
Pagi itu Elsa nampak bangun dengan wajah murung, rupanya Alex benar-benar tak menginginkannya. Biasanya pria itu selalu bersikap dominan terhadap dirinya namun kini seperti benar-benar tak tertarik lagi padanya.
"Pagi." sapa Alex yang langsung mengagetkan Elsa yang sedang sibuk di dapurnya.
Pria itu terlihat rapi dengan setelan kerjanya padahal hari masih pagi. "Kamu tidak sarapan dahulu ?" tanya Elsa saat pria itu berlalu mengambil sepatu kerjanya.
"Aku ada meeting pagi ini." sahut Alex, setelah mengenakan sepatunya lantas pria itu mengambil jasnya yang semalam ia letakkan di sandaran sofa.
"Jangan lupa nanti siang datang ke tempat pemotretan." ucapnya seraya melangkah mendekati wanita itu, kemudian mengecup keningnya sejenak lantas berlalu pergi.
Mendapatkan sebuah kecupan tentu saja membuat hati Elsa langsung menghangat, paling tidak pria itu benar-benar tak mengabaikannya.
Setelah mengantar kepergiannya kini Elsa kembali ke dapurnya, akhir-akhir ini wanita itu memang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar memasak.
Ia ingin menjadi istri dan ibu yang sempurna bagi suami dan putranya kelak.
Siang harinya Elsa segera pergi ke tempat pemotretan dengan beberapa gaun hasil rancangannya sendiri.
Gaun pernikahan yang terlihat cantik itu nampak pas pada tubuhnya yang proporsional, ia sengaja mendesainnya dengan model punggung terbuka dan belahan dada sedikit rendah hingga menampakkan sedikit bagian terseksi dari tubuhnya tersebut.
"Benar-benar perfect." puji seorang penata busana saat melihat Elsa baru mengenakan gaunnya tersebut.
"Terima kasih, kau membuatnya dengan sangat baik Lisa." timpal Elsa kemudian.
"Tapi kamu yang mendesainnya, El." sanggah wanita bernama Lisa itu.
"Apa sudah siap semuanya ?" teriak seorang fotografer dari arah luar.
"Apa Alex sudah datang ?" tanya Elsa kemudian.
"Sepertinya sudah." timpal Lisa.
"Baiklah." Elsa nampak gugup lantas segera melangkahkan kakinya keluar dan ia melihat Alex sudah menunggunya di sana.
Pria itu terlihat tampan dengan pakaian yang di kenakannya dan pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat sampai Alex berdehem kecil.
Ehmm
"Apa kamu menunggu lama ?" sapa Elsa kemudian.
Ia yakin pria itu pasti terpesona melihatnya, biasanya laki-laki itu tak tahan saat dirinya berpakaian seksi seperti ini.
"Aku baru saja datang." ucapnya.
Kemudian mereka segera menjalani sesi pemotretan dengan beberapa pakaian yang telah di siapkan.
"Apa dia tidak tertarik padaku ?" gumam Elsa saat tak ada reaksi berlebihan dari pria itu terhadap penampilannya.
Kenapa ia merasa calon suaminya itu tak lagi menggebu seperti dahulu dan kini ia merasa hubungan mereka terasa hambar.
"Baiklah, aku harus kembali ke kantor. Jack akan mengantarmu pulang, beristirahatlah di rumah dan jangan kemana-mana." ucap Alex kemudian, lantas mengecup kening wanita itu sejenak.
__ADS_1
Setelah itu Alex segera meninggalkan tempat pemotretan tersebut.
"Apa penampilanku terlihat buruk ?" tanya Elsa pada Lisa setelah kepergian Alex.
"Kamu terlihat sangat menawan." puji wanita itu.
"Tapi sepertinya tuan Alex kurang menyukai model gaunmu." imbuhnya lagi dan itu membuat Elsa langsung memicing.
"Maksud kamu ?" ucapnya tak mengerti.
"Tadi dia memintaku untuk memperbaiki kembali gaunmu karena terlalu rendah belahannya." sahut wanita itu dan tentu saja itu membuat Elsa sangat kesal.
"Tidak, aku tidak ingin ada yang di rubah." tegasnya kemudian.
"Tapi, El...."
"Aku bilang tidak ya tidak, urusan dia biar aku yang mengurusnya." sela Elsa tak ingin di bantah.
Meski perhatian Alex tak pernah berubah padanya dan sang putra tetap saja Elsa merasa ada yang kurang yaitu keromantisan pria itu terhadapnya.
Seketika wanita itu mengingat Sam sang mantan asistennya tersebut. "Tidak-tidak, itu tidak mungkin terjadi. Alex tidak mungkin seperti itu." gumamnya.
"Lisa, boleh aku bertanya sesuatu ?" ucapnya pada Lisa.
"Apa perihal gaun itu ?" sahut wanita yang pernah menjadi karyawan Elsa tersebut.
"Bukan." Elsa langsung menggeleng cepat.
"Apa mungkin seseorang bisa berubah dalam waktu sekejap, maksudku sifatnya." terang Elsa yang bingung harus memulai pembicaraannya dari mana.
"Maksudmu? tolong lebih detail lagi." timpal Lisa.
