
Akhir pekan..
"Haahh!!! Senangnya. Perasaanku jadi lebih baik setelah berteriak dengan bebas tadi. Makasih ga guys!!" Seru Tania senang.
Hari itu Tania, Tasya, Dika dan Rehan menghabiskan akhir pekannya dengan bermain di tamab hiburan. Mereka sudah menaiki roller coster dan berbagai permainan yang menguras suara mereka.
"Lho, kalian gak apa-apa?" Tanya Tania saat menoleh ke arah yang lain. Wajah mereka kelihatan lelah dan pucat.
"Gak apa-apa kok. Hehe.." Jawab Tasya berusaha tersenyum.
Padahal, sebenarnya Tasya sudah mulai lelah dan merasa mual karna Tania terus bermain permainan yang mengocok perutnya tanpa jeda sama sekali.
"Yah, itu sangat menyenangkan!" Jawab Rehan yang juga merasakan hal yang sama dengan Tasya.
"Aku ingin istirahat!" Seru Dika tanpa basa-basi. Tasya dan Rehan menatapnya berbinar. Karna, mereka tak tega mengatakan pada Tania. Sedangkan Dika terlihat lebih santai.
"Oh, maaf-maaf aku terlalu bersemangat. Hehe." Jawab Tania sedikit merasa bersalah.
Akhirnya, mereka memilih beristirahat terlebih dahulu. Tania dan Tasya sudah memilih duduk di salah satu bangku yang tersedia. Sedangkan, Rehan dan Dika masih mengantri untuk membeli minuman.
"Sya.. Diantara Dika dan Rehan kamu pilih siapa?" Tanya Tania membuka obrolan.
"Apa maksudmu dengan memilih? Mereka sama-sama temanku. Aku gak bisa memilih diantara mereka." Seru Tasya sedikit terkejut dengan pertanyaan Tania yang tiba-tiba.
"Bukan sebagai teman. Tapi sebagai pria. Siapa dari mereka yang akan kamu pilih. Aku yakin, pasti ada diantara mereka yang kamu suka kan?" Tebak Tania sambil memandang Tasya dengan lekat.
"Apa maksudmu. Kita semua benar-benar hanya teman. Kalau kamu bertanya begitu, apakah berarti ada diantara mereka yang kamu suka juga?" Tanya Tasy membalikkan pertanyaan.
"Gak ada, kan aku baru saja putus. Hatiku dulu hanya untuk pria sampah itu. Jadi, aku benar-benar hanya menganggap Dika dan Rehan sebagai teman saja. Tapi, gak menutup kemungkinan lama-lama aku akan menyukai salah satu dari mereka ... Kamu gak usah membalikkan pertanyaan, bagaimana dengan perasaanmu sendiri?!" Tanya Tania tajam.
"Huh! Aku gatau. Hanya saja, memang diantara mereka ada satu yang membuatku merasa senang ketika hanya melihatnya. Aku begitu bersemangat mengamatinya dan mengenalnya lebih dalam ... Sifatnya yang dingin selalu membuatku salah paham, tapi semakin aku mengenalnya ternyata dibalik sifat dinginnya itu, dia sangat perhatian dan peduli padaku ... Entah semenjak kapan, aku mulai berharap lebih dengan sikapnya padaku. Tapi, aku selalu merasa dia seperti memasang dinding untukku mendekat. Dia hanya menganggapku teman ...."
"Dika. Dia Dika bukan?" Tebak Tania langsung.
"Ba-Bagaimana kamu tahu?!" Seru Tasya terkejut.
"Semua itu jelas terlihat diwajahmu. Lagian, Rehan tak pernah dingin terhadapmu. Dan dia sepertinya gak memasang dinding untukmu." Jawab Tania santai.
"Yaahh.. Kamu saja tahu. Tapi, dia sepertinya tidak menyadari itu. Dia gak pernah memandangku sebagai wanita. Dia hanya menganggapku teman ... Dan sikap baiknya padaku hanya sebagai terima kasih karna kakak dan orang tuaku sudah bersikap baik pada kakaknya." Jawab Tasya lesu.
"Alasan!!"
"Alasan? Apa maksudmu?" Tanya Tasya bingung.
"Menurutku, apa yang dia katakan itu hanya alasan. Menurutku dia hanya belum mau mengakui perasaannya, entah karna apa ... Mungkin awal kali dia beneran berpikir seperti itu, tapi tindakan-tindakannya setelah itu adalah gerak reflek dari hatinya. Aku masih ingat jelas bagaimana ekspresi cemasnya saat menggendongmu yang pingsan saat sakit waktu itu. Aku rasa, itu bukan ekspresi orang yang hanya ingin berterima kasih." Ucap Tania menjelaskan.
