Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
Kenapa dengan diriku ini?


__ADS_3

Setelah hari itu, Setya terus mengawasi Intan dari Alex. Dia menepati perkataannya untuk tidak memberikan celah sedikitpun pada Alex untuk mendekati Intan. Mungkin di mata orang lain sikap Setya terlihat berlebihan dan terlalu posesif. Tapi, bagi Intan sendiri itu bukan masalah. Ia justru merasa senang, karna ia merasa terlindungi. Intan memang tak suka didekati oleh pria seperti Alex. Jadi, sikap Setya padanya justru membuatnya nyaman dan merasa dirinya sangatlah penting bagi Setya.


Berbeda dengan Setya, Bayu tak mengalami masalah yang sama. Sejauh ini belum ada yang berani mendekati Ifa. Tentu saja mereka ciut saat melihat tatapan tajam Bayu yang terus mengawasi Ifa, seakan siap menerkam jika ada yang sengaja mendekati Ifa.


Setelah melewati beberapa hari yang tersisa dengan tenang, akhirnya ospek pun berakhir. Siang itu Intan dan Setya sedang menunggu kedatangan Ifa dan Bayu. Mereka akan pergi bersama untuk merayakan hari berakhirnya ospek Intan dan Ifa.


Intan duduk disamping Setya dengan menyandarkan kepalanya dibahu Setya.


"Kak ... Gedungku dan gedung kak Setya cukup jauh yaa. Pasti akan sangat sulit menemui kakak. Apalagi jadwal kita yang kemungkinan sama cukup kecil." Ucap Intan sedikit merengek dengan nada manja.


"Hm benar juga ... Apa aku ajukan ke dekan untuk memindah tata gedung , agar gedung kita berdekatan?" Goda Setya.


"Ih, kak Setya!"


"Tenang saja sayang. Sejauh apa gedung kita, kita gak bakalan ikut jauh juga ... Setiap hari aku akan tetap mengantar dan menjemputmu. Kalau kamu ada kuliah sampai sore aku akan menunggumu. Itu tak masalah buatku ..." Ucap Setya sembari membelai rambut Intan lembut.


"Dan aku juga akan menunggu kak Setya kalau kakak ada kelas sampai sore juga. Itu juga tak masalah buatku." Imbuh Intan sembari mendongak menatap Setya dengan senyum manisnya.


"Kenapa kamu gemesin banget, hmm?!" Seru Setya yang begitu gemas melihat wajah tersenyumnya Intan.


"Ehem..."


Setya dan Intan reflek menolah saat mendengar suara deheman dari seseorang, ternyata Ifa dan Bayu sudah datang.


"Lama banget sih?" Tanya Intan heran sembari merubah duduknya menjadi tegak.


"Heleh, gak usah tanya deh. Lama atau enggak gak ngaruh juga. Toh kamu juga menikmati waktu bersama kak Setya kan?" sindir Ifa dengan memutar bola matanya malas.


"Hehehe"


"Sudah mutusin tempat kita mau kemana belum?" Tanya Bayu.


"Belum." Jawab Setya santai.


"Kita makan dulu, aku lapar ... Nanti kita bicarakan lagi selagi makan." Seru Ifa yang terlihat lesu.


"Baiklah, ayuk." Ajak Bayu dengan senyuman.


Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Hari ini Bayu juga membawa mobil. Jadi, mereka memakai mobil masing-masing. Pemandangan itu tentu saja membuat banyak mahasiswi lain menjadi cemburu. Rasanya mereka ingin sekali menjadi Intan atau Ifa.


Alex juga menatap itu dengan tidak suka dari kejuahan. Selama sisa ospek ini dia benar-benar tidak memiliki celah untuk mendekati Intan, karna Setya terus mengawasinya. Dan ternyata dia juga baru tau, kalau dia dan Intan nantinya gak sekelas. Dia sangat kesal.


"Apa kesempatanku benar-benar sudah hilang?!" Seru Alex dengan tangan yang terkepal kuat.


"Apa kamu masih mau mendapat kesempatan?"


Alex langsung menoleh untuk melihat siapa yang berbicara dengannya, ia melihat gadis cantik sudah berdiri disampingnya. Dia adalah Meli yang kebetulan hari itu ke kampus untuk menyelesaikan KRSnya. Dia juga masih tak terima melihat Setya dan Intan bersama.


"Siapa kau?" Tanya Alex penuh selidik.