"Begini, tadinya dia seorang pria yang perkasa namun tiba-tiba dia seperti tak berminat pada seorang perempuan dan berubah lebih dingin. Apa ada kemungkinan pria itu sebenarnya adalah seorang g4y ?" terang Elsa yang langsung membuat Lisa nampak menatap lekat wanita itu dengan pandangan menyelidik.
"Yang ku bicarakan pria lain, bukan calon suamiku Lisa." Elsa langsung meralat perkataannya.
"Tentu saja, lagipula mana mungkin tuan Alex seperti itu. Beliau terlihat sangat romantis bahkan tatapannya tadi saat pertama kali melihatmu memakai gaun itu benar-benar membuatku iri." timpal Lisa kemudian.
"Benarkah ?" Elsa nampak tersanjung mendengar perkataan wanita itu, benarkah calon suaminya tadi sangat mengagumi penampilannya?
"Hm, jadi siapa pria yang kamu maksud itu? Jangan bilang itu Sam, kita semua tahu dari dulu dia seperti apa." ucap Lisa kemudian.
"Bukan, bukan dia. Hanya seorang kenalan saja, jadi bagaimana menurutmu? apa dia seorang g4y ?" tanya Elsa ingin tahu.
"Bisa jadi." sahut Lisa meski agak ragu.
"Begitu ya ?" Elsa nampak termenung.
Sepertinya wanita itu harus melakukan sesuatu atau lebih tepatnya mencari tahu sebelum terlambat.
Sore harinya Elsa memutuskan untuk pergi ke kantor calon suaminya tersebut, kali ini ia takkan menyerah dan harus bisa membuktikan jika pria itu tak berubah sedikit pun.
__ADS_1
"Langsung pulang, nyonya ?" tanya Jack setelah Elsa masuk ke dalam mobilnya.
"Kita mampir ke kantor dulu, tuan Jack !!" perintahnya pada asisten Aku tersebut.
"Tapi nyonya bukannya...." ucapan pria itu langsung terjeda saat Elsa memotongnya.
"Aku bilang kesana ya kesana tuan Jack, apa kamu mau membantahku ?" tegas wanita itu dan mau tak mau Jack mengangguk patuh.
"Baik, nyonya." sahutnya, lantas mulai mengemudikan kendaraannya.
Setelah menempuh 30 menit perjalanan mereka telah sampai di kantor Alex, kemudian Elsa segera turun dan berlalu masuk ke dalam.
"Selamat sore nyonya, apa anda ingin mencari tuan Alex ?" sapa seorang resepsionis yang menyambut kedatangan Elsa.
"Hm, apa dia ada di ruangannya ?" tanya Elsa kemudian.
"Apa nyonya tak di beritahu jika tuan Alex telah pergi ke Amerika tadi siang ?" terang petugas resepsionis tersebut.
"Benarkah ?" Elsa nampak terkejut.
Kemudian wanita itu segera mengecek ponselnya di dalam tasnya. "Sepertinya, ponselku kehabisan baterai." ucapnya seraya menunjukkan ponselnya yang mati pada wanita tersebut.
"Apa kamu tahu kapan dia akan kembali ?" tanya Elsa kemudian.
"Beliau akan kembali tepat di hari pernikahan, nyonya." terang wanita itu dan itu membuat Elsa nampak mendesah kecewa.
"Baiklah, terima kasih." Elsa segera melangkahkan kakinya meninggalkan kantor tersebut.
"Maaf nyonya, tadinya saya ingin memberitahu anda." Jack nampak merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, apa kamu punya pengisi daya ?" sahut Elsa setelah kembali duduk di kursinya.
"Tentu saja, nyonya." Jack segera mengambil power bank miliknya lantas menyerahkan pada wanita itu.
Setelah mengisi daya beberapa saat, Elsa nampak mengecek ponselnya. Banyak sekali pesan yang di kirim oleh Alex padanya dan itu membuat bibirnya mengulas senyumnya.
Namun saat mengingat keganjalan dalam hatinya, wanita itu segera membuka suaranya. "Tuan Jack, sepertinya akhir-akhir ini Alex sering sekali pergi ke Amerika. Apa dia ada masalah di sana ?" selidiknya kemudian.
"Hanya masalah pekerjaan, nyonya. Karena di sana adalah kantor pusat dan beliau harus sering mengunjunginya." terang Jack dari balik kemudinya.
"Ngomong-ngomong, apa Alex mempunyai seorang teman dekat? teman dekat seorang pria maksudku." tanya Elsa lagi.
"Sepertinya tidak ada nyonya, semua hanya relasi bisnis kecuali tuan William dan tuan James tapi mereka adalah keluarga besarnya." sahut Jack.
"Benarkah ?" Elsa nampak tak asing dengan kedua nama pria tersebut, sungguh sampai mendekati hari pernikahannya itu calon suaminya belum mengenalkannya pada keluarganya.
"Mereka semua akan datang di hari pernikahan anda nanti, nyonya." terang Jack yang seakan mengerti kegusaran nyonyanya tersebut.
"Hm, semoga saja." Elsa mengangguk kecil dan ia tak sabar menunggu hari pernikahan esok, meski ia masih menyimpan keraguan dan biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Karena baginya kebahagiaan putranya yang terpenting dan putranya tersebut akan bahagia jika ibu dan ayahnya kembali bersatu dalam ikatan pernikahan.
__ADS_1