Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~38


__ADS_3

"Apa dia sedang mengerjaiku ?" gerutu William saat baru mengenakan kemeja pemberian istrinya itu.


Pria itu menatap dirinya dari pantulan cermin, meski kemeja tersebut nampak pas di tubuh kekarnya namun warna cerah bukanlah kesukaannya.


Apalagi kemeja itu berwarna merah muda yang menurutnya sangat feminim.


"Ck, bagaimana aku bisa melakukan ini semua." gerutunya dan bersamaan itu pintu ruang ganti nampak di ketuk dari luar.


"Astaga, itu sangat cocok kamu pakai." teriak Merry saat William baru membuka pintu kamar ganti tersebut.


Kemeja merah muda itu nampak pas di tubuh suaminya hingga membuat aura pria itu menjadi cerah sore itu.


Melihat istrinya tersenyum lebar membuat William langsung mengesampingkan egonya untuk menolak kemauan wanita itu.


"Tidak terlalu jelek juga." gumamnya meyakinkan dirinya sendiri, lalu segera mengajak wanita itu meninggalkan pertokoan tersebut.


James yang tiba-tiba sudah berada di depan toko itu nampak tercengang melihat penampilan sang tuan.


Pertama dalam sejarah tuannya itu memakai pakaian yang menurutnya bukan selera pria itu, apalagi kemeja berwarna merah muda yang jarang sekali di pakai oleh kaum lelaki.


"Apa penampilanku terlihat buruk di matamu ?" cibir William saat melihat asistennya itu nampak menatap aneh padanya.


"Tidak, tuan. Itu sangat cocok anda kenakan." sahut James yang langsung di angguk oleh Dalle dan Dallas.


"Benar tuan." ucap Mereka berdua.


Mendengar ucapan mereka, William nampak semakin percaya diri lalu mulai melangkahkan kakinya pergi.


"Sepertinya dengan perlahan nyonya Merry mulai bisa meluruhkan dinding tinggi yang sengaja anda bangun, tuan." gumam James lalu mengikuti langkah tuannya itu meninggalkan mall tersebut.


"Bisakah kita pergi ke taman, aku ingin makan es krim di sana." mohon Merry saat baru menghempaskan bobot tubuhnya di kursi mobilnya.


"Kita langsung pulang." tegas William yang nampak duduk di sebelah wanita itu dan James menggantikannya mengemudi.


"Tapi aku ingin kesana." mohon Merry.


"Jangan macam-macam, taman tempat yang tidak aman buatmu." sahut William seraya membuka ipadnya lalu mulai memeriksa pekerjaannya.


"Tapi aku dulu diam-diam sering kesana dan menurutku tempat itu sangat aman." terang Merry yang langsung membuat suaminya itu menatapnya.


"Tapi sekarang tidak aman untukmu, honey." tegas William mulai merendahkan suaranya.


Merry nampak mencebik. "Percuma sudah pakai baju couple tapi ujung-ujungnya pulang, dasar suami kulkas." gerutunya dengan kesal.


William terlihat tak peduli dengan gerutuan sang istri, pria itu kembali menatap ipad di pangkuannya.


"Berhenti di depan, James !!" perintah William beberapa saat kemudian saat mobilnya melewati sebuah taman.


"Tapi, tuan...." James nampak ragu mengingat keadaan taman yang sangat ramai sore itu.


"Saya bilang berhenti." tegas William hingga membuat asistennya itu mau tak mau menghentikan mobilnya.


"Taman ?" teriak Merry antusias saat melihat taman hiburan di depannya itu.

__ADS_1


"Ayo, turunlah !!" ajak William seraya membuka pintu mobilnya.


"Tunggu dulu, pakailah ini." Merry menahan tangan William saat pria itu hendak turun dari mobilnya lalu memberikan sebuah topi padanya.


"Aku juga memakainya." imbuhnya lagi seraya memakai topinya juga.


William langsung mengambil topi tersebut kemudian memakainya lalu pria itu segera turun dari mobilnya.


"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan !!" perintah William setelah masuk ke dalam taman hiburan tersebut.


"Aku hanya ingin membeli es krim." sahut Merry.


"Hanya es krim ?" William nampak mengernyit tak percaya.


"Hm." angguk Merry.


"Apa tidak keterlaluan datang kesini hanya untuk membeli es krim ?" cibir William padahal di luar sana banyak sekali toko yang menjual es krim yang sama.


"Ayolah kita sudah masuk tidak mungkin kan keluar dengan tangan kosong." Merry tak peduli bagaimana suaminya protes, gadis itu langsung saja menarik tangan pria itu ke arah penjual es krim.


"Sebenarnya ada alasan kenapa aku datang kesini, aku merindukan seseorang yang dulu pernah menolongku saat jatuh dari wahana itu. Satu-satunya pria yang pernah menggendongku saat itu, menghiburku dengan membelikan es krim di sini." gumam Merry.


Gadis itu nampak mengingat peristiwa beberapa tahun silam, saat dirinya diam-diam pergi ke taman hiburan bersama pengawal ayahnya lalu menaiki salah satu wahana di sana.


