
Pagi itu Merry nampak mengerjapkan matanya saat cahaya matahari mulai mengenai wajahnya melalui celah horden yang sedikit terbuka.
Saat membuka matanya pandangan pertama yang ia lihat adalah dada bidang seorang pria yang di tumbuhi bulu-bulu lebat hingga membuatnya langsung terperanjat kaget lalu ia mengangkat wajahnya ke atas untuk melihat wajah pria tersebut.
"Kenapa ?" lirih William saat istrinya itu menatapnya dengan terkejut, rupanya pria itu sudah bangun sedari tadi dan lebih memilih menikmati pemandangan sang istri yang terlelap tidur dari pada beranjak untuk membersihkan tubuhnya dari sisa percintaannya semalam.
"Aku suamimu honey bukan hantu." sambungnya lagi yang membuat istrinya itu segera mengalihkan pandangannya.
"Aku hanya tak biasa bangun tidur ada seorang pria di sisiku." sahut Merry seraya merapatkan selimutnya hingga lehernya, bayangan percintaan mereka semalam seketika melintas di kepalanya dan itu membuat wajahnya langsung bersemu merah.
"Untuk selanjutnya kau harus membiasakannya." ucap William seraya menelusupkan tangannya masuk ke dalam selimut mereka untuk mencari sesuatu yang selalu menjadi favoritnya sejak dahulu hingga sekarang.
"Will." Merry langsung tercekat saat puncak gundukan kenyalnya di mainkan oleh pria itu, lalu ia mencoba menjauhkan tangan pria itu dari sana.
Bukannya menjauh William justru merapatkan tubuhnya kemudian memegang tengkuk wanita itu lalu segera m3lum4t bibirnya yang ranum dan tangannya tetap aktif bermain di bawah sana.
Tak peduli istrinya itu baru bangun pria itu selalu saja tak bisa menahan hasratnya saat berada di dekat wanita itu.
"Will, aku rindu Ariel ba-bagaimana kalau kita hubungi dia dulu." Merry langsung mengalihkan perhatian saat ciuman pria itu mulai turun ke lehernya.
"Di sana sudah malam, apa kau tega membangunkan putra kita yang sudah terlelap tidur ?" ucap William yang langsung membuat istrinya itu melotot.
"Tunggu dulu, kau bawa kemana putraku ?" Merry langsung menjauhkan wajah suaminya itu yang sedang ada di lehernya.
"Putra kita sayang, aku yang mempunyai bibit unggulnya." sela William tak terima seakan putranya adalah milik wanita itu seorang, namun Merry yang tak biasa mendengar panggilan 'sayang' dari bibir pria itu langsung saja bersemu merah dan sepertinya ia lebih menyukai panggilan itu.
4 tahun lebih tinggal di indonesia membuatnya jatuh cinta pada negaranya itu dan ia lebih menyukai kultur di sana, seandainya boleh memilih ia lebih suka tinggal dan menetap di sana namun rasanya itu tak mungkin mengingat pusat bisnis suaminya berada di negeri Paman Sam ini.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bilang dulu padaku kalau Ariel pergi kesana? dia pasti sedih karena jauh dariku." protes Merry namun sejenak d3s4han nampak lolos dari bibirnya saat pria itu tak berhenti menyentuh titik-titik sensitifnya.
"Putra kita baik-baik saja sayang, tapi milikku sekarang yang kurang baik dan kau harus bertanggung jawab." sahut William yang tentu saja sontak membuat istrinya itu menelan ludahnya.
"Kau yang mulai duluan jadi jangan salahkan aku." protesnya.
"Untuk itu kau harus bertanggung jawab." sahut William yang kini mulai merangkak naik ke atas tubuh istrinya itu.
Keduanya yang memang tak mengenakan apapun seusai percintaan panas mereka semalam hingga membuat William mudah saja memasuki istrinya itu yang memang sudah basah akibat perbuatannya.
Kini ruangan yang masih sangat dingin karena pendingin ruangan tersebut perlahan mulai menghangat seiring aktivitas panas yang mereka lakukan.
Hentakkan demi Hentakkan pria itu hujamkan miliknya ke surga dunia milik istrinya hingga membuatnya seakan melayang ke nirwana.
Milik wanita itu yang lama tak ia jamah membuat miliknya seakan di urut di dalam sana hingga membuatnya tak henti-hentinya meracau nikmat.
