Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~137


__ADS_3

"Ka-kamu sejak kapan duduk di situ ?" Anne langsung salah tingkah saat melihat James yang sudah duduk di meja makan tak jauh darinya itu.


"Sejak kau berbicara sendiri seperti orang gila." sahut James dengan wajah datarnya dan tentu saja itu membuat Anne langsung menelan ludahnya, kemudian ia segera melangkah mendekati pria itu.


"Apapun yang kamu dengar tadi, percayalah aku hanya sedang bercanda dengan diriku sendiri." ucapnya beralasan, semoga pria itu tidak berpikir macam-macam lalu memecatnya.


"Saya tidak peduli." sahut James, lalu segera beranjak dari duduknya dengan membawa serta ipadnya yang ketinggalan saat mereka makan malam tadi.


Anne langsung termangu saat melihat kepergian pria itu lalu ia mulai tertawa sendiri. "Sepertinya aku akan benar-benar gila menghadapinya." gumamnya.


Bagaimana tidak, ia sudah ketakutan setengah mati karena sudah mengumpati pria itu habis-habisan tapi tanggapan pria itu hanya datar-datar saja.


Sementara itu di belahan bumi lain William yang sedang berdiri di balkon Villa tempatnya menginap nampak menghubungi seseorang.


"Apa ada informasi ?" ucapnya setelah panggilannya tersambung.


"Sesuai dugaan anda tuan, mereka saat ini berada di sini." sahut seorang pria di ujung telepon.


"Bagus awasi terus dan dapatkan bukti yang ku mau." perintahnya, lalu ia segera mengakhiri panggilannya.


Kemudian pria itu kembali membuat panggilan baru, entah siapa lagi yang ia hubungi.


Merry yang melihat suaminya sedang berdiri memunggunginya nampak tersenyum kecil, kemudian wanita itu berjalan mendekat.


"Hallo, apa kau sudah mendapatkan barangnya? Hm baiklah, aku akan segera kesana." ucap William lalu segera mengakhiri panggilannya, namun tiba-tiba ia merasakan sebuah lengan kecil memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kamu sedang menghubungi siapa dan barang apa yang kau maksud ?" tanya Merry penasaran entah kenapa ia mulai khawatir lagi dengan pekerjaan yang pria itu geluti.


William langsung berbalik badan lalu menatap istrinya itu dengan lembut. "Bukan apa-apa hanya urusan pekerjaan." sahutnya beralasan.


"Pekerjaan apa? aku berharap kamu tidak melakukan pekerjaan macam-macam." Merry masih menatap curiga suaminya itu.


"Kamu masih meragukan ku hm ?" William membingkai wajah istrinya itu dengan kedua telapak tangannya yang besar.


"Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa denganmu, aku tidak mau menjadi janda dan Ariel menjadi anak yatim." sahut Merry dan tentu saja itu membuat seorang William terperanga.

__ADS_1


"Honey kenapa kamu berpikiran seperti itu, atau jangan-jangan kamu beneran ingin menjadi janda hm ?" William terlihat kesal sekaligus gemas dengan istrinya itu.


"Aku hanya takut terjadi apa-apa padamu." Merry benar-benar khawatir saat ini, sepertinya wanita itu tak ingin kehilangan pria itu untuk kedua kalinya dalam hidupnya.


"Percayalah aku baik-baik saja dan aku sudah sangat lama meninggalkan dunia gelap itu." William meyakinkan dengan kedua tangannya memegang kedua lengan istrinya itu.


"Apa kamu mau pergi sekarang ?" tanya Merry masih dengan nada curiga.


"Hm, hanya sebentar." sahut William.


"Tidak, kamu tidak boleh pergi." Merry langsung memeluk suaminya itu, entah kenapa ia tiba-tiba merasakan hal buruk akan terjadi jika pria itu pergi.


"Hanya sebentar sayang, aku janji tak lama." bujuk William.


"Berapa lama ?" Merry mendesak.


William nampak menghela napasnya. "Baiklah, aku tidak akan pergi." ucapnya pada akhirnya.


"Terima kasih." Merry langsung memeluk suaminya itu dengan perasaan lega, mempunyai suami dengan latar belakang dunia hitam membuatnya selalu was-was semoga saja pria itu benar-benar sudah berubah.


