
Beberapa hari kemudian, untuk pertama kalinya selama Intan hamil dia menginginkan sesuatu. Dan hal itu cukup menyusahkan bagi Setya. Pagi-pagi, sebelum mereka berangkat kerja, mendadak Intan ingin makan bubur sagu. Dan bubur sagu di daerah mereka cukup susah mencarinya. Harus beli di pasar tradisional dulu. Dan itu biasanya harus beli lebih pagi, tapi sekarang sudah mepet jam kerja.
"Kamu uda pengen banget makan bubur sagunya sekarang ya sayang?" Tanya Setya pada sang istri.
"Iya. Intan pingin banget kak. Belikan yaa.." Ucap Intan memelas.
"Baiklah. Aku akan mencarikannya, setelah aku antar kamu ke sekolah dulu. Nanti, kalau sudah ketemu aku akan langsung antar bubur sagunya untuk kamu." Ucap Setya lembut.
"Baiklah. Tapi, kak Setya apa gak apa-apa telat?" Tanya Intan bingung.
"Gak masalah, nanti aku bilangin Bayu untuk mengundur jadwalku. Tapi, konsekuensinya mungkin hari ini aku harus lembur." Jawab Setya memberitahu sang istri.
"Hm, maaf ya Intan mintanya dadakan ..."
"Sssttt. Gak masalah sayang. Ini permintaan pertama kamu, jadi aku akan pastikan kamu akan mendapatkannya. Sekarang, kita berangkat dulu yaa.." Ucap Setya lembut menenangkan Intan. Akhirnya, Intan mengangguk mengiyakan.
Setelah mengantar Intan ke sekolah, Setya segera menghubungi Bayu agar dia mengundur jadwalnya hari ini. Setelah itu Setya segera menuju ke pasar tradisional terdekat untuk mencari bubur sagu.
Kedatangan Setya dengan setelan jas ke pasar tradisional cukup menarik perhatian. Banyak ibu-ibu yang antusias ingin melihat Setya. Bahkan, ada beberapa yang berani mencolek dan menghadang langkah Setya untuk mengajak berfoto dan mengobrol, seakan Setya adalah selebritis.
Penderitaan Setya tak cukup berhenti disitu saja. Seperti yang sudah dia duga. Cukup sulit mencari bubur sagu. Dia sampai harus mengunjungi beberapa pasar tradisional untuk mencari bubur sagu permintaan sang istri.
Akhirnya, Setya menemukannya di pasar tradisional yang terletak cukup jauh di pinggiran kota. Setya harus menempuh waktu 1 jam lebih untuk bisa sampai ke pasar tradisional itu. Karna susah mendapatkannya, saat Setya sudah berhasil menemukan penjual bubur sagu, dia membeli satu panci penuh berisi bubur sagu sekalian pancinya juga. Biar saja, Intan supaya puas memakannya.
Kemudian, setelah selesai membeli Setya segera menuju ke sekolah Intan lagi. Jam sudah hampir menuju jam makan siang hari itu. Setya tak membayangkan, untuk mendapatkan bubur sagu saja akan memakan waktu selama itu.
Setelah mendapat panggilan dari Setya, Intan segera keluar menemui sang suami, kebetulan dia memang sedang tidak ada kelas jam itu. Intan masuk ke dalam mobil dengan mata berbinar.
"Hmm.. Bau apa ini?!" Seru Intan saat mencium aroma tak sedap di dalam mobil.
"Sepertinya itu bauku. Dari tadi aku ditempelin beberapa ibu-ibu di pasar." Jawab Setya sambil mencium aroma tubuhnya sendiri.
"Benarkah? Haduh, maaf ya kak. Karna, Intan kak Setya harus kesusahan begini." Ucap Intan sedih.
"Uda gak apa-apa ... Sekarang, kamu makan buburnya ya. Aku belikan banyak untuk kamu." Ucap Setya sambil mengambilkan bubur sagu dari panci ke gelas plastik yang juga dia beli dari penjualnya tadi.