"Siapa aku gak penting, yang jelas aku memliki tujuan sama sepertimu yang ingin memisahkan Intan dengan Setya. Jadi, ku rasa kita bisa bekerja sama?" Tawar Meli dengan angkuhnya.


Alex hanya diam dan mengamati Meli, seakan berpikir apakah perlu menerima ajakan Meli atau tidak.


...****************...


"Ahh.. Aku sangat kenyang!" Seru Ifa setelah menyelesaikan makannya.


"Kita jadi kemana?" Tanya Intan penasaran.


"Kamu maunya kemana?" Tanya Setya lembut.


"Karaoke?" Seru Ifa menawarkan.


"Gak mau." Jawab Intan cepat.

__ADS_1


"Timezone?" Usul Bayu.


"Gak mau." Jawab Ifa dengan menggelengkan kepala keras.


"Taman hiburan?" Usul Setya.


"Setuju!" Seru Intan dan Ifa bersamaan.


"Baiklah. Kita berangkat!"


Setelah disepakati tempat yang akan mereka tuju. Mereka berempat pun segera berangkat. Karena bukan akhir pekan, jadi taman hiburan tidak terlalu ramai.


"Sudah lama sekali sejak aku kesini." Seru Intan semangat.


"Benar. Yuk, kita puaskan hari ini." Seru Ifa sambil menggandeng tangan Intan untuk mulai bermain.


Setya dan Bayu hanya tersenyum dan mengikuti mereka dari belakang. Mereka mencoba semua permainan yang ada.


"Fa, naik komedi putar yuk!" Ajak Intan dengan senyuman.


"Gak mau, ah. Lihat yang naik hanya anak kecil, lagian kurang menantang." Tolak Ifa sembari menggelengkan kepalanya keras.


"Kak Setya, aku mau naik komedi putar!" Pinta Intan dengan mata penuh harap pada Setya. Intan meminta Setya menemaninya, karna Ifa tak mau.


"Baiklah, aku akan menemanimu." Jawab Setya dengan senyum diwajahnya.


"Yey! Ayuk!" Seru Intan senang sembari menarik tangan Setya menuju antrian.


Setelah giliran mereka tiba. Intan dan Setya segera menaikinya. Intan tersenyum senang, Setya juga terlihat senang saat melihat Intan senang.



"Bukankah ini menyenangkan, kak?" Tanya Intan dengan antusias.



...****************...


Berbeda dengan Intan yang sedang asyik bersenang-senang. Dika, Tasya, Rehan dan yang lain masih harus menjalani orientasi sekolah. Yah, memang hari itu hari terakhir. Hanya saja kegiatannya juga lebih padat dari hari-hari sebelumnya.


"Sya, wajahmu pucet banget. Kamu sakit?" Tanya Tania khawatir.


"Ah, sedikit lelah saja." Jawab Tasya dengan senyum lemah. Ia memang cukup lelah, kurang tidur dan sepertinya asam lambungnya naik.


"Kalau gak kuat kamu bilang aja. Nanti, aku antarkan ke UKS." Ucap Tania yang masih khawatir. Tasyapun mengangguk setuju.


Acara sore hari itu banyak di luar ruangan. Acara hari itu adalah unjuk bakat, jadi masing-masing kelas harus memberikan perwakilan untuk menyumbangkan penampilannya. Kebetulan di kelas Tasya, mereka memilih Rehan karna suaranya bagus.


Sebelumnya, mereka melakukan tes satu-persatu ke seluruh anggota kelas dan Rehan lah yang terpilih. Berbeda dengan Ifa yang akan senang hati menerima jika ia disuruh bernyanyi, Rehan sebenarnya sangat malas. Tapi, yah mau bagaimana, dia sudah terpilih.


Tasya merasa tubuhnya semakin lemas dan seperti sudah tak kuat lagi.


"Nia, aku istirahat di kelas dulu ya." Ucap Tasya lemah.


"Apa sakit? Mau ku temani?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin istirahat sebentar saja." Jawab Tasya sembari beranjak dari duduknya.


"Baiklah. Kalau perlu sesuatu segera telpon aku ya." Ucap Tania sebelum Tasya benar-benar pergi.


Rehan melihat itu, ia ingin mengejar Tasya. Tapi, dia harus persiapan untuk penampilannya. Akhirnya, dia hanya bisa melihat Tasya yang semakin mejauh darinya.


Tak berapa lama setelah Tasya masuk kelas, Dika juga masuk ke dalam kelas untuk mengambil ponselnya. Sebelumnya, dia dimintai tolong osis untuk membantu persiapan. Dia sendiri juga tak tahu kenapa osis meminta bantuan padanya. Saat dia memasuki kelas, dia cukup terkejut melihat Tasya yang sedang tidur dengan berbantal tangannya. Dika menatap Tasya yang sedang tertidur.


