
Beberapa hari setelah itu, Setya sengaja meminta bunda dan mama untuk sesekali menginap di rumahnya dan menemani Intan tidur. Setya meminta kedua ibunya itu untuk membantu menenangkan Intan. Mungkin dengan mendengar cerita dari orang tersayang, Intan akan menjadi jauh lebih baik. Dan teebukti cara ini ternyata cukup berhasil. Intan jauh terlihat lebih tenang dan siap untuk menghadapi persalinannya.
"Aku senang sekali melihat kamu kembali ceria seperti ini sayang." Ucap Setya dengan senyum lembut di wajahnya.
"Alhamdulillah kak.. Nasihat bunda dan mama sangat membantu. Mereka mengingatkan Intan kalau harus bersyukur terlebih dulu, karna Intan masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bisa merasakan nikmatnya mengandung dan melahirkan. Karna banyak sekali pasangan diluar sana yang sampai saat ini masih mengharapkan momongan."
"Alhamdulillah. Apa yang dikatakan bunda dan mama memang benar. Tuhan juga pasti sudah percaya pada kita dan akhirnya menitipkan malaikat kecil ini di pernikahan kita." Ucap Setya sambil mengusap perut Intan dengan lembut.
"Iya kak. Bunda dan mama juga bilang proses melahirkannya memang sakit. Tapi, ketika anak kita lahir dan untuk pertama kali kita dengar suara tangisnya. Semua rasa sakit yang kita rasakan akan menghilang. Akhirnya, Intan juga jadi gak sabar untuk merasakan perasaan bahagia itu." Ucap Intan dengan mata berbinar.
"Tak lama lagi sayang ..." Ucap Setya lembut.
"Kak Setya jadi nemenin Intan di ruang bersalin kan?" Tanya Intan penuh harap.
"Tentu saja, aku akan menemani kamu. Aku gak akan membiarkanmu berjuang sendiri." Ucap Setya sembari menggenggam tangan Intan kemudian mengecupnya sekilas.
...****************...
Di kantor
"Apa gak bisa karyawan lain saja yang pergi? Haruskah aku yang pergi kesana sendiri?" Tanya Setya yang terlihta gusar setelah mendapat laporan dari Bayu.
"Maaf pak. Tapi, hanya bapak yang bisa menyelesaikan masalah ini. Masalah ini tak bisa diwakilkan." Jawab Bayu dengan berat hati.
"Berapa lama aku harus pergi?!" Tanya Setya akhirnya.
"Hm, kurang lebih tiga hari, jika semua berjalan lancar." Jawab Bayu pelan.
"Huhhh!!! Kenapa ini harus terjadi sekarang?!" Seru Setya frustasi.
Setya baru saja mendapat kabar dari Bayu kalau proyek mereka di luar kota sedang mengalami masalah. Dan mengharuskan Setya untuk meninjaunya secara langsung. Tentu saja bagi Setya hal ini adalah hal yang berat karna, kandungan sang istri semakin besar. Sekarang bisa sewaktu-waktu Intan akan mengalami kontraksi.
Bagaimana, jika itu terjadi saat Setya masih di luar kota?! Setya tak ingin meninggalkan Intan melahirkan seorang diri. Tapi, ini juga sudah kewajibannya sebagai seorang pemimpin.
"Aku akan bantu sebisaku. Bukan hanya sebagai seorang sekretarismu tapi juga sebagai sahabatmu. Aku akan membantumu agar pekerjaan kita bisa cepat selesai." Ucap Bayu menenangkan.
"Baiklah. Aku akan mengatakannya dulu pada Intan dan yang lainnya. Terima kasih ya Bay. Kau selalu ada menemaniku." Ucap Setya dengan senyum tulus di wajahnya.
"Yah, tentu saja."
...****************...
Malam harinya, saat Setya dan Intan tengah bersantai di ruang keluarga, Setya memberanikan diri untuk menceritakannya pada Intan. Setya sudah takut Intan akan kecewa padanya, karna dia tak bisa menemani hari-hari mendebarkanya ini. Tapi, ternyata reaksi Intan di luar dugaan Setya.
"Kalau kakak memang harus pergi, maka pergilah. Aku gak apa-apa kok. Aku bisa menginap di rumah orang tuaku atau orang tua kakak dulu." Ucap Intan dengan senyuman.
