
"Maafkan saya om-tante ..." Ucap Setya dengan lirih.
"Kak Setya!!" Seru Intan berusaha menghentikan perkataan Setya.
"Intan, jangan menghentikanku hari ini. Aku akan menerima hukuman atas keselahanku. Aku, gak bisa lagi menahan jarak diantara kita seperti ini."
"Tapi ..."
"Intan diam sebentar! ... Ada apa ini sebenarnya?! Kenapa kamu berlutut dan meminta maaf pada kami? Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan pada putriku?!" Tanya ayah dengan tatapan dingin dan nada tajam.
Intan kembali menggelengkan kepalanya memohon pada Setya untuk gak meneruskan kalimatnya. Tapi, Setya hanya membalas Intan dengan senyum lembut.
"Sebenarnya, saya memang sudah menyakiti putri om. Saya sudah membuatnya menangis dan sangat terluka ..."
Setya pun menceritakan semuanya pada ayah Intan. Intan yang mendengar itupun hanya bisa menangis dengan bersandar pada sang adik. Dia gak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah hubunganya dengan Setya akan berakhir sampai disini?! Hal itu membuatnya merasa sangat putus asa. Sedangkan ayah dan bundanya terlihat sangat terkejut mendengar pengakuan Setya itu.
"Apa kamu bilang?! Apa yang kamu lakukan pada putriku, huh?!"
Bugh!!
"Ayah!!" Seru Intan menghentikan sang ayah yang memukul Setya dengan keras.
"Lepaskan ayah! Hari ini ayah akan membereskannya. Beraninya dia menyentuh dan membuat putri ayah menangis!" Seru ayah dengan nada tinggi.
"Hentikan ayah! Intan mohon! Sudah cukup!" Seru Intan sambil memeluk sang ayah dengan erat agar amarahnya reda.
Papa Setya hanya diam melihat putranya dipukul, karna dia tahu itu hal yang pantas untuk putranya. Dengan itu dia akan menyadari kesalahannya. Berbeda dengan mama, bagaimanapun melihat putranya dipukul seperti itu sampai bibirnya berdarah, tentu hatinya merasa terluka, walaupun dia tahu anaknya memang bersalah.
Tasya sendiri juga gak tega melihat kakaknya. Tapi, dia berusaha mengerti perasaan ayah Intan. Bagainanapun, papanya sendiri pasti juga akan melakukan hal yang sama jika kejadian itu dialami olehnya. Bunda juga merasa kecewa pada Setya tapi dia lebih mencemaskan keadaan putrinya daripada melampiaskan amarah seperti sang suami.
"Ayah, Intan mohon!" Ucap Intan sambil menatap sang ayah dengan derai air mata. Melihat putrinya menangis, akhirnya ayah pun luluh.
"Jangan menangis, tuan putri ayah. Ayah membesarkan Intan selama ini untuk membuat Intan bahagia. Ayah gak terima jika ada orang lain yang membuat Intan menangis. Apalagi dia! Ayah sudah memberikannya kepercayaan, tapi dia sudah mengecewakan ayah! Ayah gak bisa menerimanya!" Ucap ayah sambil mengusap air mata Intan dengan sayang.
"Intan sudah gak apa-apa ayah. Walaupun memang benar kak Setya sudah membuat Intan menangis. Intan juga gak mengelak kalau Intan terluka karna kak Setya membuat Intan kecewa. Tapi ayah maaf, Intan tetap egois. Intan juga gak mau berpisah dengan kak Setya. Mangkannya, Intan gak mengatakannya pada ayah. Maafkan Intan. Hikss.." Ucap Intan dengan terisak.
Setya mengepalkan tangan menahan emosinya. Dia ingin sekali memukul dirinya sendiri saat itu.
Setya, kau benar-benar lelaki brengsek! Lihatlah betapa kau sudah menyakiti Intan!! ... Umpat hati Setya pada dirinya sendiri.
"Mid, atas nama Setya, aku dan keluargaku minta maaf padamu dan Intan. Kali ini Setya memang bersalah. Aku sendiri juga sangat kecewa padanya! ... Intan, om gak memaksamu untuk memaafkan Setya. Karna, om tau apa yang sudah dilakukannya itu tak bisa dibenarkan!" Ucap papa tegas.