"Wah, kak Setya ini banyak sekali." Seru Intan yang terkejut saat tahu Setya sudah membelikan sepanci bubur sagu untuknya.
"Gak apa-apa. Kamu bisa makan sepuasnya. Karna, carinya susah aku takut kamu masih kurang kalau aku belikan sedikit. Jadi, aku beki saja semuanya." Jawab Setya dengan wajah polos.
"Hahaha. Makasih ya sayang. Baby kita pasti seneng banget." Ucap Intan dengan senyum diwajahnya.
"Sama-sama sayang. Nih, kamu makan yang banyak yaa.." Ucap Setya lembut sambil memberikan bubur sagu pada Intan.
"Suapin." Pinta Intan dengan nada manja.
"Haha. Sepertinya, sekarang manjaku kemarin berpindah padamu." Ucap Setya dengan senyum lebar.
"Kakak benar. Pasti, baby kita sangat sayang sama kita kak. Dia ingin orang tuanya selalu dekat." Jawab Intan sambil mengusap perutnya dengan lembut.
"Anak ayah memang yang paling hebat." Ucap Setya di depan perut Intan. Kemudian dia mencium sekilas perut Intan dengan sayang.
Sehat-sehat ya sayang. Ayah dan bunda sangat meyanyangimu ...
Setelah selesai menemani sang istri untuk makan bubur sagu yang diinginkan, Setya segera pergi untuk menuju ke kantor. Dia sudah sangat terlambat hari ini. Sebelum berangkat ke kantor, Setya memutuskan pulang dulu untuk mandi dan berganti pakaian. Juga untuk menyimpan bubur sagu yang tersisa di rumah, agar Intan bisa memakannya lagi nanti.
Setya sampai di kantor, saat jam makan siang waktu itu. Sesampainya dia di kantor, Setya segera menuju ke ruangannya. Disana dia melihat setumpuk dokumen yang perlu dia periksa.
__ADS_1
"Anda baru datang pak?. Apa sangat sulit untuk mencari bubur sagu?" Tanya Bayu saat melihat Setya yang baru saja tiba.
"Hahh.. Seperti yang kau lihat. Aku baru tahu hanya untuk mencari bubur sagu saja butuh waktu selama itu. Bagaimana dengan jadwal rapat hari ini?" Tanya Setya sembari duduk di kursinya.
"Setelah makan siang kita ada rapat dengan tim perencanaan. Lalu sore harinya dengan tim humas. Untuk dua rapat lainnya, saya ubah jadwalnya jadi besok. Karna, tidak memungkinkan jika dilakukan hari ini." Jawab Bayu memberitahu jadwal Setya.
"Baiklah. Terima kasih Bay. Kamu serahkan saja semua berkas yang harus aku periksa dan butuh tanda tanganku. Kau tetap kerjakan bagianmu saja. Kau tak perlu lembur denganku. Aku akan mengerjakan semua pekerjaan yang aku tunda sendiri." Ucap Setya bijak.
"Baiklah. Terima kasih pak." Jawab Bayu sopan.
"Sudah,.sekarang kau bisa pergi makan siang." Ucap Setya memerintahkan.
"Bagaimana dengan anda pak?" Tanya Bayu pada Setya yang mulai terlihat fokus dengan berkas-berkasnya.
"Aku sudah makan tadi sebelum kesini. Kau pergi saja dulu." Jawab Setya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di tangannya.
"Baiklah kalau begitu. Saya pergi dulu." Pamit Bayu kemudian, diapun pergi meninggalkan Setya yang masih fokus pada pekerjaannya.
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk." Seru Setya memberi izin.
"Kamu masih sibuk Setya? Kenapa baru datang?" Tanya papa setelah memasuki ruangannya.