"Hanya tidur." tegas Merry saat suaminya menuntunnya masuk ke dalam kamarnya.


"Iya, memang mau ngapain ?" timpal William.


"Kamu selalu mencari kesempatan." rutuk Merry.


"Hanya orang yang pandai memanfaatkan kesempatan yang akan sukses sayang." sahut William yang kini mulai merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.


"Kapan kita jemput Ariel, aku sudah sangat merindukannya." Merry berucap sembari memeluk suaminya itu.


"Tidak lama lagi, tidurlah jika tidak...."


"Iya aku tidur." potong Merry lalu langsung memejamkan matanya dan tak menunggu lama wanita itu terlelap.


Istrinya pasti kelelahan pikir William, mengingat sejak mereka tiba di sini ia selalu membuatnya lelah. Kemudian dengan hati-hati pria itu menarik lengannya yang menjadi bantalan istrinya itu.

__ADS_1


Setelah itu William segera turun dari ranjangnya, berjalan mengendap-endap kemudian berlalu keluar.


Di tempat lain Celine yang sedang berada di dalam kamar Marco nampak mengerang nikmat saat pria itu tak berhenti menghujam lembah surgawinya.


"Faster, tuan." erangnya saat pria itu mulai memelankan gerakannya dan detik selanjutnya Marco melepaskan penyatuannya hingga membuat Celine yang hampir sampai nampak kecewa.


"Move." ucap Marco seraya menghempaskan bobot tubuhnya di atas sofa tak jauh dari sana


Celine yang mengerti kemauan pria itu segera turun dari ranjangnya lalu melangkah mendekat, wanita itu nampak naik ke atas pangkuan Marco dan kembali melakukan penyatuannya.


"Yess baby kau sangat nikmat." racau Marco saat Celine mulai menaik turunkan tubuhnya, pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Matanya nampak terpejam dan bibirnya mendesis nikmat.


Celine tersenyum puas saat bisa membuat pria itu tak berdaya dalam kuasanya meski sebagian sudut hatinya menolak itu semua, ya Marco adalah pria ketiga yang ia izinkan menikmati tubuhnya selain sang suami dan mantan kekasihnya dahulu.


Sedikit cerita tentang dirinya, sebelum menikah dengan Alex wanita itu hanya wanita biasa yang sering menjadi bahan bully an teman-temannya hingga ia bertekad untuk menjadi orang terkenal sebagai pembuktian dirinya.


Dan takdir sepertinya sedang berpihak padanya hingga ia di pertemukan dengan seorang pria pemilik agency, lalu ia rela menyerahkan kesuciannya pada pria itu demi bisa menjadi seorang model.


Namun selama bertahun-tahun karirnya tak juga menanjak, lalu ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan pria itu saat mulai bertemu dengan Alex di sebuah club malam.


Alex yang notabennya pria kaya pasti akan bisa menggunakan kekuasaannya untuk menunjang karirnya.


Dan benar saja setelah resmi menjadi kekasih pria itu, ia memanfaatkan harta pria itu untuk membuatnya terkenal. Namun sepertinya wanita itu belum cukup puas dengan karirnya.


Ia harus menjadi model nomor satu dan hanya Marco dan William lah yang mampu mewujudkan itu, oleh karena itu ia rela memuaskan pria itu asalkan ambisinya bisa tercapai.


"Jadilah wanitaku, maka apapun yang kau inginkan akan ku kabulkan." ucap Marco di tengah d3s4hannya, kedua tangan pria itu nampak m3r3m4s gundukan kenyal milik wanita itu lalu sesekali memainkan puncaknya dengan sedikit keras hingga membuat Celine mendesah nikmat.


Tawaran pria itu memang sangat menggiurkan, namun ia tak serta merta menyetujuinya karena tujuan utamanya adalah William.


Marco memang berkuasa tapi William lebih dari segalanya. "Masih banyak waktu untuk membicarakan hal itu, tuan." sahutnya di tengah erangannya tersebut.


Marco yang sudah tak tahan nampak beranjak dari duduknya lalu membawa wanita itu kembali ke atas ranjangnya dan melanjutkan permainan mereka di sana.


Namun tanpa mereka sadari seseorang nampak mengawasi aktivitas panas mereka dari arah yang tak pernah mereka duga.

__ADS_1


__ADS_2