Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Langkah menjadi dewasa


__ADS_3

1 tahun telah berlalu. Setya, kini sudah mulai terbiasa dengan kesehariannya menggunakan kursi roda. Bahkan, dia sudah menemukan beberapa cara agar tak terlalu bergantung pada orang lain. Terapi yang dia lakukan selama satu tahun ini masih tak menunjukkan perubahan yang berarti.


Perbedaannya, hanya terkadang Setya mulai bisa merasakan kebas pasa kakinya. Tapi, tak lama rasa itu akan menghilang. Berulang kali, Setya merasa down dan terpuruk, seakan dia ingin menyerah karna sudah tak adanya harapan. Tapi, disaat itu pula Intan dan orang-orang yang menyayanginya selalu datang dan memberikan support pada Setya.


Intan sendiri juga begitu sabar dan telaten selalu menemani Setya. Dia sengaja melakukan olah raga dan penguatan fisik agar bisa diandalkan oleh Setya disaat Setya membutuhkannya. Tak lupa Intan selalu berdo'a untuk kesembuhan Setya. Untung saja orang tua Intan bisa mengerti dan tak melarang keinginannya untuk terus menemani Setya.


Orang tua Intan juga tetap menerima Setya bagaimanapun keadaannya. Karena, mereka sudah menganggap Setya sebagai putra mereka sendiri juga. Ayah dan bunda membayangkan andai saja kondisi Setya adalah kondisi Intan dan tak ada seorang pun yang mau menerima keadaan Intan yang cacat, maka mereka sendiri juga akan sedih.


Mangkannya ayah dan bunda tak melarang Intan, mereka justru mendukung keputusan Intan. Mereka juga tahu, bahwa bersama Setya adalah kebahagiaan untuk Intan, bagaimanapun keadaan Setya itu.


Hari itu Setya dan Intan akan melakukan wisuda mereka. Dan setelah itu mereka akan benar-benar terjun ke masyarakat untuk mewujudkan impian mereka masing-masing.


"Selamat atas kelulusan kalian yaa." Ucap mama Setya pada Setya, Intan dan Ifa yang sudah resmi penjadi wisudawan.


"Terima kasih tante." Ucap Intan dan Ifa bersamaan.


"Bagaimana kalau sekarang kita adakan makan malam bersama seluruh keluarga?" Saran mama Bayu yang juga ikut datang acara wisuda Ifa dengan sang suami.


"Ehm, ide yang bagus. Bagaimana yang lainnya?" Tanya mama Setya antusias.


"Boleh saja."


"Gak ada masalah."


Jawab bunda dan mama Ifa bergantian.


"Aku sudah boking restoran X, makanan disana enak. Kita bisa segera berangkat kesana sekarang." Seru Bayu setelah memesan restoran yang cukup terkenal di daerah sana.


"Ok, kita berangkat!" Seru Ifa antusias. Tentu saja karna mau makan-makan. Hehe.


Kemudian, mereka semua segera menuju ke restoran yang sudah dipesankan Bayu. Bayu memesan satu ruangan khusus yang sangat besar. Mereka duduk melingkar mengitari meja bundar yang cukup besar disana. Di atas meja ada lampu gantung yang sangat indah.



"Wah, tempatnya bagus sekali." Seru Tasya yang terlihat kagum dengan interior mewah restoran tersebut.


"Jelas dong, siapa dulu yang pilih? Bayu!" Seru Bayu senang membanggakan dirinya.


"Hm, pilihanmu bagus juga. Kau juga sangat dermawan ya Bay. Aku gak nyangka, kau sebaik ini sampai mentraktir kita semua untuk makan di restoran semewah ini. Makasih lho Bay, kau sahabat yang baik." Ucap Setya dengan senyum lebarnya. Tampak sorot matanya tengah menggoda Bayu.


"Tunggu! Tunggu! ... Maksudnya, aku nanti yang bayar semua?" Tanya Bayu bingung.


"Yaiyalah kak Bay. Kan diantara aku, kak Setya dan Ifa hanya kakak yang sudah bekerja. Anggap saja traktiran untuk kita. Hehe." Ucap Intan yang ikut menggoda Bayu.


