Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~85


__ADS_3

Merry mengedarkan pandangannya di sekitar mansion yang nampak sepi, biasanya ada beberapa bodyguard yang berjaga namun kali ini benar-benar tak ada siapa pun di sana.


Namun Merry berkeyakinan suaminya itu ada di dalam karena di sana ada sebuah mobil terparkir meski itu bukan milik pria itu, kemudian gadis itu mendorong gerbang yang memang tak di kunci lalu melangkah masuk.


Merry terus saja melangkahkan kakinya dengan senyum mengembang di bibirnya namun saat menatap pintu mansion yang tiba-tiba terbuka langkah gadis itu langsung terhenti.


Di sana terlihat Elena dan Emely baru keluar dari mansion tersebut lalu Hanna sang pelayan nampak membawa sebuah koper di tangannya.


"Merry !!" teriak Emely, gadis kecil itu langsung berlari ke arah Merry.


"Aku sangat merindukanmu, Merry." ucap Emely lalu langsung memeluk Merry dengan erat.


"Aku juga merindukanmu, sayang." balas Merry seraya membalas pelukan gadis kecil itu.


"Kamu kemana saja Merry, aku ingin sekali bermain dan tidur bersamamu ?" tanya Emely setelah mengurai pelukannya.


"Tentu saja nanti kita akan bermain bersama lagi." sahut Merry.


"Hore, tapi mainnya di rumahku saja ya. Kita bermain bersama Daddy dan juga mommy Elena." Emely terlihat sangat senang hingga membuat Elena nampak geram.


"Apa Daddy ada di dalam ?" tanya Merry kemudian.


"Mau apa kau ke sini ?" tiba-tiba Elena mendekat dengan wajah angkuhnya menatap Merry.


"Emely sayang, kamu masuk ke dalam mobil duluan ya bersama Hanna." ucap Elena kemudian pada Emely.


"Aku tidak mau, aku mau bersama Merry." tolak Emely seraya bersembunyi di balik badan Merry.


"Ayo sayang, Daddy sudah menunggu di rumah." bujuk Elena namun Emely tetap keukeh dan kini justru memeluk Merry dengan erat.


Elena yang habis kesabaran nampak menatap Merry dengan kesal, kemudian kembali menatap Emely. "Jangan membuat mommy marah, Em." ucapnya dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Tolong jangan membentaknya, dia ketakutan." tegur Merry seraya memeluk kembali Emely, seakan ingin memberikan kenyamanan pada gadis kecil itu.


"Kamu jangan sok ikut campur, cukup kakakku saja yang meninggal gara-gara kamu jadi jangan lagi masuk ke dalam keluarga kami lagi." tuding Elena yang membuat Merry langsung tercengang, sungguh ia tak mengerti dengan tuduhan yang di lontarkan oleh wanita itu.


Kemudian Merry langsung membujuk Emely, karena sepertinya pembicaraan mereka tak layak di dengar oleh anak sekecil itu.

__ADS_1


Apalagi Elena terlihat sangat emosi dan Merry tak ingin membuat gadis kecil itu ketakutan.


"Emely anak baikkan ?" ucapnya kemudian seraya memegang kedua lengan Emely dengan lembut.


"Hm." angguk Emely.


"Kalau begitu sekarang Emely tunggu di mobil dulu ya." bujuk Merry dengan suara rendahnya yang langsung di angguki oleh gadis kecil itu.


"Hanna, tolong bawa Emely masuk ke dalam mobil." perintahnya pada Hanna.


"Baik, nyonya muda." Hanna terlihat berkaca-kaca saat menatap Merry namun kemudian wanita itu segera membawa Emely.


Setelah Emely masuk ke dalam mobilnya, Merry langsung menatap Elena. "Apa maksudmu berbicara seperti itu ?" tanyanya kemudian.


"Kau masih ingat kecelakaan pesawat yang menimpamu beberapa tahun silam? dan kau juga masih ingatkan siapa wanita yang menyelamatkanmu dan membiarkan dirinya sendiri tersambar api? wanita itu adalah kakakku, ibu kandung Emely." terang Elena yang tentu saja membuat Merry langsung tercengang.