"Apa kamu tidur?" Tanya Dika memastikan apakah Tasya sungguh tidur. Tasya tak merespon karna dia memang sudah terlelap.

__ADS_1


Dika tersenyum kecil melihat itu. Dia pun duduk disamping Tasya dan mengamati wajah Tasya dengan bertopang dagu.


"Kamu manis juga kalau sedang tidur seperti ini." Gumam Dika dengan senyum diwajahnya.


Dika melihat rambut Tasya ada yang menutupi wajahnya. Perlahan, diapun mendekatkan tangannya dan merapikan rambut Tasya dengan lembut. Tapi, Dika sangat terkeut saat tangannya tak sengaja menyentuh kening Tasya yang terasa panas. Dia memastikannya lagi dengan menyentuh keningnya sendiri.


"Hei, kamu sakit?" Tanya Dika khawatir.


"Hmmm"


"Tasya!" Seru Dika sambil menepuk pipi Tasya pelan.


Tasya membuka matanya dengan lemas. Ia menatap wajah Dika yang terlihat cemas padanya. Dengan susah payah dia merubah duduknya menjadi tegak.


"Kamu sakit?" Tanya Dika lagi.


"Aku hanya ...."


"Tasya!!" Seru Dika saat Tasya jatuh tak sadarkan diri ke arahnya.


Tanpa pikir panjang, Dika segera menggendong Tasya menuju UKS. Hal itu cukup menjadi pusat perhatian, karna Dika harus melewati lapangan dimana semuanya sedang berkumpul. Tania yang melihat itu pun cukup terkejut dan ikut berlari menyusul Dika.


"Ada apa dengan Tasya?" Tanya Tania pada Dika.


"Aku sendiri gak tau. Badannya panas dan dia pingsan." Jawab Dika dengan masih berlari ke arah UKS. Sesekali dia melihat Tasya yang terlihat pucat dalam pelukannya.


Rehan juga melihatnya, Ia ingin menghampiri Tasya, tapi saat itu dia baru akan memulai nyanyiannya. Sehingga, mau tidak mau dia harus menyelesaikan tampilannya dulu.


"Dokter! Dokter tolong periksa dia!" Teriak Dika saat dia memasuki UKS. Dengan lembut Dika membaringkan Tasya di ranjang UKS.


"Ada apa dengannya?" Tanya dokter jaga sembari memeriksa keadaan Tasya.


"Saya juga tidak tahu. Saat saya melihat kondisinya dia sudah panas dan tiba-tiba pingsan." Jawab Dika menjelaskan.


"Dia hanya kelelahan dan sepertinya telat makan. Cukup istirahat dan makan yang teratur, pasti dia akan segera baikan." Ucap dokter jaga menjelaskan.


"Berarti dia tak perlun diinfus atau opname kan dok?" Tanya Dika yang masih khawatir.


"Tidak perlu."


"Baiklah. Terima kasih." Jawab Dika sopan.


Dika kembali mentapa Tasya yang masih terbaring lemah dengan wajah pucat.


"Kenapa bisa sakit seperti ini? Dasar gadis bodoh! Kau benar-benar ceroboh!" Ucap Dika pelan sembari mengusap lembut kepala Tasya.


Tania melihat itu dengan heran. Baru kali ini dia melihat Dika yang begitu lembut pada Tasya. Padahal selama ini, mereka berdua selalu adu mulut. Tania menatap Dika curiga, senyum kecil muncul diwajahnya saat sebuah jawaban muncil diotaknya.


"Ada apa dengan Tasya?!" Tanya Rehan yang baru saja datang dengan tergesa.


"Hanya kelelahan. Dia butuh isitirahat." Jawab Tania.


Rehan berjalan mendekat ke arah Tasya. Dari sorot matanya dia terlihat sedih saat melihat Tasya yang biasanya ceria malah terbaring lemah seperti itu.


"Kenapa bisa sakit? Aku gak suka melihat orang sakit." Ucap Rehan pelan. Dika juga mendengar hal itu, ntah kenapa seperti ada gemuruh dalam hatinya. Ia merasa tak suka melihat Rehan yang terlihat perhatian pada Tasya.


Kenapa dengan diriku ini? Kenapa aku merasa tak suka saat Rehan mengkhawatirkan Tasya?!


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2