Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Ternyata jika aku berani, tak semenakutkan seperti bayanganku..


__ADS_3

Keesokan harinya.


Intan sudah bersiap dari pagi, kali ini dia melepas kuncir kudanya dan menggerai rambut panjangnya. Dia yang biasanya hanya mengenakan bedak tabur seadangnya, hari ini dia sedikit mengenakan lip ice di bibir pink pucatnya agar terlihat lebih segar. Dia juga menyemprotkan parfum beraroma manis pada dirinya.


Walau hanya seperti itu penampilannya cukup terlihat berbeda, bulu matanya yang memang sudah lentik membuatnya semakin cantik. Mungkin yang membuat Intan terlihat berbeda adalah aura Intan yang kini terlihat lebih terpancar.


Kak Setya, aku datang..


Intan melihat pantulan dirinya di depan cermin dengan senyuman lebar. Setelah itu dia segara turun untuk sarapan bersama keluarganya. Melihat Intan, kedua orang tuanya dan Dika seketika terpana. Mereka melihat Intan seperti lebih bercahaya pagi itu.


"Silahkan duduk tuan putri. Hari ini tuan putri ayah sangat cantik." Ucap ayah sembari menarik kursi untuk Intan duduk.


"Terima kasih paduka raja." Ucap Intan dengan senyuman.


"Kamu sangat cantik hari ini sayang. Wajahmu terlihat berseri-seri." Ucap bunda lembut.


"Benarkah? Hehe. Makasih bunda." Ucap Intan sembari memegang kedua pipinya.


"Lumayan lah." Seru Dika yang terlihat sesikit tersipu melihat Intan. Ayah-bunda dan Intan tersenyum melihat itu.


"Terima kasih, adikku sayang." Ucap Intan sambil mengacak rambut sang adik dengan gemas.


"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil.!!" Seru Dika kesal. Namun, itu tak dihiraukan oleh Intan tentu saja.


Setelah selesai sarapan pagi, Intan segera pamit karna Setya sudah menunggunya di depan rumah. Sama dengan keluarganya Intan, Setya yang pertama kali melihat Intan juga terlihat terpana dibuatnya. Intan terlihat berbeda hari itu. Auranya benar-benat terpancar, tidak ada sorot keraguan atau ketakutan dalam dirinya.


"Selamat pagi tuan putri. Biarkan saya memberi kehormatan untuk mengantar anda." Ucap Setya sembari mengulurkan tangannya.


"Tentu pangeran dengan senang hati." Jawab Intan menerima uluran tangan Setya.


Setya tersenyum mendengar jawaban Intan yang lebih percaya diri hari ini. Biasanya, ia akan menunduk dan tersipu. Walaupun, Setya menyukai wajah tersipu Intan. Namun, hari ini ia lebih bahagia lagi.


Setelah itu mereka berdua segera menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah, seperti biasa mereka akan menjadi pusat perhatian. Walaupun, sudah berlalu satu minggu namun tetap saja masih banyak yang memperhatikan. Seakan mereka belum menerima kenyataan bahwa Setya dan Bayu sudah memiliki pasangan.


Biasanya, Intan akan menunduk ketakutan dan bergegas meninggalkan tatapan tajam dan tidak suka dari gadis-gadis itu. Tapi, kali ini Intan sama sekali tak terlihat takut. Dia menatap kembali gadis-gadis yang menatapnya dengan tajam. Sorot mata Intan terlihat tajam, membuat orang yang ditatap akan merasa rendah sendiri.


"Kenapa gadis itu terlihat menakutkan hari ini?"


"Benar sorot matanya mengerikan sekali. Padahal biasanya dia terlihat ketakutan."


"Dan dia hari ini terlihat lebih cantik. Auranya jelas sekali lebih terpancar."


Intan dan Setya mendengar bisik-bisik itu. Intan bersikap acuh tak acuh mendengar semua bisikan itu. Sedangkan Setya menatap Intan dengan senyuman.


"Dari tadi aku ingin mengatakan padamu, kalau hari ini kamu terlihat cukup berbeda. Kamu terlihat lebih percaya diri." Ucap Setya sembari membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menatap Intan dengan seksama.


