Cinta Terbaik

Cinta Terbaik
24. Dilema


__ADS_3

ANCAMAN Veni menghantui Kekira sepanjang hari.


Dia bingung harus berbuat apa. Tidak punya keberanian.


Riga memang misterius dan tidak bisa ditebak. Yang ia tahu, Riga pemarah dan selalu bersikap ‘halus’.


Ia ingat ketika pertama bertemu Pak Reza lima bulan lalu ketika ada acara kantor yang di mana ia datang mewakili Bunda yang berhalangan hadir.


Pak Reza langsung menyukainya dan melamar untuk Riga.


Bahkan sebelum bertemu Riga yang saat itu sedang tugas di Malaysia, Ayah menerima lamarannya.


Begitu bertemu Riga, sikap Riga begitu dingin. Tapi menerima kondisi perjodohan mereka.


Dan sekarang, Veni hamil oleh Riga.


Apa yang akan Riga perbuat?


Apa Riga mau tanggung jawab dan menikahi Veni?


Atau bersikeras melanjutkan pernikahan dengan Kekira?


Memikirkan itu membuat Kekira mumet.


Tapi Veni juga tidak mungkin melepaskannya dengan mudah kalau meneruskan pernikahan ini.


Ada yang menyentuh bahunya, bikin ia kaget dan menoleh.


“Akbi?!”


Akbi menaikkan alis.


“Kenapa kamu? Ngelamun gitu?” tanyanya sambil duduk di samping Kekira.


Dia terdiam.


Apa aku harus cerita tentang Veni? Batinnya.


“Eh luka-luka kamu gimana?” Akbi memperhatikan wajah Kekira dan menyentuh pipinya.


“Luka di dahi kamu udah kering.”


DEG!


Jantung Kekira berdetak lebih cepat. Ia cepat-cepat memalingkan muka.


Akbi heran namun menganggap Kekira risih disentuh.


“Apa yang kamu pikirin?”


Kekira tidak menjawab. Ia belum siap curhat.


“Kamu kok tau aku di sini?” tanya Kekira mengalihkan pembicaraan.


“Cinay yang kasih tau. Barusan aku ketemu dia di parkiran waktu dia pulang sama Reno. Katanya kamu masih ada kuliah tambahan.”


“Sebenernya nggak ada. Aku cuma males pulang cepet.”


Kekira berbohong.


Semoga Akbi nggak nanya-nanya.


“Kamu sendiri masih ada kelas?”


“Baru selesai. Kenapa nggak mau pulang cepet? Ngambek sama Bunda?”


Kekira menggeleng. “Lagi bete aja.”


“Bete kenapa sih? Cerita dong.”


“Nggak mood buat cerita.”


“Ooooo ceritanya lagi badmood nih..”


Akbi tersenyum menggoda dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


“Kalo ada ini, badmood-nya pasti ilang deh.”


Mata Kekira membulat dan mulai tersenyum mengambil cokelat itu.


“Makasiiihhh…”


“Eh ge-er, siapa bilang buat kamu?”


“Lho? Tadi katanya…”


“Ini buat kita berdua.”


Kekira tertawa geli dan membuka bungkus cokelat. “Oke. Aku bagi dua. Nih bagian kamu.”


“Iiihh kok bagian aku dikit banget? Curang!”


“Eh ngalah dong sama Lady.”


“Hmm.. sama kamu sih aku selalu kalah.”


“Dih kok gitu?”


“Mana tahan liat pipi tembem begini, jadi ngalah aja deh.”

__ADS_1


Pipi Kekira langsung merona.


Mereka makan cokelat dengan gembira, bikin semua yang lewat menatap iri.


Dunia serasa milik berdua.


***


Mereka pulang.


Kekira yang dibonceng mulai tersenyum karena Akbi tidak membiarkannya mengingat hal-hal yang membuat sedih.


Diam-diam Akbi menatap wajah Kekira, lewat spion.


Kenapa gue ngerasa nyaman banget sama dia?


Dia sahabat gue.


Tapi kenapa perasaan gue nggak karuan gini kalo lagi berdua sama dia?


Apa perasaan yang gue takutin akhirnya terjadi?


***


Menyadari ditatap Akbi membuat Kekira grogi.


Kebersamaan dengan Akbi membuatnya bahagia sekaligus sedih.


Karena jika ia menikah dengan Riga sama dengan harus say “bye-bye” sama kehidupannya termasuk Akbi.


Ancaman Veni mulai terbayang lagi.


Apa yang akan Veni lakukan kalau Riga tidak menerima kehamilannya?


Jelas dia yang akan jadi sasaran.


Tiba-tiba Akbi memegang tangannya membuat lamunannya buyar.


Ternyata motor sudah berhenti di mal besar.


“Kita jalan-jalan dulu, gimana?” tawar Akbi.


Kekira setuju.


Mereka memasuki mal.


“Aku mau beli jaket sama sarung tangan.”


Akbi mengajak masuk ke toko khusus aksesoris pengendara motor.


“Kapan-kapan kalo touring aku ikut dong.” Kekira ikut melihat-lihat barang di etalase.


“Kayak kuat aja.” Akbi mengamati sarung tangan hitam.


Akbi tertawa gemas. “Itu sih bukan touring namanya. Piknik! Kalo touring itu ke luar kota. Kalo di Jakarta kebangetan nyebut ke Ancol itu touring.”


Kekira terkekeh.


“Eh tapi boleh juga tuh kapan-kapan kita ke Ancol. Inget dulu kita waktu acara SD nggak ikutan ke Dufan gara-gara kamu sakit DBD?”


“Oh iya inget, trus kamu nggak ikutan ke Dufan karena nemenin aku kan?”


