Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~55


__ADS_3

Setelah menyadari telah membentak sang istri, William nampak mengusap wajahnya dengan kasar.


"Duduklah, sebentar lagi dokter akan datang !!" perintahnya pada Natalie setelah membantu wanita itu mencuci tangannya yang melepuh akibat tertumpah kopi panas yang di bawah oleh Merry tadi.


"Ini sangat panas Will, Merry sungguh keterlaluan. Dari awal dia memang sudah tidak suka sama aku, makanya saat ada kesempatan dia langsung mencelakaiku." tuding Natalie dengan berapi-api.


"Tuan saya membawa dokter kemari ?" ucap James setelah membuka pintu, wajah pria itu nampak khawatir mengira jika sang tuan yang sedang sakit.


"Cepat periksa Natalie dok !!" perintah William kemudian yang langsung di anggukin oleh sang dokter.


Dokter itu bergegas melangkah mendekati Natalie yang sedang duduk di atas sofa dengan wajah menahan sakit.


"James, panggil Merry kesini !!" perintahnya lagi pada James, ia ingin memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja setelah dirinya dengan khilaf telah membentaknya.


James nampak menatap Natalie sejenak. "Nona Merry baru saja pergi, tuan ?" ucapnya kemudian yang sontak membuat William melebarkan matanya.


"Bodoh, kenapa kau biarkan ?" William segera berlari keluar dari ruangannya.


"Will, kamu mau kemana ?" teriak Natalie dari kursinya, namun William tak mempedulikannya.


"Maaf tuan saya pikir anda sudah tahu, lagipula sudah ada Dalle dan Dallas yang menunggu nyonya di lobby." ucap James mengikuti langkah tuannya itu.


Kini mereka berada di depan lift dan William yang mempunyai firasat tak enak nampak menekan tombol lift dengan tak sabar.


Pria itu terlihat panik dan menyesal dengan apa yang dia lakukan tadi pada sang istri.


"Hubungi security di bawah untuk mencari istriku, James !!" perintahnya saat baru masuk ke dalam lift.


James langsung menambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Apa nona Merry ada di bawah? apa? cepat cari di seluruh kantor dan di luar !!" perintah James dengan wajah paniknya, karena ternyata nyonya mudanya itu tak berada di lobby kantornya.


"Nona Merry tidak turun ke lobby, tuan. Mungkin beliau masih berada di sekitaran kantor ini, karena security tidak melihat beliau keluar." ucapnya kemudian pada William.


"Aaarrgghhh." William nampak memukul dinding lift dengan kesal, kemudian pria itu langsung menekan tombol lantai 2.


Setelah lift terbuka, William segera keluar kemudian berlari menuruni anak tangga di mana pintu belakang berada.


Sesampainya di sana pria itu nampak melewati beberapa gudang penyimpanan senjata api miliknya dan sampailah pada pagar tembok yang mengelilingi kantornya tersebut.

__ADS_1


"Tuan." dua orang security penjaga gudang langsung berlari mendekati William saat melihat pria itu.


"Apa kalian melihat seorang gadis di sini ?" tanya William tak sabar.


"Tidak ada tuan." sahut security tersebut meski tak yakin.


"Tuan, nona Merry tidak mungkin lewat sini." ucap James saat melihat satu-satunya pintu pagar di belakang kantornya itu masih tergembok rapi.


Lagipula tidak mungkin nyonya mudanya itu memanjat pagar tembok setinggi dua meter tersebut.


"Diamlah, James !!" William terlihat kesal, kemudian ia mendekati pagar tersebut dan samar-samar pria itu nampak mendengar suara perempuan.


"Ayo Sarah cepat angkat." ucap seorang perempuan dari balik tembok tersebut.


"Istriku selalu punya cara, James. Cepat buka pagarnya !!" perintah William kemudian.


Dan benar saja pria itu melihat istrinya sedang berdiri tak jauh dari balik tembok tersebut, wanita itu nampak sibuk menghubungi seseorang hingga tak menyadari sang suami berjalan mendekati.


