Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~102


__ADS_3

"Maaf tuan, ada apa ?" tanya Anne saat William memanggilnya kembali.


"Apa dia putramu ?" ulang William lagi.


Anne nampak menatap Ariel sekilas, di lihat dari sudut mana pun bocah kecil itu tak ada miripnya sama sekali dengan dirinya.


"Bukan tuan, dia putra atasan saya." sahut Anne menatap William, entah kenapa justru wajah pria itu yang sangat mirip dengan Ariel.


"Apa ayah dia seorang pria asing ?" tanya William lagi saat melihat wajah blesteran bocah itu, sebelumnya ia tak pernah sepenasaran ini sama orang lain apalagi itu hanya seorang anak kecil.


Tapi pria itu hanya mengikuti kata hatinya, melihat bocah kecil itu ia seakan melihat cerminan dirinya sendiri.


William tahu di dunia ini banyak sekali kemiripan seseorang namun bocah itu benar-benar seperti foto copyannya.


Tidak hanya wajah namun juga sifatnya, angkuh dan suka menang sendiri dan pandangan bocah itu sangat tajam sama halnya sepertinya.


"Benar tuan." sahut Anne meski ia kurang tahu siapa dan bagaimana ayah kandung Ariel.


"Baiklah tuan, kalau begitu kami permisi dulu." imbuh Anne kemudian kembali mengajak Ariel meninggalkan tempat itu, sepertinya ia akan berbelanja keperluan bocah itu untuk pertunangan sang ibu di toko lain saja.


"Tuan, mari." ajak James saat tuannya itu mematung melihat kepergian Ariel.


"Hm." William segera melangkahkan kakinya kembali, pikirannya tiba-tiba melayang ke masa lalu.


Seandainya mantan istrinya dulu hamil mungkin anak mereka sudah sebesar bocah itu, hanya saja wanita itu tidak ingin mempunyai anak darinya dan lebih memilih meminum obat pencegah kehamilan diam-diam.


"Tuan, anda baik-baik saja ?" James langsung menatap sang tuan saat pria itu menghela napasnya dengan kasar.


"Hm." sahut William.


"Maaf toilet sedang antri." ucap Vivian yang baru menghampiri William, rupanya wanita itu juga ikut serta William ke Mall tersebut.


Tentu saja William akan mengajaknya kemana-mana karena itu sebagai bentuk tanggung jawab pada tunangannya tersebut.


Meski saat ini hati dan pikirannya sudah tak berada di tempatnya lagi sejak bertemu dengan mantan istrinya itu.


Takdir memang selalu di luar nalar, di saat ia ingin benar-benar menata hatinya namun Tuhan seakan mendekatkannya kembali pada wanita itu.


Sejak benar-benar sembuh dua tahun lalu William ingin sekali memperjuangkan kembali cintanya namun ia tiba-tiba mendapatkan kiriman beberapa potret pernikahan Alex dan Merry dari Martin.


Bahkan Martin juga mengingatkan dirinya agar tidak mencari putrinya kembali.


"Tuan William ?" panggil seseorang hingga membuyarkan lamunan pria itu.

__ADS_1


Deg!!


William langsung menegang saat melihat seseorang yang tiba-tiba ada di hadapannya itu.


"Tuan William, bagaimana kabarnya? saya tidak tahu jika anda berada di sini." sapa Alan lagi saat ia berpapasan dengan William.


"Saya baik tuan Alan." sahut William seraya menyambut tangan Alan lalu pandangannya beralih ke arah seseorang yang berdiri di sebelah pria itu.


Di mana mantan istrinya itu juga sepertinya nampak terkejut sama seperti dirinya.


"Oh ya kenalkan ini Merry, calon tunangan saya." ucap Alan saat menyadari relasi bisnisnya itu menatap ke arah Merry.


"Calon tunangan ?" gumam William tak percaya.


"William." William langsung mengulurkan tangannya ke hadapan mantan istrinya itu.


Merry yang sebenarnya enggan bertemu dengan mantan suaminya itu, mau tak mau membalas jabat tangan pria itu agar Alan tidak menaruh curiga padanya.


"Merry." balas Merry, namun saat akan menarik kembali tangannya William justru mengeratkan jabatannya hingga membuat Merry langsung melotot.


Jujur sebenarnya ia sangat merindukan pria itu, bahkan hanya bersentuhan tangan saja seluruh sarafnya langsung aktif.