"Kau sangat sempit honey." racaunya di tengah hentakkan pinggulnya yang keluar masuk di lembah surga wanita itu.
...----------------...
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, kamu lihatkan aku sedang bekerja ?" Anne langsung melotot saat melihat James datang bersama Ariel ke warung pecel lele di mana ia sedang bekerja di sana.
Dari kemarin pria itu selalu mengganggunya dengan mengajak Ariel ke tempatnya bekerja, Anne bukannya tak suka dengan kedatangan Ariel namun ia telah mendapatkan teguran oleh sang pemilik warung karena tingkah bocah itu.
Ya saat ini Anne bekerja di sebuah warung makan, rupanya gelar sarjananya tak membuatnya selalu bekerja di tempat ber ac yang dingin karena pada nyatanya bekerja di sebuah perusahaan tetap butuh koneksi orang dalam untuk membantunya.
Namun riwayat pekerjaannya yang berakhir dengan kebangkrutan perusahaan milik mantan bossnya itu, membuat citranya ikut tercoreng dan itu menjadi catatan khusus bagi beberapa perusahaan yang di lamarnya.
__ADS_1
Dan karena ia kini menjadi satu-satunya tulang punggung keluarganya mau tak mau ia bekerja apapun demi mereka, meski jujur kadang ia tak rela jika hasil keringatnya hanya untuk menghidupi ibu tiri serta adik tirinya yang matre itu itu.
Namun ia harus bagaimana lagi karena itu semua ia lakukan agar sang ayah mendapatkan perlakuan baik dari mereka.
"Aunty mengusirku ?" Ariel yang sudah mulai tak cadel lagi nampak melangkah mendekati mantan asisten pribadi ibunya itu dengan wajah memelas.
"Bukan begitu sayang, Aunty sekarang lagi bekerja kamu tidak mau kan Aunty di marahi oleh pemilik warung ini seperti kemarin ?" Anne mencoba menjelaskan pada bocah kecil yang selalu membuatnya gemas itu.
"Hm, tapi Paman James yang mengajak Ariel kesini." sahut Ariel dengan polos dan tentu saja itu membuat Anne merasa geram lalu menatap pria itu.
"Kau sengaja ingin mengacaukan pekerjaan ku ya? apa belum cukup kemarin saja kenapa kau ulangi lagi hari ini ?" protes Anne dengan kesal, kemarin Ariel tak sengaja memecahkan beberapa gelas di warungnya meski pria itu langsung membayar ganti rugi namun ia merasa tak enak pada pemilik warung mengingat bocah kecil itu adalah orang terdekatnya.
"Aku hanya ingin memberikan mu sebuah penawaran." ucap James kemudian.
"Cepat katakan aku tidak punya banyak waktu !!" Anne yang sedang melipat kedua tangannya di depan dadanya nampak menatap tak sabar pria itu.
"Jadilah baby sitter untuk Ariel selama kami tinggal di sini !!" ucap James yang langsung membuat Anne melotot tak percaya.
James yang dua hari ini sudah frustasi mengurus Ariel akhirnya pria itu berinisiatif mencari seorang pengasuh dan hanya wanita itu satu-satunya orang yang bisa membuat putra kesayangan bosnya itu menurut.
Sedari kemarin Ariel tak henti-hentinya merengek mencari ibunya dan saat bertemu Anne bocah itu mulai tenang kembali.
Lagipula James tidak mungkin segera membawa bocah itu pulang ke Amerika dan mengganggu kebersamaan orang tuanya yang mungkin saat ini sedang menikmati kebersamaan mereka kembali.
Toh ide untuk membawa Ariel liburan adalah idenya karena ia benar-benar ingin bosnya itu menyelesaikan masalahnya dengan sang nyonya, namun siapa sangka mengurus bocah itu tak semudah pikirannya.
Ariel yang terlalu pandai dan usil membuatnya kalang kabut di buatnya dan ia butuh Anne saat ini untuk menaklukkan bocah itu.
__ADS_1
"Aku tidak mau, aku sudah nyaman bekerja di sini." tolak Anne, ia bukannya tak menyayangi Ariel namun tinggal bersama dengan pria menyebalkan itu pasti akan membuat darah tingginya langsung kumat.
"Kamu akan mendapatkan upah 10 kali lipat dari gajimu di sini jika kamu mau." tegas James yang langsung membuat mata Anne membola.