
Sherly dan teman-temannya pun cukup terkejut saat Toni membantu Putri. Putri sendiri juga merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Toni. Dia tak menyangka Toni akan membantunya, padahal terkahir kali dia melihat Toni yang begitu marah dan hampir memukulnya.
Kak Toni membantuku? Apa aku sedang bermimpi?
"Ka-Kak Toni ... Kami tidak memaksanya, kami hanya mengajaknya untuk bersenang-senang setelah dua minggu menghadapai UTS." Ucap Sherly mencari alasan.
"Iya benar itu kak ..." Imbuh teman-teman yang lain.
"Aku sarankan padamu setelah lulus nanti jangan menjadi aktris. Actingmu sangat buruk!" Ucap Toni dingin.
"Ak-Aku ... Aku hanya ingin memberi peringatan saja pada Putri kak. Dan kak Toni lebih baik menjauh dari Putri, karna dia bukan gadis yang baik, dia dengan sengaja ingin merebut kak Setya dari kak Intan sebelumnya, kan? Kakak sendiri juga tahu. Kenapa kakak membelanya?!" Seru Sherly membela diri.
"Kenapa kau yang repot memberinya peringatan? Intan dan kak Setya saja sudah memaafkannya. Jangan jadi sok baik dengan menjadikan perilaku yang sudah dilakukan Putri dulu buruk. Karna dengan begini kau jauh lebih buruk darinya." Sindir Toni dengan seringainya.
Sherly tak bisa berkata apa-apa lagi, kata-kata Toni berhasil membungkamnya.
"Berhenti menganggunya dan urusi sendiri hidupmu!" Seru Toni sarat akan peringatan, sebelum menarik Putri keluar dari kelas.
Putri hanya bisa mengikuti langkah kaki Toni, karna tangannya digenggam kuat oleh Toni. Sedangkan, Sherly dia merasa geram dan menyalahkan Putri.
"Awas saja kau Putri.!! Kau tidak berhasil mendapatkan kak Setya, sekarang menggoda kak Toni. Padahal, aku sudah lama memperhatikan kak Toni.!!" Seru Sherly marah.
Sebelumnya saat Toni menarik tangan Putri keluar kelas, kebetulan Intan dan yang lainnya juga mau pulang dan melihat itu.
"Eh, itu kan Toni dan Putri? Kenapa mereka gandengan? Ada apa ini?" Seru Ifa terkejut. Intan juga merasa hal yang sama dengan Ifa.
Tapi, ia juga percaya Toni tidak akan menyakiti Putri. Walaupun sikap Toni yang kadang jahil dan konyol, juga terlihat acuh. Tapi, sebenarnya dia baik dan perhatian.
"Ku harap ini awal yang baik untuk mereka." Ucap Intan pelan. Setya tersenyum ke arah Intan, lalu dengan lembut dia mengelus kepala Intan dengan sayang.
Parkiran.
"Kak? Anu, terima kasih sudah membantuku. Sampai sini saja, mereka juga tidak akan menyusul ..."
"Naik!" Perintah Toni tanpa mendengarkan ucapan Putri.
"Ta-Tapi ..."
"Naik!" Seru Toni sekali lagi, dari nada bicaranya jelas dia tak ingin ada penolakan.
Putri menelan salivanya dengan susah payah, Toni yang seperti ini cukup menakutkan. Karna tak ingin melihat Toni semakin marah, akhirnya Putri segera naik ke boncengan Toni. Mereka pun segera melaju..
Kemana kakak galak ini akan membawaku? ... Gumam hati Putri ketakutan.
Sepeda motor pun terus melaju dan sampailah mereka di sebuah kafe tak jauh dari sana. Kafe itu bernama kafe kucing, karna di kafe itu banyak sekali kucing yang bisa diajak bermain oleh pengunjung. Kucing-kucing itu dibebaskan berlarian dalam kafe.
"Kenapa bengong? Gak mau masuk?" Tanya Toni yang melihat Putri terdiam di depan kafe.
__ADS_1
"Ah, mau!" Jawab Putri sembari menyusul langkah Toni untuk memasuki kafe itu. Mata Putri langsung berbinar saat melihat begitu banyak kucing yang berlarian kesana-kemari dengan lincah.