Darahnya berdesir hebat hingga membuat denyut jantungnya berdetak lebih cepat.


Alan langsung berdehem saat pria di hadapannya itu tak kunjung melepaskan tangan calon tunangannya tersebut hingga membuat William yang menyadari itu segera menarik tangannya kembali.


"Senang berkenalan denganmu, nona Merry." ucap William kemudian segera beralih menatap Alan.


"Apa tuan William ada pekerjaan di sini ?" tanya Alan kemudian.


"Tidak, saya mendapatkan informasi jika negara ini mempunyai banyak tempat yang indah jadi saya sangat penasaran dengan hal itu dan ternyata setelah saya sampai di sini, saya benar-benar melihat keindahan itu." sahut William, namun pandangannya tertuju pada mantan istrinya itu.


"Begitu ya." Alan mulai tidak nyaman saat William menatap Merry.


"Oh ya tuan William apa anda tidak ingin memperkenalkan wanita cantik di sebelah anda ini ?" imbuh Alan lagi saat melihat seorang wanita bergelayut manja di lengan pria itu.


"Tentu saja, dia...." ucapan William terjeda saat tunangannya itu memotong perkataannya begitu saja.


"Saya Vivian, tunangan William. Senang bertemu dengan anda." ucap Vivian lalu mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya pada Alan maupun Merry.


"Saya sudah menebak jika anda wanita beruntung itu, karena berita yang beredar pasti bukan isapan jempol belaka dan ya kalian sangat serasi." Alan langsung melayangkan pujiannya.


"Bukan begitu, sayang ?" imbuh Alan seraya menatap Merry, namun wanita itu sepertinya sedang melamun.

__ADS_1


"Sayang ?" panggil Alan.


"I-iya." Merry langsung mengangguk cepat.


"Terima kasih tuan Alan." Vivian nampak tersanjung.


Sementara itu William yang tak berpaling dari mantan istrinya itu nampak mengepalkan tangannya saat tangan wanita itu di genggam erat oleh calon tunangannya tersebut.


"Oh ya tuan William berhubung anda berada di sini jadi sekalian saya mengundang anda untuk datang ke acara pertunangan kami yang akan di laksanakan besok malam, saya dan calon tunangan saya ini pasti akan sangat terhormat dengan kedatangan anda." ucap Alan yang langsung membuat William tersentak.


"Besok malam ?" William memastikan pendengarannya itu tak salah.


"Benar tuan, besok kami akan bertunangan." sahut Alan lalu menatap Merry dengan mesra.


"Sayang, kamu membawa sisa undangannya kan ?" tanya Alan kemudian pada wanita itu.


"Hm." angguk Merry lalu merogoh tasnya di mana ada beberapa buah sisa undangan pertunangannya lalu ia mengambilnya satu.


"Ini tuan." Alan langsung menyerahkan undangan tersebut pada William.


"Baiklah kalau begitu sampai bertemu kembali besok malam." imbuh Alan, lalu segera mengajak Merry berlalu dari sana.


William yang melihat kepergian mereka nampak menahan murka. "Tidak, ini tidak bisa di biarkan." gumamnya kemudian.


"Ayo sayang, sepertinya toko di sana menjual pakaian yang ku inginkan." ajak Vivian kemudian.


"Tidak, lebih baik kita segera kembali ke hotel saja." tolak William.


"Kenapa secepat itu, aku belum belanja ?" protes Vivian.


"Kembali ke hotel atau kamu ku tinggal sendiri di sini." tegas William seraya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan wanita itu.


"Selalu saja egois." gerutu Vivian, kemudian wanita itu segera mengejar tunangannya tersebut.


Keesokan harinya....


"James apa kau belum mendapatkan informasi lagi ?" tanya William pagi itu saat James menghadap padanya.


Rasanya sangat janggal dengan informasi yang di berikan oleh asistennya tersebut.


Di mana dua tahun silam Martin mengirim foto pernikahan Merry dan Alex, namun asistennya itu mendapatkan informasi jika sejak kemunculan wanita itu di publik 2 tahun lalu statusnya adalah janda beranak satu.


"Itu yang mau saya sampaikan, tuan." sahut James.

__ADS_1


"Katakan James? apa foto pernikahan Merry dan Alex waktu itu adalah rekayasa Martin ?" tanya William dengan tak sabar.


__ADS_2