
Sore harinya, Setya ke sekolah untuk menjemput Intan. Dia tersenyum saat melihat Intan berjalan mendekat ke arahnya.
"Selamat datang istriku ..." Ucap Setya sambil mengulurkan tangannya pada Intan.
"Terima kasih, suamiku sayang ..." Jawab Intan dengan senyum manis. Intan masih belum tahu apa yang baru saja terjadi antara Setya dan Widia.
"Sayang, mau makan malam di luar hari ini?" Tanya Setya setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Boleh! Hehe." Seru Intan antusias. Setya ikut senang melihat Intan tersenyum seperti itu.
Malam harinya, seperti yang sudah disepakati mereka makan malam diluar. Setya masih belum menceritakan kejadian tadi siang pada Intan. Dia gak ingin merusak suasana hati Intan malam itu.
Barulah saat sudah di rumah dan mereka sedang melihat tv bersama, Setya mulai menceritakan kejadian siang tadi pada Intan.
"Wahh. Wanita itu sangat berani ya?! ... Huh! Aku merasa ikut malu sebagai wanita." Seru Intan yang tak habis pikir dengan perbuatan Widia.
"Hm, aku juga berpikir begitu tadi. Yah, tapi itu pilihan masing-masing orang. Dan dia sudah memilih jalan itu dalam hidupnya." Ucap Setya dengan santai.
"Lalu apa yang akan kak Setya pilih?" Tanya Intan penasaran. Setya menatap Intan dengan heran.
"Awww!! Sakit kak!" Pekik Intan saat Setya mencubit hidungnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu padaku?! Bukanka jawabannya sudah jelas kalau aku akan memilih kamu?! Kamu meragukan suami kamu ini?!" Seru Setya yang terlihat kesal saat itu.
"Heh, bukan begitu. Hanya saja kalau kak Setya milih Intan, berarti perusahaan akan mengalami kerugian besar kan? Lalu bagaimana dengan proyeknya? Kalau perusahaan terpuruk lagi dan ..."
"Sssttt!!! Sudah kamu jangan banyak pikiran lagi. Semua pilihan selalu ada konsekuensinya. Aku tahu ini akan berdampak pada perusahaan. Tapi, aku lebih memilih konsekuensi ini daripada harus kehilangan kamu. Kamu tahu kan, seberapa berartinya kamu bagiku?!" Ucap Setya dengan tatapan lembut pada Intan.
"Terima kasih karna sudah memilih Intan. Kakak tenang saja, apapun masalah yang akan kita hadapi nanti. Kak Setya perlu ingat kak Setya gak sendirian. Ada Intan di samping kakak." Ucap Intan sambil menyentuh wajah Setya dengan lembut. Setya menggenggam tangan Intan dan menciumnya dengan sayang.
"Terima kasih sayang. Karna sudah selalu mendukungku disaat keadaan apapun. Termasuk saat aku terpuruk."
Intan tersenyum mengiyakan perkataan Setya. Setya juga tersenyum menatap Intan penuh cinta. Perlahan, Setya mulai mendekati Intan dan menciumnya. Ciuman yang semula lembut, perlahan menjadi semakin panas.
"Kak Setya..." Ucap Intan dengan suara lirih dan tatapan sayu. Setya tersenyum jahil dan langsung mengangkat sang istri ke kamar.
...****************...
Tiga hari kemudian.
Di sebuah kamar yang terlihat mewah. Widia sedang merias diri dengan sangat cantik. Dia terus tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Gaun putih panjang yang terlihat seksi dipadukan dengan lipstik merah yang menghiasi bibirnya pun menambah kharisma dalam dirinya.
Hari itu adalah tenggat janjian yang sudah dia berikan pada Setya. Dan tadi siang Setya sudah menghubunginya akan memberikan jawaban padanya malam itu. Setya juga meminta agar Widia mengajak papanya. Setya sendiri juga akan mengajak papanya.
"Hm, Setya sampai meminta papaku untuk datang. Dan dia juga mengajak papanya. Apakah dia akan langsung melamarku nanti?!" Gumam Widia dengan senyum bahagia. Dia masih belum tahu kejutan yang sudah disiapkan oleh Setya sebelumnya.
Setelah bersiap, Widia segera berangkat menuju ke restoran yang sudah dipesan oleh Setya sebelumnya. Pak Malik sendiri akan menyusul ke sana. Karna dia masih ada urusan di kantor.
Di rumah Setya sendiri dia juga sedang bersiap-siap bersama Intan. Malam itu Intan juga menggunakan gaun putih, tapi lebih tertutup dan terlihat lebih manis.
__ADS_1
"Wah, istriku memang sangat cantik. Pakaian apapun terlihat indah kalo kamu yang pakai sayang." Ucap Setya menggoda sang istri dengan memeluknya dari belakang.