"Tapi, Intan sayang. Sudah satu bulan kamu memilih menghindari Setya. Tante tahu itu menyiksamu. Tante, hanya menyarankan kalau lebih baik kamu juga mengeluarkan emosimu. Kalau kamu mau memukul Setya, pukul saja. Supaya hatimu bisa bebas. Kalau kamu memendamnya lebih lama lagi, kamu akan terus terluka sayang." Ucap mama lembut.
__ADS_1
"Bunda juga setuju dengan apa yang dikatakan mamanya Setya. Intan, kamu juga bisa marah sayang, kalau kamu menahannya lagi kamu akan terus terluka." Imbuh bunda.
Intan terdiam mendengar ucapan dari keluarganya. Dia menatap Setya yang masih berlutut meminta maaf. Perlahan Intan mendekati Setya, Setya mendongak menatap Intan, dia tersenyum kecil seakan mengatakan baik-baik saja pada Intan.
Intan mengayunkan tangan hendak memukul Setya, tapi dia tak sanggup. Intan malah ikut terduduk tepat didepan Setya. Dia mengulurkan tangannya menyentuh pipi Setya yang bengkak juga darah disudut bibirnya. Tangannya gemetar dan dia mulai menangis.
"Jangan menangis! Ku mohon jangan menangis lagi karna aku! Kamu marahi dan pukul saja aku, tapi jangan menangis!"
"Aku memang marah! Siapa yang bilang aku gak marah?! Aku kecewa pada kak Setya! Kak Setya pernah bilang akan mempercayaiku kan?! Tapi, kenapa kakak meragukanku dan sampai melakukan hal itu padaku hanya karna kakak gak mau kehilanganku?! Hikss ... Emang kakak pikir perasaanku sedangkal itu?! Cuman gegara masa laluku yang datang, lalu aku akan meninggalkan kakak?!Mana ada! Hikss ... Semenjak aku memilih kakak, hatiku cuman ada kakak! Gak ada yang lain lagi.!! Huhuhuhu ..." Seru Intan meluapkan semua perasaannya. Dia memukuli dada Setya dengan kuat. Tapi, walaupun begitu bagi Setya itu tak menyakitkan, yang lebih menyakitkan adalah mendengar ucapan Intan.
Keluarga mereka yang melihat itu pun juga ikut merasakan kesedihan yang dialami Setya dan Intan. Mereka terlalu saling mencintai, hingga tanpa sadar malah saling menyakiti.
"Maafkan aku! Aku kehilangan kendali diriku. Aku salah karna menyembunyikan kekhawatiranku sampai akhirnya meledak seperti saat itu. Aku sungguh gak bermaksud menyakitimu dan meragukanmu Intan. Aku hanya gak mempercayai diriku sendiri, karna aku tahu pria itu pernah sangat kamu cintai. Aku hanya takut, kamu akan meninggalkanku ..." Ucap Setya dengan nada lirih.
"Kakak bodoh! Kenapa aku harus meninggalkan kakak untuk pria yang gak pernah mencintaiku dulu?! Berapa kali harus aku katakan pada kakak, kalau aku hanya mencintai kak Setya sekarang?!" Seru Intan sembari bangkit berdiri.
"Iya, aku salah. Maafkan aku Intan. Ku mohon berikan aku satu kali kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, ya!!" Pinta Setya sambil menatap Intan penuh harap.
"Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki kesalahanmu pada putriku?! Aku gak bisa dengan mudah mempercayaimu lagi seperti dulu!" Seru ayah sambil menarik Intan kebelakang tubuhnya. Setya bangkit berdiri dan menatap mata ayah dengan serius.
"Saya akan menikahi Intan!" Ucap Setya dengan nada tegas dan sorot mata yang penuh keyakinan. Dari matanya, tak terlihat ada keraguan sedikitpun disana.
Intan dan keluarganya terlihat terkejut dengan perkataan Setya. Berbeda dengan keluarga Setya yang sudah mengetahuinya lebih dulu. Sebelumnya, Setya memang sudah menyampaikan maksudnya itu pada orang tuanya.
"Aku butuh persetujuan papa dan mama." Ucap Setya dengan ekspresi serius.
"Persetujuan untuk apa?" Tanya papa menatap putranya dengan bingung.
"Aku ingin menikahi Intan!" Ucap Setya dengan nada tegas dan penuh keyakinan.
"Apa?!" Seru papa, mama dan Tasya bersamaan. Mereka terkejut bukan main mendengar perkataan Setya itu.