Namun na'as waktu itu ia hampir terjatuh tapi tiba-tiba ada seorang pria langsung menolongnya, lalu pria itu membelikan es krim untuknya.


Pria misterius yang tidak ia kenali karena menutup wajahnya menggunakan master serta memakai topi itu masih ia kenang hingga saat ini.


"I-iya aku beli." Merry segera memesan lima cup es krim yang membuat William langsung mengernyit.


"Kamu yakin bisa menghabiskan semuanya ?" terangnya kemudian.


Merry tersenyum nyengir, kemudian ia mengambil pesanannya lalu memberikannya pada Dallas dan Dalle hingga membuat William nampak menatapnya geram.


Apalagi saat istrinya itu juga membaginya pada James.


"Tenang saja kamu juga pasti kebagian." ucap Merry saat suaminya menatapnya dengan tak ramah.


"Punya kita couple." imbuhnya lagi seraya menyerahkan es krim dengan taburan strawberry itu pada William.


"Tapi nona..." ucapan James tertahan saat William mengangkat tangannya agar ia diam, padahal pria itu hanya ingin mengingatkan jika tuannya tak menyukai sesuatu yang berhubungan dengan strawberry.


"Kau menyukai strawberry ?" tanya William kemudian setelah menerima satu cup es krim dari istrinya.


"Tentu saja, meski dulu aku tidak menyukainya tapi pelan-pelan aku belajar untuk menyukainya dan sekarang aku sangat suka." sahut Merry lalu mulai memakan es krim tersebut.


William menatap lekat gadis di depannya itu, sebuah tatapan yang begitu banyak mengandung makna.


"Kalian tidak mau memakan es krim itu ?" tegur Merry kepada kedua pengawalnya serta James yang terlihat sedang memperhatikan tuannya.


"Cepat habiskan !!" perintah William lalu mulai memakan es krimnya juga.


"Baik tuan." sahut James lalu memberikan kode pada Dalle dan Dallas untuk segera memakannya.

__ADS_1


James nampak memperhatikan tuannya yang sedang makan es krim dengan lahap lalu sudut bibir pria itu terangkat ke atas.


"Enakkan ?" tanya Merry kemudian saat suaminya baru selesai menghabiskan es krimnya.


"Biasa saja." sahut William yang langsung membuat Merry menatap tak percaya.


"Sudah selesaikan? ayo segera pergi dari sini !!" imbuh William lalu melangkahkan kakinya pergi.


Merry nampak menggerutu. "Biasa saja tapi habis juga." ucapnya seraya mengikuti pria itu.


"Gimana enakkan ?" tanyanya kemudian pada kedua pengawalnya dan juga James.


"Enak nyonya." sahut James yang langsung membuat Merry mengulas senyumnya.


Kemudian wanita itu segera mengejar suaminya yang sudah berjalan jauh di depannya.


"Langsung pulang, tuan ?" tanya James kemudian setelah berada di dalam mobilnya.


"Hm." sahut William yang nampak mulai sibuk dengan ipad di tangannya.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di mansionnya tersebut.


"Ingat hukumanmu honey, apa kau sudah memikirkannya ?" ucap William tiba-tiba.


Merry yang hendak membuka pintu mobilnya kini urung ia lakukan saat mendengar ucapan menyebalkan sang suami.


"Aku sudah mentraktirmu es krim apa kau masih ingin mengungkit hukuman itu ?" Merry langsung bersungut-sungut.


"Apa kau lupa siapa yang membayar es krim tadi ?" William nampak menaikkan sebelah alisnya menatap istrinya itu.


"Ta-tapi kan aku yang memberikan ide." protes Merry tak terima.


"Hukuman tetap hukuman honey, jangan mencari alasan." cibir William.


Merry nampak sangat kesal. "Aku belum mikir dan aku tidak ingin mikir." keukeh Merry.


William nampak tersenyum kecil. "Baiklah, satu ciuman di bibir mungkin bisa ku pertimbangkan." terang William yang langsung membuat Merry melotot.


"Dasar licik." umpatnya.


"Atau mau lebih dari itu ?" tawar William dengan senyum menyeringai.


"No." teriak Merry.


Kemudian gadis itu segera mendekatkan wajahnya lalu mulai mengecup bibir sang suami, namun saat ia akan menyudahi pria itu langsung memegang tengkuknya lalu memperdalam ciumannya.


Merry nampak melebarkan matanya, namun siapa yang bisa menolak seorang William jika sudah berkehendak.


Pria itu m3lum4t bibir istrinya dengan rakus bahkan sebelah tangannya mulai menyelinap masuk ke dalam gaun wanita itu lalu m3r3m4s gundukan indah yang ada di dalam sana.


Merry berusaha tak mengeluarkan d3s4h4nny4 karena masih ada James di dalam mobil tersebut meski ia sangat ingin akibat ulah nakal sang suami.


"Tuan, ada nona Natalie menuju kemari." ucap James tiba-tiba saat melihat Natalie baru keluar dari mansionnya karena mendengar mobilnya yang baru datang.

__ADS_1


__ADS_2