
Rumah Intan
"Dika mau kemana malam-malam begini?" Tanya ayah yang melihat Dika bersiap akan pergi setelah makan malam.
"Oh, aku ada perlu sebentar ayah. Ehm, Dika berangkat ya. Assalamu'alaikum." Ucap Dika segera berlalu pergi sebelum ditanyai lebih detail oleh sang ayah.
Malam itu Dika akan bertemu dengan Tasya di taman kompleks yang tak jauh dari rumah Tasya. Dika dan Tasya memang sengaja tidak memberitahu hubungan mereka pada keluarga mereka. Dika dan Tasya sama-sama tahu bagaimana keluarga mereka. Akan jadi sangat menghebohkan kalau kedua keluarga tahu. Mangkannya Dika dan Tasya memilih untuk menyembunyikannya dulu sementara waktu.
Dika mengendarai sepeda motornya dengan senyum lebar. Dia baru saja berulang tahun dan sang ayah membelikan sepeda motor untuknya. Sebelumnya, memang ayahnya gak mengizinkan anak-anaknya mengendari sepeda motor sebelum cukup umur. Dan sekarang Dika sudah cukup umur. Malam itu, Tasya mengatakan akan memberi Dika hadiah ulang tahun. Mangkannya mereka akan bertemu diam-diam. Di wajah Dika saat ini jelas sekali terlihat kebahagiaan.
Tak berselang lama, akhirnya Dika sampai tempat janjian. Disana sudah ada Tasya yang tersenyum manis ke arahnya.
"Kamu menunggu lama?" Tanya Dika saat dia sudah di depan Tasya.
"Enggak. Aku jga baru datang kok." Jawab Tasya dengan senyum lebar.
"Mana hadiahnya? Katanya mau memberiku hadiah?" Tanya Dika karna gak melihat Tasya membawa apapun.
"Bukankah hadiahnya sudah didepanmu. Masa gak bisa lihat sih?!" Jawab Tasya dengan senyum menggoda.
"Maksudnya, hadiahnya itu kamu?" Tanya Dika memastikan.
"Tentu saja. Bukankah aku hadiah yang paling bagus? Hehe ... Kamu mengharap hal lain ya?" Tanya Tasya menggoda Dika.
"Huh! Kalau tahu gitu aku gak bakal kesini." Seru Dika sembari duduk dibangku taman.
"Kok gitu?! Kamu gak senang bertemu denganku?!" Seru Tasya dengan wajah cemberut.
"Tiap hari kita bertemu, apa bedanya dengan sekarang?" Tanya Dika seakan acuh.
Tapi, sebenarnya, dia merasa senang tentu saja bertemu dengan Tasya. walaupun setiap hari bertemu, Dika masih saja merasa kurang dan ingin terus bertemu dengan Tasya. Tapi, dia gak mau mengatakan hal itu langsung pada Tasya.
"Dasar nyebelin! Manusia es!" Seru Tasya kesal. dia menghentakkan kaki dengan kesal dan berdiri membelakangi Dika. Dika berusaha menahan senyum saat melihat itu.
"Kalau aku manusia es, kamu mataharinya. Karna hanya kamu yang bisa mencairkanku.." Ucap Dika sembari menarik tangan Tasya agar duduk disampingnya. Seketika wajah Tasya memerah karna malu bercampur senang.
"Dika! Jangan menggodaku!" Seru Tasya sambil menutup wajahnya. Dika selalu bisa membuatnya salah tingkah. Dia dingin tapi sekalinya berkata manis, langsung membuat jantungnya seakan mau melompat keluar.
"Tapi, suka kan?" Goda Dika sambil berusaha melepas tangan Tasya yang menutupi wajahnya.
"Sudah hentikan! Tutup mata kamu, aku ada hadiah lain." Ucap Tasya mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa harus tutup mata? Jangan-jangan kamu ingin melakukan sesuatu padaku ya?" Seru Dika dengan berpura-pura sedikit menjauh dari Tasya.
"Jangan bercanda terus! Tutup mata atau aku gak jadi kasih hadiahnya!" Ancam Tasya sambil memukul pelan dada Dika.
"Iya-iya. Gitu aja galak banget.." Ucap Dika sembari menutup matanya lagi. Setelah itu Dika merasakan Tasya meletakkan sesuatu ditangannya.
"Sudah buka matamu."
Dika pun membuka matanya dan dia melihat ditangannya ada sebuah gantungan kunci berbentuk anak lelaki yang sedang berlutut.
