Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
22. Rencana Penangkapan


__ADS_3

ATAS permintaan Kekira, Akbi terpaksa bohong pada Ayah Bunda waktu ditanya tentang luka Kekira dengan mengatakan itu luka yang didapat waktu tracking naik gunung dan melakukan panjat tebing.


Akibatnya juga Kekira tidak diizinkan keluar rumah sampai pulih.


Polisi masih berupaya mengungkap kasus yang meresahkan warga.


Akbi bersama gengnya ikut melakukan pencarian.


Karena saudara perempuan mereka ada yang belum ditemukan.


Indah adiknya Egi ditemukan nyaris tewas di pinggir jalan dengan tubuh penuh luka. Untung saja ditemukan oleh pemulung kardus. Kalau tidak segera dibawa ke rumah sakit, mungkin Indah tidak tertolong.


Via bahkan ditemukan jauh dari lokasi terakhirnya terlihat. Menurut informasi, Via dinaikkan dalam bis arah Tangerang. Bahkan kondisi ABG itu terlihat linglung.


Baik Indah atau Via belum bisa diinterogasi polisi.


Besar harapan korban-korban masih hidup.


Namun posisi tidak dapat dilacak karena para korban dibuang di tempat yang berbeda-beda.


***


Sore ini tiba-tiba saja Riga muncul di rumah Kekira.


“Katanya mau sebulan di sana, Mas? Ini baru dua minggu.” Kekira jadi ngeri karena ekspresi Riga garang.


“Enggak usah tanya kerjaan aku. Jawab jujur, kemarin acara kemping kamu gimana?”


Kekira menelan ludah. Duh kenapa Riga nanya hal itu?


“Seru kok, Mas.”


“Aku denger ada kejadian berbahaya di sana.” Riga menatapnya tajam. “Kamu juga terlibat?”


Pasti Riga mendengar selentingan tentang kejadian itu di kampusnya.


“Aku sempet kesasar di hutan. But everything is fine.”


“Are you sure?” Riga menatapnya dalam.


“Iya. Liat sendiri kan, I’m okay.”


“Nggak ada yang kamu sembunyiin dari aku?”


“Apa yang bisa aku sembunyiin sih, Mas? Kita udah mau nikah. Apa Mas bisa sedikit percaya sama aku?” Kekira kesal juga, lebih menutupi kegundahannya.


HP Riga berbunyi.


Tanpa peduli, Kekira beranjak ke dapur.


Riga memandangnya tajam, sambil menjawab telepon.


Di dapur, Kekira memasak air tanpa semangat.

__ADS_1


Dia harus banyak berbohong pada Riga karena malas berurusan panjang dengan tunangannya.


“Ki, aku pergi dulu.” Muncul Riga di dapur.


“Mau ke mana, Mas? Hujan lho ini.”


“Aku ke sini cuma mau liat kamu. Sekarang aku mau lanjut kerja lagi.” Riga menyingsingkan lengan kemejanya.


Kekira mengerutkan kening melihat di tangan Riga ada bekas cakar.


Tapi dia tidak bertanya lebih lanjut.


Riga mendekatkan kepala membuat Kekira menghindar.


“Mau ngapain sih, Mas?”


“Enggak usah sok polos gitu deh, kamu kan tunanganku. Aku mau cium kamu.”


Kekira jadi takut. “Jangan, Mas. Nggak baik. Nanti aja kalo kita udah nikah.”


“Ahhh sok suci banget..” Riga menarik paksa Kekira.


“Mas! Jangan, Mas.. kita belum boleh ngelakuin itu!” Kekira meronta.


Riga menarik jilbab Kekira.


“Mas!”


Riga melepaskan pegangannya dan berbalik.


Bunda muncul membawa kantong belanjaan.


Kekira menahan tangis sambil membetulkan jilbabnya yang berantakan.


“Udah lama, Nak?” tanya Bunda.


“Udah, Bu. Ini mau berangkat lagi ke Kalimantan. Barusan saya datang memastikan keadaan Kekira.”


Bisa banget Riga bersikap begitu di depan Bunda.


“Oke saya pamit, Bu.” Riga berbalik pergi.


Begitu Riga pergi, Kekira gemetar menahan marah.


