
"Intan, maafkan aku. Aku tahu salah. Tapi, tolong berikan aku kesempatan lagi ... Maukah kamu menikah denganku?"
Intan cukup terkejut mendengar perkataan Setya. Dia sama sekali gak menyangka kalau Setya akan mengatakan hal itu padanya, disituasi seperti ini. Apalagi mendengar penjelasan Setya pada keluarganya yang ingin memilikinya agar bisa menjaganya tanpa takut kehilangan seperti sekarang. Mendengar alasan Setya itu, entah kenapa membuat Intan merasa tak suka.
"Maaf, kak Setya ... Aku menolaknya ..." Ucap Intan pada akhirnya.
Seketika, Setya dan seluruh keluarga menatap Intan dengan terkejut. Tapi, itu gak menggoyahkan sedikitpun jawaban Intan. Intan menatap lurus ke mata Setya tanpa keraguan.
"Kenapa, Intan? Apakah kamu masih marah padaku? Kamu masih marah padaku sampai kamu gak mau memberiku kesempatan?" Tanya Setya dengan tatapan memohon.
"Bukan begitu kak. Aku sudah memaafkan kakak sejak lama. Apalagi hari ini aku sudah meluapkan emosi yang aku pendam ke kakak. Aku sudah gak sedih lagi. Tapi ... Untuk menikah aku gak bisa untuk saat ini. Aku gak mau kita mengambil keputusan besar seperti itu dalam kondisi seperti ini. Bisa jadi itu hanya emosi sesaat saja."
"Ini bukan emosi sesaat Intan. Aku sudah memiliki keinginan ini juga sudah lama. Aku berpacaran denganmu bukan untuk main-main. Tapi, memang suatu hari nanti aku ingin membangun hubungan yang serius denganmu. Dan ku rasa waktu ini adalah saat yang tepat." Ucap Setya menjelaskan dengan nada dan tatapan serius.
"Tapi, bagi Intan ini belum waktu yang tepat. Kak, pernikahan itu sesuatu yang besar, konsekuensi dan tanggung jawabnya juga besar. Kalau kakak mengatakan sudah siap, maka aku katakan aku belum siap! ... Intan masih belum membahagiakan orang tua Intan, Intan juga belum mewujudkan mimpi Intan. Kita sekarang juga masih kuliha ... Terlebih mendengar perkataan kak Setya tadi, kenapa Intan juga merasa ragu. Kak Setya ingin memiliki Intan sepenuhnya karna takut kehilangan Intan? ... Berarti kak Setya masih belum mempercayai perasaan Intan sepenuhnya, kan? Sehingga, kak Setya ingin mengikat Intan. Aku takut, itu bukan lagi cinta tapi obsesi kak.." Ucap Intan menjelaskan dengan sangat tenang.
Setya dan seluruh keluarga mendengar penjelasan Intan dengan seksama. Mereka mencoba memahami dan mengerti apa yang diinginkan oleh Intan. Memang tak mudah untuk menanggung tanggung jawab dalam pernikahan. Tak semua orang bisa menanggungnya begutu saja. Perlu sebuah kemantapan dan keyakinan saat menjalaninya. Pernikahan juga adalah komitmen seumur hidup oleh dua orang. Komitmen itu juga tak bisa dipaksakan. Karna, jika dipaksakan ketika dalam prosesnya menghadapi sebuah masalah, bisa jadi tak akan bisa bertahan.
"Kalau itu sudah menjadi keputusan Intan, bunda mendukungnya." Ucap bunda sembari mengusap lembut rambut panjang sang putri.
"Ayah bangga pada Intan. Intan bisa berpikir begitu dewasa dan gak langsung menuruti perasaan saja." Imbuh ayah dengan senyum lembut.
Setya tahu mungkin memang keinginannya terlalu egois. Dia ingin memiliki Intan sepenuhnya agar tak ada lagi orang yang berusaha merebut Intan darinya. Tapi, dia tak memikirkan bagaimana perasaan Intan. Sebelum menjadi seorang istri, Intan adalah seorang anak yang ingin berbakti dan membahagiakan orang tuanya. Hidup Intan juga tak hanya berputar pada dirinya saja, Intan juga punya impian yang ingin dia wujudkan. Apalagi, impian Intan adalah impian yang luar biasa.
Walaupun Setya sedikit merasa sedih, tapi dia juga merasa senang dan lega. Karna, Intan tak langsung menyetujuinya. Setya akan lebih menyesal nanti saat ia melihat Intan tak sepenuhnya bahagia dalam pernikahan mereka. Dia juga ingin menikahi Intan atas keinginan Intan juga. Intan melihat Setya yang menunduk dengan lesu. Ia pun mendakati Setya.
"Intan menolak lamaran kakak hari ini, bukan berarti Intan gak ingin menikah dengan kak Setya nanti. Intan ingin menikah dengan kak Setya, tapi bukan saat ini. Jadi, kak Setya jangan terlalu bersedih .." Ucap Intan dengan lembut.
