
Keadaan Setya semakin membaik setiap harinya. Sampai akhirnya, dokter memperbolehkan Setya untuk pulang. Hari itu, Intan berpura-pura mengatakan pada Setya, kalau dia tak bisa ikut menjemput Setya. Walaupun kecewa, Setya tetap berusaha terlihat baik-baik saja.
Padahal, tanpa Setya tahu sebenarnya Intan sudah menunggu Setya di rumah bersama orang-orang yang sebelumnya di undang ke pesta pertunangan mereka dulu untuk menyambut kepulangan Setya. Orang tua Setya sengaja melakukan itu, juga sebagai bentuk syukuran atas kesembuhan Setya.
"Kenapa, banyak mobil di depan rumah kita?" Tanya Setya bingung setelah sampai di depan rumah.
"Hm, ada tamu di rumah." Jawab mama dengan senyum penuh misteri. Setya hanya bisa menatap itu dengan bingung sembari menebak-nebak siapa tamu itu?
Setelah itu papa dengan telaten membantu Setya turun dari mobil dan mendudukkannya di kursi roda. Setya sebenarnya merasa tak enak hati pada sang papa. Karna, harus menyusahkannya. Tapi, keadaannya sekarang dia tak bisa kalau tak dibantu orang lain.
Guratan sedih terlihat diwajahnya juga saat membayangkan Intan dengan tubuh kecilnya juga harus melakukan itu untuknya nanti. Setya merasa bersalah juga takut membayangkannya.
"Yuk, kita masuk!" Ajak mama sambil mendorong kursi roda Setya. Mama segera mendorong Setya menuju taman belakang dimana semua orang sudah menunggunya.
"Selamat datang ke rumah!!" Seru semua orang setelah melihat Setya datang.
Setya sangat terkejut melihat banyak orang datang untuk menyambutnya pulang. Di antara orang-orang itu tentu saja ada Intan dengan senyum manis diwajahnya.
"Terima kasih, semua." Ucap Setya penuh haru.
Setelah itu, acara syukuran pun terus berlanjut. Banyak yang berkerumun, silih berganti menanyakan kabar dari Setya. Setya dengan ramah menjawabi semua pertanyaan-pertanyaan itu ditemani Intan yang tak pernah meninggalkan sisinya. Sampai, Intan melihat Setya mulai terlihat lelah.
"Kak Setya mau melihat kamar baru kakak? Aku juga ikut menghiasnya bersama Tasya lho." Ucap Intan pada Setya. Ia ingin mengajak Setya untuk beristirahat dan sedikit menjauh dari kerumunan.
"Boleh, makasih sayang." Jawab Setya dengan senyum tulus.
"Itu bukan masalah besar. Aku akan meminta izin pada orang tua kita dulu. Kak Setya, tunggu disini sebentar ya?" Seru Intan sambil berlalu pergi. Dia mendekati para orang tua untuk meminta izin. Setelah mendapatkan izin, Intan pun segera kembali ke tempat Setya.
"Sudah, yuk!" Ajak Intan sembari mendorong kursi roda Setya menuju kamar baru Setya yang kini harus diletakkan di kamar lantai bawah.
"Taarraa ... Bagaimana, kakak suka?" Tanya Intan setelah mereka sampai di kamar baru Setya.
Sebenarnya kamar itu tak jauh berbeda dari kamar lamanya. Karena, semua perabot dan dekor sengaja disamakan dengan kamar lama, agar Setya merasa seperti tak pindah kamar. Hanya saja, Intan menambahkan foto-foto kebersamaan mereka di salah satu sisi dinding di kamar baru Setya itu.
"Yah, aku suka. Thanks sayang." Ucap Setya sambil menggenggam lembut tangan Intan yang berdiri di sampingnya.
Kemudian, Intan menarik kursi dan duduk di depan Setya, hingga pandangan mereka sejajar.
"Apa yang sedang menganggu pikiran kak Setya?" Tanya Intan lembut. Setya sampai terkejut mendengar pertanyaan Intan. Tak ia sangka, Intan tahu bahwa dirinya sedang merasa khawatir.
"Maaf, lagi-lagi aku membuatmu khawatir dan gak langsung mengatakannya padamu ..."
