Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~99


__ADS_3

Merry langsung tercekat saat mendengar penuturan tuan Regi perihal memintanya untuk menjadi istri Alan.


"Apa ini sebuah kesepakatan ?" gumamnya tak percaya, saat pria yang duduk tak jauh darinya itu menganggapnya tak ubah seperti sebuah barang.


"Tidak harus terburu-buru, kamu masih mempunyai waktu untuk berpikir tapi saya harap kamu secepatnya memberikan jawaban." imbuh tuan Regi lagi.


Merry yang menghentikan kunyahannya nampak menunduk menatap piringnya yang masih menyisakan banyak makanan di sana.


"Jadi bagaimana nak Merry ?" tandas tuan Regi saat wanita cantik yang duduk tak jauh darinya itu belum memberikan tanggapannya.


"Aku menyukaimu Merr, jauh sebelum kita dekat." timpal Alan kemudian yang langsung membuat Merry mengangkat wajahnya menatap pria tersebut.


Merry nampak memejamkan matanya seraya menghela napasnya sejenak. "Mohon beri waktu saya untuk berpikir, ini terlalu tiba-tiba." sahutnya menatap Alan maupun tuan Regi bergantian.


"Tentu saja." Tuan Regi mengangguk setuju yang langsung di angguki juga oleh putranya tersebut.


Selanjutnya mereka hanya membahas masalah pekerjaan dan itu membuat Merry sedikit lega.


Hampir pukul 10 malam Merry baru tiba di rumahnya dan sang ibu yang merasa cemas terlihat menunggunya di teras rumahnya.


"Syukurlah, kamu sudah pulang nak." Sera nampak lega saat melihat putrinya itu baru keluar dari mobilnya.


"Mommy kenapa belum tidur ?" ucap Merry seraya mendekati ibunya tersebut.


"Bagaimana mommy bisa tidur jika putri mommy belum juga pulang." sahut Sera dengan wajah cemasnya.


"Aku baik-baik saja mom, jangan khawatir." Merry mencoba meyakinkan, meski hati dan pikirannya sudah remuk sekali rasanya.


Namun ia tak ingin membebankan masalahnya pada kedua orang tuanya itu, apalagi sang ayah kini sering sakit-sakitan.


"Mommy sudah makan ?" tanya Merry setelah masuk ke dalam rumahnya.


"Sudah sayang, jadi bagaimana makan malamnya ?" tanya Sera karena yang ia tahu putrinya tadi berpamitan untuk menghadiri undangan makan malam dari Alan.


"Baik-baik saja, mom." sahut Merry.


"Nak, sepertinya nak Alan menyukaimu kenapa tidak kamu coba untuk membuka hatimu dan berikan dia kesempatan" timpal sang ibu.


Mendengar ucapan ibunya, Merry nampak menghela napasnya pelan. Ia masih belum bisa menebak bagaimana perasaan Alan namun melihat apa yang mereka katakan tadi membuat Merry merasa pria itu sangatlah licik.


Memanfaatkan kelemahannya hanya untuk kepentingan pribadinya, mereka menganggap seolah dirinya tak ubah sebuah benda.


"Aku masih ingin fokus dengan perusahaan Mom, lagipula sepertinya Ariel juga sangat sulit dekat dengan seorang pria." sahut Merry pada akhirnya.


"Baiklah, mommy mengerti. Maafkan mommy dan Daddy ya sayang kamu jadi susah begini karena kami." Sera nampak merasa bersalah karena telah membuat hidup sang putri berantakan.


"Mommy dan Daddy tidak pernah salah, percayalah ini adalah sebuah proses pendewasaan yang harus aku lalui mommy. Aku baik-baik saja dan bahagia." Merry menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya itu dengan erat.


"Mommy percaya kamu wanita yang hebat." ucap Sera lalu membawa putrinya itu ke dalam pelukannya.


Nampak bulir bening membasahi pipi Merry, namun wanita itu segera mengusapnya. Ia harus terlihat kuat di depan ibunya itu.


"Baiklah, aku ingin melihat Ariel dulu mom." ucapnya setelah mengurai pelukannya, kemudian wanita itu melangkah pergi namun baru beberapa langkah ibunya itu kembali berkata.

__ADS_1


"Apa kamu masih mencintainya, nak ?" ucapnya yang sontak membuat Merry berbalik badan lalu menggeleng kecil.


"Pria itu hanya masa lalu mom, aku sudah move on dan sekarang aku hanya ingin fokus pada perusahaan dan membesarkan Ariel." sahut Merry meyakinkan.


"Hm, baiklah. Cepatlah beristirahat ini sudah malam." perintah Sera kemudian yang langsung di anggukin sang putri.


Keesokan harinya....


"Selamat pagi, bu."


"Pagi."


"Selamat pagi juga, bu."


"Pagi juga."


Merry nampak mengulas senyumnya saat baru memasuki kantornya, setiap sapaan para karyawannya selalu ia balas dengan tak kalah ramah.


Namun di balik senyumnya itu, tak ada yang tahu jika wanita itu sedang menyimpan beban begitu berat.


"Selamat pagi, bu." sapa Anne yang langsung bangkit dari duduknya saat atasannya itu baru datang.


"Pagi An." balas Merry lalu mulai membuka pintu ruangannya dan tentu saja di ikuti oleh Anne di belakangnya.


"Ada kabar apa An ?" tanya Merry kemudian, melihat wajah asistennya yang tidak biasa membuat Merry tahu jika ada sesuatu.


"Berita kurang baik, bu." sahut Anne.