"Kamu gak marah atau kecewa padaku? Aku kan jadi gak bisa nemenin kamu. Kita berdua juga gak tau kapan putri kita ini akan minta keluar dari perut kamu. Bagaimana jika waktu aku dinas di luar kota itu? Aku gak mau ninggalin kamu sendirian sayang." Seru Setya yang sebenarnya masih belum rela.
"Bohong kalau aku bilang gak kecewa kak. Tapi, ini sudah tanggung jawab kakak ... Dan lagi, seperti yang kakak bilang tadi, kita gatau kapan putri kita mau keluar. Tapi, jika memang kakak masih di lukot nanti, kakak bisa menelpon Intan. Cukup Intan denger suara kak Setya, Intan akan baik-baik saja." Ucap Intan dengan senyum lembut. Dia berusaha kuat.
"Hahh.. Baiklah..." Jawab Setya pada akhirnya. Dia hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Walaupun berat, akhirnya Setya mengikuti saran sang istri. Memang sebagai suami sudah menjadi kewajibannya menjaga dan melindungi keluarganya. Tapi, dilain sisi sebagai pemimpin Setya juga harus menjalankan tanggung jawabnya.
Setelah bersiap-siap, lusa akhirnya Setya dan Bayu berangkat ke luar kota. Tapi, sebelum itu Setya mengantarkan Intan ke rumah orang tuanya dulu. Setya gak tega membiarkan Intan tinggal di rumah sendirian dengan kondisi kandungannya saat itu.
"Ayah, bunda. Setya titip Intan disini ya. Kalau ada apa-apa langsung kabari Setya aja." Pamit Setya pada kedua mertuanya.
"Jangan khawatir. Sebelum menjadi istri kamu, Intan adalah putriku. Tentu saja kami akan menjaganya." Seru Ayah sambil memutar bola matanya malas.
"Iya Setya. Kamu fokus pada pekerjaanmu saja, supaya bisa cepat kembali. Jangan banyak pikiran, Intan akan baik-baik saja disini bersama kami." Imbuh bunda dengan ramah.
"Baiklah. Terima kasih ayah, bunda ... Sayang, aku berangkat dulu ya. Tunggu aku pulang. Putri ayah juga tunggu ayah dulu ya sayang." Pamit Setya sebelum benar-benar berangkat.
"Hati-hati kak. Aku akan menunggu kamu." Ucap Intan yang dibalas kecupan sayang di keningnya oleh Setya.
Kemudian, Setya dan Bayu benar-benar berangkat untuk menyelesaikan masalah pekerjaan mereka. Setya berusaha menyelesaikan masalah proyek itu dengan secepatnya. Pikirannya selalu tertuju pada Intan yang tengah hamil besar sekarang.
Walaupun dia yakin Intan akan baik-baik saja bersama orang tuanya. Dan lagi dia juga selalu menghubungi Intan untuk menanyakan kabarnya setiap ada waktu luang. Tapi, tetap saja dia merasa risau dan tak tenang.
Setelah bekerja keras selama dua hari, pekerjaan Setya sudah selesai. Ini lebih cepat satu hari daripada yang direncanakan. Setya terlihat sangat lega, karna dia akan segera pulang untuk menemui sang istri.
"Sayang. Pekerjaanku sudah selesai. Aku akan pulang sekarang." Ucap setya di telpon malam itu.
"Jangan. Besok pagi saja kakak pulang. Sekarang sudah larut. Kak Setya juga pasti uda lelah seharian ini. Lebih baik kak Setya istirahat saja. Besok pagi baru pulang. Aku gak apa-apa disini." Seru Intan melarang Setya untuk pulang saat itu juga.
"Tapi ..."
"Gak ada tapi-tapian. Sekarang kakak istirahat ya. Aku akan menunggu kakak besok. Love you.." Ucap Intan tak mau dibantah.
...****************...
Waktu shubuh
"Duh.. Perutku kenapa ya? Sakit banget!" Gumam Intan setelah mandi pagi itu.
"Awww!!!" Pekik Intan saat rasa sakit diperutnya semakin menjadi. Dia terduduk diatas kloset sambil memegangi perutnya.
"Ayah! Bunda! Dika! Tolongg!!" Teriak Intan sekuat tenaga. Berharap ada yang mendengar suaranya.
"Ayahh!!" Panggil Intan sekali lagi.
