." Sambung dokter dengan senyum di wajahnya.


"Apa?!" Seru Intan dan Setya bersamaan.


"Dokter tadi mengatakan apa? Saya gak salah denger kan? Istri saya sedang hamil sekarang?!" Tanya Setya sekali lagi sambil menatap dokter penuh harap. Intan juga melakukan hal yang sama.


"Iya pak-bu. Anda tidak salah dengar. Istri bapak memang sedang mengandung sekarang. Kalau bapak ingin tahu lebih pasti, saya akan memberikan surat pengantar untuk melakukan pemeriksaan di bagian khusus untuk kandungan." Jawab dokter dengan ramah.


"Baik dok. Kami mau." Jawab Setya langsung.


"Kak Setya.. Intan hamil?" Tanya Intan dengan mata berkaca-kaca pada sang suami.


"Iya sayang. Kita pastikan lagi di dokter kandungan yaa.. Bismillah.." Jawab Setya sambil mengelus puncak kepala Intan dengan sayang.

__ADS_1


Kemudian setelah mendapatkan surat pengantar, Intan dan Setya segera menuju ke dokter spesialis kandungan. Mereka cukup gugup selama perjalanan ke sana. Mereka sangat berharap, apa yang dikatakan dokter sebelumnya adalah benar.


"Selamat pak-bu. Ibu memang sedang mengandung sekarang." Ucap dokter spesialis kandungan dengan ramah.


"Benarkah dok? Istri saya sedang hamil?" Seru Setya memastikan sekali lagi.


"Benar pak. Dan usia kandungan istri bapak sudah 8 minggu. Bisa anda lihat di layar monitor." Ucap dokter ramah.


"Kak Setya .." Panggil Intan pada sang suami. Dia sangat bahagia mendengar kabar itu.


"Terima kasih sayang ... Terima kasih." Ucap Setya sembari mencium lembut kening sang istri.


Intan sendiri tak bisa berkata-kata lagi. Dia begitu bahagia mendengar kabar bahwa di dalam perutnya kini sudah ada malaikat kecil yang selama ini sudah dinantikan.


"Intan akan jadi seorang ibu kak ..." Ucap Intan lirih dengan air mata bahagia dalam dekapan sang suami.


...****************...


Di perjalanan pulang.


"Kak, Intan rasanya masih gak percaya kalau disini uda ada malaikat kecil kita." Ucap Intan sambil mengusap perutnya.


"Iya sayang, aku juga masih gak menyangka kalau aku juga akan menjadi seorang ayah ... Sekarang kita harus menjaga baik-baik malaikat kecil kita ini." Ucap Setya sembari ikut menyentuh perut Intan dengan sebelah tangannya. Intan tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


Setelah sampai di rumah, Setya dengan sangat lembut membantu Intan turun dari mobil dan menuntunnya memasuki rumah. Setya menuntun Intan untuk duduk di sofa ruang keluarga mereka. Kali ini Intan tak menolak perlakuan Setya sama sekali. Dia sendiri juga ingin menjaga buah hati mereka, apalagi di awal kehamilan ini.


"Kamu mau makan atau minum sesuatu, sayang?" Tanya Setya dengan lembut.


"Ehm, gak ada sih kak. Lagian, sepertinya yang ngidam tuh bukan aku tapi kakak ... Sekarang aku tahu sikap manja kakak selama ini karna baby kita." Ucap Intan mengingat betapa manjanya Setya beberapa hari ini.


"Sepertinya baby kita sangat sayang sama ayahnya." Balas Intan sambil bersandar di dada bidang Setya.


Saat mereka sedang menikmati momen menyambut si kecil dalam perut Intan, tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi.


"Biar aku aja yang bukain pintunya. Kamu istirahat saja disini ya. Cup.." Ucap Setya lembut sembari mencium kening Intan sekilas.


Kemudian, Setya segera menuju ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata yang datang adalah kedua keluarganya.


"Oh ya. Aku lupa kabari mereka saking bahagianya tadi." Gumam Setya saat melihat keluarganya di depan gerbang.


"Setya, ayah bilang apa tadi? Ayah kan minta kamu ngabari ayah setelah Intan di periksa. Tapi, sampe sekarang ayah harus kesini dulu buat tahu hasil pemeriksaan Intan?!" Seru ayah yang terlihat kesal.


