
Siang itu Elsa baru meninggalkan kantor Max setelah pria itu menjelaskan pekerjaan yang cocok untuknya dan semoga ini menjadi awal mula yang baik baginya.
"Langsung pulang, nyonya ?" ucap Jack setelah wanita itu masuk dan duduk di dalam mobilnya.
"Tentu saja menjemput putraku, tuan Jack." sahut Elsa kemudian.
"Putra anda sudah di jemput oleh tuan besar nyonya dan sekarang berada di kantor." terang Jack seraya menatap Elsa dari kaca spion depannya.
"Pulang? bahkan ini belum waktunya putraku pulang." Elsa langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Tadi wali kelasnya menghubungi tuan Alex jika anak-anak pulang lebih cepat, karena saat menghubungi anda tidak mendapatkan respon." terang Jack lagi.
"Benarkah ?" Elsa langsung membuka tasnya untuk melihat ponselnya yang memang sedari tadi belum ia cek karena saking fokusnya membahas pekerjaan bersama Max.
"Astaga." Elsa nampak terkejut saat wali kelas putranya itu mengiriminya beberapa pesan pemberitahuan padanya.
"Jadi langsung pulang, nyonya ?" ulang Jack kemudian.
"Aku ingin menjemput putraku." tegas Elsa kemudian.
"Ke kantor tuan besar ?" Jack menatap Elsa dari spion depannya.
"Hm." Elsa memgangguk kecil.
Kemudian Jack segera mengemudikan mobilnya menuju kantor sang tuan.
Setelah menempuh hampir tiga puluh menit perjalanan kini mereka telah sampai dan Elsa yang baru pertama kali mengunjungi kantor pria itu nampak melebarkan matanya saat menatap gedung percakar langit di hadapannya tersebut.
Besar dan tingginya berkali-kali lipat di bandingkan dengan kantor milik Max dan itu membuat Elsa nampak menghela napasnya sedikit kasar.
Pantas pria itu dengan mudah membuatnya bangkrut dalam hitungan hari karena kekuasaannya tak main-main.
"Silakan nyonya." ucap Jack setelah membuka pintu mobil untuk wanita itu.
"Hm." Elsa mengangguk pelan lalu segera turun dari sana.
Kemudian Jack mengantarkan Elsa masuk ke dalam kantor tuan besarnya itu, saat baru menginjakkan kakinya di sana Elsa langsung di sambut dengan ramah oleh beberapa karyawan di sana.
Penampilan mereka terlihat sangat rapi dengan pakaian mahalnya sama persis seperti wanita yang kemarin menjemput sang putra di sekolahnya.
__ADS_1
Berbeda sekali dengan dirinya yang hanya memakai pakaian sederhana dan sedikit berantakan.
"Silakan nyonya, ruangan tuan ada di lantai paling atas." Jack nampak mengarahkan wanita itu ke lift yang berada tak jauh dari sana.
Saat melewati beberapa karyawan ia sempat melirik mereka yang terlihat menatapnya dengan pandangan aneh.
"Kenapa mereka semua menatapku seperti itu? apa karena aku terlihat miskin, tuan Jack ?" ucap Elsa setelah lift mulai berjalan.
"Tidak nyonya, itu hanya perasaan anda saja." sahut Jack.
"Tentu saja mereka menganggapku miskin bahkan satu stel pakaian yang mereka kenakan seharga mobil bekas yang telah kamu lenyapkan." ucap Elsa dengan ketus, rasanya kesal sekali mengingat ia tak lagi memiliki mobil.
"Maafkan saya nyonya, itu perintah dari tuan besar." Jack sedikit membungkukkan badannya meminta maaf.
"Perintah, perintah dan perintah. Selalu itu yang kamu katakan." sinis Elsa dan bersamaan itu pintu lift nampak terbuka.
Kemudian mereka segera keluar dari sana dan di sambut oleh seorang wanita cantik yang di ketahui sebagai sekretaris Alex.
"Selamat siang, tuan Jack." sapa wanita itu dan mengabaikan keberadaan Elsa yang seperti tak terlihat di matanya dan tentu saja itu membuat Elsa langsung sinis.
"Apa tuan di dalam ?" tanya Jack memastikan.
"Mari nyonya." Jack langsung mengajak Elsa masuk ke dalam ruangan Alex.
Setelah mengetuk beberapa kali, Jack segera membuka pintu lalu mempersilakan Elsa untuk masuk.
