Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~107


__ADS_3

"Mari kita mulai lagi dari awal, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." lirih William dengan nada memohon yang langsung membuat Merry mengurai pelukan pria itu, lalu segera menjauh dari sana.


"Semua sudah terlambat Will, biarlah semua menjadi kenangan. Secara sadar kita sudah memilih pasangan masing-masing jadi tolong jaga perasaan mereka." ucap Merry kemudian.


"Dan mengabaikan perasaan kita ?" William terlihat geram.


"Perasaan kita sudah berlalu." balas Merry, meski sudut hatinya terasa sakit. Namun jika mereka kembali bersama akan ada banyak hati yang tersakiti.


Merry tidak mungkin menyakiti Alan yang sudah sangat baik padanya dan ia juga tidak mau William bersikap egois dengan meninggalkan tunangannya demi dirinya.


"Kita bisa merawat Ariel bersama-sama tanpa harus bersama." imbuhnya, entah sadar atau tidak saat mengatakan itu.


"Jadi benar anak itu putraku ?" William nampak tak percaya.


"Hm." angguk Merry kemudian, ia tak ingin ada drama tentang tes DNA bagaimana pun juga mereka sudah terlihat seperti ayah dan anak tanpa harus melakukan tes itu.


Lagipula Merry juga ingin Ariel mendapatkan kasih sayang dari ayahnya, meski ia harus menekan egonya.


"Kenapa dulu kamu tidak pernah mengatakan jika sedang hamil, kamu tahu kan aku pasti akan sangat senang karena sudah lama menantikan hal itu ?" William nampak berkaca-kaca, tak seharusnya wanita itu mengalami hal sulit seorang sendiri.


"Kamu dulu meninggalkanku, mencampakkan ku. Aku menunggumu berbulan-bulan tapi kamu tak pernah datang, jika ayahku menolakmu harusnya kamu lebih berusaha lagi untuk meluluhkan hatinya." balas Merry dengan emosi.


"Maafkan aku, aku ingin melakukan itu tapi James mengurungku di pusat rehabilitasi." terang William, meski saat ini ia bersyukur James melakukan itu hingga dirinya bisa sembuh total.


"Aku senang kau lebih baik sekarang, aku yakin kamu pasti akan menjadi ayah yang baik buat Ariel." Merry mencoba mengulas senyumnya meski hatinya perih.


Cintanya untuk pria itu masih sangatlah besar, namun ia harus merelakan itu semua.


"Baiklah ku rasa sudah jelas, jadi tolong biarkan aku pulang." mohon Merry kemudian.


William yang sedang berdiri tak jauh dari mantan istrinya itu nampak mematung mendengar keputusan wanita itu.


Kemudian pria itu mengambil jasnya lalu menutupi punggung wanita itu yang terbuka.


"Pakailah." ucapnya, lalu mengambil kunci mobilnya di dalam nakas.

__ADS_1


Merry menatap pria itu dengan nanar namun kemudian ia segera mengikuti langkahnya.


Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di kediaman Martin, Martin yang sedang duduk di teras rumahnya langsung beranjak dari duduknya seakan mengetahui jika putrinya yang datang.


Tak ada raut keterkejutan di wajah pria paruh baya itu saat melihat William keluar dari mobilnya bersama sang putri.


"Tuan Martin." sapa William, akhirnya setelah 4 tahun berlalu pria itu bertemu kembali dengan mantan mertuanya tersebut.


"Maafkan aku Dad, aku hanya tidak ingin kalian khawatir jika aku bersama dia." Merry nampak bersalah karena telah membohongi ayahnya tersebut.


Seakan sudah mengetahui kebohongan sang putri, Martin tak bereaksi apa-apa dan tentu saja itu membuat Merry maupun William sedikit terkejut.


Padahal sebelumnya pria itu selalu murka saat melihat kebersamaan mereka.


Merasa kedatangannya di sambut dengan baik oleh pria itu William langsung bersuara.


"Tuan, sebelumnya aku ingin minta maaf jika sudah mengacaukan pesta pertunangan itu tapi aku benar-benar ingin kembali pada Merry." ucapnya dengan tegas dan itu membuat Merry nampak melebarkan matanya.


"Aku juga ingin memberitahumu jika dokter telah menyatakan aku sehat, jadi anda jangan khawatir jika aku akan mencelakai putrimu karena itu takkan terjadi." imbuh William lagi.


