Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~121


__ADS_3

"Katakan di mana nyonya Merry dan keluarganya berada? jangan bilang kau pura-pura lupa setelah ini." tuding James saat wanita di sampingnya itu tak kunjung menanggapi perkataannya.


"Astaga, sabar kenapa ?" gerutu Anne seraya mengelap bibirnya dengan tisu, wanita itu tetap bersikap santai meski pria di sebelahnya siap mencincangnya hidup-hidup.


"Kau seperti mengulur-ulur waktu nona." tukas James dengan tak sabar, jiwa mafianya meronta ingin memaksa wanita itu dengan kekerasan namun pria itu berusaha menahannya.


"Baiklah, bu Merry pergi ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya nanti juga pasti kembali." sahut Anne lagi-lagi dengan nada santai.


"Di mana ?" ucap James dengan masih mencoba bersabar.


"Ya mana aku tahu, orang beliau tak bilang mau pergi kemana." sahut Anne yang langsung membuat James benar-benar ingin memakan wanita itu.


"Rupanya kau sedang ingin bermain-main denganku, nona ?" geramnya.


"Tidak." sahut Anne.


"Kalau begitu katakan dengan benar kemana nyonya Merry dan keluarganya pergi ?" tanya James lagi dengan setengah emosi.


"Aku bilang tidak tahu tuan James, bu Merry tak mengatakan apapun." keukeh Anne.


James nampak menghela napasnya sejenak, pintar sekali wanita di sebelahnya itu berkelit.


"Apa kau suka padaku nona? pura-pura mengetahui informasi perihal nyonya Merry tapi sebenarnya hanya ingin makan bersamaku." ejeknya yang langsung membuat wanita itu melotot.


"Siapa yang suka sama kamu? amit-amit ya." Anne langsung memukul-mukul meja hingga beberapa pengunjung menatap ke arahnya bahkan pemilik warteg pun langsung menegur mereka.


"Kalau ribut perihal rumah tangga jangan di sini, ini tempat makan buat bukan rumah kalian." tegur sang pemilik warteg.


"Iya atuh neng ngebahas rumah tangga mah di atas kasur saja biar cepat beres." timpal salah satu pengunjung di sana yang langsung membuat wajah Anne memerah, lalu wanita itu segera beranjak dari sana setelah membayar.


"Sial, ini semua gara-gara kamu." umpatnya dengan kesal sambil menuding ke arah James.

__ADS_1


"Dasar wanita stres." balas James dengan tak kalah kesal, seandainya wanita itu bukan orang terdekat sang nyonya mungkin pria itu sudah menghabisinya.


"Apa kamu bilang? aku masih waras ya." Anne langsung mendekati pria itu.


Namun saat pandangan mereka bertemu dari jarak yang sangat dekat membuat jantung Anne berdebar tak karuan, bagaimana pun juga pesona pria itu tak bisa ia pungkiri.


"Sudahlah aku bilang tidak tahu ya tidak tahu." Akhirnya Anne menjaga jarak lalu segera meninggalkan pria itu, sebenarnya wanita itu tahu keberadaan mantan bossnya tersebut namun ia tak ingin berhianat.


"Sial, buang-buang waktu saja." gerutu James lalu pria itu segera menghubungi anak buahnya yang ia kerahkan untuk mencari sang nyonya.


Keesokan harinya....


Pagi itu William nampak keluar dari dalam mobil mewahnya, pandangan pria itu langsung ke atas gedung pencakar langit di depannya tersebut.


Gedung perkantoran milik keluarga Alan yang mungkin sebentar lagi akan beralih menjadi miliknya.


"Silakan tuan, para pemegang saham sudah menunggu anda di dalam." ujar James.


Sementara itu di tempat lain di sebuah ruang meeting tuan Regi nampak murka saat jabatannya sebagai direktur utama di usulkan di copot oleh para pemegang saham.


"Tapi sejak beberapa bulan ini harga saham kita terus anjlok dan anda sedikit pun tak ada usaha untuk memperbaikinya." timpal salah satu dari mereka.


