Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Apa yang akan dilakukannya?


__ADS_3

Hari yang ditunggu oleh semua murid pun tiba. Mereka semua sudah berkumpul di lapangan sekolah, bersiap untuk pergi menuju tempat Kegiatan tengah semester.


"Intan, jadi tidak ikut ya?" Tanya Linda pada Ifa, saat mereka hendak masuk ke dalam bus.


"Iya. Dia masih belum berani untuk bertemu dengan banyak orang ... Tapi, nanti aku akan selalu menghubunginya agar dia juga merasa seperti ikut kegiatan tengah semester ini. Aku juga sudah mendapatkan izin dari guru." Jawab Ifa dengan senyuman.


"Begitu ... Oh, ya sebelum berangkat bagaimana kalau menghubungi Intan? Aku ingin menyapanya." Usul Linda semangat.


"Baiklah." Jawab Ifa menyetujui. Akhirnya, ia segera mengambil ponsel dan menghubungi Intan melalui panggilan video.


Tutt ... Tutt ... Tutt


"Hallo?" Jawab Intan dengan senyum diwajahnya.


"Hallo Tan, kamu gak masih tidur kan?" Sindir Ifa dengan penuh selidik.


"Tentu saja tidak. Aku sedang sarapan bersama keluarga. Nih..." Jawab Intan sambil memutar kameranya sehingga kini yang terlihat dilayar adalah keluarganya.


"Kenapa menghubungiku? Apakah belum berangkat?" Tanya Intan dengan kembali menunjukkan wajahnya.


"Belum, tapi keliatannya sebentar lagi." Jawab Ifa sambil melihat sekitarnya, dimana guru-guru masih terlihat sibuk dengan kegiatan mereka.


"Ifa, hati-hati ya. Kalau terjadi apa-apa langsung hubungi mama kamu atau kami." Seru ayah yang ikut menunjukkan diri disamping Intan.


"Hehe. Siap ayah." Jawab Ifa dengan senyuman.


"Oh ya, Tan ... Ini Linda mau menyapamu, apa gak masalah?" Tanya Ifa meminta izin terlebih dulu. Karna, ia takut Intan masih belum mau berbicara pada orang lain.


"Hmm ... Baiklah, tidak masalah." Jawab Intan menyetujui. Ifa segera mengarahkan kamera pada Linda, agar Linda bisa melihat Intan.


"Hallo Tan, bagaimana kabarmu?" Sapa Linda dengan senyum manisnya.


"Aku sudah merasa jauh lebih baik. Apa kamu tidak bisa melihatku yang semakin membulat seperti ini? Haha." Jawab Intan yang memang merasa bahwa berat tubuhnya bertambah.


"Bener. Kamu terlihat seperti gentong!" Ejek Toni yang tiba-tiba menimbrung di layar kamera. Bukannya terkejut Intan malah merasa kesal pada Toni.


"Gak ketemu beberapa hari aja, ternyata kau makin ngeselin ya Ton?! Untung aku tidak ada disana, kalau aku disana kau pasti habis ditanganku!" Seru Intan kesal.


"Hahaha. Aku gak takut tuh. Aku malah akan menunggunya, jadi cepet balik sekolah!" Ucap Toni yang berusaha meyakinkan Intan.


"Tapi kan setelah KTS liburan Ton? Hahaha." Tawa Intan puas. Toni pun langsung terlihat kikuk dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Ayah, ibu dan Dika terus menatap Intan yang terlihat lebih santai dan akhirnya bisa tertawa dengan lepas setelah kejadian itu.


"Hallo Tan, sayang sekali kamu gak bisa ikut KTS, aku kehilangan anggota yang memiliki tulisan bagus dikelompokku." Ucap Dharma yang ikut menyapa Intan.


"Haha. Untung aku tidak ikut, kalau tidak aku hanya akan jadi pesuruhmu pak Ketu." Jawab Intan senang.


"Eh, Tan. Udahan dulu ya, kita harus segera masuk bus. Nanti aku hubungi lagi. Bye." Pamit Ifa setelah melihat para guru yang memberi perintah untuk segera memasuki bus.

__ADS_1


"Baiklah. Bye." Jawab Intan, kemudian memutus sambungan telpon.


