Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Perdebatan mertua


__ADS_3

Tangis haru menyelimuti malam yang indah itu. Setelah Intan menerima lamaran dari Setya. Mereka bergandengan tangan untuk mendekat ke arah keluarga mereka dengan senyuman lebar yang jelas menggambarkan kebahagiaan mereka saat itu.


"Setya, kamu sudah bisa berjalan nak?" Tanya mama mendekati sang putra dengan air mata kebahagiaan di wajahnya.


"Iya ma. Setya sudah sembuh. Maaf, Setya gak langsung mengatakannya. Karna, Setya ingin memberikan kejutan untuk semuanya." Ucap Setya dengan senyuman di wajahnya.


"Syukurlah sayang. Selamat ya nak. Mama bahagia sekali." Seru mama sambil memeluk sang putra.


"Kamu hebat Setya. Akhirnya, kamu bisa melewati keadaan terpurukmu." Ucap papa sambil menepuk bahu Setya.


"Kak Setya! Selamat ya kak! ... Tasya sangaatttt bahagia untuk kakak!!" Seru Tasya sambil memeluk Setya setelah sang mama.


Tentu saja bukan hanya keluarga Setya yang merasa bahagia. Semua tamu undangan juga bahagia. Mereka silih berganti mengucapkan selamat untuk kesembuhan Setya.


"Om-tante, saya sudah sembuh. Sekarang, saya bisa berdiri di samping Intan lagi dan melindunginya. Izinkan saya untuk menikahi putri om dan tante. Saya berjanji akan selalu membuatnya bahagia." Ucap Setya dengan sangat serius.


"Kamu sudah pantas untuk Intan, bahkan sebelum kamu sembuh Setya. Tante sudah memberi restu sejak lama untukmu." Ucap bunda ramah.


"Baiklah, aku pasrahkan putriku padamu. Tolong jaga dia dengan baik. Bahagiakan dia selalu. Jika, kamu menyakitinya aku akan mengambilnya lagi darimu saat itu juga!" Seru ayah dengan nada tegas.


"Saya berjanji akan selalu membuat Intan bahagia, om. Terima kasih." Ucap Setya dengan keyakinan penuh di matanya.


"Intan selamat!! Kamu juga akan menikah menyusulku!!" Seru Ifa sambil memeluk Intan dengan erat.


"Iya. Hehe." Ucap Intan dengan senyum lebar.


Kemudian, mereka semua kembali menikmati acara malam itu. Para orang tua duduk berama sekaligus untuk membicarakan kapan pernikahan mereka. Sedangkan, Setya dan Intan memilih untuk duduk berdua di taman. Intan terus menggenggam tangan Setya, sesekali mengusap dan memainkannya. Intan juga bersandar di bahu Setya dengan manja.


"Kak Setya ..." Panggil Intan dengan nada manja.


"Iya?" Jawab Setya sambil melihat Intan yang bersandar di bahunya. Intan menggeleng dengan senyum diwajahnya.


"Kak Setya ..." Panggil Intan lagi.


"Iya?" Jawab Setya lagi. Dan lagi-lagi Intan menggeleng dengan kekehan geli.


"Kak Setya ..."


"Ada apa tuan putri?" Jawab Intan dengan sangat lembut.


"Hehehe. Gak apa-apa. Aku hanya suka memanggil nama kakak dan mendengar kakak menjawabku." Jawab Intan sambil mempererat pelukannya di lengan Setya.


"Yasudah panggil namaku terus dan aku akan selalu menjawabnya." Ucap Setya sambil mengusap kepala Intan dengan sayang.


"Kak Setya gak marah?" Tanya Intan sambil mendongak menatap Setya.


"Kenapa aku harus marah?"


"Mungkin kakak kesal karna aku terus menggoda kakak?" Tanya Intan dengan tatapan menggemaskan sembari menyandarkan dagunya di bahu Setya.


"Untuk apa aku marah sayang. Kamu boleh memanggilku sepuas kamu. Dan aku akan selalu menjawabmu.." Jawab Setya sambil mencubit pelan hidung Intan.


"Hihihi.. Ini seperti mimpi ya? Intan sungguh gak nyangka, hari ini akan tiba. Makasih ya my hero. Kamu sudah memberi Intan kado terindah di ulang tahun Intan kali ini. Intan pasti gak bakalan bisa melupakan hadiah ini. Selamanya!" Ucap Intan dengan senyum lebar.

__ADS_1


"Sama-sama sayang. Membuatmu bahagia, memang sudah kewajibanku. Bukan hanya hari ini, tapi setiap harinya aku akan berusaha selalu membuatmu bahagia." Ucap Setya sambil menyandarkan kepalanya pada Intan. Intan tersenyum mendengar ucapan Setya. Rasanya seperti hatinya saat itu penuh dengan bunga.