"Benarkah begitu? Hmm.. Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Tasya bingung.
"Agar hubungan kalian berubah, tentu saja harus ada diantara kalian yang melangkah maju untuk menghilangkan penghalangnya. Jika, dia gak melangkah. Kamu saja yang melangkah lebih dulu." Saran Tania dengan sungguh-sungguh.
"Ak-Aku? Aku mengatakannya duluan?! ... Gak mau! Itu memalukan!" Seru Tasya sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Huh! Dalam cinta gak ada istilah pria atau wanita duluan. Itu pemikiran yang kolot. Kalau suka ya katakan suka, kalau enggak ya bilang enggak. Dengan begitu, semuanya akan jadi lebih jelas." Jawab Tania santai.
"Hm, tapi bagaimana kalau dia gak memiliki perasaan yang sama denganku? Bukankah hubungan pertemanan kami akan rusak? Pasti canggung kan?!" Seru Tasya takut.
"Dalam hidup, memang kita harus berani mengambil resiko. Kamu gak bisa menghindarinya terus ... Dan untuk masalah hubungan pertemanan, aku rasa semua itu masih bisa diperbaiki. Karna, kamu tulus menyampaikan perasaanmu. Bukan dengan niat untuk merusak bubungan kalian." Jawab Tania dengan bijak. Tasya hanya terdiam dan mulai memikirkan apa yang dikatakan oleh Tasya.
__ADS_1
"Kalian membicarakan apa? Serius sekali." Seru Rehan dan baru saja tiba bersama Dika.
"Ah. Hehe. Hanya ini dan itu." Jawab Tasya sedikit kikuk. Rehan dan Dika memandang itu dengan bingung.
"Kami membahas kalian yang begitu lama membeli minum." Sahut Tania santai sambil meminum jus sirsaknya.
"Cerewet! Kalian gak liat itu sangat antri?!" Seru Dika kesal.
"Maaf, makasih ya.." Ucap Tasya lembut dengan senyum manis di bibirnya.
"Sama-sama." Jawab Rehan.
"Hmm.." Jawab Dika sambil memalingkan wajahnya. Tanpa disadari oleh yang lain, Dika tersenyum kecil melihat senyuman Tasya itu.
Sepertinya, aku sudah benar-benar gila! ... Dika
Apa aku beneran harus mencoba melangkah mendekatinya dulu?! ... Ucap hati Tasya sambil menatap punggung Dika.
...****************...
Setelah hari itu yang membuat Tasya dilema itu, waktu terus berjalan. Sekarang mereka sudah disibukkan dengan belajar kelompok untuk mempersiapkan Ujian Tengah Semester. Mereka melakukan belajar bersama dengan bergantian di rumah mereka masing-masing. Setya, Intan, Ifa dan Bayu terkadang membantu jika mereka gak sibuk. Seperti saat itu, mereka sedang belajar di rumah Tasya. Dan kebetulan Setya bisa membantu.
"Makasih ya kak Setya. Kami sangat terbantu. Kakak memag hebat. Sudah tampan dan pintar lagi. Hehe." Puji Tania dengan senyum lebar.
"Nia, walaupun kamu uda putus. Kamu gak boleh deketin kak Setya. Kak Setya sudah punya kak Intan!" Seru Tasya mengingatkan.
"Sya, kamu berpikir berlebihan. Aku hanya memuji kakakmu saja. Aku gak ada niatan tuh jadi PHO seperti Yuni." Seru Tania tegas.
"Sudah-sudah, jangan berdebat. Segera beberes saja, setelah itu kita makan malam bersama." Ucap Setya menenangkan.
"Siap!" Jawab mereka bersamaan.
"Boleh. Sudah lama juga kita gak bermain bersama. Nanti, kita main di lapangan kompleks rumahmu saja, gak apa-apa. Sekalian aku ingin menemui kakamu." Jawab Setya dengan senyuman.
"Dasar modus!" Sindir Tasya pada Setya.
Melihat interaksi antara Dika dan Setya yang sudah terlihat sangat akrab membuat Rehan merasa sedikit iri. Rehan yakin, kalau seumpama Dika sudah mengakui perasaannya pada Tasya, Setya pasti akan mendukung perasaan mereka.
"Kak Setya-Dika. Bolehkah aku ikut bermian basket bersama juga?" Tanya Rehan tiba-tiba.
"Yah, boleh saja. Nanti aku juga bisa mengajak Bayu. Gak masalah sih." Jawab Setya santai. Dika menatap Rehan dengan curiga.
"Kenapa tiba-tiba ingin ikut?" Tanya Dika dingin.
"Kenapa? Gak boleh?!" Tanya Rehan menatap Dika tak suka.