"Aku kan sudah bilang pada kakak, kalau aku akan mulai memantaskan diri untuk kakak. Aku ingin menjadi pantas dan lebih percaya diri, seperti kakak yang percaya diri memilih dan menyukaiku selama ini." Jawab Intan dengan melingkarkan tangannya dileher Setya dengan mesra.


Tentu saja hal itu menjadi konsumsi publik di pagi hari itu. Gadis-gadis pemuja Setya terlihat terpukul melihat kedekatan Intan dan Setya. Apalagi, dengan aura Intan yang terlihat berbeda hari itu, sehingga mereka tak bisa mengelak, bahwa Intan dan Setya adalah pasangan yanh serasi.


"Baiklah. Tapi, jangan memaksakan diri ya. Perlahan saja, ok?" Ucap Setya sembari mengelus pipi Intan dengan lembut. intan mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Ehem. Pagi-pagi uda mesra aja. Gatau tempat pula, tuh kalian jadi tontonan." Seru Ifa yang baru saja tiba bersama Bayu.


"Lalu kenapa memangnya? Gak ada salahnya menjadi tontonan. Lagipula itu hal yang bagus, karna mereka bisa lebih sadar kalau kak Setya sudah benar-benar menjadi milikku." Ucap Intan santai.


"Yuk, ke kelas kak." Ajak Intan, sembari merangkul tangan Setya dengan manja.


Setya sama sekali tak keberatan dengan sikap Intan yang berubah menjadi manja padanya. Ia justru semakin berdebar dibuatnya. Setya juga sangat senang, jelas sekali terlihat senyum lebar merekah si wajahnya.


"Aku akan mengantarmu ke kelas." Ucap Setya lembut.


"Tentu pangeran." Ucap Intan dengan senyuman.


Sedangkan dibelakang mereka Ifa dan Bayu, terlihat kebingungan dengan sikap Intan yang terlihat berbeda hari itu.


"Intan tumben sangat manja dan juga dia terlihat lebih berani untuk menunjukkan kemesraan didepan banyak orang seperti itu?" Gumam Ifa heran yang disepakati oleh Bayu.


"Nanti istirahat aku jemput ya ..."


"Tidak! Hari ini aku ingin melihat kak Setya kembali bermain basket. Kak Setya bersiaplah dengan kak Bayu nanti aku akan menyusul bersama Ifa." Ucap Intan memotong perkataan Setya.


Walaupun, terkejut mendengar jawaban Intan tapi Setya tetap tersenyum mengiyakan permintaan Intan. Ifa dan Bayu hanya bisa saling tatap heran.


Toni yang juga melihat perbedaan Intan pun ikut tersenyum dibuatnya.


"Syukurlah, sepertinya dia berhasil menuntunmu perlahan untuk meninggalkan kegelapan dalam hidupmu. Berbahagialah Intan ..." Ucap Toni penuh senyuman menatap Intan dan Setya. Walau, ia masih menyukai Intan namun menurutnya melihat Intan bisa bahagia adalah yang lebih penting.


Istirahat ..


"Hari ini ada apa dengan Intan? Dia terlihat berbeda dari biasanya." Tanya Bayu bingung.


"Aku juga tak tahu pasti, dia hanya mengatakan ingin berusaha memantaskan diri untuk bersamaku ... Aku hanya bahagia melihatnya mulai berani melangkah maju meninggalkan rasa takutnya ... Aku akan selalu menemani dan melindunginya." Jawab Setya dengan senyuman.


Di kelas Intan dan Ifa masih membenahi buku-buku mereka sebelum pergi ke kantin.


"Yuk Fa, kita ke kantin. Aku ingin membelikan kak Setya minum." Ucap Intan santai.


"Tentu ... Tapi, kenapa tiba-tiba kamu berubah seperti ini? Apa terjadi sesuatu? Apa ada yang menekanmu?" Tanya Ifa khawatir.


"Apa aku terlihat tertekan sekarang? Tanya Intan dengan senyuman.


"Tidak. Justru, kau terlihat sangat keren. Penuh kharisma." Jawab Ifa sambil mengamati Intan.


"Nah, kan jadi jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa. Aku sudah sadar saja sekarang, kalau aku ingin menjadi lebih percaya diri untuk bersama dengan kak Setya, karna aku tak mau kehilangannya." Ucap Intan yakin.


