
Sesampainya di rumah Intan, Setya mengantar sampai depan pagar.
"Aku pulang dulu ya, cepat masuk dan istirahat." Ucap Setya lembut.
"Iya. Kak Setya juga hati-hati sampai rumah. Dan terima kasih sudah menjagaku selama ospek ini." Ucap Intan dengan senyum lembut.
"Tentu saja." Jawab Setya sembari mengusap lembut pipi Intan.
"Pulang dan istirahatlah. Jangan begadang dan makan yang teratur. Aku gak mau menggendongmu lagi nanti." Ucap Dika pada Tasya yang tetap di dalam mobil.
"Dasar bawel. Iya aku tahu!" Jawab Setya kesal.
"Dika, makasih sudah membantu Tasya ya hari ini." Ucap Setya saat sambil menepuk bahu Dika pelan.
"Sama-sama kak. Jangan lupa nanti lanjutkan omelan kakak bersama om ya." Ucap Dika dengan senyum diwajahnya.
"Kau!!"
"Tasya.. Kamu yang bersalah kali ini. Tunggu sampai rumah dan ku kabari papa." Ucap Setya sambil mendelik pada Tasya.
"Kakak..." Rengek Tasya manja.
"Sudah-sudah. Kak Setya cepat pulang, supaya Tasya bisa istirahat." Seru Intan menengahi.
"Baiklah. Kami pulang dulu. Salam ke om dan tante ya." Pamit Setya sebelum memasuki mobilnya. Intan dan Dika mengangguk sebagai jawaban.
Setelah itu Setya mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah Intan dan menuju rumahnya. Sore hari itu jalanan cukup padat dengan banyaknya kendaraan. Ya, memang saat ini jamnya pulang kerja, jadi wajar saja kalau jalanan ramai.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Setya membuka obrolan.
"Sudah jauh lebih baik. Hanya saja aku masih sedikit lemas." Jawab Tasya dengan senyum kecil.
"Bagaimana tidak lemas, jika tubuhmu itu gak ada tenaganya." Seru Setya mulai mengomel.
"Kakak.. nanti saja mengomelnya, sekalian dengan papa. Aku gak mau mendengar omelan terus sepanjang hari ini. Tadi Dika sudah mengomeliku panjang lebar. Jangan lagi. Nanti saja ya." Pinta Tasya memohon.
"Baiklah ... Tapi, ingat omelan kami itu demi kebaikanmu juga. Itu karna kami sayang sama Tasya. Papa, kakak, dan Dika." Ucap Tasya perngertian.
"Dika juga?" Tanya Tasya bingung.
"Tentu saja. Coba Tasya pikirkan untuk apa orang rela mengomel panjang lebar kalau gak sayang? Lelah sendiri kan itu menghabiskan tenaga juga." Jawab Setya santai.
"Tapi, gak mungkin deh Dika seperti itu .." Ucap Tasya lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa gak mungkin? Dia juga kan yang mengantar Tasya ke UKS. Kalau Dika gak sayang sama Tasya, bisa saja dia meninggalkan Tasya atau memanggil orang lain untuk mengantarkan Tasya. Walau dia mengeluh, tapi itu bukti kalau dia peduli dan sayang sama Tasya."
__ADS_1
"Tapi, Dika pernah bilang itu hanya untuk membalas budi kebaikan kakak dan keluarga kita yag sudah baik ke kak Intan selama ini. Jadi, dia memperilakukan aku dengan baik juga.." Jelas Tasya dengan nada sedih.
"Sebenarnya, itu gak ada hubungannya Tasya. Kakak yakin, apapun alasannya yang jelas semua itu berasal dari keinginan Dika sendiri ... Tapi, kenapa nada bicaramu jadi sedih begitu, apa kamu menyukai Dika?" Tebak Setya sembari sekilas melirik sang adik. Tasya tak menjawab dan hanya menunduk.
Di rumah Intan ..
"Dika, aku masih penasaran kenapa kamu bersikap seperti itu pada Tasya?" Tanya Intan saat Dika hendak memasuki kamarnya.