"Haha, kak Setya bisa saja. Aku akan berusaha terus terlihat cantik, supaya kak Setya gak akan mengalihkan pandangannya dari Intan." Ucap Intan sambil berbalik dan mengalungkan lengannya di leher Setya. Setya tersenyum mendengar jawaban Intan. Dia juga mencium kening Intan dengan sayang.
Kemudian mereka segera berangkat menuju ke restoran yang sama dengan yang dituju oleh Widia. Di parkiran, orang tua Setya juga sudah sampai terlebih dulu.
"Mama-Papa kalian sudah sampai?" Tanya Intan setelah turun dari mobil bersama Setya.
"Iya sayang. Kamu, sangat cantik malam ini. Bagaimana keadaan cucu mama?" Tanya mama perhatian.
"Haha. Mama juga cantik. Baby baik-baik aja kok ma. Tapi, nafsu makan Intan terus bertambah. Sepertinya Intan uda naik banyak nih."
"Itu wajar sayang. Tapi, gak apa-apa, itu menandakan kalau anak kamu sehat-sehat." Ucap mama sambil mengelus lembut puncak kepala Intan dengan sayang.
"Tuh dengerin kata mama sayang. Lagian kalaupun kamu tambah gemuk, aku gak masalah sama sekali kok. Kamu jadi lebih enak kalau dipeluk." Goda Setya lagi.
"Kak Setya!!"
"Uda-uda. Sekarang kita masuk. Ada hal yang harus kita hadapi disini." Seru papa menengahi. Semua mengangguk menyetujui perkataan papa.
Akhirnya, mereka segera masuk ke restoran dan menuju ke meja yang sudah dia pesan sebelumnya. Disana sudah ada Widia dan pak Malik.
"Selamat malam pak Malik, nona Widia." Sapa Setya saat dia sampai lebih dulu di meja mereka.
"Malam pak Setya." Ucap pak Malik ramah. Widia juga tersenyum manis pada Setya.
"Selamat malam semua. Maaf kami terlambat." Ucap papa yang baru datang bersama mama dan Intan. Widia yang melihat itu langsung menatap Setya tak suka.
"Setya. Apa maksudnya ini?!" Seru Widia dengan tatapan tajam.
"Tenang dulu nona Widia. Kita bersantai saja dulu. Saya ingin mengenalkan secara resmi pada anda orang tua saya dan istri saya Intan." Jawab Setya dengan tenang.
"Setya! Kamu ingin mempermainkan saya?! Kamu lupa dengan peringatan saya?!" Seru Widia tak terima.
"Widia, apa yang kamu katakan?! Peringatan apa yang kamu maksud?! Kenapa kamu sanhat tidak sopan malam ini?!" Seru pak Malik yang geram melihat tingkah sang putri.
"Mohon maaf pak Malik. Sebelumnya saya ingin makan malam santai dulu dengan anda sebelum membahas ini. Tapi, sepertinya putri anda audah tidak sabar. Jadi, saya akan mengatakannya langsung saja." Ucap Setya sambil menatap Widia dengan ekspresi yang terlihat mengesalkan bagi Widia.
"Ada apa ini pak Setya? Saya sama sekali tak memahami kondisi saat ini." Ucap pak Malik bingung.
"Papa! Ayo kita pulang!" Ajak Widia sembari menarik tangan sang papa dengan panik.
"Berhenti Widia. Ada apa ini sebenarnya?! Papa gak akan pergi sebelum mendengar jawaban darimu dan pak Setya! ... Pak Setya, silahkan.."
"Terima kasih pak Malik. Jadi begini, tiga hari yang lalu putri anda nona Widia telah memberikan peringatan pada saya. Dia ingin memutuskan kontrak kerjasama kita dari proyek X, kalau saya tidak mengikuti keinginannya." Jawab Setya dengan nada dingin.
"Apa?! Saya sama sekali tidak tahu akan hal itu. Memangnya apa keinginannya?!" Tanya pak Malik sambil menatap Widia yang sudah terlihat sangat geram.
"Dia ingin saya menceraikan istri saya." Jawab Setya menatap Widia yang kini tengah menunduk.
"Apa?!" Seru pak Malik tak percaya.
"Maaf pak Malik. Mungkin anda tak percaya, tapi itulah yang terjadi. Semenjak anda memberikan tanggung jawab proyek pada putri anda, dia selalu berusaha mendekati saya. Mungkin saya bisa mentolerirnya, karna dia belum tau kalau saya sudah menikah. Tapi, kemarin saat dia sudah tau kalau saya sudah menikah, dia tetap memberikan peringatan itu pada saya."
