
"Apa kamu sudah menemukan orang tuaku ?" tanya Merry yang langsung membuat William mengangkat wajahnya menatap istrinya itu.
"Belum." sahutnya lalu kembali menatap ipadnya.
"Kenapa lama sekali, kamu niat nggak sih mencari kedua orang tuaku ?" protes Merry dengan bersungut-sungut.
"Kamu belum memberikan detail informasinya, jadi bagaimana bisa mencari." sahut William dengan enteng.
"A-apa..." Merry nampak tak percaya dengan perkataan suaminya itu yang seperti tak berniat mencari keberadaan orang tuanya.
"Kenapa kamu tidak bertanya padaku ?" Merry langsung turun dari ranjangnya lalu mendekati pria itu.
"Lupa." sahut William lagi-lagi dengan nada santai dan itu membuat Merry semakin kesal.
"Kamu sebenarnya berniat nggak sih mencari orang tuaku? atau jangan-jangan kamu memang tidak berniat mencarinya? kalau begitu biarkan aku pergi dari sini, karena aku bisa mencarinya sendiri." ucap Merry panjang lebar.
William nampak mengeraskan rahangnya. "Jangan harap kamu bisa pergi dari sini, honey." tegasnya menatap istrinya itu.
"Kenapa tidak bisa? memang apa hakmu melarangku ?" Merry nampak di ambang kesabaran, harapannya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya melalui pria itu kini pupus sudah.
"Aku suamimu, bukankah patuh pada suami adalah kewajiban seorang istri." ujar William dengan tegas.
"Tapi aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini, kamu yang telah memaksaku." teriak Merry yang langsung membuat William nampak mengepalkan tangannya.
"Jangan harap kau bisa pergi dari sini." ucapnya seraya beranjak dari duduknya.
"Aku akan tetap pergi, aku tidak mau tinggal bersama bajingan sepertimu !!" teriak Merry menatap tajam suaminya itu.
"Dengarkanlah, bagaimana pun kamu berusaha itu tidak akan pernah terjadi." sinis William, kedua tangannya nampak mencengkeram lengan istrinya itu dengan kuat hingga membuat Merry mendesis kesakitan.
"Sa-sakit." rintih Merry, namun William yang sudah naik pitam nampak tak mempedulikan jeritan wanita itu.
Pria itu terus saja mencengkeram lengan istrinya lalu dengan sekali gerakan Merry langsung terhempas di atas ranjangnya.
"Katakan, apa kamu masih ingin pergi dari sini ?" hardik William menatap tajam wanita itu.
Merry yang terlihat putus asa nampak mengangguk yakin, sebelumnya ia mempercayai pria itu untuk mencari kedua orang tuanya namun pada nyatanya ia hanya di permainkan.
"Aku tidak mau tinggal di sini, kamu dengarkan? aku tidak mau tinggal di sini !!" teriak Merry.
__ADS_1
"Tapi itu tidak mungkin honey, kau adalah milikku dan selamanya akan menjadi milikku." lirih William dengan tersenyum menyeringai.
"Tidak, menjauhkan." Merry nampak memundurkan tubuhnya saat William mulai melepaskan kimono tidurnya lalu melemparnya ke sembarang arah hingga kini menampakkan tubuh setengah polos pria itu.
Otot-otot William terlihat begitu kokoh dan perutnya yang sixpack menambah kesempurnaan tubuh pria itu.
Namun itu justru menakutkan bagi Merry, gadis itu nampak menjauh ke ujung ranjang tapi tangan besar William langsung menarik kakinya hingga kembali ke tengah ranjang.
Sungguh malam itu William terlihat sangat mengerikan di mata Merry, pria itu seolah kembali pada wujud aslinya saat wanita itu baru datang di rumah ini.
Kejam dan tak berperasaan, begitulah William dahulu namun dengan perlahan Merry mampu mengubah sifat dingin pria itu.
"Ku mohon jangan lakukan." Merry nampak meronta saat William merobek pakaiannya lalu membuangnya ke sembarangan arah.
"Apa kamu takut honey ?" William menyeringai saat hendak menarik satu-satunya kain yang menutupi area sensitif wanita itu.
"Will, aku sedang mendapatkan tamu bulanan tolong berhenti !!" teriak Merry sembari terisak dan bersamaan itu ponsel pria itu nampak berdering nyaring.
