
Sesuai yang dikatakan Setya dan Bayu, sekarang mereka terus mengawasi Intan dan Ifa saat mereka menjalankan kegiatan ospek. Tentu saja bagi para gadis yang lain itu juga jadi keberuntungan, karna mereka bisa memandangi wajah Setya dan Bayu seharian.
"Tan, pasti pacarmu itu sangat mencintaimu yaa.." Goda Anisa, teman baru Intan.
Sejauh ini Intan melihat kalau Anisa gak ada niat mencari celah dari hubungannya dengan Setya. Dia juga hanya beberapa kali saja bertanya, itu pun pertanyaan yang menurutnya masih umum ditanyakan. Walaupun, Intan masih belum mempercayainya sepenuhnya. Tapi, setidaknya dia sudah ada teman di kampus barunya ini.
"Tentu saja." Jawab Intan dengan senyuman diwajahnya.
Siang itu, para senior mengadakan game. Mahasiswa baru dibentuk menjadi beberapa kelompok dengan setiap kelompok berisi 10 orang. Mereka disuruh untuk duduk melingkar. Lalu setiap orang akan diberi makanan. Tantangannya adalah mereka harus memakan camilan itu tanpa menekuk sikunya.
Kebetulan Intan satu kelompok dengan Alex. Alex juga mengambil kesempatan untuk duduk disebelah Intan. Awalnya Intan risih dan ingin pindah, namun Alex menahannya dan mengatakan tidak akan macam-macam.
"Duduklah. Aku juga tidak akan melakukan apapun. Lihatlah, disana pacarmu sudah seperti cctv yang terus mengawasiku." Ucap Alex santai. Intan melihat Setya di kejauhan yang menatap Alex dengan tajam. Akhirnya, Intan kembali duduk.
Waktu game dimulai, para mahasiswa kebingungan untuk menjalankan game itu. Ada yang melempar makanan itu keatas lalu menangkapnya degan mulut. Berhasil memang, tapi sangat susah dan ketepatan masuknya juga sangat jarang.
"Tanpa menekuk siku? Bagaimana caranya?" Gumam Intan bingung.
"Buka mulutmu!" Ucap Alex sambil mengarahkan makanan ke depan mulut Intan.
"Apa maksudmu?!" Seru Intan mendelik pada Alex tak suka.
"Hanya ini cara makan tanpa menekuk siku kita. Kita bisa berbagi makanan dengan saling menyuapi." Jawab Alex dengan senyuman.
"Benar Alex. Selamat kelompok kalian menang!" Seru senior yang melihat itu.
"Ayuk, buka mulutmu. Kita harus segera menghabiskan makanan ini." Ucap Alex sekali lagi.
"Nis, aku akan menyuapimu." Ucap Intan pada Anisa disebelahnya. Dia mengabaikan Alex yang kini tersenyum kecut melihat penolakan dari Intan. Setya yang melihat itu juga tersenyum mencibir Alex.
"Berani sekali kau menggoda Intanku! Sepertinya aku harus memberikan peringatan dengan keras." Gumam Setya mentap tajam Alex.
...****************...
Orientasi sekolah Dika saat ini juga mengadakan game. Setiap kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan satu kelompok berisi 4 orang. Game yang akan mereka mainkan adalah mereka harus bekerja sama untuk tetap bisa berdiri diatas selembar koran yang disediakan. Disetiap babaknya koran tersebut akan terus dilipat menjadi semakin kecil. Kelompok yang bisa terus mempertahankan semua anggotanya lah yang akan menang.
Dika satu kelompok dengan Rehan, Tasya dan Tania. Diawal-awal permainan mereka masih bisa melewatinya dengan mudah. Karena koran tempat mereka berpijak masih lebar. Tapi, ketika permainan semakin mendekati akhir, mereka mulai kesusahan.
"Bagaimana ini? Dengan ukuran koran segini hanya ada 2 orang yang bisa berpijak. Sedangkan kita ada 4 orang." Seru Tasya bingung.
Dika terdiam dan nampak berpikir. Setelah mendapatkan ide, dengan sigap dia menggendong Tasya di dekapannya.
"Aahh.. Apa yang kau lakukan?" Seru Tasya terkejut dengan tindakan Dika.
"Hanya ada 2 orang yang bisa berdiri disini. Satu-satunya cara adalah 2 orang itu harus menggendong yang lain. Apakah kau mau menggendongku?" Tanya Dika yang seolah-olah akan menurunkan Tasya.
"Tidak mau!" Seru Tasya sembari mempererat pegangannya di leher Dika.