"Setya, pernikahan itu bukanlah hal mudah! Itu bukan main-main, itu adalah sumpah yang kamu ucapkan pada Tuhan dan harus kamu tepati ... Apalagi, kamu sebagai seorang pria. Kamu akan menjadi imam, panutan dalam keluargamu. Itu bukanlah hal yang mudah untuk sembarangan diucapkan!" Seru papa dengan nada tegas.
"Setya tahu pa. Setya juga gak sedang main-main. Setya serius mengatakan ini pada papa dan mama. Setya gak ingin menyakiti Intan lagi. Setya ingin melindunginya dan menjadikan Intam seutuhnya milik Setya." Jawab Setya dengan yakin.
"Apa kamu serius sudah siap menerima semua konsekuensi dari ucapanmu itu?!" Tanya papa sekali lagi.
"Aku sudah siap pa! Kalau aku belum siap, aku gak akan mengatakan hal ini pada papa dan mama." Jawab Setya dengan tegas.
"Mama dan papa gak masalah jika kamu sudah siap untuk mengemban tanggung jawab itu. Tapi, bagaimana kamu bisa meyakinkan keluarga Intan. Terlebih lagi Intan sendiri." Ucap mama menasehati.
"Setya akan berusaha, meyakinkan keluarga Intan dan Intan!" Tekad Setya.
__ADS_1
Flashback Off
Kembali ke waktu ini. Tampak jelas sekali terlihat kalau Intan dan keluarganya masih terkejut dengan perkataan Setya itu.
"Apa yang kak Setya katakan?" Tanya Intan dengan tatapan bingung pada Setya.
"Apa kamu pikir pernikahan itu permainan? Mudah sekali kamu mengatakan itu?! Apa kamu tahu tanggung jawab dalam pernikahan itu sangat besar?!" Seru ayah dengan nada tegas.
"Saya tahu kalau pernikahan memang bukan permainan om. Saya tahu semua konsekuensi dan tanggung jawab yang akan saya hadapi setelah pernikahan. Tapi, saya sudah siap menghadapi semua itu om." Jawab Setya dengan yakin, tak terlihat keraguan sama sekali dalam perkataannya.
"Lalu, bagaimana kamu akan meghidupi putriku setelah menikah?! Kalian masih kecil dan bahkan belum lulus kuliah!"
"Saya sudah punya tabungan pribadi om. Dikala saya senggang pun saya sudah membantu pekerjaan papa. Dan saya digaji secara profrssional oleh papa. Saya yakin, sudah bisa menghidupi Intan dengan itu. Kalau masih kurang, saya akan bekerja lebih keras lagi. Saya gak akan membiarkan Intan merasa kesusahan."
"Apa kamu bersungguh-sungguh, Setya?" Tanya bunda dengan tatapan bingung. Bagaimana bisa Setya tiba-tiba mengatakan akan menikahi Intan.
"Saya bersungguh-sungguh tante. Saya memang melakukan kesalahan, sebelumnya. Tapi, itu karna saya gak mau kehilangan Intan. Saya ingin menjadikan Intan sepenuhnya milik saya. Sehingga, saya bisa menjaganya tanpa ketakutan seperti sekarang."
"Tante dan om gak bisa berkata-kata lagi, jika kamu sudah siap dan bisa membuat Intan bahagia. Tapi, jawaban sepenuhnya ada pada Intan." Ucap bunda sambil melihat ke arah putrinya yang juga masih terlihat bingung. Sebenarnya, ayah masih gak terima. Tapi, melihat tak ada keraguan dan jaminan yang diberikan Setya padanya, jujur dia merasakan keyakinan dari kata-kata Setya itu.
"Intan, maafkan aku. Aku tahu salah. Tapi, tolong berikan aku kesempatan lagi ... Maukah kamu menikah denganku?" Ucap Setya lembut pada Intan. Intan menatap kedua mata Setya, dia tak melihat ada keraguan sedikitpun disana. Setya dan semuanya melihat ke arah Intan untuk mendengar bagaimana jawabannya.
"Maaf, kak Setya ... Aku menolaknya ..."
.
.
.
Bersambung..
...----------------...
'Mini Dialog'
Setya : "Sayang, kamu serius nolak aku? Kamu pasti uda dihasut author kan?! Jangan dengerin author dia kayaknya ada dendam padaku😐😌"
Intan : "Enggak kok, ini bukan hasutan author. Ini kemauanku sendiri. Jangan salahkan author terus😅"
Author : "Tuh dengerin Setya, reader juga. Ini kemauan Intan ya gaess.. Jangan marahin aku yaa🥺"
...----------------...
__ADS_1