Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~92


__ADS_3

"Akhirnya aku bisa bertemu dengannya, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." gumam Celine setelah keluar dari gedung perkantoran milik William.


Sejak berkiprah di New York 3 tahun lalu, Celine sudah mengangumi sosok William. Pengusaha kaya raya yang hidupnya penuh dengan misteri.


Sosoknya yang tampan sekaligus tegas membuatnya jatuh hati, namun sayang pria itu tak terjangkau olehnya yang hanya seorang model kurang terkenal waktu itu.


Satu tahun kemudian Celine bertemu dengan Alex, pria tampan dan juga kaya raya.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, akhirnya Celine menerima pinangan pria itu setelah beberapa bulan menjalin kedekatan. Namun ia meminta syarat pada suaminya tersebut untuk merahasiakan statusnya karena ia masih terikat kontrak oleh sebuah agency.


Kini setelah rumah tangganya berjalan selama dua tahun, tiba-tiba ia di hubungi oleh orang suruhan William agar bergabung dengan perusahaan pria itu.


Tentu saja itu menjadi angin segar baginya, kini impiannya untuk bisa mendekati pria itu lagi akan segera terwujud.


Beruntung suaminya lebih banyak menghabiskan waktunya di Indonesia mengurus adik kesayangannya itu jadi akan ia gunakan kesempatan ini sebaik mungkin.


"Sayang, kamu lagi apa ?" tanya Alex dari ujung telepon.


"Dalam perjalanan pulang, sayang." sahut Celine dengan lembut, tentu saja ia tak ingin membuat suaminya itu curiga.


Bagaimana pun juga Alex adalah tambang emas yang sudah berada di dalam genggamannya dan ia takkan sebodoh itu melepaskan kecuali William dengan senang hati memilihnya.


"Aku sangat merindukanmu, beberapa hari lagi aku akan sampai di sana." ucap Alex kemudian.


"Kenapa terburu-buru sayang? di sana lebih lama juga tidak apa-apa jika kamu masih ingin mengurus Merry dan kedua orang tuamu." sahut Celine, dirinya takkan mempunyai kebebasan jika suaminya itu berada di sekitarnya.


"Jadi kau tidak kangen padaku ?" Alex terdengar kesal.


"Bu-bukan, bukan begitu. Aku tidak ingin saja setelah sampai sini kamu merasa tidak tenang karena kepikiran adik dan orang tuamu, karena aku juga pasti kepikiran." sahut Celine beralasan.


"Baiklah, kamu jaga diri baik-baik ya. Jika perlu apa-apa katakan saja pada Jack." ujar Alex kemudian.


"Iya sayang, aku baik-baik saja kok jangan khawatir. Lagipula managerku selalu bersamaku dan kamu sendirikan tahu aku kurang terlalu suka dengan orang-orangmu itu." sahut Celine, mengingat suaminya mempunyai beberapa anak buah yang baginya nampak seram tapi ia berpikir mungkin mereka semua adalah petugas keamanan di perusahaan pria itu.


"Ya sudah kalau kamu baik-baik saja, sampai ketemu nanti." ujar Alex lalu mengakhiri panggilannya.


Celine nampak menghela napasnya lega. "Semoga Alex tak cepat kembali." ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Ck, ku harap begitu jika tidak kau tidak hanya kehilangan suamimu yang kaya raya itu tapi juga tuan William karena jika statusmu sampai terbongkar ke publik bisa jadi pria itu akan menuntutmu." manager Celine mengingatkan.


"Tenang saja, aku akan berhati-hati." keukeh Celine.


Sementara itu di tempat lain Alan yang sudah berada di kamar hotelnya nampak menatap jendela kamarnya yang memperlihatkan pemandangan kota di bawahnya.


Tangan kanannya terlihat memegang segelas Wine dan sesekali menyesapnya.


"Apapun akan ku lakukan agar kau bisa menjadi milikku." gumamnya, lalu matanya nampak terpejam membayangkan sosok Merry yang begitu mempesona di matanya.


Sedangkan Merry yang baru kembali dari makan malamnya bersama pria itu nampak kembali ke hotelnya.


"An, tuan Alan menawariku beberapa proyek miliknya jadi sepertinya kita akan lebih lama tinggal di sini." ucapnya pada asistennya tersebut.


"Itu berita bagus bu, saya akan menghubungi kantor pusat untuk menyiapkan semuanya." timpal Anne yang selalu bersemangat jika menyangkut pekerjaan.