“Iya lah ngapain aku di sana kalo nggak ada kamu.”


“Sayang banget ya kita nggak ikutan. Pasti seru deh.”


“Kalo gitu kita berdua aja main ke sana.”


“Eh boleh tuh! Kapan?”


Akbi geleng-geleng kepala. “Tapi kan kamu baru sembuh. Aku nggak jamin Bunda ijinin. Apalagi kamu udah mau nikah.”


Air muka Kekira berubah sedih.


“Eh aku nggak bermaksud bikin kamu sedih. Ngg.. iya ntar kita ke Dufan ya.. eh Ki, mau ke mana?”


Akbi belum menyelesaikan kata-katanya, Kekira berlari keluar toko.


Spontan ia mengejar.


Ia menangkap tangan Kekira yang mau masuk lift.


“Don’t do that! Aku nggak mau kamu ngehindarin aku lagi. Cukup sekali aku tersiksa karena kamu menjauh.”


Kekira membalikkan badan, wajahnya memerah karena menangis.


“Mas, jangan gitu lah, bikin nangis anak perempuan.” Tiba-tiba ibu-ibu yang bawa anak mengomelinya.


“Iya, anak orang dibikin nangis. Laki bukan sih lo!” tambah bapak-bapak berwajah sangar.


Orang-orang yang lewat ikut memandang tidak suka karena mengira Kekira menangis gara-gara disakiti Akbi.


Akbi jadi panik. “Eh bukan, ini pacar saya nangis gara-gara perutnya sakit. Maklum Bu, anak perempuan suka sakit bulanan.”


Semua langsung ber-O.


“Kalo lagi hari pertama gitu suruh istirahat di rumah, Nak. Jangan dibawa jalan. Ntar makin sakit.”


“Iya, jaga yang bener.”

__ADS_1


Akbi bergegas menarik Kekira pergi dari sana sebelum semua orang mengomelinya.


***


“Puas ya ketawain aku!” Akbi sebel diketawain Kekira.


“Dih Akbi gitu aja ngambek. Kita makan es krim yuk? Aku yang traktir deh, sebagai permintaan maaf udah bikin kamu diomelin sama mereka.”


Wajah Kekira agak merah habis menangis. Namun senyum imutnya tidak terelakkan membuat Akbi grogi.


“Bener nih?”


“Lama ah! Yuk pergi!”


Kekira menarik tangan Akbi memasuki gerai es krim.


Berdua mereka makan es krim di pojok kafe.


“Tapi serius lho, muka kamu lucu banget pas diomelin tadi.” Kekira tertawa tertahan.


Akbi merengut. “Awas ya ntar kubales.”


Lagi asyik makan es krim, HP-nya berbunyi.


Kekira terdiam.


Riga!


“Kenapa nggak dijawab?” tanya Akbi.


Melihat nama yang terpampang, ia maklum.


“Ada hal yang perlu aku bicarain sama Mas Riga.”


Akbi mengangguk.


Kekira menjauh untuk menjawab telepon.


Akbi memperhatikannya dari jauh.


“Halo, Mas?”


“Kenapa lama banget jawabnya?” Riga langsung marah. “Aku udah nyempetin telepon kamu, malah…”


“Aku baru keluar kelas, Mas!” sambar Kekira sebelum panas kupingnya kena omel.


Riga emang lebay kadang-kadang, cuma telat jawab telepon ngomelnya bisa satu halaman buku.


“Aku coba telepon Mas tadi, tapi nggak aktif.”


“Kamu kan tau aku sibuk.”


“Iya tapi ada yang mau aku kasih tau.”


“Soal apa?”


“Gini, Mas. Barusan Veni nyamperin aku di kampus. Dia mau ketemu sama Mas.”


“Veni? Ada perlu apa?”


“Aku nggak tau. Dia cuma bilang pengen ketemu Mas Riga, soalnya ada hal penting yang mau dia sampein.”


“About what? She didn’t tell you?”


Kekira tidak berani mengatakan kalau Veni hamil.


“She want to meet you soon. You must call her.”


“Kalo nggak penting, lupain aja.”


“Tapi tadi dia sampai nangis-nangis di kampus aku, Mas.” Kekira bersikukuh.


“Dan, sebenarnya aku ingin bilang, apa Mas Riga mau memikirkan pernikahan kita sekali lagi? Maksudku, sebaiknya jangan buru-buru. Aku kan masih kuliah. Dan…”


“MAKSUD KAMU APA, ADINDA!!?”


Kekira kaget menjauhkan telepon.


“KAMU NGGAK SUKA SAMA PERNIKAHAN KITA?!”


“Ngg bukan gitu, Mas.. tapi, lebih baik Mas selesaikan urusan dengan Veni dulu, baru kita bahas pernikahan kita.”


“Apapun itu, aku nggak bakal batalin pernikahan kita. Titik!”


Klik.


Telepon terputus.


Kekira menghela nafas lesu dan kembali ke tempatnya.


Akbi melihat ekspresi kusut Kekira tapi tidak bertanya lebih jauh. Ia mengalihkan pandangan ke es krimnya.


“Kamu nggak mau nanya aku kenapa?” tanya Kekira akhirnya.


Akbi menggeleng.


“Kenapa?” Kekira sedih, mengira Akbi tidak perhatian lagi padanya.


“Karena kamu bisa cerita apa pun tanpa aku minta. Kalau kamu diam, itu tandanya kamu belum siap berbagi masalah kamu. No problem. You can tell me when you’re ready.”

__ADS_1


Kekira tidak tahu harus bicara apa, hanya menatap es krim yang mulai mencair.


***


__ADS_2