"Yah, kenapa gak bilang dari awal?! Tahu gitu aku akan cari restoran yang agak biasa. Huh, tabunganku terkuras nih, padahal itu tabungan untukku menikah dengan Ifa." Seru Bayu kesal pada Setya. Dia terlihat lesu. Seketika hal itu memicu gelak tawa bagi semua keluarga.


Kemudian, mereka segera memesan beberapa menu di restoran tersebut. Makan malam diwarnai dengan kehangatan dan canda tawa.

__ADS_1


"Setya, mulai minggu depan kamu juga mulai bekerja di kantor papa ya." Ucap papa Setya.


"Iya pa." Jawab Setya dengan tenang.


"Hehe. Sekarang, tugasku akan lebih ringan." Seru Bayu senang.


"Kata siapa Bay? Justru kamu akan merasakan sebaliknya. Kalau Setya sudah masuk kerja, om akan pasrahkan beberapa proyek padanya. Tentu kamu juga akan jadi semakin sibuk." Ucap papa Setya dengan tenang dan acuh tak acuh.


"Yah kok gitu om? Gagal santai lagi dong." Seru Bayu dengan wajah ditekuk.


"Kau itu laki-laki. Kalo maunya santai mulu, lalu masa yang bekerja keras Ifa? Fa, lihatlah pacarmu itu, kamu yakin mau sama dia?!" Sindir ayah sambil melirik Bayu.


"Benar juga ya ayah. Entahlah, mungkin Ifa akan pikir-pikir lagi." Jawab Ifa mengikuti drama ayah.


"Gak bisa gitu dong sayang. Aku kan cuman bercanda. Aku ini pria pekerja keras kok. Tanya aja pada papa dan mamaku. Ya kan, ma-pa?" Seru Bayu yang mulai panik dengan respon Ifa.


"Papa setuju dengan pendapatnya ayah Intan."


"Mama selalu mendukung keputusan Ifa."


"Papa-mama, kenapa kalian ikut memojokkanku juga?!" Seru Bayu yang terlihat kesal. Sudah dua kali dia dikerjai oleh keluarga mereka. Dan itu kembali memicu gelak tawa bagi semuanya.


"Intan sayang setelah lulus ini, Intan sudah tau mau mengajar dimana?" Tanya mama Setya penasaran.


"Intan sudah diterima kerja sebagai guru bahasa di SMA kami dulu tante. Kebetulan beberapa hari yang lalu ada lowongan, lalu ada guru yang memang masih berhubungan baik dengan Intan yang memberitahu Intan ... Langsung saja Intan kirim lamaran kesana, walaupun ijazah belum keluar, tapi melihat nilai Intan selama ini, pihak sekolah sudah menerima Intan. Tahun ajaran baru nanti Intan akan mulai mengajar disana." Jawab Intan dengan senyum diwajahnya.


"Kalau kamu bagaimana, sayang?" Tanya mama Bayu pada Ifa.


"Selama setahun ini Ifa dan teman-teman Ifa yang memiliki mimpi yang sama sudah bersepakat untuk mendirikan tempat les musik bersama. Minggu lalu, kami sudah survey sekaligus tanda tangan kontrak tempat yang bagus dan cocok untuk jadi tempat les musik kami ... Minggu depan kami akan mulai membeli alat-alat musik yang dibutuhkan. Kalau tidak ada halangan kami akan melakukan pembukaan diakhir bulan ini." Jawab Ifa dengan sangat antusias.


"Itu hebat. Kalian memang anak-anak yang luar biasa. Kalian berhasil menepati janji kalian dengan tetap bisa meraih impian kalian. Kami semua bangga pada kalian berempat." Puji mama Bayu.


"Terima kasih tante." Jawab Ifa, Intan dan Setya secara bersamaan. Sedangkan Bayu tersenyum sebagai jawaban.


"Sekarang giliran kalian berempat juga yang membuktikan keberhasilan mimpi kalian pada kami yaa.." Ucap bunda pada Dika, Tasya, Rehan dan Tania.


"Siap tante." Ucap mereka bersamaan.


...****************...


Seminggu kemudian.


"Setya, sudah siap berangkat?" Tanya papa saat mereka duduk untuk sarapan bersama.


"Sudah pa." Jawab Setya dengan senyum kecil diwajahnya.


