Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Welcome baby twin


__ADS_3

Setelah dikabari oleh Linda orang tua Bayu, mama Ifa dan juga Rehan segera bergegas ke rumah sakit X dimana Ifa tengah menjalani operasi. Setya dan Bayu juga segera bergegas ke rumah sakit. Terlihat sekali ekspresi panik dan merasa bersalah dari wajah Bayu karna tak dapat menemani sang istri saat melahirkan.


"Tenanglah Bay. Ifa dan anak-anakmu pasti baik-baik saja." Ucap Setya berusaha menenangkan Bayu.


Sesekali saat Setya mengemudi, dia melirik ke arah Bayu. Sebelumnya, Bayu yang ingin mengemudikan mobil, tapi Setya mengambil alih tugas itu, karna dia tahu pikiran Bayu saat ini sedang kalut jadi sangat berbahaya jika harus mengemudi.


Sebenarnya, Setya sendiri juga mencemaskan keadaan Intan. Karna, dia yang mengemudi mobil tadi. Tapi, mendengar suara Intan yang sampai di rumah sakit dengan selamat, sudah sedikit membuatnya lega.


Orang tua Bayu, mama dan Rehan yang sampai lebih dulu di rumah sakit. Mereka segera menuju ke depan ruang operasi tempat Linda berada. Dia terlihat sangat panik seorang diri dengan menggendong baby Tama dalam pelukannya. Sebelumnya, dia sudah menghubungi Dharma untuk segera menyusulnya di rumah sakit.


"Linda? Bagaimana keadaan Ifa?" Tanya mama Ifa pada Linda.


"Tante, kalian sudah datang ... Ifa masih di dalam ruang operasi. Kita hanya bisa menunggu di sini. Kak Setya dan kak Bayu juga sudah dalam perjalanan kesini." Jawab Linda dengan ekspresi sedih.


"Lalu, dimana Intan?" Tanya mama Bayu yang tak melihat keberadaan Intan.


"Intan ... Dia ... Dia mengalami pendarahan ..."


"Apa?!" Seru mama dan yang lainnya dengan terkejut.


"Katakan sekali lagi, apa yang terjadi pada Intan?! Dimana dia?!" Seru Setya yang baru saja tiba bersama Bayu.


"Kak Setya ... Intan mengalami pendarahan, karna terlalu terkejut dan panik tadi. Itu mempengaruhi emosinya, dia jadi tegang sehingga mempengaruhi kandungannya ..."


"Dimana dia sekarang?!" Seru Setya panik memotong penjelasan Linda. Hanya satu hal yang ada di dalam pikirannya sekarang, dia harus bertemu Intan.


"Dia ada di UGD ..."


Setelah tau keberadaan Intan, Setya langsung berlari menuju ke UGD dengan panik. Pikirannya terus tertuju pada Intan dan anak mereka. Yang lain juga mengikuti Setya. Kecuali Linda, papa Bayu dan Rehan.


"Intan?!" Seru Setya saat memasuki raung UGD. Disana, ia melihat Intan yang terbaring lemah dengan selang infus ditangannya.


"Sayang ..." Ucap Setya lirih sambil mengusap lembut kepala Intan.


"Maaf apakah anda keluarga pasien?" Tanya seorang dokter sembari mendekat ke arahnya.


"Ya. Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya dok? Apakah bayi kami ...?" Tanya Setya dengan suara lirih dan suara tertunduk. Dia sudah siap untuk menerima kabar terburuk.


"Istri bapak sudah baik-baik saja. Tadi pasien mengalami pendarahan karna terkejut dan terlalu tegang. Tapi, untungnya anak bapak tidak apa-apa." Ucap dokter menjelaskan.


"Benarkah dok? Istri dan anak saya baik-baik saja?!" Tanya Setya memastikan.


"Iya. Hanya saja, istri bapak perlu rawat inap di rumah sakit untuk beberap hari untuk pemulihan. Kita juga masih perlu mengontrol keadaannya." Jawan dokter dengan ramah.

__ADS_1


"Baik dok. Saya akan segera mengurus prosedur rawat inapnya. Terima kasih banyak." Ucap Setya dengan senyuman diwajahnya. Dia merasa lega mendengar kabar itu.


Yang lainpun juga merasa lega dengan kabar itu. Karna, mereka semua tahu, kalau kehamilan Intan memang sudah ditunggu-tunggu selama ini. Mereka pasti akan sangat bersalah jika harus terjadi apa-apa pada kandungan Intan. Kemudian, Setya mendekati Intan dan mencium keningnya sekilas.


"Kamu memang wanita yang kuat, sayang. I love you ... Terima kasih juga untuk anak ayah, karna sudah bertahan. Sehat-sehat ya nak. Ayah dan bunda menunggu kehadiranmu diantara kami." Ucap Setya pada Intan dan anak dalam perut Intan.


Tak lama kemudian, orang tua Intan dan Setya, juga Dika dan Tasya sampai juga di rumah sakit. Karna, sebelumnya dikabari oleh Linda.


"Bagaimana keadaan Intan?" Tanya ayah dengan panik.


"Intan dan anak kami baik-baik saja ayah. Cuman Intan harus rawat inap beberapa hari di rumah sakit untuk pemulihan." Jawab Setya menjelaskan. Ayah dan yang lainnya pun juga merasa lega.