Elsa yang baru menginjakkan kakinya di ruangan pria itu nampak tertegun melihat betapa luasnya ruang kerja tersebut dengan di lengkapi furnitur berteknologi tinggi.
Sampai sang putra memanggil baru wanita itu langsung mengalihkan pandangannya.
"Mommy, tadi aku pulang cepat kenapa Mommy tidak mengangkat telepon bu guru ?" Axel langsung meminta penjelasan pada sang ibu.
"Maafkan Mommy ya sayang, tadi Mommy terlalu fokus bekerja." Elsa merasa sangat bersalah lalu pandangannya beralih ke arah Alex yang nampak sibuk mengecek berkas di atas mejanya.
Pria itu seakan tak melihat Keberadaannya dan itu membuatnya merasa kesal.
"Ayo pulang sayang." ajak Elsa kemudian, ia merasa seperti orang asing di tempat itu.
"Biarkan saja dia di sini, nanti sore Jack akan mengantarnya pulang." ucap Alex menanggapi sembari membubuhkan beberapa tanda tangannya di atas berkas-berkasnya.
__ADS_1
"Tidak, biarkan dia pulang bersamaku. Dia akan mengganggumu bekerja nanti." tolak Elsa dan itu membuat Alex langsung menghentikan gerakan tangannya lalu menatap wanita itu.
"Apa dia terlihat menggangguku ?" ucapnya dengan nada dingin.
Elsa yang melihat itu nampak menelan ludahnya, sepertinya pria itu masih marah gara-gara pertengkaran mereka kemarin.
"Bu-bukan begitu, Axel mempunyai jam tidur siang yang tak bisa di lewatkan. Lagipula sebentar lagi juga waktunya makan siang." terang Elsa kemudian.
"Dia bisa makan siang di sini dan juga tidur siang di sini jadi jangan khawatirkan hal itu." tegas Alex lalu segera meraih gagang telepon di hadapannya.
"Luc, bisa masuk ke ruangan saya sebentar." ucapnya lalu segera mengakhiri panggilannya dan tak berapa lama pintu ruangannya di ketuk dari luar.
Lucy segera masuk dengan gayanya yang elegan, senyumnya yang lembut membuat Elsa nampak sinis meliriknya.
"Anda membutuhkan sesuatu, tuan ?" ucapnya dengan lembut seraya melangkah mendekati tuannya itu.
"Ada beberapa hal yang perlu kamu revisi." Alex menunjukkan beberapa berkas di atas mejanya hingga membuat Lucy mau tak mau langsung mendekat dan sedikit membungkukkan badannya saat pria itu memberikan penjelasan.
Dan Elsa yang memperhatikan keakraban mereka nampak menghela napasnya saat merasakan dadanya tiba-tiba bergemuruh.
"Sayang, apa kamu masih mau tinggal di sini ?" ucapnya kemudian pada sang putra.
"Ya Mommy, Mommy pulang saja tidak apa-apa." sahut Axel yang nampak sibuk dengan beberapa mainannya.
"Baiklah, bersikaplah yang baik ya sayang." Elsa mencium puncak kepala putranya itu, kemudian segera pergi dari sana tanpa berpamitan pada sang pemilik ruangan yang sedang sibuk dengan sekretarisnya.
Alex yang melihat kepergian Elsa nampak terdiam di kursinya sampai Lucy memanggilnya dan membuat pria itu kembali menatap berkas di atas mejanya.
Sementara Elsa yang dalam perjalanan menuju apartemennya nampak termenung di kursinya, bayangan Alex yang terlihat akrab dengan sekretarisnya kembali berputar di ingatannya dan itu membuat dadanya kembali bergemuruh.
"Anda baik-baik saja, nyonya ?" tanya Jack dari balik kemudinya saat melihat wanita itu melamun.
"Hm." sahut Elsa singkat lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Aku sangat merindukan mu kak." gumamnya saat bayangan sang kakak melintas di ingatannya, seorang kakak yang rela menggantikan peran ibunya dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya padanya.
Tak terasa air mata Elsa mengalir deras membasahi pipinya tapi dengan cepat wanita itu segera mengusapnya, karena ia telah berjanji pada sang kakak akan menjadi wanita yang kuat dan bisa berdiri di kakinya sendiri.
Sementara Jack hanya menatap datar wanita itu dari kaca spion depannya.
__ADS_1