
"Siapa pria itu ?" ulang Alex seraya melangkahkan kakinya mendekati Elsa yang sedang bersandar di headoard ranjang dengan memegang ponsel di tangannya.
"P-pria ?" entah Elsa harus senang atau tidak karena rupanya Alex tak mendengar pembicaraannya dengan sang putra dan mengira jika ia sedang berbicara dengan seorang pria.
"Tentu saja, siapa pria itu ?" Suara Alex terdengar sangat dingin hingga membuat Elsa tiba-tiba merinding, astaga kemana nyalimu Elsa.
"Ku rasa kamu hanya salah dengar, oh ya ini sudah malam kamu pasti juga sudah mengantukkan ayo tidur di sini." Elsa langsung menepuk kasur sebelahnya agar pria itu segera naik ke atas ranjangnya.
Namun bukannya mengikuti keinginannya, Alex justru mengulurkan tangannya lalu mengangkat dagu wanita itu dengan sedikit mencengkeramnya. Astaga, kemana Alex yang terkenal sangat baik pada siapapun? karena kini justru seperti seorang monster yang menakutkan.
"Saat kau menyerahkan tubuhmu padaku, maka sejak saat itu kamu adalah wanitaku. Tak peduli dengan siapa kau tidur sebelumnya, segera lupakan mereka jika tidak kamu akan tahu akibatnya." ucapnya dengan nada ancaman dan itu membuat Elsa langsung melotot.
"Mana bisa seperti itu, kamu bukan suamiku jadi kamu tak berhak memerintahku." Elsa langsung bersungut-sungut, memang siapa pria itu berani sekali mengklaim dirinya sesuka hati.
"Jadi kamu ingin menjadi istriku, hm ?" balas Alex masih dengan menatap intens wanita itu.
"Apa kamu lupa sudah mempunyai seorang istri hah ?" cibir Elsa dengan sinis.
"Aku akan menceraikan Celine, bukankah itu yang kamu mau ?" tegas Alex tanpa sedikit pun beban saat mengatakannya seolah perceraian adalah hal biasa bagi pria itu dan tentu saja itu membuat Elsa nampak menelan ludahnya.
Harusnya wanita itu senang karena pada akhirnya pernikahan mereka akan berantakan, namun jika harus berakhir dengan menikahinya itu bukanlah rencananya.
Lagipula ia tak mencintai pria itu, ia tak pernah mempercayai cinta dan sampai kapan pun ia takkan percaya.
Ia wanita mandiri dan sudah mempunyai masa depan yang ingin ia perjuangkan jadi baginya tak menikah seumur hidupnya pun takkan masalah.
"Baiklah, segera ceraikan istrimu baru aku akan memikirkannya." tantang Elsa kemudian yang langsung di angguki oleh Alex.
Sepertinya pria itu benar-benar telah jatuh hati pada Elsa hingga membuatnya yang selalu meyakinkan dirinya hanya akan menikah sekali untuk seumur hidup itu telah menghianati prinsipnya sendiri.
Keesokan harinya.....
Pagi itu Elsa nampak terbangun saat merasakan gelanyar aneh di sekujur tubuhnya, bahkan wanita itu tak sengaja mengerang ketika bagian sensitifnya terasa tergelitik.
__ADS_1
Menyadari hal itu Elsa langsung membuka matanya dan ia tercengang ketika mendapati Alex sudah berada di atas tubuhnya.
Menenggelamkan wajahnya di bongkahan kenyal miliknya, menyesapnya seperti bayi yang sedang kehausan. Lalu sebelah tangannya yang bebas nampak membelai miliknya di bawah sana yang rupanya sudah tak memakai apapun.
"Apa yang kamu lakukan ?" Elsa menggigit bibirnya agar tak mendesah akibat perlakuan nakal pria itu.
"Aku hanya mencoba membangunkan mu." sahut Alex ringan seakan apa yang sedang ia lakukan adalah suatu kewajaran.
"Kau bisa memanggilku atau menggoyang lenganku jika ingin membangunkan ku." balas Elsa lagi-lagi dengan menahan desahannya seiring dengan miliknya di bawah sana yang sudah sangat lembab akibat ulah jari nakal pria itu.
"Aku sudah mencoba melakukannya tapi kamu tak bereaksi, mengingat satu jam lagi istriku akan pulang jadi aku terpaksa membangunkan mu dengan cara ini." terang Alex dengan suara yang mulai berat, jangkunnya naik turun menahan gairahnya sendiri.
"Apa? Istrimu akan pulang? tidak, aku harus segera pergi dari sini." Elsa segera beranjak namun terlambat karena Alex telah menahan kakinya lalu dengan sekali sentakan milik pria itu sudah masuk ke dalam lembah basah miliknya yang membuatnya langsung menjerit sakit sekaligus nikmat.
"Apa kamu gila, bagaimana jika istrimu melihat kita ?" protes Elsa di tengah hentakan yang pria itu lakukan.