__ADS_1
"Taraa.. Ini couple loh. Kita bisa taruh di tas kita. Jadi gak terlalu mencolok. Dari dulu aku ingin melakukan ini saat melihat gantungan ponsel milik kak Setya dan kak Intan. Bagaimana, bagus gak?" Tanya Tasya antusias.
"Dasar kekanak-kanakan." Ucap Dika cuek, tapi anehnya dia tetap memasang itu di tasnya.
"Cih.." Tasya menatap itu dengan senyum mencibir. Dia sudah sedikit tahu bagaimana sikap Dika, lain dihati lain dimulut.
"Selamat ulang tahun, pacarku." Ucap Tasya dengan senyum manis. Senyum yang membuat jantung Dika berdebar kencang.
"Makasih, my sunshine." Jawab Dika lembut, setelah itu dia mencium kening Tasya dengan sayang.
...****************...
Malam itu juga, Intan dengan sangat terpaksa membuka nomor Bagas yang sudah di blokir beberapa tahun lalu. Setelah itu dia mengirim pesan singkat pada Bagas untuk memberitahukan kapan waktu wawancara, menyesuaikan jadwal bu Amel, guru SMP mereka dulu yang akan jadi narasumber tugas mereka.
Di rumahnya, Bagas sangat senang menerima pesan dari Intan. Akhirnya, ia bisa kembali menghubungi Intan. Bagas mencoba mengirim pesan basa-basi pada Intan, tapi gak ada satupun yang dibalas oleh Intan. Jangankan dibalas dibaca aja, enggak.
"Intan, apakah sesusah ini untuk mendapatkan hatimu kembali?" Gumam Bagas menatap layar ponselnya.
Keesokan harinya.
"Kak Setya, nanti setelah selesai kuliah, aku langsung kerja kelompok dengan kak Bagas di perpustakaan. Kami akan menyusun pertanyaan untuk wawancara besok." Ucap Intan memberitahu Setya, saat mereka baru saja tiba di kampus.
"Baiklah. Nanti, setelah kelasku selesai, aku akan menyusulmu. Aku gak mau kamu berduaan dengannya." Ucap Setya tegas.
"Iya. Kakak harus cepat menyusulku. Aku gak mau berdua'an saja dengan kak Bagas ..."
"Ududu. Sayangnya Intan lagi ngambek nih. Cemburu ya ceritanya. Hehe." Ucap Intan sambil mengelus lembut rambut Setya.
"Iya, aku cemburu. Aku cemburu mendengar pacarku menyebut pria lain didepanku. Aku gak suka." Seru Setya sembari menarik tubuh Intan mendekat ke arahnya. Dia membenamkan wajahnya di bahu Intan dengan manja, dia juga memeluk tubuh Intan dengan erat.
"Aduh, kasian banget sih sayangnya Intan ini. Baiklah, maafkan Intan ya. Intan janji gak bakalan menyebut nama pria itu lagi." Ucap Intan lembut, sembari terus mengusap kepala Setya dengan sayang.
Intan gak merasa risih sama sekali dengan sikap manja Setya. Justru, Intan merasa senang, karna itu tandanya, Setya sangat percaya padanya, bahkan dia menunjukkan sisi lain dirinya pada Intan.
"Janji ya?" Tanya Setya sambil mengangkat kepalanya dan menatap Intan dalam.
"Iya my hero, sayang .."
Cup..
"Janjiku sudah aku stempel, jadi aku pasti akan menapatinya." Ucap Intan lembut setelah mengecup sekilas bibir Setya.
Sebenarnya, Intan cukup malu melakukannya. Bahkan, Setya sendiri juga terlihat terkejut. Itu kali kedua Intan mencium bibirnya terlebih dulu. Saat ciuman pertama mereka dan sekarang. Walaupun, awal terlihat terkejut, kini diwajah Setya terlihat senyum cerah, secerah matahari hari itu.
"Sudah ya, sebentar lagi kelas akan dimulai. Kak Setya juga harus ke kelas!" Seru Intan sambil berusaha melepaskan pelukan Setya pada tubuhnya.
"Masih ada waktu sebantar lagi. Apa kamu mau kabur begitu saja setelah menciumku tadi? Kenapa gak kita lanjutkan sebentar?" Goda Setya dengan seringai diwajahnya.
"Gak mau! Aku mau masuk kelas saja." Seru Intan dengan wajah merah karna malu. Dia mendorong paksa tubuh Setya menjauh. Setelah pelukan Setya terlepas, Intan dengan cepat keluar dari mobil Setya.
__ADS_1
"Sampai jumpa nanti. Muach.. Fuhhh..." Ucap Intan sambil memberikan ciuman jarak jauh untuk Setya. Setya tersenyum dan seakan menangkap ciuman itu dan memasukkannya dalam hati.