"Intan, beneran gak apa-apa tidak ikut KTS? Sepertinya temen-temen Intan bersenang-senang." Tanya bunda setelah Intan menutup sambungan telponnya.


"Intan masih belum berani bertemu dengan banyak orang bunda. Intan, juga masih belum berani buat ke sekolah bunda." Jawab Intan menunduk sedih.


"Apakah Intan mau pindah sekolah saja, supaya Intan gak ke inget kejadian di sekolah itu?" Tanya ayah menawarkan.


"Pindah?" Tanya Intan memastikan.


Ia memang masih takut untuk ke sekolah, karna ingatan peristiwa itu akan selalu terngiang saat ia melihat tempat kejadian itu. Namun, untuk solusi pindah, Intan sama sekali tak memikirkan itu. Bagaimanapun, sahabat dan orang yang dia sayang ada di sekolah itu. Dia tidak ingin meninggalkan mereka semua.


"Ya sayang. Bagaimana?" Tanya ayah lembut.


"Akan Intan pertimbangkan baik-baik ayah." Jawab Intan akhirnya.


"Baiklah. Masih ada waktu juga selama liburan untuk memikirkannya. Ayah akan menunggu apapun keputusan tuan putri ayah." Ucap ayah pengertian.


...****************...


Ifa, Bayu, Linda dan Dharma kebetulan menjadi satu kelompok saat KTS tersebut, tentu saja dengan beberapa murid yang lan. Sedangkan, Setya satu kelompok dengan Toni. Bayangkan saja betapa lucunya mereka yang biasanya selalu bersaing kini dituntut untuk bekerja sama. Sepertinya, akan sangat sulit.


Di dalam bus, saat perjalanan Setya yang merasa bosan karna tak memiliki teman mengobrol, karna dia tidak satu bus dengan Bayu pun memilih untuk menelpon Intan.


"Hallo tuan putri, sedang apa?" Sapa Setya setelah telponnya diangkat oleh Intan. Intan yag masih berasa di meja makan pun segera berpamitan untuk ke kamar dengan senyum diwajahnya.


"Sudah tadi sebelum berangkat." Jawab Setya dengan senyum diwajahnya, karna Intan perhatian padanya.


"Ada apa kakak menelponku?" Tanya Intan penasaran.


"Aku merindukanmu.." Jawab Setya dengan lembut. Intan tersipu mendengar jawaban Setya.


"Benarkah? Bukan karna kakak merasa bosan tidak ada yang diajak mengobrol?" Tebak Intan penuh selidik.


"Itu memang salah satunya. Tapi, aku juga tidak berbohong kalau aku merindukanmu. Rasanya ingin sekali kamu juga ikut dan duduk disampingku." Ucap Setya sembari melirik kursi disebelahnya dimana Toni duduk. Ia melihat Toni yang terlihat sinis menatapnya.


"Aku juga merindukan kakak..." Ucap Intan dengan lembut dan itu sukses membuat Setya tersenyum senang.


Beberapa murid lain yang mendengar percakapan Setya dengan Intan, apalagi melihat ekspresi Setya yang terlihat bahagia itu membuat iri siapapun. Mereka sebenarnya masih bertanya-tanya, benarkah Setya tetap memilih bersama Intan setelah kejadian itu. Mereka mengira Setya akan meninggalkan Intan dan itu akan menjadi kesempatan bagi mereka. Namun, melihat bagaimana perhatian Setya pada Intan membuat mereka harus menghapus pikiran itu, karna memang nyatanya mereka tak ada kesempatan.


Akhirnya, Intan dan Setya terus mengobrol selama perjalanan. Berbagai hal mereka bicarakan, seperti tak ada habisnya. Tak jarang Setya tertawa dengan obrolannya. Karna, terlalu asyik mengobrol, mereka tak menyangka kalau 3 jam telah berlalu.


"Intan, aku tutup dulu ya. Ini sudah mau sampai. Nanti aku hubungi lagi. Aku mencintaimu." Pamit Setya.


"Aku juga mencintai kakak." Jawab Intan lembut sebelum mengakhiri panggilan mereka.


...****************...


Kemudian serangkaian kegiatan dilakukan. Mulai dari spontanitas sampai jurit malam. Ifa selalu setia menghubungi Intan disetiap kegiatan, sehingga Intan benar-benar seperti ikut dalam acara KTS itu.

