
Hari wisuda
"Hallo, Tan. Kamu beneran gak mau datang ke wisuda kak Bayu?" Tanya Ifa dari panggilan telpon.
"Maaf Fa. Hari ini aku langsung ke rumah sakit saja. Mumpung libur, aku ingin menghabiskan waktu seharian bersama kak Setya." Jawab Intan sedikit merasa tak enak hati.
"Baiklah kalau begitu. Nanti, aku dan kak Bayu akan ke sana juga setelah acara wisuda." Ucap Ifa mencoba mengerti kemauan Intan.
"Baiklah. Terima kasih."
Setelah itu merekapun mengakhiri panggilan telpon mereka. Pagi itu Intan sudah bersiap ke rumah sakit setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Setelah selesai bersiap, dia pun turun dan akan berpamitan pada orang tuanya.
"Ayah-bunda, Intan ke rumah sakit dulu yaa." Pamit Intan pada orang tuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Ehm, baiklah. Hati-hati yaa." Jawab bunda lembut, ayah juga tak bisa mencegah kemauan putrinya. Karna, itu akan membuat Intan semakin sedih.
"Tentu saja ayah-bunda. Kalian tak perlu khawatir." Ucap Intan dengan senyum diwajahnya.
"Kak Intan aku ikut. Biar aku saja yang menyetir." Seru Dika tiba-tiba.
"Dasar! kamu ikut karna ingin ketemu Tasya kan?" Ejek Intan.
Sekarang, semua keluarga memang sudah mengetahui hubungan Tasya dan Dika. Karena, kondisi Setya, papa Tasya juga tak terlalu mempermasalahkan hubungan Tasya dengan Dika. Karna, papa juga tahu bagaimana Dika yang menemai Tasya dan membantunya agar tak terpuruk setelah kecelakaan Setya.
"Yah, itu termasuk. Tapi, aku juga ingin mengantar kakak dan memastikan keselamatan kak Intan. Apa gak boleh?" Tanya Dika kesal. Intan dan kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Dika.
"Baiklah. Ayo, kita berangkat sekarang." Ajak Intan yang tak lagi mengejek sang adik.
Mereka pun segera berangkat menuju rumah sakit, sebelum itu seperti biasanya Intan akan membelikan bunga krisan untuk Setya. Bunga yang melambangkan kepercayaan, kesetiaan dan umur yang panjang. Dengan itu Intan berharap, Setya bisa segera sembuh dan berumur panjang.
Sesampainya mereka di kamar Setya, ternyata semua anggota keluarga Setya ada disana. Yah, tak heran karna hari ini akhir pekan, jadi mereka semua bisa datang untuk menjaga Setya.
"Assalamu'alaikum, om-tante." Ucap Intan saat memasuki kamar rawat Setya, diikuti oleh Dika dibelakangnya.
"Wa'alaikum salam, sayang. Hari ini datang pagi juga? Kamu gak ikut ke acara wisudanya Bayu?" Tanya mama yang heran melihat kedatangan Intan.
"Enggak tante. Intan ingin meghabiskan waktu disini. Lagian, Intan juga tak memiliki alasan untuk datang ke wisuda itu." Jawab Intan sambil menatap Setya yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Jangan begitu sayang. Kamu setiap hari sudah menjaga Setya dengan baik. Kamu juga butuh waktu untuk bersenang-senang. Setidaknya datanglah ke wisuda Bayu, sebagai perwakilan Setya dan kami. Setelah acara wisuda kamu bisa kesini lagi. Biar om dan tante yang akan menjaga Setya disini." Ucap mama pengertian.
"Tapi tante ..."
"Ssstttt... Tante gak mau penolakan. Dika-Tasya kalian juga bersenang-senang dan ikut Intan ke wisuda Bayu saja. Biar mama dan papa yang akan menjaga Setya." Seru mama tegas tak mau penolakan.
"Mama kenapa sih?! Tasya kan mau disini." Seru Tasya tak terima.
