
Malam itu Alex nampak tak bisa tidur setelah mimpi buruk yang ia alami, haruskah ia mencari keberadaan gadis itu meski hanya sekedar untuk meminta maaf?
Tidak, 6 tahun telah berlalu dan ia pun tak pernah pindah dari kotanya. Seandainya gadis itu keberatan atas perbuatannya pasti sudah sejak dahulu mencarinya.
Namun cerita Carla tadi sore masih terngiang-ngiang di kepalanya, bagaimana jika gadis itu ternyata telah melahirkan darah dagingnya?
Tidak, itu tidak mungkin. Gadis bodoh mana yang telah hamil namun tak meminta pertanggung jawaban dari sang pelaku. Pasti gadis yang di ceritakan oleh Carla adalah gadis lain yang mungkin telah meminta pertanggung jawaban sebelumnya namun pelaku tak ingin melakukannya.
Tak ingin larut dalam hal yang tak pasti, Alex segera beranjak dari ranjangnya. Kemudian pria itu mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari kamarnya.
Mengelilingi ibu kota Jerman untuk mengusir kepenatannya dan kini di sinilah pria itu berada, di sebuah bar yang tak terlalu ramai oleh pengunjung.
Mengedarkan pandangannya lalu mengambil tempat duduk di pojok ruangan.
"Anda mau memesan sesuatu, tuan ?" ucap seorang pelayan saat ia sedang fokus dengan ipadnya.
Menyadari suara yang begitu tak asing di telinganya, Alex langsung mengangkat wajahnya.
"Kau !!" ucapnya bersamaan dengan wanita itu, ya wanita itu adalah Elsa.
Demi bisa menyambung hidupnya wanita itu mengambil part time di sebuah bar saat putranya sudah terlelap tidur.
Elsa langsung memalingkan wajahnya, sial ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan pria itu padahal ia berharap takkan pernah bertemu lagi sepanjang hidupnya.
Sementara Alex justru nampak tersenyum sinis. "Jadi sekarang kau menjual dirimu di sini ?" cibirnya kemudian.
"Apa matamu katarak tidak bisa membedakan pakaian pelayan dan wanita penghibur ?" balas Elsa dengan tak kalah sinis.
"Tapi aku tidak bisa menjamin jika kau tidak akan membuka pakaian pelayanmu itu pada seorang pria yang telah membayarmu." ucap Alex tanpa perasaan.
Elsa nampak menghela napasnya kesal. "Kamu mau pesan atau tidak, aku tidak punya banyak waktu." ucapnya enggan meladeni pria itu.
"Panggilkan managermu kesini !!" perintah Alex yang tentu saja membuat Elsa langsung melotot, jangan bilang pria itu akan berbicara yang tidak-tidak dan ia akan berakhir di pecat di hari pertamanya bekerja.
__ADS_1
"Ka-kau mau apa ?" tanya Elsa dengan memicing, namun terlambat karena pria itu telah melambaikan tangannya pada sang manager agar segera datang.
"Ya tuan, ada yang bisa saya bantu ?" ucap manager tersebut pada Alex.
"Saya menginginkannya, berapa yang harus ku bayar ?" ucap Alex to the point seraya menunjuk ke arah Elsa dan tentu saja itu membuat Elsa langsung melebarkan matanya.
"Maaf tuan, dia hanya seorang pelayan. Jika anda mau, saya mempunyai banyak barang bagus di sana." terang sang manager seraya menunjuk deretan wanita dengan pakaian seksi namun langsung di tolak oleh Alex.
"Aku hanya ingin dia melayaniku minum malam ini, berapa pun yang kau inginkan katakan saja." tegasnya kemudian.
"Aku tidak mau." tolak Elsa, namun wanita itu langsung di pelototi oleh sang manager.
"Apa kamu mau ku pecat sekarang juga? dia cuma minta di temani minum jadi cepat lakukan !!" ucap manager tersebut dengan nada ancaman dan itu membuat Elsa mau tak mau menurut karena ia juga sedang membutuhkan uang saat ini.
"Cuma minumkan? baiklah, berikan gelasmu." Elsa langsung merebut gelas di tangan Alex lalu menuang minuman di sana hingga penuh.