"Sebenarnya kak Setya semenjak kapan sudah bisa berjalan? Dan menyiapkan semua ini?" Tanya Intan penasaran.


"Semenjak ulang tahunku." Jawab Setya santai.


"Selama itu? Itu sudah 4 bulan yang lalu lho!" Seru Intan tak percaya. Intan menatap Setya yang terlihat tersenyum geli.


"Hahaha. Aku memang sengaja menyembunyikannya. Jujur, setelah kakiku sembuh, mendapat bantuan dari kamu, papa, Bayu, dan yang lain, membuatku merasa benar-benar disayangi. Jadi, aku menyembunyikannya beberapa waktu, sebelum aku benar-benar menunjukkan kalau aku sembuh. Lagian, aku juga senang melihat Bayu yang sama sekali tak mengeluh saat membantuku. Hehe." Jawab Intan dengan senyuman diwajahnya.


"Kak Setya nakal yaa. Pantas saja, sebelum ini kakak terlihat sangat santai. Ternyata kakak menyembunyikan semunya. Dasar! ... Kalau kak Bayu tahu, kak Setya menyembunyikan kesembuhan kakak sudah lama. Pasti dia akan menggerutu terus pada kakak. Hahaha."


"Mangkannya jangan katakan pada dia. Kalau tidak dia akan terus mengeluh padaku." Seru Setya mengingatkan.


"Baik.. Hehe.."


"Oh ya sayang, kamu mau pesta pernikahan yang seperti apa?" Tanya Setya lembut.


"Ehm, melihat kejutan lamaran kakak di taman seperti ini, aku jadi ingin mengadakan pesta pernikahan dengan tema outdoor kak ... Bagaimana? Pasti sangat indah! Sore hari kita adakan ijab kabul dengan dihadiri keluarga dan kerabat besar saja. Lalu malamnya acara resepsi dengan mengundang banyak teman-teman lain. Kita, juga adakan pesta dansa! Ah, aku sangat bersemangat. Bagaimana?" Tanya Intan dengan mata berbinar.


"Hm, baiklah. Kita lakukan seperti keinginanmu. Bagaimanapun konsep yang kamu mau, aku akan mengabulkannya." Ucap Setya dengan lembut.


"Sungguh? Kakak juga gak ada gambaran pesta pernikahan yang kakak inginkan? ... Padahal, aku sudah takut kita akan berdebat juga seperti kak Bayu dan Ifa, karna perbedaan pendapat."


"Kita gak perlu begitu. Apapun yang membuatmu bahagia, aku pasti akan mewujudkannya. Kalau, aku lebih tertarik pada bulan madunya." Seru Setya dengan alis terangkat dan tatapan menggoda.


"Ih, kak Setya! Dasar!" Seru Intan malu dengan wajah merona.


"Hahaha. Kamu sangat menggemaskan sayang." Ucap Setya sambil mencubit pelan kedua pipi Intan.


"Pokoknya aku gak mau pisah dari putriku setelah mereka menikah. Aku ingin Intan tinggal di rumahku. Setya yang harus pindah ke rumah kami." Seru ayah bersih keras tak mau dibantah.


"Tapi, bukannya istri yang harus mengikuti suami? Aku juga mau tinggal bersama menantuku. Intan harus tinggal di rumah kami." Bantah mama yang juga tak mau mengalah.


"Gak boleh, harus di rumahku!" Seru ayah.


"Di rumahku!" Seru mama.


Papa dan Bunda, juga orang tua Bayu dan mama Ifa yang juga ada disana hanya menggeleng pasrah. Kalau mama Ifa memang sudah merelakan kalau Ifa tinggal dengan Bayu, karna Bayu memang anak satu-satunya.


Tapi, kelihatannya berbeda dengan orang tua Intan dan Setya. Bayu dan Ifa yang mengetahui itu segera pergi untuk memanggil Intan dan Setya agar melerai perdebatan orang tua mereka itu.


"Intan, kak Setya. Sepertinya kalian harus ke dalam deh. Orang tua kalian sedang berdebat di dalam." Seru Intan saat melihat Setya dan Intan yang malah asyik bercanda.


"Haahh? Kenapa mereka berdebat?" Tanya Intan bingung.


"Lihatlah sendiri." Jawab Ifa yang bingung harus menjelaskan bagaimana pada Intan tentang perdebatan konyol kedua orang tuanya itu.


Akhirnya, Intan dan Setya segera masuk ke dalam kafe. Benar saja ayah dan mama sedang berdebat dan sama-sama tak ada yang mau mengalah. Tapi, saat Intan dan Setya tahu karna apa perdebatan itu, mereka hanya bisa menggelengkan kepala lemah. Mereka pikir sesuatu yang besar, ternyata hanya hal sepele.