Martin nampak menghela napas panjangnya, dahulu ia bersikeras tak merestui mereka karena takut jika pria itu akan mencelakai putrinya yang masih belia.


"Semua aku serahkan pada Merry, dia sudah dewasa aku yakin dia pasti bisa mengambil keputusan yang tepat untuk masa depannya." sahut Martin yang langsung membuat William nampak lega, rupanya pria itu telah banyak berubah.


"Terima kasih tuan, aku janji akan selalu membahagiakannya." ucapnya dengan bahagia, namun senyumnya langsung menyurut saat mantan istrinya itu menatap tajam padanya.


"Selesaikan masalah kalian, saya masuk dulu." ujar Martin, lalu berlalu masuk ke dalam rumahnya.


Biarlah dia di cap sebagai seorang ayah yang kejam karena pernah memisahkan mereka, ia hanya menjalankan perannya sebagai seorang ayah untuk melindungi putrinya.


Lagi pula ayah mana yang tega membiarkan putrinya hidup bersama dengan seorang pria yang mempunyai gangguan jiwa.


"Bukankah aku sudah bilang, hubungan kita telah usai sejak dulu jadi tolong jangan mengharap apapun padaku." tegas Merry setelah ayahnya menutup pintu rumahnya dari dalam.


"Tidak, kamu lihatkan ayahmu sudah merestui kita." William tetap keukeh.

__ADS_1


"Semua sudah terlambat Will, jalan kita sudah berbeda." sahut Merry, wanita itu pernah marah pada ayahnya saat mengetahui pria itu yang menyusun rencana untuk memisahkan dirinya dengan William.


Namun dengan berjalannya waktu Merry menyadari jika perbuatan ayahnya semata-mata hanya untuk melindunginya dari kekejaman William waktu itu.


Dan selama ini wanita itu berharap semoga pria itu bisa memperjuangkannya namun penantian tinggallah penantian karena mantan suaminya itu tak kunjung datang padanya hingga ia memutuskan untuk bertunangan dengan pria lain.


"Aku akan meninggalkan Vivian dan kamu juga bisa meninggalkan Alan." ucap William dan sontak mendapatkan sebuah tamparan dari mantan istrinya itu.


Plakkkk


"Aku pikir setelah 4 tahun kita berpisah kamu sudah berubah, tapi ternyata kamu tetap egois." ucap Merry, kemudian menghentakkan kakinya masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya tersebut sedikit keras.


William yang di tinggal begitu saja nampak memegangi pipinya yang terasa panas.


Hanya dalam waktu kurang dari tiga jam ia sudah mendapatkan tiga kali tamparan dari wanita yang sama.


"Tenagamu semakin kuat honey dan aku suka itu." gumamnya dengan tersenyum kecil, setelah itu William kembali berlalu masuk ke dalam mobilnya.


Keesokan harinya....


"Aaarrgghhh, apa yang kamu lakukan di kamarku ?" teriak Anne saat melihat punggung seorang pria di sisihnya yang sepertinya sedang tertidur pulas.


"Apa ini mimpi ?" gumamnya kemudian seraya mengucek matanya yang masih mengantuk.


Namun saat menyadari dirinya hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, wanita itu kembali berteriak histeris. Apa ia telah di lecehkan?


Aaarrgghhh


Sedangkan pria yang membiarkan tubuh bagian atasnya tak memakai apapun itu nampak menggerutu saat tidurnya terganggu.


"Berisik, apa kamu tidak melihat ini masih jam berapa ?" gerutunya seraya mengambil bantal untuk menutupi kepalanya atau lebih tepatnya menutupi telinganya dari teriakan wanita di sebelahnya itu.


"Aku tak peduli, sekarang jelaskan kenapa kamu ada di kamarku !!" teriak Anne seraya menutupi tubuhnya dengan selimut hingga kepalanya, kini wanita itu nampat bersembunyi di bawah selimut seakan itu adalah tempat yang paling aman.


Merasa kedinginan karena selimut yang menutupi tubuhnya itu di tarik semua oleh wanita itu, kini pria itu nampak menghela napasnya dengan kasar lalu segera bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Ini kamar saya." ucapnya dengan tegas dan tentu saja membuat Anne yang tak percaya langsung keluar dari dalam selimutnya.


"Ka-kau ?" Anne sontak terkejut saat melihat pria yang ada di sebelahnya itu.


__ADS_2