"Tidak. Aku tak sedih, karna kamu menolakku. Aku memang sedikit kecewa, tapi aku bisa mengerti apa yang kamu mau ... Aku hanya merasa bersalah, karna sampai akhir aku begitu egois. Aku hanya mementingkan diriku sendiri, tanpa mempertimbangkan perasaanmu. Maafkan aku yaa.." Ucap Setya dengan menatap lembut Intan. Intan sangat merindukan tatapan itu. Dia pun mengangguk dan tersenyum kecil untuk Setya.
"Maaf sebelumnya, kalau mama ikut campur. mama juga mendukung apa yang sudah jadi keputusan Intan. Mungkin, menikah untuk saat ini belum tepat. Tapi, untuk mengikat mereka bisakah kita mengadakan acara pertunangan saja? Pertunangan itu akan mengikat dan menjaga mereka sampai tiba saatnya mereka siap untuk menikah. Bagaimana?" Usul mama pada seluruh anggota keluarga.
"Jawaban sepenuhnya ada pada Setya dan Intan yang akan menjalani." Jawab bunda dengan bijak.
"Kalau dari aku, tentu saja mau ... Tapi, keputusan aku serahkan pada Intan.." Ucap Setya dengan lembut.
"Tunggu dulu! Ayah gak setuju! Kalau untuk menikah tadi ayah mungkin bisa menyetujui karna kalian akan terikat hubungan yang sah. Sedangkan, tunangan belum. Bagaimana, jika putra kalian melakukan hal yang buruk lagi pada putriku?!" Seru ayah dengan nada dingin.
"Om saya janji gak akan melakukan hal seperti itu lagi. Kalau sampai saya melakukan hal itu lagi, maka saya akan meninggalkan Intan! Karna, saya sudah tak layak lagi untuknya!" Jawab Setya dengan nada tegas dan sorot mata yang begitu yakin.
__ADS_1
Tapi, ayah masih tak bergeming. Kepercayaannya sudah dirusak oleh Setya. Tentu saja untuk memberikan kepercayaan lagi padanya gak akan mudah.
"Ayah ... Bisakah ayah memberi kesempatan kedua untuk kak Setya? Intan saja sudah memaafkan kak Setya, karna Intan tahu kak Setya gak bermaksud menyakiti Intan. Semua orang pasti punya kesempatan kedua kan?" Ucap Intan dengan lembut pada sang ayah.
"Memangnya, Intan mau bertunangan dengannya?" Tanya ayah pada sang putri.
"Iya ayah. Intan mau." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya. Ayah pun terdiam beberapa saat.
Dia seperti memikirkan jawaban yang harus ia keluarkan. Ia menatap Setya dengan tajam. Lalu, seringai muncul diwajahnya. Ia seperti sudah mendapatkan jawaban untuk masalah ini.
"Baiklah, karna putriku sudah memaafkanmu dan memberimu kesempatan kedua, maka aku akan menyetujuinya juga. Tapii ..."
Setya sudah tersenyum senang mendengar ucapan ayah Intan yang mau memberinya kesempatan sekali lagi. Tapi, kalimatnya tak selesai begitu saja. Setya tahu dia tak akan lolos dengan mudah. Setya begitu gugup akan syarat yang akan diberikan oleh ayah Intan.
"Sebelum kalian menikah, kamu harus tetap menjaga jarak dari putriku, seperti sekarang. Walaupun, setelah kalian bertunangan nanti. Kalau ingin bertemu dengannya harus di depanku. Kamu gak boleh berduaan lagi dengan putriku. Minimal harus ada 1 orang lagi diantara kalian. Aku juga akan meminta Ifa dan Bayu untuk mengawasimu. Kamu juga dilarang menyentuh putriku, bahkan hanya untuk bergandengan tangan! ... Ini keputusanku dan tak bisa ditawar lagi." Ucap ayah dengan tegas tanpa mau ada bantahan.
"Saya akan melakukannya sesuai keinginan om. Saya tak akan melanggarnya! Kali ini saya sungguh akan menepati janji saya!" Ucap Setya dengan sangat yakin.
Baginya syarat itu sudah jauh lebih dari cukup. Setya masih bisa bertemu dengan Intan dan masih bersama dengan Intan, itu sudah cukup baginya.
"Ayah, bagaimana saat kak Setya mengantar dan menjemput Intan? Di dalam mobil kan cuman ada kami." Tanya Intan dengan polosnya.
"Hm, kalau begitu tuan putri duduk di jok belakang saja. Nanti, ayah juga akan membelikan Intan alat setrum. Kalau dia berani macam-macam lagi, Intan bisa langsung menyetrumnya ... Tasya, nanti om belikan juga untuk Tasya ya. Ayah nanti juga akan membelikan untuk Ifa."
"Hahaha. Baiklah ayah, terima kasih." Seru Intan sambil memeluk sang ayah. Dia sangat beruntung memiliki ayah seperti ayahnya.
Akhirnya, setelah itu suasana rumah yang sebelumnya tegang, kembali menjadi hangat. Sebelum keluarga Setya pulang, para orang tua membahas rencana pertunangan Intan dan Setya. Intan sendiri dengan diawasi Dika dan Tasya membantu mengobati wajah Setya yang lebam. Tentu saja sudah dengan persetujuan sang ayah.