Rehan menatap itu tak suka. Melihat perilaku Dika itu, sekarang ia tahu arti tatapan kesal dan tak suka dari Dika tadi. Walaupun, sebelumnya Dika mengelak dan mengatakan kalau dia tak tahu apa yang dia lakukan. Tapi, saat ini Rehan bisa melihat jawabannya dengan sangat jelas. Kalau Dika menyukai Tasya.
Tania mengamati tatapan tak suka Rehan pada Dika yang menggendong Tasya dengan bingung. Lalu seakan tersadar, dia pun tersenyum kecil.
Sepertinya, akan ada pertunjukan cinta segitiga disini. Hehe..
"Han, kamu gak ingin menggendong Tania? Atau kamu ingin dia yang menggendongmu?" Tanya Tasya yang melihat Rehan diam saja.
__ADS_1
"Tentu saja tidak." Jawab Rehan dengan senyum dipaksakan. Kemudian, ia mengangkat Tania dalam dekapannya dan berdiri membelakangi Dika dan Tasya.
"Cie.. Cie.. Cie.."
Seru teman-teman mereka yang lain. Mereka terlihat antusias bisa melihat kedua pasangan itu. Mereka terlihat serasi.
"Kalian sudah cocok. Jadian aja!" Seru salah satu teman kelas meraka.
"Maaf sebelumnya, tapi aku sudah punya pacar. Hehe." Jawab Tania dengan percaya diri sambil mengibaskan rambutnya.
"Hei, jangan banyak bergerak. Mau ku lepaskan sekarang?" Seru Rehan kesal karena terkena kibasan rambut Tania.
"Hehe. Maaf." Ucap Tania merasa bersalah.
"Ya sudah bagaimana kalau Dika dan Tasya saja. Cepat jadian!" Seru teman yang lain.
"Tidak mungkin!!" Jawab Dika cepat.
Mendengar jawaban Dika itu Tasya menunduk sedih. Ia tahu bahwa tidak mungkin bagi Dika untuk menyukainya. Dimata Dika, ia yakin bahwa ia hanyalah seorang gadis bodoh.
"Ya! Itu sangat tidak mungkin!" Seru Tasya menimpali. Dia tak mau kalah dan terlihat seperti mengharapkan cinta Dika.
Dika yang mendengar jawaban Tasya, juga merasa kesal. Dia menjawab 'Tidak mungkin' sebelumnya karna teringat perkataan Tasya yang memintanya untuk jadi teman sebelumnya dan Dika juga tak ingin terlihat berharap.
Dika dan Tasya pun saling menatap dengan tajam. Seketika atmosfer kelas berubah menjadi mencekam.
"Sudah-sudah. Kalau tidak mau ya sudah. Jangan bertengkar!" Ucap kakak pendamping di kelas mereka. Dia berusaha mencairkan kembali suasana yang menegang itu.
Apa Dika bodoh? Dia tidak menyadari perasaanya sendiri? ... Tapi, dengan begini bagus juga untukku. Masih ada kesempatan untukku mendekati Tasya ... Rehan
...****************...
Akhirnya ospek hari itu selesai. Semua mahasiswa baru bersiap untuk pulang. Dengan gagahnya Setya menghapiri Intan yang masih merapikan barang-barangnya.
"Sini aku bawakan." Ucap Setya lembut sembari mengambil alih tas Intan.
"Terima kasih." Ucap Intan sembari memeluk lengan Setya.
"Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Setya sembari merapikan rambut Intan yang sedikit berantakan.
"Hari ini langsung pulang saja ya kak. Aku sangat capek, rasanya aku bisa tidur sambil berdiri saking capeknya." Jawab Intan dengan nada manja.
"Baiklah, kita pulang saja ... Tapi, sebelum itu aku harus membasmi serangga penganggu dulu." Seru Setya sambil menatap tajam Alex yang berada tak jauh darinya.
Intan mengikuti arah pandang Setya dan dia tahu siapa serangga yang dimaksud Setya. Intan sama sekali tak berusaha menghentikan Setya, karna dia sendiri juga risih dan tak nyaman dengan keberadaan Alex.
"Kamu tunggu disini sebentar ya.." Ucap Setya lembut sembari mengelus kepala Intan dengan sayang. Intan pun mengangguk mengerti.
Alex sudah menyelesaikan beres-beresnya dan akan beranjak pulang. Saat ia melihat Setya berjalan ke arahnya. Karna, sudah tak ada lagi orang disekitarnya, Alex yakin kalau Setya memang berjalan ke arahnya. Dia pun memilih menunggu Setya dengan santai. Alex sama sekali tak takut dengan tatapan tajam yang dilemparkan Setya padanya.