Ayah, bunda dan Dika yang sudah bersiap akan menunaikan sholat shubuh pun merasa bingung karna Intan tak kunjung datang. Ayah pun berinisiatif untuk memanggil Intan.
"Intan sayang? Kamu belum bangun?" Tanya ayah dari luar kamar.
"Ayah!! Tolong Intan!!" Seru Intan yang mendengar suara sang ayah.
"Intan?!" Seru ayah kaget saat mendengar suara Intan yang seperti sedang kesakitan.
Tanpa pikir panjang, ayah langsung masuk ke kamar Intan. Bunda dan Dika yang melihat ayah begitu khawatir dan langsung menerobos masuk ke kamar Intan pun juga ikut panik. Mereka segera berlari ke kamar Intan.
"Intan?! Kamu kenapa nak?!" Seru ayah yang melihat Intan terduduk di atas kloset sambil merintih kesakitan.
__ADS_1
"Perut Intan sakit ayah! Sepertinya Intan mau melahirkan?!" Jawab Intan yang terlihat sangat kesakitan dengan keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Intan?!"
"Kak Intan?!"
Bunda dan Dika juga terlihat sama paniknya dengan ayah saat melihat keadaan Intan.
"Baiklah. Kita ke rumah sakit sekarang ... Dika siapkan mobil. Bunda ambil keperluan melahirkan Intan dan hubungi Setya dan keluarganya." Seru ayah dengan sigap. Kemudian, dia membantu Intan untuk bangkit dan menuju ke mobil.
Dika dan Bunda langsung melaksanakan perintah dari ayah. Orang tua Setya juga sama paniknya saat mendengar Intan akan melahirkan. Mereka dan Tasya juga segera bersiap untuk menuju ke rumah sakit. Tak lupa bunda juga menghubungi Setya.
"Assalamu'alaikum, Setya."
"Wa'alaikum salam bunda. Ada apa? Tumben bunda telpon pagi-pagi begini?" Tanya Setya mulai merasa ada yang aneh.
"Kalau kamu sudah menyelesaikan pekerjaan kamu, kamu cepat pulang ya. Intan ..."
"Ada apa dengan Intan bunda?!" Seru Setya panik.
"Intan akan melahirkan. Sekarang kamk semua sudah mengantarkan Intan ke rumah sakit." Jawab bunda sambil mengelus kepala Intan yang bersandar padanya menahan sakit.
"Apa?! Bagaimana keadaan Intan sekarang bunda?! Setya ingin bicara pada Intan." Seru Setya. Bunda pun langsung menyalakan pengeras suara agar Intan bisa mendengar suaranya.
"Bicaralah." Ucap bunda memberitahu.
"Intan sayang, kamu harus bertahan ya.. Kamu pasti bisa. Aku akan segera datang.. Aku bersama kamu sayang.." Ucap Setya dengan lembut memberikan semangat untuk Intan.
"I-Iyaa.. Aku akan menunggu kakak.." Jawab Intan dengan lirih.
"Setya kamu juga harus hati-hati di jalan. Kami semua menunggu kedatangan kamu.." Pesan bunda pada Setya.
"Iya bunda. Tolong temani Intan selagi Setya belum datang.." Pinta Intan dengan tulus.
Setelah itu Setya segera membereskan semua barang-barangnya dan mengajak Bayu untuk segera pulang. Saat Setya akan menyetir, Bayu menghentikannya. Dia tahu pikiran Setya saat ini sedang kalut, jadi dia mengambil alih tugas itu, sebelum terjadi hal yang tak diinginkan.
"Tenanglah. Intan pasti bisa. Kita akan segera sampai untuk melihatnya dan putri kalian." Ucap Bayu berusaha menenangkan Setya.
Perjalanan dari kota pembangunan proyek dan kotanya sendiri kurang lebih 4-5 jam. Selama di perjalanan Setya tetap melakukan panggilan video dengan Intan. Setya terus menemaninya saat rasa sakit itu terus muncul. Setya tak tega melihat Intan yang terlihat sangat kesakitan itu.
Tapi, walaupun sakit Intan berusaha tetap tersenyum walaupun lemah. Dalam hatinya dia mengatakan pada dirinya sendiri. Sebentar lagi dia dan Setya akan segera bertemu dengan putri kecil mereka.
"Bertahanlah sayang. Aku akan segera sampai.."
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1