"Bagaimana dengan operasi Ifa?" Tanya Bunda pada Bayu dan yang lain.


"Ifa masih di ruang operasi. Kita hanya bisa menunggunya." Jawab mama Ifa.


"Tante, Bay. Mending kalian kembali ke depan ruang operasi menunggu Ifa. Intan dan anak kami sudah gak apa-apa. Kami akan mengurus rawat inap Intan. Nanti, kalau Intan sudah sadar, kami akan menyusul." Ucap Setya bijak.


"Baiklah kalau begitu. Maaf ya Setya, karna aku yang kurang becus menjaga Ifa, sampai Intan dan anak kalian nyaris celaka. Terima kasih juga, karna Intan, Ifa bisa mendapat pertolongan dengan cepat." Ucap Bayu merasa bersalah.


"Sudah tenang saja. Yang terpenting semua sudah baik-baik saja sekarang. Aku do'akan Ifa dan anak kalian juga baik-baik saja." Ucap Setya dengan senyum diwajahnya.


"Terima kasih .."


Setya dan keluarganya juga segera mengurus rawat inap untuk Intan. Supaya, Intan juga bisa segera dipindahkan. Tak berapa lama setelah Intan dipindahkan, Intan mulai sadarkan diri.


"Hmmm.. Kak Setya?" Ucap Intan dengan suara lirih saat melihat sang suami yang duduk disebelahnya dengan menggenggam tangannya.


"Sayang, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Ada yang tidak nyaman?" Tanya Setya penuh perhatian.


"Kak Setya ... Darah ... Anak kita?!" Tanya Intan dengan mata berkaca-kaca. Intan mengira anaknya sudah perhi meninggalkannya.


"Tenanglah sayang. Anak kita baik-baik saja. Dia adalah anak yang kuat." Jawab Setya dengan lembut.


"Benarkah? Hiks ... Intan takut, terjadi apa-apa pada anak kita. Maafkan Intan yang kurang berhati-hati ya kak ..."


"Sudahlah. Semua sudah berlalu. Yang terpenting, sekarang kamu dan anak kita sudah sehat." Ucap Setya sambil mengusap pelan kepala Intan.


"Tuan putri ayah sudah benar-benar gak apa-apa?" Tanya ayah mendekat ke arah Intan.


"Ayah, kalian semua disini. Maafkan Intan, lagi-lagi Intan sudah membuat semuanya khawatir. Alhamdulillah, Intan dan baby sudah gak apa-apa." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya.


"Syukurlah kalau gitu sayang." Ucap mama merasa lega.

__ADS_1


"Kak Setya, bagaimana keadaan Ifa? Apakah operasinya berjalan lancar?" Tanya Intan yang teringat pada sahabatnya.


"Aku belum tahu. Dari tadi kami terus menemani kamu." Jawab Setya memberitahu.


"Kamu istirahat dulu. Biar bunda dan yang lainnya yang kesana. Kamu disini sama Setya saja." Ucap bunda menyarankan. Akhirnya, Intan mengangguk setuju.


"Bunda, Dika disini saja menemani kak Intan." Ucap Dika memutuskan.


"Tasya juga." Imbuh Tasya.


Akhirnya, para orang tua saja yang pergi ke depan ruang operasi. Di depan ruang operasi, Bayu dan keluarganya masih menunggu dengan cemas operasi Ifa. Linda dan Dharma, sebelumnya sudah pamit untuk pulang terlebih dulu karna gak baik untuk baby Tama ada di rumah sakit terlalu lama.


"Apa operasinya belum selesai?" Tanya bunda pada mama Ifa.


"Belum. Kami semua hanya bisa menunggu disini. Bagaimana, keadaan Intan?" Tanya mama khawatir.


"Intan sudah sadar. Dia sudah baik-baik saja. Hanya perlu waktu untuk pemulihan." Jawab bunda dengan senyum di wajahnya.


"Syukurlah ..."


Tak lama kemudian, lampu operasi padam. Menandakan kalau operasi sudah selesai. Keluarlah dokter dari ruang operasi.


"Bagaiamana keadaan istri dan anak-anak saya dok?" Tanya Bayu yang langsung mendekatu sang dokter.


"Mereka baik-baik saja. Operasi berjalan lancar. Kami akan segera memindahkan pasien ke ruang rawat. Istri anda akan sadar sekitar 4-5 jam dari sekarang." Ucap dokter dengan ramah.


Bayu dan semua yang ada disanapun merasa lega. Kemudian, Tak berselang lama, suster membawa Ifa yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Bayu bisa melihat wajah pucat sang istri yang sudah berjuang melahirkan kedua putra mereka tadi.


Setelah itu, ada suster yang mendorong box bayi dimana kedua putra Bayu berada. Untuk pertama kali Bayu melihat kedua putranya. Rasa haru seketika membanjiri dirinya.


Setelah Ifa dipindahkan ke ruang rawat, para orang tua segera meminta Bayu untuk meng Adzani kedua putranya. Dengan khidmat, Bayu mengumandangkan Adzan di telinga kanan kedua putranya. Dan Iqomah di kedua telinga kiri putranya.


"Selamat datang di dunia ini anak-anak papa." Ucap Bayu menatap kedua putranya dengan tatapan haru.



.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2