"Hahahaha." Tawa Intan melihat tingkah Setya.
Setelah itu Intan berlalu meninggalkan Setya. Beberapa kali dia menoleh pada Setya dan melambaikan tangan padanya.
"Setiap hari aku semakin mencintaimu. Aku gak sanggup membayangkan bagaimana hariku tanpa kamu, Intan.. Aku mencintaimu, tuan putriku sayang.." Ucap Setya melihat Intan yang semakin menjauh.
...****************...
Pulang kuliah
"Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum mulai kerja kelompok?" Tawar Bagas dengan senyum lembut.
"Gak perlu. Aku masih kenyang. Lebih baik kita segera mengerjakan tugas ini agar cepat selesai." Jawab Intan dingin. Dia berjalan lebih dulu menuju perpustakaan meninggalkan Bagas. Bagas hanya bisa tersenyum kecut dibuatnya.
Saat sampai di perpustakaan mereka segera berpencar mencari refrensi buku yang dibutuhkan. Setelah itu baru mereka duduk bersama untuk mulai berdiskusi. Intan benar-benar serius saat itu, sehingga kerja kelompok mereka bisa selesai cukup cepat dari perkiraan.
"Kalau begitu, kita bertemu besok langsung di SMP. Aku pergi dulu." Pamit Intan dan akan beranjak pergi.
"Tunggu Tan. Ehm, tadi aku gak sengaja liat novel ini. Kamu sudah membacanya belum, aku tahu kamu suka genre ini kan? Aku sudah baca dan ceritanya seru. Mungkin ..."
"Gak perlu. Kalau aku ingin, aku akan mengambilnya sendiri. Kakak gak perlu bersikap seolah kakak sangat mengenalku. Dan lagi jangan selalu mengungkit masa lalu. Semua itu sudah berlalu dan aku sama sekali gak tertarik untuk mengenangnya lagi." Ucap Intan dengan nada dan ekspresi dingin, acuh tak acuh.
"Apakah kamu gak bisa memberikanku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku di masa lalu? Tidak bisakah kamu memaafkanku? Sungguh, aku sudah menyesalinya selama ini. Aku berusaha menghubungi dan mencarimu, sungguh. Aku ingin kita kembali seperti dulu, Intan.." Ucap Bagas dengan sorot mata penuh harap.
"Waktu gak bisa diputar kembali kak. Apa yang kakak rasakan saat ini adalah hasil dari pilihan kakak waktu itu. Dan aku sama sekali gak ada hubungannya dengan itu. Silahkan, nikmati saja penyesalan yang kakak rasakan sekarang!" Seru Intan tegas. Setelah itu dia benar-benar berlalu pergi meninggalkan Bagas.
Bagaimana lagi cara agar kamu bisa memaafkanku, Intan? ... Bagas
"Huh! Sangat menyebalkan! Dia selalu mengungkit hal-hal di masa lalu! Seakan dia ingin aku kembali terbelenggu dengan masa lalu itu." Seru Intan masih merasa geram dengan sikap Bagas tadi.
Bertepatan saat itu Intan melihat Setya yang berjalan ke arahnya dan tersenyum hangat padanya.
"Kenapa aku harus kembali ke masa lalu yang gelap itu, jika aku punya masa depan yang cerah?!" Gumam Intan saat melihat Setya menghampirinya. Intan segera berlari ke arah Setya dan menghambur ke pelukannya.
"Kenapa? Apa dia melakukan sesuatu lagi?!" Tanya Setya bingung saat melihat Intan yang tiba-tiba berlari dan memeluknya.
"Iya. Dia selalu mengungkit masa lalu, seakan ingin menarikku lagi ke masa yang penuh kegelapan itu. Tapi, kakak tenang saja. Aku tentu gak sebodoh itu. Kenapa aku harus kembali ke masa lalu, kalau aku punya masa depan bersama kak Setya. Hehehe." Ucap Intan dengan senyum lebar sambil mendongak menatap Setya.
"Tentu saja. Aku akan menjadi masa depanmu dan juga cahaya dalam hidupmu." Ucap Setya sambil mencium kening Intan dengan lembut. Setelah itu dia memeluk Intan dengan erat. Dari kejauhan Bagas mengamati hak itu. Dia mengepalkan tangannya tak terima.
"Seharusnya aku yang ada diposisi itu! Lihat saja, aku gak akan menyerah begitu saja. Aku pasti bisa mengambil kembali hati Intan!" Tekad Bagas sambil terus menatap tajam pada Setya.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1