__ADS_1
"Tasya ini akhir pekan, keluarlah dengan Dika. Kasian dia yang harus mengikutimu terus!"
"Tante saya gak apa-apa kok. Kemanapun, Tasya pergi, saya gak masalah." Jawab Dika cepat.
"Tuh kan ma. Dika gak bakal mempermasalahkan hal ini." Rengek Tasya yang masih tak mau mengalah.
"Kamu ini gak bisa baca situasi ya? Mama kamu ini ingin menghabiskan waktunya sama papa. Kalau kalian semua disini, bagaimana kami bisa bemesraan?" Seru papa yang angkat bicara sambil memeluk pinggang sang istri. Tasya dan Dika sampai terdiam dibuatnya. Sedangkan, Intan hanya tersenyum kecil.
"Baiklah, kami akan pergi om-tante ... Tante, ini bunga untuk kak Setya. Kalau begitu, kami berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Pamit Intan, kemudian menarik Dika dan Tasya untuk keluar. Sebelum meninggalkan ruangan Setya, Intan sekilas melirik ke arah Setya.
Kak, lihatlah kehebohan ini. Apa kamu akan diam saja terus? Cepat bangun dan godain om dan tante ... Ucap hati Intan menatap Setya yang masih terdiam.
Sebenarnya Intan tahu, orang tua Setya tak benar-benar ingin berdua. Mereka, hanya memperdulikannya, Tasya dan Dika yang rela menghabiskan waktu remaja mereka hanya di rumah sakit saja. Karna, Intan tak mau membuat orang tua Setya bersedih dan merasa bersalah. Akhirnya, Intan pun memilih untuk mengikuti keingainan orang tua Setya untuk datang ke wisuda Bayu. Sebelum itu mereka singgah ke toko bunga untuk membelikan bunga untuk Bayu, baru setelahnya mereka menuju ke tempat wisuda di gelar.
Di sana sudah begitu ramai, karna acara juga sudah dimulai. Intan, Dika dan Tasya segera duduk dibangku yang sudah disedikan. Selama acara wisuda, Intan sama sekali tak merasa tenang atau menikmati acaranya. Entah kenapa dia terus merasa gelisah. Namun, dia tak ingin menghancurkan suasana, karna dia melihat Tasya cukup menikmati acara wisuda hari itu. Intan gak ingin menambah beban pikiran bagi Tasya lagi. Setelah acara wisuda selesai merekapun menghampiri Ifa, Bayu dan kedua orang tuanya.
"Oh, kalian datang?" Tanya Bayu yang melihat kedatangan Intan, Dika dan Tasya.
"Katanya kamu gak bakalan datang, Tan?" Tanya Ifa yang juga merasa heran melihat kedatangan Intan.
"Hm, yah ... Tante memaksa kami untuk datang sebagai perwakilan kak Setya. Tante ingin kami menghabiskan akhir pekan kami bukan hanya di rumah sakit."
"Bagaimana keadaan Setya sekarang, sayang?" Tanya mama Bayu lembut.
"Ehm, masih sama tante. Tapi, Intan yakin keajaiban pasti akan segera datang." Jawab Intan dengan senyum kecil yang terlihat memilukan.
"Kak Bayu, selamat atas kelulusannya ya. Papa sudah menunggu kinerja kak Bayu di kantor." Ucap Tasya sambil memberikan buket bunga pada Bayu.
Memang, Bayu akan bekerja di perusahaan papa Setya. Awalnya, dia akan bekerja bersama Setya, tapi kali ini dia harus masuk terlebih dulu, karna kondisi Setya yang tak memungkinkan. Saat mereka asyik mengobrol tiba-tiba Intan merasakan sesak di dadanya. Dia terduduk kesakitan.
"Kak Intan ada apa?" Tanya Dika panik.
"Intan kenapa?" Tanya Ifa yang juga terlihat khawatir. Semuanya pun juga melihat Intan dengan panik.