"Cepat habiskan, aku masih banyak pekerjaan !!" ucapnya seraya meletakkan gelas tersebut di hadapan Alex dengan sedikit kasar.
"Terus maumu apa ?" Elsa rasanya ingin menghajar pria itu sekarang juga.
"Layani aku sebagai mestinya seorang pelayan melayani tuannya." sahut Alex kemudian dan itu membuat Elsa langsung bersungut-sungut, ia benar-benar ingin melenyapkan pria itu.
Kemudian Elsa kembali mengambil gelas minuman tersebut lalu memberikannya pada pria itu. "Silakan di minum tuan, apa anda mau yang lain lagi ?" ucapnya dengan merendahkan suaranya dan itu membuat Alex langsung tertawa nyaring.
"Apa kau sengaja ingin menggodaku ?" ejeknya kemudian dan tentu saja itu membuat Elsa langsung melotot.
"Sabar Elsa, cepat selesaikan tugasmu dan segera menjauh dari pria sinting ini." gumamnya dalam hati.
"Ambilkan satu gelas lagi !!" perintahnya kemudian.
"Untuk apa? apa kamu membawa seorang teman ?" tanya Elsa penasaran.
"Pekerjaanmu hanya menurut bukan untuk bertanya." Alex menatap wanita itu dengan tegas.
__ADS_1
"Sangat merepotkan." gerutu Elsa seraya beranjak pergi untuk mengambil gelas kosong, setelah itu ia memberikannya pada pria itu.
"Isi keduanya sampai penuh !!" perintah Alex dan langsung di lakukan oleh wanita itu, mengisi gelas tersebut dengan minuman hingga penuh.
"Duduklah !!" perintah Alex kemudian, karena sejak tadi wanita itu lebih memilih berdiri.
"Tidak, aku lebih suka seperti ini." tolak Elsa.
"Lagipula bukankah tidak sopan seorang pelayan duduk dengan seorang tamu." imbuh Elsa lagi.
"Aku sudah membayarmu mahal jadi jika ku perintahkan duduk maka duduklah !!" tegas Alex dengan tak sabar karena wanita itu sedari tadi selalu membantahnya.
"Aku tidak minta kamu bayar mahal." terang Elsa dan itu membuat Alex merasa gemas lalu segera menarik tangan wanita itu hingga kini duduk di sebelahnya.
"Selalu saja pemaksa." gerutu Elsa dengan kesal.
"Ayo temani aku minum." ucap Alex seraya mengambil gelas di hadapannya itu lalu memberikannya pada wanita itu.
"Aku tidak minum, lagipula itu terlalu keras bukankah aku harus bekerja." tolak Elsa, tidak lucukan ia harus bekerja dalam keadaan mabuk.
Meskipun ia sangat ingin melakukannya untuk sedikit lari dari masalah hidup yang menimpanya akhir-akhir ini, namun saat mengingat sang putra wanita itu berusaha untuk tetap waras.
"Segelas tidak akan membuatmu mabuk, bukankah selama ini kamu seorang peminum? kecuali nyalimu sudah tak ada lagi." cibir Alex dan tentu saja itu membuat Elsa semakin kesal lalu tanpa berpikir panjang wanita itu segera mengambil gelas di tangan pria itu lalu meneguknya hingga tandas.
Lama tak minum membuat Elsa tiba-tiba merasakan pening di kepalanya. "Segelas lagi mungkin akan membuatmu lebih baik." ucap Alex seraya menyerahkan gelas miliknya yang masih penuh dengan minuman dan tanpa berpikir Elsa kembali meneguknya hingga membuat wanita itu semakin pening.
Namun perlahan tubuhnya terasa semakin ringan dan beban hidup yang menumpuk di kepalanya tiba-tiba terasa menghilang dari pikirannya.
Kemudian tanpa pria itu minta di sisa kesadarannya Elsa kembali menuang minuman tersebut ke dalam gelas lalu meneguknya hingga tandas.
Beberapa kali wanita itu melakukannya hingga kini nampak tak sadarkan diri dengan kepala bertumpuh di atas meja dan Alex yang sedari tadi hanya menjadi penonton nampak iba menatap wanita itu.
Jujur ia lebih menyukai wanita itu menjadi lemah seperti ini hingga membuatnya mudah untuk mengendalikannya.
__ADS_1