
Sesampainya di lantai bawah James langsung menghempaskan pergelangan tangan Anne hingga membuat wanita itu sedikit terhuyung.
"Tadinya aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu tapi rupanya kau sangat baik-baik saja." cibir Anne, ia sangat syok dengan perlakuan kasar suaminya itu padanya.
Kekecewaannya seakan menutupi rasa sakit di pergelangan tangannya yang mungkin saat ini telah memar akibat cekalan kasar pria itu.
"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak menginjakkan kaki di lantai atas, tapi rupanya itu hanya kau anggap angin lalu." geram James.
"Baiklah aku minta maaf tuan James yang terhormat." Anne menatap tajam pria di hadapannya itu, kemudian wanita itu berlalu mengambil tas slempangnya yang sebelumnya ia letakkan di atas sofa lalu segera pergi dari sana.
"Kau mau kemana ?" teriak James yang langsung membuat istrinya itu menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatapnya.
"Apa kau mulai kepo dengan urusanku tuan James ?" cibir Anne dengan tersenyum miring, kemudian wanita itu kembali melanjutkan langkahnya dan pergi begitu saja meninggalkan pria itu.
"Sial."
James nampak mengusap wajahnya dengan kasar, lalu tiba-tiba ia mengingat dengan beberapa orang yang akhir-akhir ini sering menyerangnya.
Tak ingin terjadi apa-apa dengan wanita itu, James segera mengambil kunci mobilnya lalu mengemudikannya dengan kencang meninggalkan rumahnya tersebut.
"Dasar suami laknat, menyesal aku mengkhawatirkan mu."
Sepanjang jalan Anne nampak mengumpat dengan kesal, hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti dengan memotong jalan depannya.
"Masuk !!" perintah James setelah menurunkan kaca mobilnya.
"Aku tidak mau." tolak Anne, lalu ia memutari mobil pria itu karena jalan yang akan ia lalui di hadang olehnya.
James yang geram karena perintahnya di anggap angin lalu segera keluar dari mobilnya dan tanpa berkata-kata lagi pria itu langsung menggendong tubuh istrinya itu bak karung beras lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Dasar pemaksa." umpat Anne dengan kesal saat suaminya mendudukkan dirinya di kursi mobilnya lalu memasangkan sabuk pengaman untuknya.
Anne yang melihat wajah James sangat dekat dengan wajahnya hanya bisa menahan napasnya lalu ia membuang mukanya ke samping.
"Percuma tampan jika kelakuannya abnormal." gumamnya dengan kesal.
James yang baru selesai memasang sefty belt wanita itu segera menjauhkan dirinya, lalu menutup pintu mobilnya. Setelah kembali duduk di balik kemudinya pria itu segera memutar balik menuju rumahnya.
"Ayo turun !!" perintahnya setelah mobilnya masuk ke dalam gerbangnya.
Anne yang malas menanggapi ucapan pria itu langsung turun dari mobilnya lantas berlalu masuk ke dalam rumahnya dengan kesal.
"Buatkan saya kopi !!" perintah James setelah menutup kembali pintu rumahnya.
__ADS_1
Anne yang hampir masuk ke dalam kamarnya kini urung ia lakukan, lalu wanita itu bergegas melangkah ke dapurnya.
"Hallo tuan Nicol, mohon maaf hari ini saya tidak datang karena ada urusan penting." ucap Anne saat menghubungi pemilik restoran tempatnya bekerja.
"Baiklah karena banyak pengunjung yang menyukaimu, aku mengizinkan tapi lain kali jangan seperti ini lagi."
"Terima kasih tuan Nicolas, anda benar-benar sangat baik." Anne terlihat lega kemudian segera mengakhiri panggilannya.
James yang sedang duduk di sofa terlihat fokus dengan ponselnya meski telinganya sedari tadi mencuri dengar istrinya itu menghubungi seseorang.
"Jadi pria itu adalah pemilik restoran di mana istriku bekerja ?"
"Iya tuan, tuan Nicolas adalah pengusaha muda yang sukses mengelola beberapa restoran yang tersebar di kota ini."
"Jadi dia masih muda ?"
"Benar tuan."
"Nih kopimu."
James yang sedang fokus berkirim pesan dengan Mark nampak terkejut saat tiba-tiba istrinya itu menghidangkan segelas kopi di hadapannya.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk kamar ?" ucap James saat istrinya itu hendak membuka pintu kamarnya.