"Oh papa. Intan ingin makan bubur sagu. Jadi, Setya pergi mencarikannya dulu tadi. Tapi untuk mendapatkan bubur sagu ternyata sangat susah dan memakan waktu yang lama. Mangkannya, Setya baru datang. Tapi, papa tenang saja. Hari ini Setya tetap akan menyelesaikan perkerjaan Setya." Ucap Setya memberitahu sang papa.
"Ouh, ini pertama kalinya Intan meminta sesuatu darimu. Sepertinya, dia akan terus meminta seuatu lagi kedepannya. Jadi, ingat Setya kamu harus turuti kemauan menantu dan calon cucu papa yaa.."
"Iya pa. Setya tahu. Tanpa papa kasih tahupun, tentu saja Setya akan melakukan hal yang sama." Jawab Setya yakin.
"Baguslah kalau begitu. Fokuslah lagi dengan pekerjaanmu, supaya kau bisa cepat pulang. Kasian Intan harus sendirian." Seru papa pengertian.
Jam pulang.
"Kak ayo, Dika antar pulang." Ucap Dika pada Intan yang tengah berkemas.
"Tak perlu. Aku akan naik taksi saja, lagian arah rumah kita berbeda ..."
"Aku gak minta persetujuan. Ini perintah. Kak Setya sudah memberikan tugas untuk menjaga keselamatan kakak sampai rumah. Jadi, diam saja, duduk yang manis aku akan mengantar kakak pulang." Seru Dika tanpa mau ada penolakan.
"Baiklah. Dasar bawel." Jawab Intan pasrah. Akhirnya, mau tak mau dia menuruti perkataan Dika untuk mengantarnya pulang.
Saat di perjalanan dan sedang lampu merah, tak sengaja Intan melihat di sebuah halaman rumah tak jauh dari sana yang memiliki pohon mangga yang tinggi dan sedang berbuah lebat. Seketika, gejolak rasa ingin mencoba membanjiri diri Intan.
"Ka, aku mau mangga muda." Ucap Intan pada sang adik.
"Baiklah, kita beli dulu di supermarket ..."
"Gak mau! Aku mau yang ada disana." Seru Intan sambil menunjuk pohon mangga yang dia maksud.
"Kak Intan serius?! Kakak beneran mau mangga muda disana? Sekarang?" Tanya Dika bingung.
"Iya sekarang! Ayo ambilin aku. Ini ponakan kamu lagi pengen mangga muda disana. Kamu tega gak mau nurutin? Kalo ponakanmu ileran gimana?!" Seru Intan memelas dan penuh harap.
"Haahh.. Baiklah, aku akan ambilkan." Jawab Dika pasrah.
Akhirnya, Dika putar balik dan menuju ke rumah tadi. Sebelum mengambil mangga mudanya, Dika meminta izin terlebih dulu ke pemilih rumah dan menjelaskan kondisi Intan. Setelah mendapat persetujuan barulah mereka akan mengambil buah mangga itu.
__ADS_1
"Ka, ayo panjat dan ambilkan!" Seru Intan antusias.
"Iya sabar. Sudah lama sekali aku tak memanjat pohon!" Seru Dika sambil menatap pohon mangga di depannya. Seakan masih berpikir dari mana dia harus melangkahkan kakinya.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Dika berhasil menaiki pohon mangga itu dan memetikkan beberapa mangga muda untuk Intan.
"Segini cukup ya kak?! Aduh!!" Pekik Dika sampai membuat Intan terkejut.
"Iya sudah cukup ... Kamu kenapa Ka?" Tanya Intan bingung.
"Disini banyak semut! Aku digigiti!" Seru Dika sambil menggaruk tubuhnya yang gatal.
"Mas, kenapa naik?! Ini saya ambilkan kayu untuk memetiknya dari bawah. Di pohon memang banyak semutnya!" Seru bapak pemelik pohon yang baru saja datang dengan membawa bambu panjang dengan kantong diujungnya. Melihat itu, Dika menghembuskan nafas panjang.