"Baiklah, terima kasih sudah selalu bersamaku." Merry merasa bersyukur mempunyai asisten seperti Anne.


Wanita itu dulu adalah asisten Alex namun sejak pria itu memutuskan menetap di Amerika, Anne beralih mengabdi padanya.


"Sama-sama, bu. Lebih baik ibu segera beristirahat, karena akhir-akhir ini ibu terlalu sibuk bekerja." saran Anne.


Sesampainya di kamar hotelnya sendiri, Merry melihat putranya itu sudah tertidur pulas lalu ia melangkah mendekatinya.


"Kau boleh pergi, beristirahatlah di kamar Anne." perintahnya pada pengasuh anaknya tersebut.


"Baik, bu." pengasuh tersebut segera pergi dari sana.


Kemudian Merry nampak mengulas senyumnya ketika menatap Ariel yang sudah terlelap, mengingat bagaimana tingkah putranya tadi saat makan malam bersama Alan.


Ariel bertingkah layaknya William, sangat posesif dan tak membiarkan orang lain menyentuhnya.


Tiba-tiba butiran kristal mengalir dari sudut matanya "Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." ucapnya, tubuhnya nampak luruh ke lantai dengan isakan tangisnya yang semakin kencang.


4 tahun berlalu namun Merry masih menyimpan sepenuh cintanya untuk William, wanita itu selalu membentengi hatinya agar pria lain tak mendekatinya baik itu Alex sekalipun.


Alex yang hampir dua tahun mendekati Merry akhirnya menyerah saat wanita itu tak membalas perasaannya lalu pria itu memutuskan tinggal di Amerika dan menikah dengan wanita lain.

__ADS_1


"Apa salahku, kenapa kau pergi meninggalkanku ?" ucap Merry lagi, wanita itu nampak menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya.


Tubuhnya bahkan bergetar hebat menahan isak tangisnya yang semakin tak terbendung.


...----------------...


"Tuan, anda baik-baik saja ?" James yang sedang menatap ipadnya langsung terkejut saat tuannya itu mendadak mengerem mobilnya.


Siang itu William yang sedang mengemudikan mobilnya sendiri tiba-tiba merasakan dadanya terasa sesak, entah kenapa ia merasa sedih dan emosi bercampur menjadi satu.


"Kau yang mengemudi, James." perintahnya, lantas William segera membuka pintu mobilnya lalu berpindah tempat duduk di kursi belakang.


Sedangkan James yang tadinya duduk di sebelah pria itu kini pindah untuk menggantikannya mengemudi.


"Apa perlu ke dokter, tuan ?" James nampak khawatir, meskipun tuannya itu sudah di nyatakan sembuh namun sejak 4 tahun lalu pria itu kerap tiba-tiba merasakan sesak di dadanya.


Beberapa dokter telah memeriksanya, namun keadaan jantung pria itu sangat sehat.


"Semoga ini tak ada hubungannya dengan nyonya Merry." gumam James seraya menatap tuannya itu dari balik kaca spion depannya.


"Kembali ke mansion saja, James. Sepertinya beristirahat sebentar akan membuatku lebih baik." sahut William.


"Baik, tuan." kemudian James segera melajukan mobilnya kembali.


Beberapa hari kemudian....


"Benar kata Alex, kamu benar-benar wanita hebat." puji Alan siang itu saat makan siang bersama Merry.


Beberapa hari ini mereka kerap bersama karena Alan mengajak Merry untuk ikut menangani sebuah proyek miliknya.


Sebenarnya itu memang rencana Alan sejak lama sebelum bertemu dengan wanita itu, pria itu berusaha melakukan segala cara agar bisa dekat dengannya.


"Jangan terlalu memujiku, nanti aku bisa meleleh seperti jelly kan kamu yang repot." seloroh Merry dan tentu saja membuat Alan langsung tergelak.


Rupanya Merry tak seangkuh yang ia kira, karena sebelumnya wanita itu seolah tak pernah melihatnya padahal beberapa kali bertemu di sebuah gala dinner.


Namun saat sudah mengenalnya lebih jauh, rupanya wanita itu benar-benar hangat dan membuatnya semakin jatuh hati.

__ADS_1


"Oh ya aku mendapatkan sebuah undangan dari tuan Weslyn, besok beliau akan mengadakan pesta peresmian cabang perusahaannya di sini. Maukah kau menemaniku ?" ucap Alan namun itu justru membuat Merry langsung tersedak.


__ADS_2