"Pekerjaanku sudah selesai." sahut Anne.
Dengan malas Anne melangkahkan kakinya lalu menghempaskan bobot tubuhnya di sana.
"Siapa Nicolas ?" tanya James to the point yang langsung membuat Anne melebarkan matanya.
"Kau memata-mataiku ?" sinisnya.
"Mulai hari ini aku perintahkan kamu untuk berhenti bekerja." tegas James.
"Aku tidak mau." tolak Anne.
"Apa kurang uang yang ku berikan padamu hingga membuatmu harus bekerja di tempat seperti itu ?" tanya James kemudian.
Kurang? bahkan hingga kini wanita itu belum menggunakannya sama sekali. Anne memang tak berniat untuk menggunakannya tapi ingin memindahkannya langsung ke tabungan pribadinya, memikirkan hal itu Anne nampak terkikik sendiri.
"Ini bukan hanya tentang uang, aku kesepian di sini aku juga butuh teman dan di sana aku mempunyai beberapa teman." sahut Anne.
"Apa kamu tahu pemilik restoran tempatku bekerja juga sangat tampan, dia seperti kapten Ri." sambung Anne dengan wajah berbinar saat mengingat wajah bossnya itu seperti salah satu pemeran film Korea favoritnya, rupanya tuan Nicolas mempunyai darah Asia.
__ADS_1
"Kapten Ri ?" gumam James tak mengerti, apa pria itu kekasih istrinya itu.
"Apapun alasanmu saya perintahkan segera berhenti bekerja dari sana." tegas James.
"Memangnya kenapa jika aku bekerja di sana? Aku bisa gila lama-lama kau kurung di sini, lagipula bukankah kau bilang kita tidak perlu mengurusi urusan pribadi masing-masing ?" Anne mulai bersungut-sungut.
"Atau jangan-jangan kau sedang cemburu ya ?" imbuh Anne dengan mendekatkan wajahnya pada suaminya itu.
"Omong kosong." James segera mendorong wajah istrinya itu menjauh.
"Tunggu." Bukannya marah Anne justru memegang balik dahi suaminya itu.
"Sepertinya kau demam, pantas tanganmu terasa panas. Aku akan mengambilkan mu obat." ucapnya lalu bergegas pergi.
James yang memang merasa kurang enak badan semenjak pagi nampak tercengang dengan sikap peduli istrinya itu.
"Aku tadi pagi membuat bubur ayam entah kamu suka atau tidak, tapi lebih baik kamu isi perutmu dulu sebelum minum obat ini." Anne kembali dengan semangkuk bubur dan juga obat penurun demam.
"Aku baik-baik saja." ucap James dengan wajah angkuhnya.
"Cepat makanlah atau mau ku suapi ?" goda Anne yang langsung membuat James mengambil mangkuk tersebut dari tangannya, lalu segera memakannya.
"Bagaimana rasanya ?" tanya Anne saat melihat pria itu makan dengan lahap.
"Biasa saja." sahut James dan itu membuat Anne langsung mengerucutkan bibirnya.
Beberapa saat kemudian setelah memastikan pria itu meminum obatnya, Anne segera berlalu ke dapur.
"Biasa saja tapi habis juga." cibirnya seraya mencuci mangkuk bekas pria itu makan.
Setelah kembali dari dapur, Anne melihat suaminya itu sudah tertidur di atas sofa. Kemudian ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahinya.
"Kenapa panasnya belum turun juga ?" gumamnya, lalu ia mengambil kain bersih dan air hangat untuk mengompres dahi pria itu.
Tak terasa waktu beranjak sore, Anne yang sedari tadi menjaga suaminya itu nampak tertidur di atas sofa dengan posisi duduk.
Sementara itu James yang merasakan tubuhnya kembali bugar setelah beristirahat beberapa saat segera beranjak dari tidurnya.
Saat hendak pergi ia melihat istrinya itu nampak tertidur di sofa dengan posisi duduk, lalu tanpa berpikir panjang ia memindahkannya ke sofa panjang tempatnya ia tadi tidur.
Matanya nampak menatap wajah wanita itu sejenak sampai pada akhirnya ponselnya berdering nyaring lalu pria itu segera menaiki anak tangga.
"Ya Grace." sahutnya setelah menjawab panggilan teleponnya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, kapan kamu akan datang ?"
James langsung menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah, tunggu sebentar ya aku akan segera kesana." sahutnya kemudian.