__ADS_1


Sudah satu hari berlalu. Sekarang sudah memasuki hari kedua, pagi itu mereka akan melakukan jelajah di hutan untuk mencari stempel. Sayangnya dikegiatan ini mereka harus berjalan sendiri-sendiri, tidak berkelompok. Ifa sebenernya ingin berjalan bersama Bayu, namun ya mau bagaimana lagi.


Urutan masuknya bergiliran tiap anggota pada tiap kelompok satu persatu. Ifa mendapat urutan setelah anggota kelompok Setya dan kebetulan waktu itu adalah Rini. Rini yang mengetahui bahwa yang akan masuk setelahnya adalaha Ifa, dia pun tersenyum licik. Sepertinya, dia memiliki rencana yang jahat.


"Apa yang akan dilakukannya?" Gumam Indah yang melihat tatapan Rini pada Ifa.


Indah sekarang sudah benar-benar move on dari Setya, sehingga ia sama sekali tidak peduli akan hubungan Setya dengan Intan. Tapi berbeda dengan Rini, ia masih memiliki perasaan pada Bayu dan masih belum rela bahwa Bayu lebih memilih Ifa.


Giliran Rini pun tiba, dia segera memasuki hutan sesuai track yang ada. Di tengah perjalanan, ketika kerumunan murid yang menunggu giliran sudah tak lagi terlihat, Rini pun mulai tersenyum licik. Saat ia melihat jalan didepannya yang kebetulan bercabang, dia sengaja membalikkan tanda panahnya untuk mengarah ke arah yang berlawanan. Lalu, ia sendiri bersembunyi sejenak untuk menunggu kedatangan Ifa.


Akhirnya, giliran Ifa pun tiba. Ia juga segera memasuki hutan. Tak lupa ia juga menghubungi Intan. Untung saja, disana masih ada signal. Karna, sebelumnya ia sudah bertanya pada guru jenis internet apa yang bisa digunakan ditempat KTS itu.


"Hallo Tan." Sapa Ifa pada Intan saat dia mulai memasuki hutan.


"Hallo ... Wah, kamu dimana tuh? Kelihatannya sejuk banget disana." Seru Intan antusias melihat banyaknya pohon yang rindang disana.


"Ini di dalam hutan dan memang benar banget rasanya sejuk." Jawab Ifa merasakan angin sepoi-sepoi diantara pepohonan itu.


"Kenapa kamu di hutan?" Tanya Intan penasaran.


"Untuk melakukan penjelajahan lah, mana mungkin aku masuk hutan karna iseng." Jawab Ifa sembari memutar bola matanya malas.


"Hahaha. Sewot banget sih!!" Tawa Intan puas.


Sembari mengobrol dengan Intan, Ia semakin masuk ke dalma hutan. Sampailah dia ditempat Rini merubah jalurnya. Dari tempat persembunyiaannya Rini bisa melihat Ifa yang datang. Saat Ifa mengambil jalan yang salah, Rini pun tersenyum senang. Kemudian, Rini mengikuti Ifa perlahan.


"Hmm. Kenapa aku merasa jalan setapaknya semakin tidak terlihat ya?" Tanya Ifa melihat jalur yang ia ambil. Pohon dan rumput-rumput disana juga semakin banyak, tidak menunjukkan tanda-tanda kalau sering dilewati.


"Apakah tadi kamu benar dalam membaca tandanya?" Tanya Intan memastikan.


"Tentu saja. Bukankah, kau juga melihatnya. Tadi jelas-jelas panahnya mengarah ke sini." Jawab Ifa yang mulai merasa ada yang aneh dengan jalan didepannya. Terlebih kini tracknya semakin curam.


"Apa aku harus kembali ya?" Tanya Ifa pada Intan. Intan melihat sekitar Ifa yang memang terlihat berbeda dari track awal. Disana lebih lebat.


"Ahhh!!!!"


"Ifa?!!" Pekik Intan yang tiba-tiba mendengar teriakan Ifa.


Tutt ... Tutt ... Tutt


Panggilan pun terputus. Intan berusaha menelpon Ifa lagi, namun tetap tak terhubung. Intan pun sangat cemas dan kebingungan harus melakukan apa.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2