Ehm


William berdehem kecil hingga membuat Merry langsung menoleh padanya.


Sepertinya sia-sia saja dirinya melarikan diri dengan mengendap-endap menghindari security yang berjaga di gudang belakang kantor dan memanjat pagar tembok setinggi dua meter tersebut.


"Apa yang kau lakukan di sini, apa mau memarahiku lagi? aku tidak takut karena aku tidak salah, kekasihmu itu saja yang menuduhku sembarangan. Lihat saja lain kali aku akan benar-benar mencelakainya, mencekiknya dan menendangnya." teriak Merry dengan berapi-api namun detik selanjutnya wanita itu nampak terkejut saat William tiba-tiba memeluknya dengan erat.


"A-apa yang kamu lakukan ?" Merry nampak bingung dengan sikap suaminya itu.


"Maafkan aku." ucap William kemudian yang sontak membuat Merry melebarkan matanya.


Sepanjang wanita itu mengenal sang suami, baru kali ini pria itu mengucap kata maaf dari bibirnya dan itu membuat hati Merry langsung menghangat.


Namun saat mengingat perbuatan pria itu di kantornya tadi membuat Merry enggan menerima maafnya.


Lagipula istri mana yang tidak sakit hati saat di bentak di depan selingkuhan suaminya sendiri.


Harga diri yang wanita itu junjung tinggi takkan goyah hanya dengan sebuah kata maaf.

__ADS_1


"Kamu bilang apa? aku tidak mendengarnya." Merry berusaha lepas dari pelukan pria itu, namun sepertinya William enggan melepaskannya.


"Aku minta maaf tadi sudah membentakmu." ulang William lagi.


"Apa? Aku tidak mendengarnya." ucap Merry lagi yang memang sengaja ingin membuat pria itu kesal.


William langsung melepaskan pelukannya lalu menatap istrinya itu.


"Aku minta maaf." ucapnya namun sebelum istrinya itu menjawabnya, pria itu sudah membungkam bibir wanita itu dengan ciumannya.


Merry langsung melotot namun siapa yang bisa menolak jika seorang William sudah berkehendak.


Sedangkan James yang sedari tadi berada tak jauh dari mereka langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam area kantor dan membiarkan sepasang suami istri itu menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Lepaskan jangan sembarangan menciumku." Merry langsung mendorong dada William saat pria itu baru saja melepaskan panggutannya.


"Mulai hari ini jangan seenaknya menyentuhku, sentuh saja wanita itu." imbuh Merry bersungut-sungut.


"Apa kau sedang cemburu, hm ?" William bukannya kecewa atas penolakan istrinya itu namun justru nampak gemas.


"Tidak, siapa yang cemburu. Rugi sekali mencemburui pria playboy seperti kamu, sekarang menjauhlah dan biarkan aku pergi dari sini." sungut Merry kemudian.


"Tidak, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa pergi dariku." tolak William, pria itu nampak mengedarkan pandangannya.


Hari mulai gelap dan area belakang kantornya itu adalah hutan kota yang sangat lebat.


"Kenapa tidak bisa? bukannya kamu bisa bebas berhubungan dengan wanita itu tanpa adanya aku." teriak Merry berapi-api menatap suaminya itu.


"Sebentar lagi akan gelap, ayo pergi dari sini." bujuk William kemudian.


"Tidak mau, sekarang kamu pilih aku atau wanita itu !!" ucap Merry dengan tegas, karena saat ini hanya harga dirinya yang ia punya dan ia kan mempertahankannya.


William nampak menghela napas panjangnya. "Aku tidak akan memilih, kalian berdua penting bagiku meski dengan porsi berbeda." sahut William yang langsung membuat Merry melayangkan tamparannya.


Plak


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi pria itu hingga nampak kemerahan dan memanas.

__ADS_1


"Aku sangat membencimu, tuan William." teriak Merry dengan menatap tajam pria itu.


__ADS_2