"Seperti itu bagaimana?" Tanya Dika bingung.
"Walaupun sikapmu terlihat dingin dan acuh, aku bisa melihat kalau kamu perhatian pada Tasya. Benar begitu kan?"
"Yah.. Wajar bukan? Kak Setya dan keluargnya kan juga sudah memperlakukan kakak dengan baik. Gak ada salahnya kan kalau aku juga memperlakukan Tasya dengan baik?" Tanya Dika pada Intan. Intan dapat mendengar ada keraguan dari nada dan sorot mata Dika.
"Jangan menjadikan hubunganku dan kak Setya juga keluarganya sebagai alasan perasaanmu itu. Jujurlah dengan perasaanmu sendiri ... Apa benar kamu tidak menyukai Tasya?" Tanya Intan langsung.
"Mana ada! Gak mungkin!" Jawab Dika langsung. Tapi, dia menjawab tanpa menatap mata Intan. Intan hanya bisa menghela nafas melihat betapa keras kepalanya adiknya itu.
"Jangan sampai kamu menyesalinya saat dia sudah pergi. Selama dia masih ada didepanmu cepatlah genggam dia erat-erat. Karna, aku yakin bukan hanya kamu saja yang ingin mendapatkannya." Ucap Intan bijak. Sebelumnya, dia juga melihat Rehan yang terus menatap Tasya.
"Apa sih yang kakak bicarakan. Aku gak seperti itu!" Seru Dika tegas.
"Terserahlah. Aku hanya mengingatkanmu. Jangan menyesal saja kalau dia sudah pergi darimu. Dan satu lagi, wanita itu butuh kepastian dan ketegasan. Adakalanya kamu harus menyampaikan perasaanmu agar dia bisa tahu." Ucap Intan yang kemudian meninggalkan Dika yang masih diam di depan pintu kamarnya.
Dia segera memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamarnya, tiba-tiba ia seperti bisa melihat wajah Tasya disana.
"Aku pasti sudah gila! Kenapa aku bisa melihatnya?!" Seru Dika langsung merubah posisinya jadi duduk.
Sebanyak apapun Dika berusaha melupakan dan tidak memikirkan Tasya, sebanyak itu pula dua semakin memikirkannya.
Ia mengingat bagaimana perasaan bahagianya saat tahu bisa satu sekolah dan sekelas dengan Tasya, perasaan khawatir saat Tasya sakit dan juga perasaan tak suka saat melihat pria lain mendekati Tasya.
"Apa aku benar-benar menyukai gadis bodoh itu?!" Gumam Dika.
...****************...
Bayu dan Ifa masih menikmati waktu bersama mereka di tama hiburan hingga malam. Mengulang wahana yang mereka anggap seru. Bayu dengan perhatian selalu menemani Ifa. Hari itu Ifa benar-benar manja pada Bayu.
"Oppa! Apakah oppa sungguh akan bersamaku selamanya?" Tanya Ifa saat mereka berjalan bersama setelah menaiki bianglala.
"Tentu saja sayang. Memangnya ada apa kamu tiba-tiba menanyakan hal ini padaku?" Tanya Bayu sambil menghentikan lnagkahnya dan menatap Ifa bingung.
"Hmm ... Sebenarnya hari ini adalah hari meninggalnya papa. Dulu papa terlihat sangat mencintai mama dan keluarganya. Tapi, sekali waktu aku kecil aku mempergokinya bermesraan dengan wanita lain. Tak berapa lama mama dan papa terus bertengkar dan akhirnya bercerai. Dua tahun kemudian, aku mendapat kabar kalau papa meninggal karna kecelakaan di tempat kerja. Aku ..."
Ifa menjelaskan perasaannya pada Bayu. Suaranya semakin bergetar dan tercekat di tenggorokannya. Dia tak mampu lagi meneruskan perkataannya. Bayu menarik Ifa dalam dekapannya. Mencoba menenangkan Ifa dan menyalurkan perasaannya.