__ADS_1
"Aku selalu tahu kalau kakak sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Dulu pun begitu, tapi dulu aku memilih diam dan menunggu kakak mengatakannya sendiri. Hanya saja, ternyata kakak malah terus diam hingga kekhawatiran itu memuncak. Aku gak mau itu terjadi lagi sekarang, jadi bisakah kakak percaya padaku dan mengatakannya pada Intan?" Tanya Intan dengan tatapan penuh harap dan khawatir.
"Aku percaya padamu sayang. Aku selalu percaya padamu. Justru, aku gak bisa mempercayai diriku sendiri ... Dulu, aku takut belum bisa menandingi cinta pertamamu, sedangkan sekarang aku merasa rendah diri dengan kondisiku ... Bagaimana bisa aku bersama denganmu dengan kondisiku saat ini?! Aku tak bisa melindungimu, malah aku hanya akan menjadi beban untukmu ... Mungkin nanti kamu juga akan diejek banyak orang karna bersamaku. Aku gak mau itu terjadi padamu. Tapi, jujur aku juga takut kamu meninggalkanku. Aku begitu egois bukan?! Padahal aku sekarang gak bisa apa-apa, tapi aku masih mau mempertahankanmu disisiku. Maaf ..."
"Kak Setya percaya padaku?" Tanya Intan sekali lagi setelah Setya menyampaikan isi hatinya.
"Yah, tentu saja! Aku sangat mempercayaimu! Selalu!" Jawab Setya dengan yakin.
"Kalau begitu kakak juga harus percaya bahwa kebahagiaan Intan adalah bersama kakak. Aku gak peduli bagaimana kondisi kakak, bagaimana orang lain memandang kita, mengejekku atau apapun itu! Selama aku bersama kak Setya, maka aku akan bahagia ... Jadi, jangan sekali-kali merasa rendah diri karna kondisi kakak. Aku sama sekali gak merasa terbebani dengan kondisi kakak. Karna, kebahagiaanku adalah bersama kakak." Ucap Intan sambil menatap lurus ke mata Setya dengan penuh keyakinan. Setya tak melihat ada keraguan disana. Hal itu membuat perasaannya jauh lebih baik.
"Terima kasih sayang. Aku akan berusaha dulu untuk bisa sembuh. Karna, aku ingin berdiri disampingmu lagi." Ucap Setya sambil mencium tangan Intan dengan sayang.
"Ya, kita berusaha bersama-sama! Aku akan selalu menemani kak Setya." Ucap Intan dengan senyum lembut. Setya tersenyum mendengar ucapan Intan itu. Dia menatap wajah Intan yang sedang tersenyum manis di hadapannya.
"Haaahh.. Aku bisa gila! Lebih baik kita kembali ke taman belakang, sayang." Seru Setya sambil menutup wajahnya dengan tangan.
"Kenapa?" Tanya Intan bingung.
"Melihat wajahmu saat ini, membuatku ingin menciummu. Tapi, aku tak ingin melanggar janjiku pada om. Jadi, sekarang lebih baik kita keluar." Jawab Setya sambil memejamkan mata, berusaha mengendalikan gejolak dalam dirinya.
Cup..
Setyapun tersenyum mengiyakan. Walau, mereka belum tahu tantangan apa yang akan mereka hadapi setelah ini. Tapi, dengan mereka bersama, tantangan apapun pasti bisa terlewati.
...****************...
Hari pertama kuliah.
"Ayah-bunda, kami berangkat dulu. Asaalamu'alaikum." Pamit Intan dan Dika pada orang tuanya sebelum berangkat kuliah.
"Wa'alaikum salam, hati-hati dijalan ya.." Pesan bunda perhatian.
"Jangan ngebut, patuhi semua rambu lalu lintas. Dan juga jangan main ponsel selama menyetir!" Ucap ayah mengingatkan.
"Siap!" Jawab Intan dan Dika bersamaan.
Setelah itu Intan dan Dika segera berangkat dan menuju ke rumah Setya untuk menjemput Setya dan Tasya.
"Apa kakak sudah siap pergi ke kampus?" Tanya Intan memastikan sebelum mereka berangkat.