"Ada apa?" Tanya Alex dingin setelah Setya sampai di depannya.
"Kau cukup berani juga tak menghindariku. Tapi keberanianmu itu sangat memuakkan!" Seru Setya dengan nada dingin.
"Hmm. Aku tertarik pada Intan. Aku tak ingin menyerah, walaupun dia adalah pacarmu." Ucap Alex dengan santai.
__ADS_1
Setya terlihat semakin marah dengan ucapan Alex. Dia mengepalkan tangan dengan kuat. Jelas sekali rahangnya juga mengeras tanda dia sedang menahan emosi agar tak memukul Alex saat itu.
"Ternyata kau lebih tak tahu malu dari yang ku duga. Kau mengatakan menyukai kekasihku?! Huh! Kau tak tahu apa-apa ... Silahkan, kau boleh saja berpikir apapun sesukamu, tapi aku tak kan pernah memberikan celah sedikitpun untukmu!" Ucap Setya dengan nada dingin dan tatapan tajam.
"Kita lihat saja. Kau sudah terlalu lama berhubungan dengannya. Aku tidak yakin perasaan diantara kalian tetap sama setelah selama ini. Cepat atau lambat dia akan bosan denganmu."
"Coba saja lakukan sesukamu untuk menghancurkan hubungan kami. Kau akan tahu nanti, bagaimana kuatnya hubungan kami." Ucap Setya dengan senyum mencibir. Setelah itu dia meninggalkan Alex dan kembali mendekati Intan.
"Sudah selesai?" Tanya Intan saat Setya sudah didepannya.
"Sudah ..."
"Aaahhh!! Kak Setya apa yang kamu lakukan?!" Seru Intan saat tiba-tiba Setya menggendongnya.
"Tadi kamu bilang kalau capek kan? Aku akan menggendongmu sampai parkiran." Jawab Setya dengan senyuman.
"Tidak perlu kak. Aku masih kuat berjalan sampai parkiran kok. Lihatlah banyak yang melihat kita." Ucap Intan sambil memperhatikan sekitarnya. Masih banyak mahasiswa disana, yang kini sedang menatapnya dan Setya.
"Aku tak peduli itu. Semakin banyak yang mihat, semakin banyak pula yang tahu kalau kamu adalah pacarku." Jawab Setya dengan tatapan tajam pada Alex yang melihat ke arahnya dan Intan.
Intan menyadari suasana hati Setya sedang buruk saat ini. Akhirnya, dia tak memberontak lagi dan membiarkan Setya menggendongnya.
Sesampainya di parkiran Setya menurunkan Intan dengan perlahan. Hari itu dia membawa mobil, karena dia ingin Intan bisa istirahat dengan nyaman. Setelalah membukakan pintu untuk Intan, Setya juga segera memasuki mobil.
"Aku turunkan joknya. Jadi, tidurlah selama perjalanan. Sore hari pasti macet." Ucap Setya lembut sembari menurunkan jok Intan agar dia bisa beristirahat.
"Terima kasih ... Tapi, kenapa dengan kakak? Kenapa kakak terlihat kesal?" Tanya Intan sembari menyentuh lembut wajah Setya.
"Serangga itu mengatakan tak akan menyerah untuk mendekatimu. Dia akan berusaha menghancurkan hubungan kita." Jawab Setya yang masih terlihat kesal.
"Lalu kenapa kakak kesal? Kakak tahu kan, bagaimana perasaanku? Aku tak akan goyah hanya dengan serangga seperti itu. Kita buktikan padanya betapa kuat hubungan kita.." Ucap Intan lembut, menenangkan Setya.
"Tentu saja ... Maafkan aku, aku hanya takut kamu mulai bosan padaku dan akan meninggalkan aku." Ucap Setya sembari menyandarkan kepalanya ke bahu Intan. Intan tersenyum melihat tingkah manja Setya itu.
"Itu tidak akan mungkin. Bagaimana aku bisa bosan dengan kakak? Kalau setiap harinya cintaku ke kakak terasa semakin bertambah?" Jawab Intan sembari menelangkup wajah Setya dengan kedua tangannya.
"Terima kasih sayang ...." Ucap Setya dengan senyum lembut.
Kemudian, Setya mendekati Intan perlahan dan mencium bibirnya lembut, Intan juga membalas ciuman Setya dengan lembut seakan berusaha menyampaikan perasaannya pada Setya, agar ia tak terlalu khawatir.
"I love you ..." Ucap Setya setelah melepas ciumannya.
"I love you too, my hero..." Ucap Intan dengan senyum manis.
.
.
.
Bersambung..
>>Alex<<
__ADS_1