"Jadi ku harap cukup kau mengorbankan ibunya saja dan jangan kau rebut William dari Emely, dasar pembunuh." hardik Elena.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengingat meski begitu ku ucapkan terima kasih pada kakakmu sudah menyelamatkanku walaupun aku tak memintanya." balas Merry, kemudian ia melangkahkan kakinya meninggalkan Elena.


"Kau mau kemana ?" tanya Elena saat Merry melewatinya begitu saja, wanita itu terlihat geram karena penuturannya di abaikan oleh gadis itu.


"Tentu saja masuk ke dalam rumahku." sahut Merry setelah menghentikan langkahnya.


"Rumahmu ?" Elena langsung tertawa sumbang dan itu membuat Merry sontak berbalik badan lalu menatapnya.


"Rumah ini sudah di jual oleh William." imbuh Elena lagi yang langsung membuat Merry tercengang.


"Tidak mungkin." ucapnya tak percaya.


"Jadi lebih baik segera pergi dari sini sebelum pemilik rumah yang baru melemparmu ke jalanan." terang Elena dengan nada mengejek.


"Lalu di mana William ?"


"Jangan pernah mencari William lagi, dia sudah tak mau mengenalmu." jawab Elena.


"Tidak mungkin." gumam Merry dan bersamaan itu nampak sebuah mobil datang dan dua orang pria langsung keluar dari sana.

__ADS_1


"Selamat siang tuan Halland, akhirnya anda datang juga. Saya sudah menunggu anda dari tadi, apa anda akan menempati mansion ini sekarang juga ?" sapa Elena saat seorang pria baru turun dari mobilnya.


"Kami akan mengeceknya dulu, nona." sahut salah satu pria, sepertinya asisten dari pria yang bernama Halland itu.


"Baiklah, mari saya antar." Elena segera meninggalkan Merry lalu melangkah masuk ke dalam mansion bersama dua pria tersebut.


"Will, kenapa kau tega melakukan ini padaku." Merry langsung terduduk di lantai, rasanya kakinya tak kuat lagi menopang berat tubuhnya.


Harusnya ia sudah paham saat William tak kunjung mendatanginya hampir dua bulan ini, itu berarti pria itu sudah tak menginginkannya lagi.


"Merr, ayo pulang." Alex langsung memegang bahu Merry lalu membantunya berdiri.


"Kenapa William tega melakukan ini padaku, kak ?" Merry langsung menangis dalam pelukan Alex.


"Percayalah kalian pasti akan baik-baik saja tanpa dia." bujuk Alex seraya membawa Merry keluar dari area mansion tersebut.


"Aku sangat mencintainya kak, aku sangat mencintainya." ucap Merry dan detik selanjutnya gadis itu nampak tak sadarkan diri.


"Tolong maafkan kakak." Alex yang merasa bersalah segera membawa Merry ke dalam mobilnya.


Beberapa hari sejak kejadian itu, Merry masih terlihat tak berdaya di atas ranjangnya dan itu membuat Alex sangat sedih.


Merry seakan tidak mempunyai gairah hidup lagi dan sepanjang waktu ia habiskan hanya untuk melamun.


"Dad, aku tidak tega melihat Merry seperti itu terus." ucap Alex sore itu saat baru masuk ke ruang kerja sang ayah.


"Aku yakin putriku kuat Lex, dia darah dagingku dan keturunanku bukanlah orang yang cengeng." tegas Martin dan bersamaan itu pintu ruangan di buka dari luar.


"Dad, aku sudah membuat keputusan." ucap Merry tiba-tiba yang langsung membuat Martin maupun Alex tercengang menatapnya.


Beberapa waktu lalu gadis itu nampak tak berdaya di atas ranjangnya dan kini terlihat baik-baik saja bahkan sangat bersemangat.


"Merr..." Alex masih tak percaya dengan penglihatannya.


"Aku sudah memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan membesarkan bayi ini tanpa ayahnya yang pengecut itu." tegas Merry dan tentu saja membuat Martin langsung mengulas senyumnya senang.


Anak gadisnya itu benar-benar mewarisi darah keturunannya yang takkan pernah goyah oleh ombak yang menerjang perjalanan hidupnya.

__ADS_1


"Baiklah, kita pulang dan memulai hidup baru di sana Nak." ujar Martin.


__ADS_2