"Benar dan sebaiknya anda segera mundur jika memang sudah tak becus memimpin perusahaan ini." timpal yang lainnya lagi.


"Ck, kalian pikir siapa yang mampu memimpin perusahaan ini selain saya hah !!" ejek tuan tuan Regi dengan menatap mereka satu-persatu.


"Tentu saja ada tuan dan sebentar lagi beliau akan datang." ucap mereka.


"Siapa hah? anak-anak kalian ?" Tuan Regi nampak tertawa mengejek dan bersamaan itu pintu ruangan meeting di buka dari luar dan membuat mereka semua menatap kehadiran seseorang yang telah di nanti-nantikan.


"Kau? siapa kamu beraninya masuk kesini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ?" tegur tuan Regi saat melihat William melangkah masuk.

__ADS_1


"Jaga bicara anda tuan, beliau adalah pemilik 60% saham di sini." tegas James hingga membuat tuan Regi langsung melebarkan matanya.


"Kau sedang becandakan ?" ucapnya tak percaya.


"Tidak tuan, kami sudah menjual sebagian saham kami pada tuan William dan sekarang perusahaan ini sepenuhnya menjadi kuasa beliau." timpal salah satu dari mereka.


"Apa? itu tidak mungkin." Tuan Regi terlihat sangat syok.


"Selamat datang tuan William, semoga dengan kepimpinan anda di sini perusahaan ini akan lebih maju dari sebelumnya." ucap beberapa pemegang saham di sana.


"Terima kasih atas dukungannya, tapi saya akan menyerahkan kursi kepimpinan pada mantan istri saya yaitu nyonya Merry Martin dan seluruh saham akan saya alihkan kepada putra saya." tegas William hingga membuat semua peserta meeting nampak terkejut apalagi tuan Regi yang terlihat memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.


"Berhubung mantan istri saya lagi liburan jadi untuk sementara waktu tuan James yang akan menggantikannya." imbuh William lagi seraya menunjuk asistennya tersebut dan langsung mendapatkan tepuk tangan riuh dari mereka semua.


"Oh ya tuan Regi, jika anda berminat menjual saham anda yang 20% itu asisten saya siap membelinya." ucap William sambil melihat ke arah Tuan Regi.


"Kau ?" pria itu terlihat geram dengan penghinaan yang di lontarkan pria itu padanya.


"Sepertinya asisten saya siap membantu jika anda butuh banyak uang sebagai jaminan putra anda di penjara meski itu tak cukup membantu." imbuh William lagi dan langsung membuat tuan Regi bangkit dari duduknya.


"Saya bersumpah kalian semua akan saya balas." umpatnya lalu segera meninggalkan ruangan meeting tersebut.


Melihat kepergian pria itu William nampak tersenyum sinis, akhirnya ia bisa membalas perbuatan orang-orang yang menyakiti mantan istrinya itu.


Dan untuk perusahaannya tersebut ia memang memberikannya pada wanita itu namun ia takkan membiarkannya bekerja lagi.


"Tuan, saya mendapatkan informasi penting." ucap James setelah mereka meninggalkan ruangan tersebut.


"Katakan, apa ini mengenai putraku ?" William nampak tak sabar mendengarnya, karena saat ini informasi yang paling penting baginya hanya mantan istri dan putranya.


"Benar tuan, nyonya Merry dan keluarganya di bawa tuan Alex ke Amerika dua hari yang lalu, mereka berangkat dari luar kota maka dari itu kami sulit melacaknya." terang James.

__ADS_1


"Bagus James, kamu memang bisa ku andalkan. Sudah ku tebak Alex pasti akan membawa mereka ke sana dan itu semakin memudahkan ku untuk menemukannya." William nampak lega.


"Segera atur keberangkatanku James, saya sudah tak sabar bertemu dengan mereka !!" perintah William yang langsung di anggukin oleh asistennya tersebut.


__ADS_2