"Mantap. Ini baru sahabatku." Seru Ifa senang.


Kemudian, mereka berdua segera menuju ke kantin. Seperti biasanya mereka masih menjadi sorotan. Banyak yang menatap mereka, bahkan tak jarang ada yang berbisik-bisik menjelekkan. Biasanya Intan akan berjalan dengan kepala tertunduk dan ketakutan. Tapi, kali ini ia berjalan luruh ke depan dan acuh terhadap semua mata dan omongan orang yang menjelekkannya.


Ifa menatap Intan dengan kagum sekaligus terheran-heran. Bagaimana bisa orang berubah hanya dalam satu malam? Tentu saja bisa. Asal kita punya tekad yang kuat.


Setelah membeli apa yang mereka butuhkan. Keduanya segera menuju tepi lapangan basket seperti biasa diantara gadis-gadis lain. Entah, bagaimana ketika Intan dan Ifa datang otomatis tersedia tempat bagi mereka. Gadis-gadis yang biasanya tak mau mengalah untuk berada didepan kini mundur secara perlahan. Intan tersenyum geli melihat hal itu.

__ADS_1


Ternyata jika aku berani, tak semenakutkan seperti bayanganku..


Bahkan aku bisa melihat kalau mereka yang takut padaku. Hehe ... Intan.


Setya melihat kedatangan Intan dengan senyuman Setya menghampiri Intan diikuti oleh Bayu yang tentu menghampiri Ifa.


"Kamu beneran datang? Terima kasih." Ucap Setya dengan senyum lebar.


"Gak ada alasan untukku gak datang kan? Bermainlah dengan senang, aku akan mendukung kakak dari sini. Fighting!!" Seru Intan sambil mengepalkan kedua tangannya diudara. Setya tersenyum dan mengelus puncak kepala Intan dengan sayang.


"Mereka berdua terlihat sangat bahagia." Ucap Bayu melihat Intan dan Setya.


"Bukan hanya mereka berdua. Aku juga sangat bahagia bersama kak Bayu." Ucap Ifa menggoda.


"Tentu saja. Aku sangat bahagia dengan gadis cabiku ini." Seru Bayu sambil mencubit gemas kedua pipi Ifa.


Setelah itu Setya dan Bayu segera memulai permainan mereka. Selama permainan, mereka selalu melihat ke arah Intan dan Ifa dengan senyuman lebarnya.


"Ah, beruntung sekali sih mereka bisa mendapatkan kak Setya dan kak Bayu."


"Benar. Mereka bisa menikmati senyum kak Setya dan kak Bayu dari dekat bukan hanya dari jauh seperti kita sekarang."


"Aku baru pertama kali ini melihat pacar kak Setya dengan jelas, dia cantik juga ya."


"Ya, mereka berempat memang pasangan yang cocok."


Intan tersenyum mendengar bisikan gadis-gadis penganggum kak Setya dan kak Bayu itu. Dari situ dia bisa sangat bersyukur, karna memang dirinya sangat beruntung bisa dipilih oleh Setya.


Setelah permainan berakhir, Setya dan Bayu kembali mendekati pasangan masing-masing.


"Ini aku membelikan minuman untuk kakak tadi." Ucap Intan sembari memberikan sebotol minuman untuk Setya.


"Kakak sangat berkeringat." Ucap Ifa sembari membersihkan keringat didahi Bayu dengan handuk yang dibawa Bayu. Intan dan Setya melihat itu dengan senyuman. Lalu, Setya menatap Intan seperti berharap.


"Kak Setya, juga mau aku bersihkan seperti kak Bayu?" Tanya Intan dengan senyuman.


Setya mengangguk senang sambil memberikan handuk kecilnya. Intan dengan senang hati menerima handuk itu dan mulai membersihkan keringat Setya.


"Aku baru tau kakak bisa manja seperti ini." Bisik Intan menahan geli.


"Aku hanya akan menjadi seperti ini didepan orang yang ku sayang saja." Jawab Setya santai dengan tetap tersenyum senang.


Tak jauh dari mereka Indah dan Rini menatap tak suka dengan hal itu. Mereka terlihat seperti merencanakan sesuatu dengan seringai diwajah keduanya.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2