"Katakan !!" perintahnya kemudian, wanita itu kini duduk di kursi kerjanya, meletakkan tasnya di atas meja lalu mulai menghidupkan layar komputernya.


"Tadi malam saya mendapatkan kabar dari orang lapangan, semua pekerja memutuskan untuk mengundurkan diri." ucap Anne yang langsung membuat Merry terkejut.


Deg!!


"Kamu serius ?" tanyanya kemudian.


"Saya serius bu." sahut Anne meyakinkan.


"Itu tidak mungkin An, bukankah kita baru saja membayar gaji mereka dengan penuh ?" Merry masih tidak percaya, sebelumnya ia telah menjaminkan perusahaannya itu ke Bank demi bisa membayar seluruh karyawannya baik di kantor maupun lapangan.


"Mereka beralasan mendapatkan kerjaan baru bu yang katanya gajinya lebih besar." sahut Anne.


"Itu tidak mungkin, kita harus menuntut mereka karena telah melanggar kontrak kerja." Merry terlihat sangat geram.


"Mereka sudah mengembalikan separuh gajinya sebagai kompensasi karena telah memutuskan kontrak tiba-tiba bu dan ini data-data mereka yang sudah menyerahkan uangnya dan uangnya pun sudah saya simpan di brankas." terang Anne.


"Kenapa jadi seperti ini ?" Merry nampak prustasi, mencari karyawan baru yang berpengalaman tidaklah mudah saat ini.


"Perusahaan mana yang menjadi tujuan mereka, An ?" tanya Merry kemudian, ia harus tahu siapa perusahaan yang berani menggembosinya secara terang-terangan.


"Perusahaan itu..." Anne nampak menjeda ucapannya sejenak, rasanya lidahnya tercekat saat ingin mengatakannya namun ia harus tetap mengatakannya.


"WS Corporation." lanjutnya lagi yang langsung membuat Merry berang hingga menggebrak meja dengan kasar.

__ADS_1


"Mereka lagi, sepertinya aku harus membuat perhitungan." ucapnya seraya bangkit dari duduknya.


"Ibu mau ngapain ?" tanya Anne dengan cemas.


"Segera atur penerbanganku ke Singapore An, aku harus segera bertindak mereka tidak bisa di biarkan menindas kita terus-menerus." perintah Merry dengan tegas.


"Baik bu, saya juga akan menemani ibu." sahut Anne seraya menyalakan ipadnya untuk membooking tiket pesawat.


"Aku bisa sendiri, perusahaan ini sangat membutuhkan tenagamu." tolak Merry dan Anne terpaksa mematuhui perintahnya.


Dua jam kemudian Merry sudah berada di Bandar udara penerbangan menuju Singapore.


Wanita itu hanya membawa tas kecilnya saja karena setelah selesai dengan urusannya ia akan kembali pulang.


Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam 23 menit, Merry tiba di Banda Changi lalu segera memesan taksi menuju kantor tuan Weslyn yang berada tak jauh dari sana.


"Tunggu nona, anda sedang ada keperluan dengan siapa ?" lagi-lagi Merry di hadang oleh seorang security saat hendak masuk ke dalam gedung perkantoran WS Corp.


"Saya ada perlu dengan bosmu." tegas Merry.


"Apa anda sudah membuat janji ?" tanya Security itu lagi.


"Belum, tapi sepertinya saya tak perlu membuat janji." tegas Merry seraya memaksa untuk masuk.


"Nona, anda tidak bisa masuk sembarangan." cegah security tersebut namun Merry tak menyerah begitu saja.


Sementara itu William yang sedang berada di ruangannya bersama James dan juga tuan Weslyn nampak terkejut saat sekretarisnya itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.


"Tuan, CEO Nirwana sedang membuat keributan di bawah." lapornya yang langsung membuat mereka yang berada di dalam ruangan itu nampak terkejut.


Dan bersamaan itu Merry yang rupanya sudah sampai di lantai atas langsung saja masuk ke dalam ruangan tuan Weslyn tak peduli beberapa security berusaha mencegahnya.


Deg!!


William dan James langsung terkejut saat melihat wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangannya tersebut.


"Tuan, kami sudah berusaha untuk mencegahnya." lapor salah satu security pada James, namun pria itu langsung mengangkat tangannya agar mereka segera pergi.


"Kau...." tuan Weslyn yang berada tak jauh dari pintu langsung menelan ludahnya saat melihat tatapan geram wanita yang pernah merendahkan harga dirinya itu.


"Dasar bajingan, apa karena aku menolak tawaranmu untuk menghabiskan malam bersamamu hingga membuatmu ingin menghancurkan perusahaanku hah ?" tuding Merry, sepertinya wanita itu siap menghajar pria tak jauh dari hadapannya itu.


"Apa kamu tahu, ada puluhan orang yang menggantungkan nasib keluarganya pada perusahaanku dan kau dengan semena-mena ingin merampas semuanya." imbuhnya berapi-api.


Rupanya wanita itu hanya fokus pada Weslyn seorang hingga tak menyadari jika ada dua orang pria lainnya dan seorang wanita sedang termangu menatapnya.


"Nyonya muda." panggil James kemudian, pria itu nampak berdiri tak jauh dari wanita itu.


Mendengar suara yang tak asing di telinganya, Merry segera berbalik badan dan betapa terkejutnya dia saat melihat pria di hadapannya itu.


Apalagi saat matanya tak sengaja bertemu dengan pria lain yang sedang duduk di atas sofa bersama seorang wanita.


"Wil-William."

__ADS_1


__ADS_2