"Gak juga. Terserahmu saja." Jawab Dika sambil memalingkan wajahnya. Setya melihat interaksi Dika dan Rehan dengan bingung, tapi dia gak memperpanjang masalah itu lagi.
Setelah itu mereka segera turun dan bergabung dengan mama-papa Tasya yang sudah menunggu di meja makan. Dika dan Rehan duduk di depan Tasya.
"Belajarnya lancar hari ini?" Tanya mama ramah.
"Lancar tante. Ini berkat bantuan kak Setya juga." Jawab Tania dengan senyum lebar.
"Syukurlah, kalau begitu.."
Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...
__ADS_1
Saat sedang menikmati makanannya, tiba-tiba Tasya tersedak. Dika dan Reham dengan sigap mengambilkan minum untuk Tasya dan memberikannya pada Tasya secara bersamaan.
"Minumlah"
"Ehh?!" Seru Tasya menatap Dika dan Rehan dengan bingung. Sedangkan Dika dan Rehan saling melemparkan tatapan tajam satu sama lain.
"Ini sayang, minumlah." Ucap papa yang juga memberikan minum untuk Putri.
"Makasih papa." Jawab Tasya dengan senyuman diwajahnya.
"Kalian tidak perlu repot. Cukup aku yang akan memperhatikan putriku!" Ucap papa dengan tatapan tajam pada Dika dan Rehan.
"Makasih untuk perhatian kalian. Tapi, kebutuhan Tasya biar aku dan papa yang memenuhinya " Ucap Setya gak kalah tajam.
"Baik." Jawab Dika dan Rehan bersamaan.
Mereka tiba-tiba merasakan aura dingin mencekam seperti menusuk mereka. Mereks bahkan tak berani menatap papa atau Setya. Mama tersenyum melihat itu, tapi dia juga menatap dingin pada suami dan putranya.
"Sudah hentikan. Kalian membuat mereka takut. Biarkan saja, kalau mereka ingin memperhatikan Tasya. Mereka kan berniat baik bukan buruk." Ucap mama mengingatkan.
"Gak perlu!" Seru Setya dan papa bersamaan.
Mama yang mendengar itu mulai memutar bola matanya malas. Sedangkan Tania justru tersenyum senang, dia seperti melihat pertunjukan gratis. Tasya sendiri justru bingung dengan situasai saat itu.
Apa yang terjadi disini?! ... Teriak Tasya dalam hati.
...****************...
Malam harinya, Setya menelpon Intan dan menceritakan kejadian itu padanya.
"Sekarang aku tau apa niat mereka. Aku gak bakalan membiarkan mereka lolos dengan mudah!" Seru Setya menggebu.
"Hahaha. Kak Setya, sangat posesif ya. Kakak mengingatkanku pada ayah dulu." Jawab Intan yang merasa lucu membayangkan situasi saat itu.
"Kamu benar. Aku merasakan sendiri sekarang. Tasya, itu adik perempuanku satu-satunya yang paling aku sayang. Aku gak akan membiarkan dia jautuh ke tangan pria dengan mudah. Aku akan memastikan sendiri kalau pria itu bisa diandalakan." Ucap Setya dengan tegas.
"Iya, aku tahu kakak sayang. Aku juga gak bakal dukung Dika, hanya karna dia adikku. Lakukan yang menurut kakak baik. Tapi jangan terlalu berlebihan, kalau tidak bisa-bisa Tasya akan sendiri seumur hidup."
"Tentu saja sayang. Aku melakukan ini karna aku sayang sama Tasya. Aku juga akan bersikap begitu kelak dengan putri kita." Ucap Setya dengan suara lembut.
"Pu-Putri?! Kak Setya bicara apa sih?!" Seru Intan dengan wajah yang mulai merona.
"Kenapa? Kalau kita menikah nanti dan punya seorang putri. Aku juga gak akan membiarkan pria lain merebutnya dengan mudah."
"Itu masih jauh. Kita masih kuliah sekarang ... Lupakan itu sebentar, sekarang aku lebih penasaran dengan perasaan Dika. Apa dia sudah mengakui kalau dia suka Tasya? Sejauh ini setahuku dia masih belum mengakui perasannya." Tanya Intan penasaran.
"Aku gak tahu masalah itu. Tapi, dari yang aku lihat, dia jelas memiliki perasaan pada Tasya." Jawab Setya sembari mengingat sikpa Dika pada Tasya sebelumnya.
"Yah, apapun itu. Aku do'akan terbaik saja untuk mereka." Ucap Intan tulus.
"Tentu saja ... Tapi, apakah kita besok punya anak lelaki saja ya? Aku sekarang sudah memikirkan berbagai siksaan untuk pria yang akan mendekatinnya. Aku takut, putri kita akan sendirian seumur hidupnya nanti." Goda Setya sekali lagi.
"Kak Setya!!!"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..