"Wah, mereka sangat menggemaskan!" Seru Putri sembari berlari mendekati kucing-kucing disana.
Putri tersenyum senang sembari bermain dengan kucing-kucing itu. Sedangkan, Toni mengawasinya sembari duduk disalah satu meja yang masih kosong.
"Kau mau pesan apa?" Seru Toni dari tempatnya. Putri pun menoleh dan mendekati Toni dengan menggendong salah satu kucing bewarna coklat muda dalam dekapannya.
"Hm, aku mau jus mangga saja." Jawab Putri setelah melihat daftar menu.
Setelah itu Toni segera memesankan pesanannya dan Putri ke pelayan. Toni terus mengamati Putri yang masih asyik bermain dengan kucing di gendongannya. Setelah beberapa saat, akhirnya Putri sadar kalau terus diperhatikan oleh Toni.
"Hm, maaf. Aku terlalu senang ... Anu, kak ga.. Maksudku kak Toni, ma-makasih uda bantuin Putri tadi. Ak-Aku ..."
"Kau takut padaku? Bicaramu aneh." Seru Toni memotong ucapan Putri.
"Ti-Tidak kok. Ak-Aku tidak takut pada kakak." Jawab Putri gugup.
"Sudahlah, kau terlihat sangat jelas. Kau juga jangan sampai jadi actris, actingmu buruk sekali ... Aku juga mau minta maaf, karna waktu itu hampir memukulmu." Ucap Toni serius.
"Ah, ti-tidak perlu minta maaf. Putri juga yang salah. Putri sudah memanfaatkan kelemahan orang lain untuk menyerangnya. Ak-Aku ..."
"Aku mengatakan maaf bukan untuk membuatmu mengingat kejadian itu. Semua sudah berlalu, gak perlu terus mengungkitnya. Kau sendiri juga sudah berubah sekarang." Ucap Toni memotong perkataan Putri yang terus menyalahkan dirinya.
Putri menatap Toni tak percaya, walaupun nada bicara Toni terlihat acuh, tapi dia tahu maksud Toni untuk menghiburnya. Putri pun tersenyum kecil, dibuatnya.
Toni cukup tertegun melihat senyum itu. Bertepatan saat itu pelayan datang mengantarkan pesanan mereka dan membuat Toni tersadar, dia langsung memalingkan wajahnya dari Putri.
Ada apa denganku?! Kenapa sekilas senyumnya itu membuatku berdebar?! Tidak boleh! Aku hanya murni membantunya saja!
Toni bingung dengan jantungnya yang tiba-tiba berdebar saat melihat senyum Putri. Ia pun berusaha menyangkal apa yang ia rasakan.
"Aku masih bingung denganmu. Sebelumnya kau begitu bersemangat dan terlihat tak mudah dikalahkan saat berusaha merebut kak Setya. Tapi, kenapa sekarang kau diam saja saat dibully oleh teman-temanmu itu?" Tanya Toni mengalihkan topik pembicaraan.
"Ehm, sebenarnya aku memang seperti ini kak. Pendiam dan suka menyendiri. Karna, sifatku itu aku dijauhi oleh teman-teman. Dan hanya satu orang yang bisa membuat Putri menjadi lebih baik dan menjadi sosok yang hangat, sampai Putri bisa punya teman. Dia adalah kak Setya. Tapi, setelah aku berpisah lama dengan kak Setya dan setelah papa meninggal ... aku kembali menjadi sosok yang dingin dan pendiam." Jawab Putri sambil menunduk sedih, tangannya terus mengusap kepala kucing dipangkuannya dengan lembut.
"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud, membuatmu sedih." Seru Toni merasa bersalah.
"Tidak kok, Putri gak sedih. Mengingat papa tidak membuat Putri sedih. Selama hidup papa, papa selalu membuat Putri bahagia. Jadi, ingatan Putri dengan papa hanya saat-saat bahagia saja." Jawab Putri dengan senyuman.
"Syukurlah ... Ehm, jadi karna kak Setya satu-satunya orang yang bisa merubahmu, mangkannya kamu ..."