"Widia?! Apa maksud semua ini?! Apakha kamu benar melakukan hal itu?!" Tanya pak Malik pada sang putri dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Pa. Widia ... Widia menyukai Setya pa. Dia pria yang baik. Widia ingin ..."
Plakk
"Papa?!" Ucap Widia lirih setelah pak Malik menampar pipinya.
Pak Malik sangat malu dengan tindakan Widia. Tak disangka dia sudah berani berbuat hal diluar moral.
"Papa sangat kecewa dengan tindakanmu Widia! Papa sudah katakan berulang kali padamu, jangan campurkan urusan pribadi pada pekerjaan! Dan lagi kamu ingin memisahkan pasangan suami istri?! Kamu itu wanita berpendidikan Widia!" Seru pak Malik emosi.
"Pak Malik.. Sebaiknya anda selesaikan masalah ini baik-baik dengan putri anda di rumah. Saga khawatir akan reputasi anda. Sudah ada banyak pengunjung yang memperhatikan kita." Ucap papa Setya menengahi.
"Huhh.. Anda benar. Saya mewakili putru saya memohon maaf pada anda pak Setya dan seluruh keluarga anda. Apalagi anda nyonya Setya. Maafkan perilaku putri saya. Saya kurang baik mendidiknya. Saya kira saya bisa mengisi kekosongan figur ibu dari hidupnya. Tapi, sepertinya itu masih kurang cukup." Ucap pak Malik dengan sangay menyesal. Widia sendiri sudah menangis setelah di tampar sang ayah. Rasa mali dan amarah bercampur menjdi satu.
"Widia sayang ... Tante tahu kamu adalah anak yang baik. Kamu gak perlu melakukan perilaku rendahan untuk mendapatkan seorang lelaki ... Semua wanita itu seperti mutiara. Kita itu berharga. Dan kamu harus yakin, kalau akan ada pria yang menghargaimu ... Setya sudah mendapatkan mutiara dalam hidupnya. Dan tante yakin, suatu saat kamu pun sama." Ucap mama dengan sangat lembut pada Widia. Dia cukup tersentuh mendengar kalau Widia kekurangan sosok ibu dalam hidupnya.
"Hikss.. Maafkan saya tante. Saya salah. Maaf.." Ucap Widia lirih.
"Iya, tante dan kami semua sudah memaafkan kamu sayang. Tapi kami harus janji gak bakalan mengulangi hal ini lagi yaa."
"Iya tante. Widia gak akan mengulanginya lagi." Ucap Widia yakin. Dia benar-benar merasa bersalah. Intan juga tersenyum melhat itu.
"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu. Anda tenang saja pak Setya. Saya jamin, kerja sama kita akan tetap berjalan. Sekali lagi saya minta maaf atas perilaku putri saya." Ucap pak Malik merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa pal Malik. Saya anggap kejadian ini hanya kesalah pahaman saja." Ucap Setya ramah.
"Maafkan aku. Sekarang aku sadar, perbuatanku salah. Untung saja suami kamu sangat mencintai kamu. Kalau sampai suami kamu adalah pria hidung belang, aku sendiri juga akan rugi. Tapi, sungguh kamu sangat beruntung mempunyai suami seperti Setya." Ucap Widia pada Intan.
"Yaa. Aku sagat beruntung. Dan aku yakin suatu saat kamu akan mendapatkan yang terbaik juga." Ucap Setya dengan senyuman diwajahnya.
"Pak Setya saya minta maaf atas perbuatan saya. Saya terbutakan sesaat. Anda juga sangat beruntung memiliki istri yang sangat mempercayai dan mendukung anda."
"Ya, saya sudah maafkan. Dan benar saya sangat bersyukur karna memiliki istri seperti Intan. Dia selalu ada disamping saya bahkan ketika saya dalam keadaan terpuruk sekalipun." Jawab Setya sambil menatap Intan penuh cinta.
Widia tersnyum kecil melihat tatapan itu. Kemudian, ia pun pamit pada semuanya untum meninggalkan restoran bersama sang papa.
"Alhamdulillah. Masalah sudah selesai." Ucap mama lega.
"Mama benar. Syukurlah semua berakhir dengan baik." Ucap papa menyetujui ucapan sang istri.
"Kalai begitu. Bisakah kita makan sekarang? Intan uda laperr.." Seru Intam dengan tatapan memelas.
"Hahaha. Menantu dan cucuku uda kelaparan ternyata." Seru papa dan mama bersamaan.
Akhirnya, malam itu mereka menghabiskan waktu bersama keluarga dengan makan malam yang hangat.
Satu lagi.. Satu lagi aku dan kak Setya berhasil melewati ujian yang datang dalam hubungan kitaa.. Aku harap, seterusnya akan seperti ini..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1