"Aku harus siap. Aku gak mau ketinggalan kuliah lagi dan jadi juniormu, sayang." Jawab Setya dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
Kemudian, Dika membantu Setya untuk masuk ke dalam mobil. Sebenarnya, Intan ingin yang dirinyalah yang membantu Setya. Tapi, Dika tak memperbolehkannya.
"Hati-hati di jalan ya.." Ucap mama dengan tatapan cemas.
Tentu saja cemas, karna ini pertama kalinya Setya keluar rumah lagi setelah dari rumah sakit. Apalagi, sekarang Setya harus sangat bergantung pada orang-orang sekitarnya.
Setelah berpamitan pada mama dan meyakinkna kalau mereka akan baik-baik saja, Dika mulai mengemudikan mobilnya untuk pergi ke kampus. Tasya duduk di depan samping Dika, sedangkan Intan menemani Setya di belakang.
"Dika, semenjak aku sadar dari koma aku belum sempat berbicara denganmu. Aku baru tahu kalau kamu berpacaran dengan adikku. Semenjak kapan kalian berpacaran?" Tanya Setya dengan nada penuh selidik pada Dika. Setya menatap wajah Dika dari spion.
Dika dan Tasya yang tiba-tiba mendapatkan pertanyaan itu sekilas saling pandang, kemudian berusaha menelan salivanya dengan susah payah. Apalagi Dika, ia merasakan hawa dingin menusuk punggunya.
"Sebenarnya, kami sudah berpacaran saat kelas 2 SMA." Jawab Dika sedikit gugup.
"Kenapa kalian menyembunyikan hubungan kalian dari keluarga?" Tanya Setya lagi yang cukup terkejut karna ternyata hubungan Dika dan Tasya sudah terjalin cukup lama.
"Jangan salahkan Dika, kak. Ini kesepakatan kita berdua waktu itu. Karna, kami tahu bagaimana jadinya kalau dua keluarga sampai tahu hubungan kita. Apalagi kakak dan papa!". Seru Tasya sambil menatap sang kakak.
"Haahhh.. Aku dan papa mungkin benar tidak akan langsung dengan mudah menyetujui hubungan kalian. Tapi kami melakukannya juga untuk kebaikanmu Tasya." Ucap Setya sambil menghela nafas panjang.
"Sudahlah kak, yang terpenting kedua keluarga sekarang sudah tahu dan menyetujui hubungan mereka juga." Ucap Intan lembut menengahi perseteruan itu.
"Benar kata kak Intan. Lagian, Dika selama ini selalu memperlakukan Tasya dengan baik. Bahkan, Dika yang selalu menghibur dan menemani Tasya saat kakak koma setahun kemarin." Imbuh Tasya dengan menatap Dika dengan penuh cinta.
Setya tak menyangka, akhirmya datang juga waktu dimana adik kecilnya memiliki orang lain dalam hidupnya. Sebagai seorang kakak, Setya merasa senang jika orang yang bersanding dengan adiknya adalah pria yang baik. Dan Setya sudah tahu bagaimana Dika, jadi dia bisa bernafas lega. Walaupun, masih tersisa sedikit kecemburan dalam hatinya dan ia yakin papa juga merasakan hal yang sama. Dika menangkap raut sedih di wajah Setya dari spion.
"Kak Setya tenang saja, aku akan menjaga Tasya dan melindunginya dengan baik. Aku tak akan membuatnya menangis seperti kak Setya yang membuat kak Intan menangis dulu. Aku akan selalu membuat Tasya bahagia. Karna, dia adalah 'Shunshine in my life'." Ucap Dika dengan yakin. Dia sengaja memberi sindiran pada Setya, karna dia aka membuktikan bahwa dia gak akan membuat Tasya menangis.
"Huh, sekarang kau menyindirku terang-terangan, ya?! ... Tapi walaupun begitu, aku percaya padamu. Tolong jaga adikku, selalu bahagiakan dia." Ucap Setya dengan senyum diwajahnya. Tasya dan Intan yang mendengar itu jadi ikut terharu.
"Kak Setya, adalah kakak terhebat." Puji Intan sambil bersandar di bahu Setya.
"Terima kasih kak Setya ... Tasya sayang kakak!" Ucap Tasya sambil menatap sang kakak dengan mata berkaca-kaca.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1