"Ya. Saat aku melihat kak Setya setelah sekian lama, aku merasa sangat senang. Aku yakin kak Setya pasti bisa membantu Putri untuk jadi lebih baik lagi. Supaya, Putri bisa dapat teman lagi seperti dulu ... Tanpa, Putri sadari ke egoisan Putri malah membuat kak Setya dan semuanya membenci Putri. Putri sangat menyesal." Jawab Putri meneruskan kalimat Toni yang menggantung.
"Ehm, begitu ... Tapi, maaf Putri. Menurutku bukan kak Setya yang bisa merubahmu, karna yang bisa merubahmu adalah diri kamu sendiri. Setelah aku mendengar ceritamu, kamu memang sengaja menutup dirimu dan tidak mempercayai dirimu sendiri, lalu menjadikan orang lain sebagai alasan. Menurutku cara seperti itu tidak bagus, karna ketika orang itu tidak ada lagi, kamu akan kembali seperti semula."
"Lalu apa yag harus Putri lakukan?" Tanya Putri bingung.
__ADS_1
"Berubahlah demi dirimu dan untuk orang-orang yang kamu sayang. Jangan berubah karna disuruh seseorang. Percaya dan hargai dirimu sendiri, kamu itu berharga. Coba bayangkan juga bagaimana orang-orang yang kamu sayang akan ikut bahagia karna melihatmu berubah." Jawab Toni dengan senyum lembut.
Toni terlihat berbeda sekali saat mengatakan itu. Tidak seperti Toni yang konyol atau galak, seperti biasanya. Putri yang melihat itu pun menjadi tertegun. Jantungnya tiba-tiba berdebar lebih kencang.
Aku berharga? ... Gumam Putri dalam hati.
Putri memikirkan perkataan Toni untuk mencernanya. Dan Putri sadar semua itu memang benar adanya.
"Aku mengerti. Tapi, apakah aku bisa melakukannya?" Tanya Putri takut.
"Aku bisa membantumu. Asal kamu benar-benar ingin berubah." Jawab Toni santai.
"Hm. Aku mau! ... Mohon bantuannya kak." Seru Putri antusias dengan senyum lebar.
...****************...
Di tempat lain.
"Aku kan sudah bilang, jangan terlalu dekat dengan adik kelas itu. Ini kamu malah tukeran nomor. Kamu ingin terus menghubunginya setelah ujian berakhir?!" Ucap Bayu dengan kesal.
"Aku tuh gak ada apa-apa sama Taufan kak! Kita hanya tukeran nomor biasa saja. Itu pun untuk saling membantu dalam pelajaran. Kami tidak pernah saling menghubungi untuk pembasan di luar pelajaran kok!" Seru Ifa yang juga merasa kesal.
"Sudah-sudah! Hentikan perdebatan kalian ini.!!" Seru Setya menengahi.
"Ini bisa dibicarakan baik-baik bukan?" Imbuh Intan menambahi.
Saat ini mereka juga ada di kafe langganan mereka untuk beristirahat setelah UTS. Sebelumnya, saat Ifa sedang berfoto dengan Bayu tak sengaja muncul notif dari Taufan adik kelas yang duduk dengan Ifa sebelumnya. Hal itu membuat Bayu merasa kesal sekaligus cemburu.
"Apa kau tidak akan cemburu dan kesal juga kalau seumpama Intan menyimpan nomor ponsel pria lain?!" Seru Bayu pada Setya.
"Intan, kamu pasti juga kesal kan kalau kak Setya juga mencurigaimu yang tidak-tidak, hanya karna menyimpan nomor ponsel pria lain?!" Seru Ifa pada Intan.
Setya dan Intan belum menjawab dan masih bingung dengan kondisi saat itu.
"Sudahlah, aku pulang saja. Aku sudah tidak mood disini." Seru Ifa sembari beranjak pergi dari kafe.
"Aku akan menemanimu." Ucap Intan juga beranjak dari duduknya. Intan menatap Setya seperti meminta izin. Setya mengangguk mengerti dan membiarkan Intan mengikuti Ifa.
Apa yang harus aku lakukan?! ... Setya-Intan
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1