
SIANG ini Akbi mengajak Kekira makan siang di kafe sekaligus bertemu para geng-nya.
“Ini udah seminggu sejak kita serahin bukti itu, bagaimana progress-nya, Bi?” tanya Kekira cemas.
Akbi mengetuk-etuk jari di meja. “Polisi lacak nomor pengirim video dan beberapa nomor mencurigakan, tapi belum ada hasil.”
Kekira mengaduk minumannya, resah.
Ia menatap Kekira. “Ngomong-ngomong, gimana kamu sama Riga?”
“Kenapa tiba-tiba nanya Mas Riga?”
“Jawab aja.”
Kekira angkat bahu. “Dua hari lalu dia nelepon, ngabarin ada tugas ke Bangkok sampe minggu depan.”
“Dia tau kabar tentang Veni?”
“Aku nggak tau. Dan nggak mau tau juga. Setiap bahas Veni, Mas Riga pasti marah-marah.”
“Kamu harus lebih waspada. Kalau Veni pelakunya, berarti kamu bisa jadi sasaran selanjutnya.”
Kekira terdiam gelisah.
Akbi menggenggam tangannya. “Tenang aja, aku bakal jagain kamu. Kamu jangan takut ya.”
Kekira tersenyum kecil.
“Hai Bi…”
Obrolan mereka terputus dengan kedatangan Tara.
“Hai.”
“Semuanya udah siap.” Tara cuek menyeruput minuman Akbi.
"Geng Tyrex siap lakukan pengintaian malam ini."
“Good. Nanti malem gue bakal berkeliaran di sekitar Lenteng Agung bawah fly over. Gue denger, paling banyak korban diculik dari arah sana.”
Akbi mengangguk-angguk. “Gue bakal kawal lo langsung.”
Tara tersenyum sambil memegang lengan Akbi.
“Gue seneng lo khawatir sama gue. Tapi sebaiknya lo nggak ikut. Karena kita berhadapan sama orang yang bukan cuma cerdik, tapi licik. Keberadaannya nggak bisa dilacak. Jalan satu-satunya, dia harus nangkep gue. Begitu gue sampe di tempat persembunyiannya, kalian bisa lacak posisi gue.”
“Lo harus hati-hati kalo tau penculiknya licik. Jangan sampe ketauan lo pake GPS dan alat penyadap.”
“Lo tenang aja. Gue sembunyiin GPS dan penyadap di tempat yang nggak akan ditemuin penculiknya.”
“Emang di mana?”
Tara mengedip nakal sambil menunjuk dadanya sendiri membuat Kekira dan Akbi melongo.
“Kamu simpen di dalam bra?” tanya Kekira kaget.
Tara mengangguk bangga. “Cerdas kan gue?”
__ADS_1
Kekira geleng-geleng kepala, geli.
Sementara Akbi tidak tahu harus bilang apa.
Yang jelas Tara bukan cuma nekat, tapi gila.
“Lo berdoa aja tu orang sycho nggak nelanjangin lo.” Akbi berkomentar.
“Gue udah selidiki, korban cuma disiksa, nggak diperkosa. Berarti pelakunya bukan maniak ****. Jadi gue rasa, GPS di pakaian dalam gue bakal aman.”
HP Kekira berbunyi.
Ada pesan masuk.
Akbi masih menjelaskan hal yang perlu dilakukan Tara.
Tidak menyadari air muka Kekira berubah pucat.
Muncul Hendri, Gery, Egi, dan Dedy.
“Bi, sebagian anggota Tyrex udah berjaga di sekitar lokasi.” Egi melaporkan.
“Good. Jangan sampe mencolok.”
“Tenang aja, kita semua menyamar."
"Goga dan Andre sudah stand by dengan angkot sewaan. Mereka bakal mangkal sekitaran sana untuk mantau keadaan. Motor
“Lo kenapa, Ki? Sakit?” tanya Hendri membuat semua menatap Kekira.
Kekira berkeringat dingin, tangannya gemetar.
Kekira menyerahkan HP-nya.
Akbi mengerutkan kening dan melihat pesan WhatsApp.
"Share location? Siapa yang ngirim?"
“I-itu, itu kayaknya Veni.”
Akbi kaget. “Apa?!”
Semua ikut melihat. Hanya share location tidak ada pesan.
“Apaan nih? Lokasi pembantaian?” celetuk Egi.
“Sembarangan, ini pasti petunjuk.” Gery yakin.
“Nomor iseng kali tu,” timpal Hendri.
“Tapi bisa jadi ini petunjuk kasus penculikan.”
“Dedy, lo catet nomor teleponnya, lacak segera.” Perintah Akbi.
“Oke.” Dedy mencatat nomor pengirimnya.
"Dan lacak lokasi itu. Gue rasa ini berkaitan dengan pelaku penculikan. Mungkin kita udah mendekati. Kita harus pecahin kasus ini."
__ADS_1
"Siap, Bi."
“Apa maksud Veni?” Kekira jadi gelisah.
“Apapun itu, kamu nggak aman. Lebih baik aku anter kamu pulang. Dan jangan bertindak sendiri. Biar kami yang cek lokasi itu.”
“Eh Bi, trus gue gimana?” sergah Tara.
“Abis nganter Kekira gue ke sini lagi. Gue pergi dulu. Ayo, Ki.” Akbi menggandeng tangan Kekira.
“Mereka pasangan cocok ya,” komentar Gery begitu Akbi dan Kekira pergi.
“Iya bego aja si Bira, nggak nembak-nembak tu cewek,” tambah Dedy.
Tara jadi penasaran. “Emang dia siapanya Bira?”
“Katanya sahabat dari kecil waktu di Bandung. Dan mereka ketemu lagi di kampus. Ya sejak ada dia, Bira nggak se-emosional dulu.”
Tara mendengus sebal.
Ternyata udah ada yang lebih dulu dari gue! Nggak bisa! Gue harus gerak cepat. Bira harus jadi milik gue! Gue harus ingetin dia hal-hal indah yang kami lalui dua tahun lalu. Dia pasti jatuh cinta sama gue! Batinnya.
***
Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam, tapi Kekira masih bertopang dagu menatap HP-nya.
Ia penasaran dengan lokasi yang dikirim.
Di daerah terpencil sebuah desa di kawasan Bogor.
"Apa maksudnya dia kirim lokasi ini? Apa dia dalam bahaya? Atau dia mau jebak aku?"
Ia menduga-duga segala kemungkinan berbahaya.
"Apa dia pancing aku ke sana? Tapi untuk apa? Kayaknya berlebihan kalau dia cuma dendam karena Mas Riga. Tapi kalo dia bisa jebak aku, pasti dia bisa ngelakuin hal lebih gila."
Ia mengetuk-ngetuk jarinya ke meja. "Apa aku telepon Mas Riga? Eh jangan.. dia kan lagi di luar negeri. Yang ada marah-marah aku ganggu kerjaannya."
Dipikir sampai kemana pun, ia tak menemukan dugaan.
Ia mengucek matanya dan menguap pelan. Cuaca di luar gerimis membuatnya menyerah.
“Mending aku tidur aja deh.”
Baru naik ke tempat tidur, tiba-tiba matanya menangkap bayangan hitam di balik gorden arah beranda kamarnya.
Tubuhnya menegang, bulu kuduknya merinding.
“Siapa itu!?”
Sosok itu berdiri saja di beranda.
Tiba-tiba saja listrik mati bertepatan dengan suara petir membuatnya kaget.
Tanpa diduga, pintu beranda terbuka, seseorang menyerang dan membekap mulutnya.
Ia meronta dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
“Aakkkhhh…!”
***