"Bukankah ini yang kamu mau, hm? aku hanya membantu mewujudkannya." sarkas Alex dan itu membuat Elsa tak habis pikir, ada apa dengan pria itu. Bukankah sebelumnya pria itu dengan bodohnya sangat mencintai istrinya?
"Baiklah, cepat lakukan dan antar aku pulang." balas Elsa kemudian.
"Sayangnya aku tidak biasa bermain cepat." timpal Alex dengan pandangan nakal dan itu membuat Elsa semakin kesal.
Bagaimana pun juga ia tak ingin terlibat dalam perceraian pria itu dan sang istri meskipun ia adalah penyebabnya, ia seorang desainer ternama dan nama baiknya adalah taruhannya.
Jika bisa bermain cantik kenapa harus mengotori tangannya sendiri dan ia ingin wanita itu hancur tanpa membawa namanya.
"Ahhh, tuan Alex." Elsa langsung mendesah saat Alex menghentaknya dengan sangat kuat dan dalam.
"Ya sebut namaku sayang, kau terlihat semakin cantik jika seperti itu." Alex menatap peluh keringat di wajah Elsa dan itu terlihat seksi di matanya hingga membuatnya enggan mengakhiri rasa yang teramat nikmat ini.
Jarum jam pun terus bergerak namun belum ada tanda-tanda jika pria itu ingin mengakhiri padahal Elsa sudah beberapa kali mendapatkan pelepasannya dan itu membuat wanita itu semakin gelisah namun juga terasa nikmat karena sensasi yang di timbulkannya.
"Ahhh, tuan Alex aku mau keluar." Elsa nampak menegang saat pelepasannya sudah di depan mata kembali.
__ADS_1
"Sama-sama sayang." Alex semakin menghentakkan tubuhnya dengan kuat dan ******* panjang dari keduanya pun menandakan jika mereka telah sampai pada puncaknya.
Alex nampak enggan beranjak sebelum seluruh cairan percintaannya tumpah dalam rahim wanita itu, entah kenapa dalam hati kecilnya ia menginginkan sesuatu tumbuh di dalam sana.
Setelahnya pria itu segera berguling di sisi wanita itu lantas mengecup keningnya lalu turun untuk m3lum4t bibirnya sejenak.
"Aku harus segera pulang." Elsa segera beranjak tak peduli tubuhnya sangat lelah akibat gempuran pria itu, kemudian wanita itu meraih kemejanya yang ia pakai sebelumnya yang kini telah teronggok di atas lantai.
"Kau akan pulang dengan pakaian seperti itu ?" Alex memperhatikan Elsa yang sedang memunguti kemeja serta celana d4l4mnya.
"Tentu saja, ku rasa kau takkan membiarkan ku pulang tanpa busana bukan ?" balas Elsa dengan sarkas seraya memakai d4l4m4nnya.
"Jika itu terjadi lebih baik aku mengurungmu di sini." balas Alex dengan menggeram, kemudian pria itu juga beranjak dari tidurnya kemudian mengambil sebuah paper bag lantas menyerahkan pada wanita itu.
"Aku menyuruh Jack untuk membawakan mu beberapa potong pakaian semoga saja cocok." ucapnya seraya mengulurkannya pada wanita itu dan tentu saja Elsa terima dengan senang hati.
Karena pria itu yang kemarin merusak pakaiannya dan sekarang harus wajib menggantinya bukan.
"Kau serius menyuruhku berpakaian seperti ini ?" Elsa nampak melotot saat melihat sepotong celana jeans panjang serta hoodie yang jauh dari kata seksi dan elegan yang biasa ia kenakan.
"Kenapa? itu pakaian wanita juga bukan ?" sahut Alex dengan menaikkan sebelah alisnya tak mengerti dengan reaksi wanita itu yang seperti tidak menyukai pakaian pemberiannya.
"Baiklah, terserah kamu saja tapi jujur ini bukan fashion seleraku." Elsa segera memakainya meski ia tak menyukainya, saat melihat bayangan tubuhnya di depan cermin ia seperti melihat dirinya beberapa tahun silam yang masih polos dan penuh penderitaan dan ia tak menyukai itu.
Mendengar jawaban Elsa, Alex nampak tak suka lalu pria itu segera menarik tubuh wanita itu hingga menabrak dada bidangnya.
"Mulai detik ini aku tak ingin melihatmu memakai pakaian sampah itu lagi, mengerti ?" ucapnya dengan tegas yang langsung membuat Elsa menatapnya intens.
Ada perasaan hangat yang menjalar di setiap aliran darahnya saat mendengarkan perkataan pria itu, ia rindu di perhatikan. Sejak kakaknya meninggal ia tak pernah merasakan lagi sebuah kasih sayang hingga membuat hatinya dingin dan mengeras seperti batu.
Namun kini pria itu datang dan mencoba menawarkan sebuah kehangatan hingga membuatnya hampir terlena.
"Tidak Elsa, kau tak boleh jatuh cinta padanya. Segera selesaikan misimu dan pergi sejauh mungkin."
__ADS_1