Intan sendiri juga tak tahu apa yang terjadi padanya, yang jelas sedari tadi perasaannya memang gak nyaman. Dia selalu merasa resah. Seperti merasakan firasat buruk. Seketika dia teringat dengan Setya. Tanpa pikir panjang Intan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi orang tua Setya untuk menanyakan keadaan Setya. Tapi, tak ada dari mereka yang mengangkat panggilan Intan. Intan semakin cemas dibuatnya.
"Dika, kita harus segera kembali ke rumah sakit!" Seru Intan dengan panik. Wajahnya terlihat pucat. Perasaannya semakin tak enak.
"Ada apa dengan kak Setya, kak?" Tanya Tasya yang juga mulai panik.
"Aku gak tahu. Tapi perasaanku gak tenang. Om dan tante juga gak mengangkat telpon. Kita harus segera kembali.!" Seru Intan dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa dia merasa sangat cemas. Seperti, sesuatu yang besar akan terjadi.
"Baik. Ayo!" Jawab Dika sambil memapah Intan.
"Kami ikut!" Seru Ifa. Bayu dan orang tuanya juga ingin ikut dan melihat bagaimana keadaan Setya.
__ADS_1
Kemudian, mereka semua pun bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Di perjalanan Intan terus merasa tak tenang. Dadanya terus merasa sesak. Tasya juga jadi ikut cemas dibuatnya. Dia juga mencoba menghubungi orang tuanya tapi, tak ada jawaban. Tasya pun memeluk Intan dan mulai menangis.
"Kak Intan, kak Setya akan baik-baik saja kan?" Tanya Tasya dengan suara lirih.
"Iya. Kak Setya pasti akan baik-baik saja!"
Kak Setya harus baik-baik saja!!
...****************...
Di rumah sakit.
Mama dan papa tengah bersantai menonton televisi di ruangan Setya. Mereka merasa tenang karna keadaan Setya stabil saja. Tapi, tiba-tiba monitor yang menunjukkan detak jantung Setya mengalami penurunan. Mama dan papa pun menjadi panik.
"Setya?! Setya ada apa sayang?!" Seru mama khawatir.
Papa segera keluar ruangan untuk mencari dokter. Tak lama kemudian, dokter pun datang bersama beberapa suster untuk memeriksa keadaan Setya. Papa dan mama diminta untuk menunggu di luar sebentar.
"Pa! Setya kenapa pa?! Dia akan baik-baik saja kan?! Hikss.." Tanya mama yang mulai menangis di pelukan sang suami.
"Setya itu anak yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja." Jawab papa berusaha menenangkan sang istri dan dirinya sendiri.
Di dalam dokter tengah berusaha menyelamatkan Setya. Detak jantungnya tiba-tiba terus menurun. Sampai, akhirnya dokter memutuskan untuk memicu detak jantung pada Setya. Di saat itulah Intan merasakan sesak di dadanya. Dokter terus berusaha, namun tak ada tanda-tanda peningkatan dari detak jantung Setya. Dan
Tittttt ... Titttt ... Titttt
Bunyi nyaring dari alat monitor dengan menunjukkan garis lurus pertanda jantung Setya telah berhenti. Dokter dan semua suster disana pun menundukkan kepala merasa sedih.
"Dokter bagaimana keadaan putra kami?!" Tanya mama setelah dokter keluar dari ruangan Setya.
"Maafkan kami, pak-bu. Kami, sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi ... Kami gagal menyelamatkan pasien ..." Ucap dokter dengan menunduk sedih. Mama langsung lemas dan menangis dengan histeris mendengar ucapan sang dokter.
"Setya ... Gak mungkin anak saya meninggal dok! Gak mungkin!" Ucap mama lirih disela tangisnya. Papa mendekap sang istri dalam pelukannya. Hatinya juga merasa hancur mendengar perkataan sang dokter.
"Gak mungkin! Kak Setya!!" Seru Intan yang baru saja datang dengan yang lain. Intan sampai terdiam dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
Begitupun juga Tasya, dia menangis dipelukan Dika. Ifa, Bayu dan kedua orang tuanya juga sangat terkejut mendengar berita itu.
Kak Setya!!
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..