__ADS_1
"Aku takut suatu hari kak Bayu juga akan meninggalkanku, walaupun sekarang kakak sangat mencintaiku. Aku ..."
"Sshhtt ... Jangan katakan hal itu lagi. Aku sangat mencintaimu, gak peduli sekarang atau nanti. Kamu harus percaya padaku. Kita jaga kepercayaan dan cinta kita bersama. Saling jujur dan terbuka satu sama lain. Lagian, aku sudah berjanji pada mama kamu akan selalu menjaga dan melindungi kamu. Aku gak akan mengingkarinya." Jawab Bayu lembut.
"Apa kakak pernah pacaran sebelumnya? Apa kakak juga pernah mengatakan hal ini pada gadis lain sebelumnya? ... Aku juga pernah mendengar kalimat seperti ini, tapi ternyata dia tetap meninggalkanku." Tanya Ifa sembari mencengkram baju Bayu.
"Aku memang pernah punya pacar dulu sewaktu SMP dan memang aku pernah mengatakan itu. Tapi, itu disaat aku belum tahu kalau dia hanya memanfaatkanku saja. Setelah aku tahu, hubungan kami berakhir ... Sayang, kamu tenang saja. Sekarang kondisinya sudah berubah. Aku mencintai kamu setelah mengetahui semua tentang kamu. Sifat kamu, keprbadian kamu, kebiasaan kamu, dan semua tentang kamu. Kita juga sudah tahu cara mempertahankan hubungan kita dengan kepercayaan dan kejujuran. Jadi, kamu gak perlu khawatir ok?"
"Tapi, bagaimana kalau kakak beneran suatu hari nanti akan meninggalkanku?!" Tanya Ifa ragu.
"Maka kamu boleh melakukan apapun padaku. Memukulku, menembakku, bahkan membunuhku. Apapun itu, lakukan saja semuanya. Berarti saat itu aku sudah menjadi Bayu yang brengsek dan sudah tak pantas untukmu ... Tapi, aku akan berusaha memastikan padamu semua itu gak akan terjadi. Ku harap kamu juga mempercayaiku dan ikut menjagaku. Kita saling melengkapi dan mengisi satu sama lain yaaa..." Ucap Bayu dengan sorot mata tegas, nada bicaranya juga penuh keyakinan.
"Baiklah. Kalau kak Bayu berani melirik wanita lain. Lihat saja aku akan mencincang kak Bayu!" Seru Ifa dengan nada penuh ancaman. Ifa menatap Bayu tajam dan semakin kuat mencengkram baju Bayu.
"Aku tak akan berani sayang. Karna, hatiku sepenuhnya sudah milikmu." Jawab Bayu lembut dan semakin mendekatkan wajahnya pada Ifa.
Ifa menatap mata Bayu seolah mencari arti dari tatapannya. Dia masih ingin membuktikan bahwa Bayu memang sangat mencintainya dan tak akan meninggalkannya. Dan Ifa hanya menemukan keyakinan dan kehangatan dari sorot mata Bayu itu. Diapun tersenyum kecil sembari melihat Bayu yang semakin mendekatinya.
"Kalian mau apa disini malam-malam?!" Seru security yang kebetulan sedang berkeliling.
Bayu dan Ifa pun tersentak dan reflek menoleh. Kemudian mereka berdua saling tatap.
"Cepat pulang! Taman hiburan akan segera ditutup!" Seru security itu lagi.
"Baik!" Jawab Bayu dan Ifa serempak.
Kemudian, Bayu meraih tangan Ifa dan berlari bersama meninggalkan pak security. Melihat tangannya digenggam oleh Bayu membuat Ifa tersenyum.
Ku harap kak Bayu tidak akan pernah melepaskan genggaman ini dari ku ...
Harap hati Ifa sembari mempererat genggamannya pada tangan Bayu. Bayu juga melakukan hal yang sama.
Aku tak akan melepasakan tanganmu Ifa ... Aku akan terus menggenggammu kuat disisiku ...
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1