"Maaf ayah. Setya dan Intan sama-sama lupa .. Masuk dulu, Setya dan Intan akan kasih tahu di dalam. Intan sedang istirahat di ruang tengah." Ucap Setya mempersilahkan mertuanya masuk, begitu juga orang tuanya sendiri.


"Kamu nih. Kami semua tuh khawatir sama Intan. Bisa-bisanya kamu lupa ngabarin." Seru mama yang juga terlihat gemas dengan Setya.


"Masuk dulu ma. Nanti Setya jelasin di dalam." Ucap Setya sambil mendorong pelan tubuh sang mama untuk memasuki rumah.


"Intan sayang.. Bagaimana keadaan kamu sayang? Kamu sakit apa? Apa kata dokter?" Tanya ayah beruntun saat melihat Intan yang sedang duduk sendiri di ruang tengah.


Intan sendiri cukup terkejut dengan kedatangan ayahnya. Karna saking bahagianya tadi, dia sampai lupa untuk mengabari keluarganya.

__ADS_1


"Ayah ... Tenang dulu. Satu-satu tanyanya. Intan baik-baik saja kok." Jawab Intan memberitahu sang ayah.


"Benarkah begitu? Dokter beneran bilang kamu baik-baik saja?" Tanya ayah lagi untuk memastikan.


"Apa yang dikatakan Intan itu benar ayah. Intan baik-baik saja. Hanya saja, Intan ... Intan sedang hamil sekarang." Jawab Setya dengna senyum lebar di wajahnya.


"Apa?!"


"Sungguh?!"


"Beneran?!"


Ayah, bunda, mama, papa, Dika dan Tasya sangat terkejut dengan kabar itu.


"Tuan putri ayah sedang hamil?" Tanya ayah pada sang putri.


"Iya ayah. Ayah akan segera jadi seorang kakek." Ucap Intan dengan mata berkaca-kaca.


"Selamat tuan putri ayah. Akhirnya, Tuhan mengabulkan do'a kita semua." Seru ayah sambil memeluk sang putri dengan erat.


"Selamat ya sayang, kamu juga akan segera jadi ibu seperti bunda." Ucap bunda lembut. Dia juga merasa sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Intan.


"Makasih ya sayang, karna kamu mama dan papa akan segera jadi kakek nenek." Ucap mama dengan senyum lembut bersama papa.


"Selamat kak Intan. Tasya dan Dika akan punya ponakan." Seru Tasya antusias.


Dika juga terlihat bahagia dengan berita itu. Dia sempat mengkhawatirkan sang kakak, setelah di kabari Setya untuk tak mengungkit masalah kehamilan pada Intan dulu setelah kabar hamilnya Ifa. Dia tahu, kalau kakaknya itu akan sedih. Tapi, akhirnya, setelah menunggu beberapa bulan. Kabar bahagia juga datang pada kakaknya.


"Makasih semuanya. Ini juga berkat do'a dari semuanya." Ucap Intan dengan senyuman.


"Setya, kamu harus menjaga menantu mama dengan baik. Kalau Intan ingin sesuatu, kamu harus sigap memenuhinya." Seru sang mama menasehati Setya.


"Jaga putriku dengan baik. Atau bagaimana kalau kalian tinggal dengan kami saja?" Ucap ayah mengusulkan.


"Gak bisa! perjanjiannya kan mereka ingin tinggal sendiri dan seminggu sekali pulang ke rumah kita." Potong mama tak setuju.


"Tapi, putriku sedang hamil. Dia butuh perhatian lebih." Ucap ayah serius.


"Kalau gitu, kenapa harus dirumahmu? Dirumahku juga bisa?" Seru mama masih tak terima.


Intan, Setya dan lainnya hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perdebatan itu. Selalu saja seperti ini. Tapi, walaupun begitu perdebatan itu sama sekali tak mengurangi rasa bahagia dari kedua keluarga atas kehamilan Intan. Semua tetap mendo'akan yang terbaik untuk Intan dan Setya, juga calon baby mereka.


.


.


.


Bersambung..


...----------------...

__ADS_1


Semoga kebahagiaan Intan segera datang juga untuk teman-teman yang juga sedang menanti baby yaa.. Author dan semuanya akan selalu mendo'akan yang terbaik😇🤗


...----------------...


__ADS_2