"Ka, ayo buruan turun!" Seru Intan khawatir. Dika pun segera turun dari pohon mangga.
Sesampainya di bawah dia menyerahkan beberapa mangga muda pada Intan dan terus menggaruk tubuhnya yang mulai bentol merah karna digigit semut.
"Ke rumah saya sebentar mas. Saya kasih obat oles." Ucap bapak tadi ramah. Akhirnya, Dika mengikuti bapak tadi. Sedangkan Intan hanya bisa terdiam dan merasa bersalah.
"Maafkan aku ya Ka. Karna, permintaanku kamu jadi ..."
"Sudahlah, aku gak apa-apa. Ini juga demi keponakanku. Sekarang kita pulang ... Makasih banyak ya pak untuk mangga muda dan minyak olesnya." Ucap Dika dengan nada dan senyum ramah, diikuti oleh Intan.
Sebelumnya Dika, berniat membayar mangga yang diambilnya, tapi si bapak tidak mau menerimanya. Karna, dia juga merasa senang bisa membantu wanita hamil. Bahkan, dia juga mendo'akan kesehatan Intan dan baby sampai lahiran.
"Kamu gak mau mampir dulu Ka?" Tanya Intan saat mereka sampai di depan rumah Intan.
"Gak kak. Lain kali saja. Aku ingin cepat pulang dan mandi." Jawab Dika sambil masih menggaruk beberapa bagian tubuhnya.
"Ehm, baiklah. Hati-hati di jalan. Dan makasih lagi ya untuk mangga mudanya." Ucap Intan yang masih merasa bersalah.
"Iya. Berhentilah merasa bersalah. Aku sungguh baik-baik saja. Tinggal berendam di air hangat, pasti sembuh. Kakak, jangan terlalu banyak pikiran kasihan ponakan aku. Cepat sana masuk dan makan mangga mudanya." Ucap Dika menenangkan Intan yang masih terlihat merasa bersalah.
"Makasih om. Om Dika memang yang paling baik!" Ucap Intan menirukan suara anak kecil pada Dika.
Barulah setelah itu, Intan segera masuk ke dalam rumah dan Dika juga segera pulang ke rumah. Langsung saja, Intan mengupas mangga mudanya dan langsung memakannya dengan lahap. Sekali makan dia langsung menghabiskan tiga buah mangga. Rasa asam daru mangga itu terasa sangat enak dilidah Intan. Jadi, dia tak bisa berhenti makan.
Di rumah orang tua Intan, Dika juga baru sampai rumah dan masih menggaruk tubuhnya yang gatal.
"Kamu kenapa Ka? Kenapa garuk-garuk seperti itu? ... Lihtlah, tubuhmu sampe merah-merah begini." Tanya bunda bingung.
"Dika habis digigit semut bund, karna manjat pohon mangga buat ngambilin mangga muda keinginan kak Intan. Tadi, pas Dika antar kak Intan pulang, tiba-tiba kakak ingin mangga muda. Nah, tanpa Dika tahu kalau di pohon mangga itu banyak semutnya. Jadilah, begini." Jawab Dika menjelaskan.
"Kemana Setya, kenapa kamu yang antar Intan dan mengambilkan buah mangga untuknya?" Tanya ayah yang juga baru datang.
"Kak Setya hari ini lembur, karna telat masuk sehabis mencarikan bubur sagu untuk kak Intan pagi tadi." Jawab Dika memberitahu.
"Berarti Intan sudah mulai ngidam juga yaa. Dan untungnya dia gak mual-mual. Semuanya Setya yang ngalamin." Ucap bunda pelan.
"Aku harus telpon tuan putriku, apakah ada lagi yang dia inginkan sekarang!" Seru ayah sambil berlalu pergi untuk menghubungi Intan.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..