Bunda menyentuh bahunya. “Kamu nggak pa-pa kan, Sayang?”


Kekira menatap Bunda, berkaca-kaca.


Tak tahan ia memeluk Bunda dan menumpahkan tangisnya.


***


“Olin udah pulang, Bi. Dan sekarang dia dirawat di rumah sakit gara-gara tangannya patah.”

__ADS_1


Berita dari Elon tentang saudara kembarnya membuat Akbi lega sekaligus heran.


“Yang gue nggak ngerti, tujuan penculiknya tuh apa? Dia culik korban, tapi nggak minta uang tebusan.”


Egi berargumen. “Kita juga heran, Bi. Tapi menurut gue, ini pelakunya gila. Dia nggak minta uang tebusan, nggak bunuh korbannya juga, tapi nyiksa abis-abisan fisik dan mental korban. Hingga ada aja korbannya yang meninggal setelah ditemuin, ada juga yang bunuh diri saking depresinya.”


“Bener. Mayang juga baru ditemuin tadi siang.” Roni menambahkan. “Sekarang Mayang dibawa tante gue pindah ke Kalimantan, menghindari trauma yang diderita Mayang gara-gara kejadian dia diculik. Menurut keterangan, dia disekap dan disiksa.”


“Gimana dengan Via dan Indah?” tanya Akbi memandang Egi dan Dedy. “Kalian dapet sesuatu?”


“Sama, Bi. Mereka juga disekap dan disiksa.”


Akbi mengepalkan tangannya keras. “Gue bener-bener marah sama orang sycho ini! Beraninya dia main-mainin hidup orang. Gila kan! Waktu gue kemping kemaren, ada 3 korban yang diculik dan disekap di gua. Untung mereka ketemu. Dan sama, mereka cuma disiksa. Gue rasa, pelaku ini semua orang yang sama.”


“Sampe pelakunya ketangkep, gue rasa kita nggak punya waktu senggang. Apa kita bikin rencana mancing dia keluar?” usul Gery.


“Apa ide lo?”


“Kita cari cewek yang jago bela diri. Dan dia jadi pancingan penculik. Kita pasang alat penyadap dan sergap tu orang sakit jiwa.”


Akbi berpikir. “Boleh juga sih.”


“Tapi gue rasa terlalu bahaya. Meski ada cewek yang jago bela diri, gue worry tenaga tu orang gila terlalu sulit dia lawan.” Egi ragu. “Gue aja emosi liat kondisi Indah. Dari luka-lukanya gue udah bisa tau penculiknya orang nggak waras. Malahan Indah bilang, dia dicambukin tiap pagi pakai sabuk.”


“Nggak ada indikasi diperkosa?”


Egi menggeleng. “Semua korbannya nggak ada yang diperkosa. Mereka cuma disiksa.”


“Kalian tenang aja. Gue punya kenalan atlet muaythai. Umurnya pas sama sasaran penculik. Dia udah terlatih dan gue yakin dia orang yang tepat untuk misi kita ini.”


“Dia ada di mana?”


“Dia lagi di Berlin. Minggu depan dia ke Jakarta. Gue udah cerita tentang ini dan dia mau bantu.”


“Oke kalo gitu. Selama seminggu ini kita investigasi ke lokasi penemuan korban-korban. Mungkin kita bakal dapet petunjuk. Buat yang punya sodara perempuan, jaga baik-baik. Jangan sampe kecolongan lagi.”


Akbi menatap mereka.


“Gue nggak liat Hendri, ke mana dia?”


“Hendri lagi nemenin pacarnya yang ada kuliah malam di kampus. Soalnya Hendri cemas pacarnya bakal jadi korban selanjutnya kalo nggak dia jaga.”


Akbi mengangguk-angguk. “Dedy, koordinasi sama Hendri, untuk siapin alat penyadap sama GPS.”


“Oke, Bi.”


“Dan gue juga nggak lihat Evan. Dia ke mana?”


“HP-nya nggak aktif, Bi. Belakangan ini dia emang jarang kumpul sama kita. Dan selalu susah dihubungin.”


“Ya udah lah, mungkin dia nggak tertarik bantu dalam kasus ini.”


***

__ADS_1


__ADS_2