
Intan segera keluar dari kamar Setya dan menuju dapur untuk berpamitan pada mama Setya.
"Tante-Tasya, Intan pulang dulu ya. Ayah sudah didepan." Pamit Intan sebelum pulang.
"Yah, kak Intan kok pulang sih. Kita bahkan belum main sama sekali loh." Seru Tasya manja.
"Hehe. Nanti, kak Intan akan main ke sini lagi. Atau kalau Tasya mau main ke rumahku juga gak apa-apa kok." Jawab Intan menenangkan.
"Serius boleh kak?" Seru Tasya antusias. Intan pun mengangguk sebagai jawaban.
Tunggu! Kenapa aku sesenang ini karna diperbolehkan ke rumah kak Intan?
Tidak! Kamu berpikir apa sih, Tasya! Mana mungkin untuk ketemu sama cowok nyebelin kayak Dika itu! Huh! ... Tasya
"Oh ya, tente untuk pesta ulang tahun kak Setya. Kak Setya pasti akan menyetujuinya sekarang. Jadi, tante bisa mulai menyiapkannya." Ucap Intan dengan senyuman.
"Wah, kamu berhasil membujuk Setya, sayang?" Tanya bunda antusias.
"Hm, sedikit ... Oh, ya tante Intan sekarang lagi pura-pura ngambek sama kak Setya. Dan Intan akan pura-pura gak dateng juga dipesta ulang tahun kak Setya. Tapi, nanti Intan akan beri kejutan untuk kak Setya. Jadi, rahasiakan ini ya tante." Bisik Intan pelan, agar Setya tak bisa mendengarnya.
Mama Setya dan Tasya yang mendengarnya pun ikut tersenyum jahil menyetujui rencana Intan.
"Hehe. Aku setuju dengan ide kak Intan. Kak Setya, pasti uring-uringan tuh." Jawab Tasya sambil menahan senyum, membayangkan keadaan kakaknya sekarang.
"Tentu saja sayang, tante sangat setuju. Hehe ... Oh, ya nanti ajak keluargamu juga untuk datang ke pesta ulang tahun Setya ya." Ucap mama lembut.
Wah, keluarga kak Intan juga diundang, berarti cowok nyebelin itu juga dateng dong.
Hm, besok aku pakai gaun apa ya? Aku harus terlihat cantik, supaya gak diremehin lagi sama cowok nyebelin itu! ... Tasya.
"Tentu tante. Kalau gitu, Intan pergi sekarang ya. Assalamu'alaikum." Pamit Intan sembari mencium punggung tangan mama Setya dan memeluknya sekilas.
"Wa'alaikum salam, hati-hati ya sayang." Ucap bunda lembut.
Akhirnya, Intan pun pulang. Di depan rumah Setya, ayahnya sudah menunggu disana. Intan segera bergegas masuk ke dalam mobil, karna sudah membuat ayahnya menunggu.
"Maaf ya ayah, Intan uda ngerepotin ayah buat jemput Intan dan nunggu lama juga." Ucap Intan merasa bersalah.
"Kok ngerepotin sih? Ayah sama sekali gak merasa direpotkan sayang ... Memangnya ada apa sampai ke rumah Setya dan dia tidak mengantarkanmu? Apakah bocah ingusan itu membuang tuan putri ayah, sekarang?!" Tebak ayah dengan nada tajam. Sepertinya, dia sudah siap melabrak Setya kalau dugaannya ternyata benar terjadi.
"Bukan ayah. Kak Setya gak membuangku. Kaki kak Setya terkilir waktu pelajaran olah raga tadi dan kata dokter gak boleh banyak gerak dulu, apalagi naik motor. Mangkannya, tadi Intan nganterin sekalian ketemu mamanya kak Setya." Jelas Intan panjang lebar.
"Dasar ceroboh! Menjaga diri sendiri saja tidak becus, bagaimana bisa menjaga tuan putriku?!" Gumam ayah mengejek Setya. Intan yang mendengar itu pun tersenyum geli. Bisa-bisanya sang ayah selalu memanfaatkan apapun yang berhubungan dengan kelemahan Setya untuk mengejeknya.
Kring ... Kring ... Kring
__ADS_1
Ponsel Intan berbunyi nyaring dalam tas Intan. Ia segera mengambilnya, disana ia melihat naman Setya yang melakukan panggilan. Tapi, karna actingnya, ia tidak mengangkat panggilan itu. Intan memilih mode getar pada ponselnya agar tidak membuat ayahnya terganggu.
"Kok gak diangkat sayang? Siapa?" Tanya ayah bingung.
"Ehm, kak Setya ayah ..."
"Setya? Tapi, kenapa gak diangkat? Apa kalian lagi marahan? Apa dia membuat kamu kecewa atau sedih sayang?" Tanya ayah panik.
"Bukan ayah, Intan hanya pura-pura ngambek saja sama kak Setya karna minggu depan kak Setya ulang tahun. Dan keluarga kak Setya mau merayakannya, karna ini acara sweetseventeen nya kak Setya ... Sebelumnya, kak Setya mau bilang tidak dirayakan karna kak Setya memikirkan keadaan Intan. Kak Setya selalu memikirkan kebahagiaan Intan dulu daripada dirinya sendiri. Sedangkan, Intan belum bisa melakukan apapun pada kak Setya." Keluh Intan pada sang ayah.
"Karna, memang itulah kebahagiaannya sayang. Melihat orang yang disayangi bahagia, adalah kebahagiaan bagi seorang pria." Jawab ayah dengan lembut.
Dilain sisi di rumah Setya, dia sedang uring-uringan karna Intan tak menjawab telponnya.
