
"Astaga nyonya, syukurlah anda di sini." Rose nampak panik saat tak menemukan Anne di cafetaria, padahal sebelumnya ia hanya berpamitan sebentar untuk ke toilet tadi tapi wanita itu tiba-tiba sudah menghilang dari sana.
"Aku sedang mencari angin." timpal Anne tanpa perasaan bersalah dan Marco yang mungkin menyadari kedatangan Rose, pria itu segera pamit pergi.
"Tapi anda membuat saya sangat khawatir." Rose nampak mengatur napasnya yang terengah-engah.
"Aku membawa ponselku, kenapa kamu tidak telepon atau melacak keberadaanku ?" timpal Anne yang masih nampak asyik makan padahal sekretaris suaminya itu terlihat pucat pasi karena panik mencarinya.
"Itu yang saya lakukan nona, ngomong-ngomong siapa pria yang memakai masker tadi ?" tanya Rose mengingat dari kejauhan ia melihat seorang pria yang sedang berbicara dengan wanita itu.
"Hanya pengunjung seperti yang lainnya." dusta Anne.
"Syukurlah." Rose nampak lega, lagipula daerah sekitar kantornya sangatlah aman. Ada beberapa pos polisi di sekitar sana jadi tingkat kejahatan di daerah tersebut hampir tak ada.
"Kamu belum makan siangkan? ayo makan bersamaku." Anne menyodorkan sebungkus sandwich pada wanita itu.
Kemudian mereka nampak makan bersama seraya mengobrol ringan dengan di selingin candaan, Anne baru menyadari ternyata Rose yang memiliki wajah datar seperti sang suami rupanya mempunyai selera humor yang tinggi hingga membuatnya betah berlama-lama ngobrol bersamanya.
Sore harinya Anne merasakan tiba-tiba perutnya kram, padahal seharian ini ia lebih banyak beristirahat dari pada bekerja.
"Bi Ester, bisa mampir ke dokter sebentar ?" mohonnya setelah mobil yang menjemputnya melaju membelah jalanan.
"Anda baik-baik saja, nyonya ?" wanita berusia 40 tahunan itu nampak menoleh ke belakang.
"Tiba-tiba perutku kram." sahut Anne dengan sedikit meringis menahan sakit.
"Bertahanlah nyonya, sebentar lagi kita akan sampai." Bi Ester segera melajukan mobilnya saat jalanan mulai kosong.
"Apa perlu saya hubungi tuan James nyonya ?" tawar Bi Ester seraya mengawasi nyonya mudanya itu melalui kaca spion depannya.
"Tidak, jangan lakukan itu. Dia sedang banyak pekerjaan aku tidak ingin mengganggu." Anne langsung menolak, lagipula ia yakin janinnya baik-baik saja.
Karena ia mantan seorang perawat jadi tahu kondisi tubuhnya seperti apa, hanya saja ia juga ingin memastikan perkembangan bayinya.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah sakit dan dokter kandungan segera memeriksanya.
__ADS_1
"Bagaimana dok, apa kandungan saya baik-baik saja ?" Anne nampak menatap layar monitor meminta penjelasan saat dokter melakukan USG pada perutnya.
"Baik-baik saja bu, perkembangan janin juga signifikan. Mungkin akhir-akhir ini ibu terlalu banyak pikiran jadi mudah tegang." terang dokter tersebut.
"Syukurlah." Anne nampak lega.
Setelah berkonsultasi sesaat, Anne segera meninggalkan ruangan dokter tersebut lalu menuju apotek untuk mengambil beberapa vitamin.
"Bi aku tunggu di Cafe sana saja ya, aku tiba-tiba lapar." ucap Anne seraya menunjuk sebuah Cafe yang berada tak jauh dari sana.
Kemudian wanita itu segera memesan berbagai cemilan dan mencari tempat duduk yang kebetulan lumayan ramai malam itu.
"Tuan Marco ?" Anne nampak melihat Marco sedang duduk seorang diri dengan menatap ponsel di tangannya.
"Boleh aku duduk di sini ?" ucap Anne tiba-tiba yang langsung membuat Marco menatapnya tak percaya.
"Kamu ?"
"Tentu saja, ayo duduklah." Marco langsung mempersilakan wanita yang akhir-akhir ini berhasil mengusik pikirannya itu untuk segera duduk di hadapannya.