Saat William menoleh ke arah ponselnya, Merry langsung menendang keperkasaan pria itu dari balik celana boxernya hingga membuatnya mengadu kesakitan.
Kemudian Merry menggunakan kesempatan itu untuk segera beranjak dari kasurnya namun karena terburu-buru wanita itu langsung terjatuh dan kepalanya menghantam pinggiran nakas hingga membuatnya langsung tak sadarkan diri.
"Dasar bodoh." umpat William seraya membawa istrinya itu naik ke atas ranjangnya.
Kemudian mengecek nadi di lehernya lalu segera mengambil kain untuk menghentikan darah yang mengalir di pelipis wanita itu.
"James, segera panggil dokter !!" perintahnya saat menghubungi asistennya itu.
"Akan mudah bagimu jika patuh, honey." gumamnya setelah selesai memakaikan piyama tidur sang istri.
William nampak membelai pipi wanita itu dengan lembut, namun tangannya tiba-tiba bergetar hingga membuat pria itu langsung menarik tangannya kemudian beranjak dari sana.
Beberapa saat kemudian James mengetuk pintu, setelah mendapatkan sahutan dari sang tuan lalu pria itu segera masuk bersama seorang dokter.
"Selamat malam tuan William." sapa dokter paruh baya tersebut yang langsung membuat William yang sedang berdiri menatap jendela kamarnya nampak berbalik badan.
"Segera periksa istri saya dok !!" perintahnya kemudian.
"Apa yang terjadi, tuan ?" tanya sang dokter saat melihat pelipis Merry yang di ikat kain, nampak noda darah di sana.
__ADS_1
James yang melihat itu langsung memperhatikan William, wajah pria itu terlihat khawatir saat melihat tangan William yang bergetar seakan sedang menahan emosi.
"Dia tidak sengaja terjatuh." sahut William menatap istrinya yang nampak tak sadarkan diri.
Dokter tersebut segera memeriksa Merry, lalu menutup luka di pelipis wanita itu dengan kain kasa.
"Nona baik-baik saja tuan, mungkin hanya sedikit terkejut hingga membuatnya tak sadarkan diri. Beristirahat yang cukup akan membuat nona kembali sehat seperti sediakala." ucap dokter tersebut.
"Baiklah, kalau begitu dokter bisa pergi sekarang." ucap William dengan nada dingin.
Dokter tersebut nampak memperhatikan William sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya.
Setelah itu segera berlalu pergi di antar oleh James.
Sementara itu William nampak menatap istrinya. "Semua ini tidak akan terjadi jika kamu patuh honey. Kamu adalah milikku dan sampai kapanpun kamu akan tetap di sini." gumamnya, lalu memperbaiki selimut wanita itu.
Kemudian William segera beranjak meninggalkan kamarnya tersebut.
"James, panggil Hanna untuk menjaga istriku !!" perintah William seraya menuruni anak tangga.
"Baik tuan." sahut James dengan menganggukkan kepalanya.
"Perintahkan juga para pengawal untuk menjaganya di depan pintu !! perintah William lagi.
"Baik tuan." angguk James lalu memberikan kode pada Dalle dan Dallas untuk segera naik ke lantai atas.
Kemudian James yang nampak khawatir dengan keadaan tuannya itu langsung mengikutinya hingga sampai ruang kerjanya.
"Anda baik-baik saja, tuan ?" tanyanya kemudian setelah menutup pintu.
"Pergilah James, saya ingin sendiri !!" perintah William seraya berjalan menuju sebuah rak buku.
"Tapi anda terlihat sedang tidak baik-baik saja tuan, apa perlu saya ambilkan obat." tawar James seraya mengikuti langkah William.
"Saya bilang baik-baik saja, James." William menatap sinis asistennya itu, kemudian mengetuk rak di hadapannya hingga bergeser dan menampakkan sebuah pintu rahasia di sana.
"Tuan..." James terdengar memohon seakan melarang tuannya itu masuk.
Namun William hanya menatapnya sejenak, kemudian segera berlalu masuk ke dalam.
__ADS_1
James yang masih berdiri di depan pintu tersebut nampak menatap kosong, raut wajahnya menyimpan begitu banyak kekhawatiran seakan mengetahui apa yang sedang di lakukan oleh tuannya di dalam sana.