"Apakah Intan beneran marah sama aku ya?" Gumam Setya frustasi. Dia sudah mencoba menghubungi Intan beberapa kali, tapi Intan sama sekali tidak mengangkat telponnya.
"Setya, mangkok camilannya sudah selesai?" Tanya mama yang memasuki kamar Setya. Dilihatnya sang putra yang terlihat frustasi dengan ponsel digenggamannya.
"Ada apa, kenapa wajahmu cemberut gitu?" Tanya mama pura-pura tidak tahu.
"Setya sudah membuat Intan kecewa dan marah dengan Setya. Sekarang, dia gak mau angkat telpon dari Setya. Ma, apakah Intan akan meninggalkanku?" Tanya Setya yang terlihat tertekan.
"Mungkin saja." Jawab mama acuh, sembari mengambil nampan berisi mangkok kosong disamping Setya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Setya lagi.
Setya hanya bisa mendengar itu sembari menghela nafas panjag.
"Huh.. Semua ini gara-gara pesta ulang tahun itu! ... Hm, tapi mungkin ini juga yang bisa menyelamatkanku, Intan pasti seneng kalau tau aku jadi ngadakan pesta ulang tahun. Baiklah, aku akan mengatakannya pada Intan besok." Gumam Setya mulai menyusun strategi untuk membuat Intan tak marah lagi.
...****************...
Keesokan harinya, Intan berangkat sekolah dengan diantarkan sang ayah. Sedangkan Setya, diantarkan oleh papanya juga. Kebetulan, keduanya sampai di sekolah bersamaan.
"Intan.." Panggil Setya dengan senyum diwajahnya.
Intan pun berjalan mendekati Setya setelah berpamitan pada ayahnya. Tanpa bicara apapun, Intan kembali membantu Setya berjalan.
"Kamu masih marah padaku? Kenapa tak mengangkat telpon atau membalas pesanku?" Tanya Setya sambil menatap Intan.
"Hey, Gimana kakimu?" Tanya Bayu yang datang dari arah parkiran bersama Ifa.
"Sudah lebih baik ..."
"Kak Bayu, tolong antarkan kak Setya ke kelas ya. Yuk Fa, kita juga harus ke kelas." Seru Intan sembari melepaskan tangannya dari Setya dan menarik Ifa untuk segera pergi.
__ADS_1
"Intan!!" Panggil Setya, rasanya ia ingin berlari ke arah Intan, namun kakinya masih belum bisa bergerak dengan leluasa.
"Kalian bertengkar?" Tebak Bayu yang melihat Setya dan Intan. Setya hanya bisa mengangguk dengan pasrah.
"Wow! Ada masalah apa?" Tanya Bayu penasaran. Dia tau hubungan Intan dan Setya baik-baik saja sebelumnya, lalu kenapa sekarang tiba-tiba bertengkar.
Dilain sisi, Ifa juga penasaran dengan apa yang terjadi.
"Huh, aku harus menghindari kak Setya beberapa hari. Tapi, melihatnya seperti anak kucing seperti itu membuatku gak tega." Ucap Intan setelah berhasil menjauh dari Setya.
"Kalian kenapa?" Tanya Ifa bingung. Ia kira Intan dan Setya sedang bertengkar. Tapi, mendengar ucapan Intan barusan sepertinya bukan karna itu.
Akhirnya, Intan menceritakan rencananya pada Ifa. Begitupun dengan Setya, dia menceritakan masalahnya pada Bayu.
"Fa, temani aku beli hadiah untuk kak Setya, weekend ini yuk. Hm, aku juga mau pilih gaun untuk datang ke ulang tahunnya kak Setya." Ajak Intan antusias.
"Boleh, aku juga harus memilih gaun untuk bersanding dengan kak Bayu. Tapi, agak sore ya?" Tawar Ifa.
"Kenapa?" Tanya Intan bingung, pasalnya biasanya mereka ke mall mendekati jam siang.
"Hm, sebelum itu aku mau menemani mama kak Bayu belanja." Jawab Ifa santai.
"Wow, belanja dengan besan dong. Hehe.. Kapan kak Bayu membawamu ke rumahnya?" Tanya Intan bingung, karna Ifa sama sekali belum menceriratakan apapun padanya.
"Setelah ambil raport tengah semester kemarin. Kebetulan aku bertemu dengan kak Bayu dan mamanya. Mamanya kak Bayu sangat baik. Ternyata kak Bayu tuh anak satu-satunya. Mangkannya dia seneng banget waktu tau kak Bayu punya pacar, semenjak itu mama kak Bayu kalau mau belanja atau ke salon selalu mengajakku." Jelas Ifa dengan senyuman.
"Keren. Kamu sudah diterima dikeluarganya kak Bayu." Seru Intan antusias.
"Kenapa berlebihan, bukannya kau juga sama? Bahkan kedua keluarga sudah saling bertemu dan liburan bersama." Seru Ifa dengan suara yang tak bisa dikatakan pelan.
Obrolan mereka cukup terdengar oleh beberapa siswi yang melintas. Alhasil, dengan kecepatan cahaya berita itupun menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Para siswi yang mengidolakan Setya dan Bayu pun merasa semakin jauh dan tak mungkin memiliki kesampatan walau mereka berharap sekalipun.
"Kamu ngomongnya kekencengan." Seru Intan kesal.
"Kenapa? Bukankah berita ini juga sudah menjadi perbincangan sekolah, karna mereka melihat postingan foto-foto kita waktu liburan kemarin?" Tanya Ifa yang terlihat acuh.
"Hm, benar juga sih. Ah, biarin aja deh." Seru Intan ikut acuh.
Kami ingin menjadi Intan dan Ifa!! ... Teriak hati author dan para penggemar Setya dan Bayu😂✌️
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..