"Kenapa mama dan om harus berdebat karna maslah itu?" Tanya Setya bingung.


"Mama kan ingin tinggal sama menantu mama." Jawab mama memelas.

__ADS_1


"Aku juga gak mau pisah dari putriku! .. Wan, apa jika, Tasya nati menikah kau mau dia meninggalkanmu?" Tanya ayah pada papa Setya.


"Tentu saja gak mau!" Jawab papa cepat.


"Nah, sama saja denganku. Setya yang akan ikut denganku dan Dika nanti akan ikut denganmun Sudah adil kan?" Tawar ayah mencoba menego.


"Ayah, kami bukan barang yang bisa dibarter!" Seru Dika menyela. Sebelumnya, dia hanya diam saja sampai sang ayah mulai membawa namanya dan Tasya.


"Tapi om setuju dengan itu, aku juga gak mau pisah dari Tasya. Ma, sudahlah begitu saja." Bujuk papa pada sang istri.


"Tapi ..."


"Maaf menyela, tapi setelah pernikah, Setya ingin tinggal berdua bersama Intan saja." Ucap Setya tegas.


"Apa kamu bilang?! Jadi, kamu mau membawa putriku pergi?! Kamu mau merebut putriku dariku?!" Seru ayah tak terima.


"Bukan begitu om. Intan tentu saja akan terus jadi putri om. Pernikahan kami gak akan merubah kenyataan itu. Tapi, kami juga ingin hidup mandiri. Kalau kami tinggal bersama kalian, kami tidak akan bisa hidup mandiri untuk mengurus rumah tangga kami. Kami akan terus bergantung pada kalian." Jawab Setya bijak.


"Apa salahnya jika seorang anak bergantung pada orang tuanya?!" Seru ayah masih kesal.


"Gak ada salahnya om. Tapi, setelah menikah, kami cepat atau lambat juga akan segera menjadi orang tua. Kami, harus belajar mengatur masalah kami sendiri agar siap untuk menjadi contoh untuk anak-anak kami nanti."


"Ayah yang dikatakan kak Setya ada benarnya. Ayah akan tetap jadi ayah Intan, walaupun kak setya sudah menikah dengan Intan. Tapi, kami juga perlu belajar menjadi dewasa dengan mengurus rumah tangga kami sendiri ... Jika, saatnya tiba nanti, tentu saja Intan akan kembali ke ayah. Intan akan merawat dan menjaga ayah di hari tua ayah. Intan gak akan tinggalin ayah ... Lagian, Intan juga kan tinggalnya masih di kota ini, seminggu sekali Intan dan kak Setya janji akan gantian menginap di rumah ayah dan tante." Ucap Intan menambahi dengan nada sangat lembut agar kedua keluarganya bisa mengerti.


"Tolong om dan mama, mencoba mengerti kemauan kami. Setya yakin, diawal pernikahan dulu baik papa dan ayah pasti juga merasakan hal yang sama." Ucap Setya dengan nada lembut juga.


"Hm, baiklah. Mama mengerti." Jawab mama pasrah.


"Ayah?" Panggil Intan pada sang ayah yang terlihat murung.


"Iya, ayah izinkan. Tapi, janji ya jangan lupakan ayah." Pinta ayah dengan nada lirih.


"Tentu saja ayah. Bagaimana, Intan bisa melupakan ayah? Itu gak bakalan mungkin." Ucap Intan sambil memeluk sang ayah.


"Ifa sayang, apa kamu juga ingin tinggal berdua saja dengan Bayu setelah kalian menikah?" Tanya mama Bayu dengan tatapan penuh harap.


"Enggak tante. Ifa akan tinggal bersama tante saja. Ifa yakin, tante bisa membimbing Ifa menjadi istri dan orang tua yang baik nanti." Jawab Ifa lembut. Situasi Ifa dan Intan berbeda. Ifa tak bisa menyamakannya. Lagian, Ifa juga tak masalah kalau harus tinggal dengan orang tua Bayu.


"Terima kasih sayang." Jawab mama Bayu senang.


"Oh ya, Ifa sayang. Untuk pernikahan Ifa nanti, ayah yang akan jadi wali Ifa. Ayah akan menggantikan posisi papa Ifa dan menikahkan kamu dengan Bayu." Ucap ayah pada Ifa.


"Sungguh ayah? Terima kasih. Ifa sangat senang!" Seru Ifa dengan mata berbinar.


Walaupun, dia sudah tak memiliki ayah. Tapi, ayah Intan memang selalu menganggapnya sebagai putrinya sendiri, bahkan sekarang ayah bersedia menjadi wali nikahnya. Ifa sangat bahagia.


Akhirnya, perdebatan mertua itu selesai dengan baik. Hm, gimana ya kelanjutan kisah mereka? Kalau pensaran ikutin terus ceritanya yaa😁✌️


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2