"Pasti sakit ya kak?" Tanya Intan sambil mengompres pelan wajah Setya.
"Sakit.. Hanya saja ini gak seberapa sakit daripada sakit disini. Kamu tahu setelah kebodohan yang aku lakukan waktu itu, melihatmu mejauh dariku. Tatapan kecewa, sedih dan takut dari matamu. Membuatku jauh lebih merasa sakit. Maafkan aku ya.. Maaf, aku sudah melanggar janjiku dulu. Aku sudah menyembunyikan sesuatu darimu dan juga membuatmu menangis." Ucap Setya sambil menatap mata Intan dengan sendu.
"Sudahlah, jangan ungkit terus kejadian itu. Itu akan membuat kak Setya, bahkan aku merasa sedih lagi. Semua sudah berlalu, yang paling penting kita bisa mengambil pembelajaran dan. hikmah dari kejadian itu ... Tentu saja aku berharap, kak Setya tak melakukan itu lagi." Jawab Intan dengan senyum lembut menenangkan.
"Tentu saja. Aku sudah berjanji padamu dan keluargamu. Jika, aku melakukannya sekali lagi, aku sungguh akan pergi. Karna aku gak layak lagi untukmu." Jawab Setya dengan keyakinan dimatanya.
"Iya, aku tahu. Sudah cukup. Kakak tinggal menepatinya saja setelah ini. Aku percaya pada kak Setya." Ucap Intan dengan tatapan lembut pada Setya.
Setya tersenyum dan akan mengusap kepala Intan seperti biasanya, tapi dia mengurungkan niatnya itu. Dia menarik lagi tangannya. Dia teringat janjinya yang gak akan menyentuh Intan. Dari jauh ayah Intan mengamati itu. Dia tersenyum kecil melihat Setya yang menepati janjinya.
__ADS_1
Ditengah semua keributan itu Dika dan Tasya diam-diam saling pandang. Persoalan kakak mereka berdua, juga membuat mereka ikut saling diam selama sebulan ini. Tapi, melihat permasalahan kedua kakanya berakhir, membuat mereka juga kembali berbaikan.
Ting..
Suara pesan masuk di ponsel Tasya. Tasya segera mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Dika.
Dika : Maafkan aku, karna sudah ikut membentakmu waktu itu. Aku juga kehilangan kendali, karna terlalu marah pada kakakmu yang sudah menyakiti kakakku.. Karna sebelumnya, aku sudah berjanji ketika aku dewasa, aku akan melindungi kak Intan dengan kekuatanku sendiri.. Maaf ya, kalau perkataanku menyakitimu😥🙏
Tasya : Iya, aku bisa mengerti. Kalau aku diposisimu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama denganmu ... Yang terpenting sekarang semua masalah sudah selesai. Kita, juga bisa berbaikan lagi kan?🥺
Dika : Tentu saja my sunshine🤗
Tasya : 😘😘
Dika dan Tasya diam-diam saling tersenyum melihat percakapan mereka itu, tanpa ada yang menyadari.
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
Curhatan author :
Hai semua, aku yakin nih banyak yang kecewa dengan keputusan Intan. Pasti banyak yang mau mereka segera menikah agar hubungan mereka lebih kuat dan gak mudah diganggu oleh serangga-serangga yang ingin memisahkan mereka. Author gak menyalahkan pandangan itu. Karna, semua orang punya prinsip dan nilai yang diyakini benar pada diri masing-masing.
Di karya author ini, author bukan hanya ingin membagikan imaginasi dari author. Tapi, ada beberapa part author selipkan pendapat author juga. Jujur, bagi author sebuah pernikahan adalah hal besar. Tanggung jawabnya juga lebih besar. Pernikahan mengikat dua keluarga. Dan dua orang akan terikat dalam satu hubungan yang sangat dekat.
Suami-Istri akan saling bergantung untuk melewati hidup bersama setelah pernikahan. Dan hubungan ini gak bakal bertahan kuat, jika salah satu dari pasangan belum siap, terpaksa atau hanya desakan saja. Ujian setelah pernikahan juga akan jauh lebih besar dari sebelumnya. Dan gak semua orang bisa menghadapinya. Contoh di real life juga banyak yang menunjukkan gagalnya pernikahan karna tak sanggup menghadapi ujian itu dan hal ini bisa dijadikan pelajaran. Apalagi, setelah pernikahan mereka juga akan segera menjadi sosok figur untuk keluarga kecil mereka, saat mereka punya anak.
So, maaf ya kalo banyak yang kecewa🙏
Author hanya ingin menyampaikan pendapat author lewat karya author ini. Karna, bagi author cerita author ini selain menjadi lahan untuk menyalurkan hobi, juga untuk mengekpresikan diri bagaimana author menyikapi suatu masalah. Hehe😅🙏
Maaf kalo banyak yang gak nyaman. Author akan berusaha lebih baik lagi agar di ending tetap bisa memberikan kepuasan. Ambil yang baik-baik saja dan buang yang gak perlu, yaa..
__ADS_1
Terima kasih semuanya🤗🤗
...----------------...