"Pa, tapi jangan lupa izinin Setya untuk melakukan terapi saat jam makan siang." Ucap mama mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, papa tahu. Papa sudah memberitahu Bayu. Bayu yang akan mengantarkan Setya terapi sekaligus makan siang. Papa akan memberikan waktu tambahan untuk mereka." Jawab papa dengan tenang.


"Tapi pa, bukankah itu akan menimbulkan kecemburuan antar karyawan, kalau Setya mendapatkan perlakuan khusus dari papa?" Tanya Setya bingung.


"Itu urusan papa. Papa bisa menjelaskan pada mereka. Dan papa akan berjanji akan memberi keringanan yang sama, kalau mereka punya keperluan seperti kamu."


"Baiklah kalau begitu."


Setelah selesai sarapan Setya dan papa pun berangkat bersama. Tak dapat dipungkiri kalau Setya sedikit gugup. Walaupun, sebelumnya, dia sudah sering membantu di perusahaan sang papa dan karyawan disana juga sudah mengenalnya. Tapi, ini kali pertama Setya kembali ke kantor dengan keadaannya sekarang.


Di depan kantor, Bayu sudah menunggu kedatangan Setya. Setelah melihat mobil papa Setya, dia segera berjalan mendekat untuk membantu Setya keluar dari mobil. Tentu saja hal itu cukup menarik perhatian para karyawan yang juga baru saja datang.


"Makasih Bay." Ucap Setya setelah dia duduk di kursi rodanya.


"Santai saja." Jawab Bayu dengan tenang.


"Kalau gitu, kalian langsung saja ke ruangan kalian. Papa juga akan langsung ke ruangan papa." Ucap papa penuh wibawa.


"Baik pak." Jawab Setya dan Bayu serentak.


Di kantor Setya dan Bayu juga tetap harus bersikap professional layaknya karyawan yang lain. Ini dilakukan supaya ada mereka tahu bagaimana mengemban tanggung jawab.


Kemudian, mereka segera memasuki gedung perusahaan 4 lantai itu. Memang, perusahaan papa Setya, bukan perusahaan besar. Tapi, setidaknya perusahaan ini adalah bukti kerja keras papa untuk menafkahi keluarga kecilnya.


Sesuai prediksi karyawan di perusahaan terus saja menatap Setya dengan pandangan bertanya-tanya. Mungkin, karna mereka sudah lama tak bertemu Setya. Lalu, setelah bertemu mereka malah melihat Setya yang duduk di kursi roda. Tentu saja hal itu menimbulkan pertanyaan pada para karyawan.


Bayu yang mendorong kursi roda Setya, sekilas menepuk bahu Setya seakan menguatkan dan mengatakan tak apa-apa. Memasuki ruang kerjanya, Setya bingung saat melihat ada meja lain di sudut ruangannya.


"Kau akan seruangan denganku?" Tanya Setya penasaran.


"Ya, tentu saja. Kalau bukan aku mau siapa lagi?!" Seru Bayu mempertanyakan.


"Haaahhh.. Aku gak menyangka, akan terus terikat denganmu seperti ini. Dari SMP kita selalu sekelas. Sekarang juga harus satu ruangan di kantor. Membosankan!" Keluh Setya sambil menggelengkan kepalanya.


"Hei, kau pikir aku juga tak bosan denganmu?! Aku akan lebih bahagia, kalau yang ada disini itu Ifa. Bukannya dirimu." Seru Bayu dengan nada sinis.


Walaupun, mereka berdua mengatakan hal itu, sebenarnya di hati mereka tak ada rasa bosan sama sekali. Justru, mereka juga bersyukur karna hubungan mereka bisa bertahan sampai selama ini. Yah, semoga saja akan terus bertahan selamanya.


Setya segera menuju ke mejanya. Kursi yang biasa dia duduki harus ditepikan, karna nyatanya dia sudah duduk di kursi roda. Sebelum memulai pekerjaannya, Setya melihat foto keluarganya dan Intan yang sengaja ia letakkan di meja kerjanya agar lebih bersemangat.


Sayang, sekarang kita sudah semakin dewasa. Tapi, keadaanku masih sama. Padahal, aku ingin segera melamarmu.. Dengan kondisiku yang seperti ini, aku belum berani melakukan itu ...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2