"Terima kasih, kamu sedang apa di sini ?" tanya Anne kemudian, tidak mungkin kan pria itu mengikutinya bisa gagal rencananya nanti.
"Kau alergi asap rokok ?" tanya Marco kemudian.
"Begitulah, aku tidak menyukai semua jenis polusi." sahut Anne, tentu saja karena itu akan membahayakan janin dalam kandungannya.
"Baiklah, aku tidak tahu jika kamu akan datang. Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan di sini ?" Marco mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang bersama wanita itu.
"Aku sedang menemani bibiku." sahut Anne.
"Bibi ?" Marco mengernyit.
"Iya, hanya dia satu-satunya keluargaku. Karena kedua orang tuaku sudah tiada." sahut Anne sedikit berdusta.
"Benarkah ?" Marco tiba-tiba merasa iba.
__ADS_1
"Si4l4n, kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali iba."
"Hm, ibuku bunuh diri sejak aku masih kecil." sahut Anne di tengah kunyahannya dan itu membuat Marco langsung menatapnya terkejut.
"Kamu sendiri berapa saudara? semoga kehidupanmu tak semenyedihkan sepertiku." imbuh Anne lagi.
Marco nampak terdiam, rupanya kehidupannya tak lebih buruk dari kehidupan wanita di hadapannya itu. Menjadi seorang anak broken home membuatnya selama ini selalu bersikap semena-mena hanya untuk menutupi ketidak bahagiaannya.
"Sama sepertimu, sejak kecil orang tuaku sudah bercerai." sahut Marco, untuk pertama kalinya ia menceritakan kehidupan pribadinya pada seseorang.
Anne nampak mengangguk kecil. "Tapi menjadi baik atau buruk itu adalah pilihan, meski selama ini aku merasakan ketidakadilan tapi aku tetap memilih menjadi baik dan aku merasakan ketenangan dengan itu." timpal Anne kemudian.
Ia tahu Marco tak lebih seperti dirinya dan ia ingin meyakinkan pria itu jika menjadi baik tak seburuk bayangannya, ini semua ia lakukan demi suaminya.
Anne ingin mengakhiri permusuhan di antara mereka yang entah di mulai sejak kapan, sungguh Anne sudah jengah dan ingin menjalani kehidupan normal seperti orang lain.
"Sepertinya aku harus kembali, bibiku sudah selesai dan aku tidak ingin dia melihatmu karena pasti nanti akan memarahiku." ucap Anne saat melihat Bi Ester baru keluar dari tempat pengambilan obat, kemudian ia segera beranjak dari duduknya.
"Kamu tahu, dia sangat galak." imbuhnya lagi sembari terkekeh dan itu membuat Marco nampak menaikkan sudut bibirnya seraya menatap kepergian wanita itu hingga menghilang dari pandangannya.
"Sial, lagi-lagi aku lupa meminta nomor kontaknya."
Marco nampak menghempaskan punggungnya di sandaran sofa belakangnya, lalu memejamkan matanya.
"Menjadi baik atau buruk itu adalah pilihan, meski selama ini aku merasakan ketidakadilan tapi aku tetap memilih menjadi baik dan aku merasakan ketenangan dengan itu."
Tiba-tiba ucapan wanita itu kembali terngiang-ngiang di benaknya dan itu membuat kepala Marco langsung berdenyut nyeri.
"**1*."
Keesokan harinya....
Dua hari tanpa kehadiran sang suami membuat Anne merasa sangat kesepian, dia merindukan pria itu.
"Kemarin aku tak sengaja melihat seseorang sedang mengunjungi dokter kandungan, sepertinya dia sedang mengandung anak haram pria yang entah siapa." ucap seseorang yang langsung membuat Anne menghentikan langkahnya, lalu menatap beberapa wanita yang sedang menatap ke arahnya dengan pandangan merendahkan.
__ADS_1
"Siapa yang hamil ?" tiba-tiba nyonya Darrien yang datang bersama Jennifer langsung bertanya.
"Tentu saja wanita ini, entah hasil perbuatannnya dengan tuan James? tuan William? atau pria lain di luaran sana yang telah ia goda." timpal salah satu dari mereka dan tentu saja itu membuat Jennifer langsung memicing.