Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~205


__ADS_3

Attention content ini mengandung 17+


Saat sedang berselisih dengan sang ibu tiri, Anne nampak menatap beberapa petugas polisi yang baru memasuki pagar rumahnya dan seketika ia langsung tersenyum miring.


"Silaunya harta memang terkadang membuat seseorang menjadi bodoh." ucapnya dengan menekankan kata-katanya yang tentu saja membuat ibu tirinya itu sangat geram, kemudian melangkah mendekatinya.


"Anak kurang ajar, aku pasti akan melenyapkanmu." Nyonya Kartika langsung menyerang Anne secara membabi buta dan tanpa sepengetahuannya beberapa petugas kepolisian menyaksikan perbuatannya.


Anne sengaja tidak melawan karena itu akan ia jadikan sebagai barang bukti atas kasus penganiayaan terhadap dirinya.


"Berhenti nyonya !!" ucap seorang petugas seraya mendekat untuk menghentikan wanita paruh baya itu yang semakin hilang kendali memukuli Anne.


"Lepaskan saya !!" teriak nyonya Kartika saat kedua tangannya di pegang paksa oleh para petugas.


"Segera jebloskan wanita itu ke penjara !!" perintah James kemudian.


"Kamu baik-baik saja ?" James yang baru kembali dari kantor polisi nampak khawatir saat melihat istrinya yang acak-acakan akibat perbuatan sang ibu tiri.


"Hm." Anne mengangguk kecil.


"Maaf aku datang terlambat, lagipula kenapa kamu tidak melawan saat dia memukulimu ?" James merasa bersalah sekaligus kesal sama istrinya karena diam saja ketika di pukuli oleh wanita itu.


"Aku sengaja melakukannya saat melihatmu datang dengan para petugas, aku sengaja memancing emosinya dan pasti dia akan memukuliku karena itulah yang biasa dia lakukan padaku selama ini jadi paling tidak aku punya alasan untuk membuatnya mendekam di penjara." terang Anne seraya merapikan rambutnya yang acak-acakan.


"Dasar ceroboh, bagaimana jika dia melukai bayi kita hm ?" James nampak menahan emosinya.


"Kamu tenang saja itu tidak akan terjadi, dia hanya memukuli kepalaku." Anne mencoba meyakinkan.


"Baiklah, lain kali jangan seperti itu lagi. Lagipula tanpa kamu mengorbankan diri, wanita itu dan Tasya sudah di pastikan akan mendekam di penjara karena kejahatan mereka tidak main-main. Selama ini mereka dengan sadar telah menyimpan uang hasil korupsi Arya." terang James yang langsung membuat Anne nampak melebarkan matanya tak percaya.


"Bagaimana kamu bisa tahu ?" Anne langsung menatap curiga suaminya itu, baru kemarin pria itu datang bagaimana bisa tahu semua.


"Kamu selalu saja meragukan ku." cibir James menatap istrinya itu dengan lekat.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu." Anne langsung memalingkan wajahnya dan berlalu menjauhi pria itu, jantungnya selalu tak aman jika mereka bersitatap dalam waktu yang lama.


Namun bukan James jika membiarkan wanita itu pergi begitu saja. "Kamu mau kemana, hm? urusan kita belum selesai." ucapnya seraya memeluk pinggang istrinya itu dengan posesif, seakan tak membiarkan wanita itu pergi barang sejengkal pun.


"Aku mau bersiap-siap dahulu, lagipula urusan apalagi yang belum selesai ?" sahut Anne tak mengerti.


"Kemarin kamu masih berduka jadi aku membiarkanmu,tapi kali ini kamu tidak bisa lolos lagi." terang James dengan pandangan sangat menginginkannya dan itu membuat Anne nampak menelan ludahnya.


"Bu-bukankah sebentar lagi kita akan berangkat ?" Anne tergugu saat wajah suaminya semakin mendekat.


"Sebentar saja." sahut James.


"Hei mana bisa seperti it...." Anne langsung menghentikan ucapannya saat tiba-tiba bibirnya di bungkam oleh suaminya itu dengan ciumannya.


Ciuman lembut yang mampu membuat tubuh Anne merinding seketika, apalagi saat tangan pria itu mulai menelusup masuk ke dalam pakaian yang ia kenakan.


Meraih apa yang pria itu inginkan lalu m3r3m4s gundukan kenyal miliknya yang masih tertutup oleh kain bra.


Ciuman pria itu yang tadinya lembut kini semakin lama semakin menuntut hingga membuat tubuh Anne bergetar tak karuan sampai tak menyadari jika kancing pakaiannya nyaris terbuka semua.


Karena kini James nampak meninggalkan beberapa kissmark kemerahan di leher wanita itu, menggigitnya kecil-kecil lalu sesekali menghisapnya dengan kuat hingga membuat istrinya itu meloloskan d3s4h4n dari bibir tipisnya.


Lalu tiba-tiba pria itu menarik tubuhnya dari sana saat mengingat sebentar lagi pesawat yang membawanya ke Amerika akan segera take off padahal istrinya itu mulai terbawa suasana.


"Ayo, pergi." ucapnya dengan perasaan tak berdosa dan tentu itu membuat Anne sedikit kecewa, bagaimana pun juga wanita itu sudah di buat melayang meski hanya dengan permainan bibirnya.


"Aku tahu kamu juga menginginkannya tapi bukan di sini tempatnya." bisik James yang langsung membuat wajah Anne memerah bak kepiting rebus.


Apa pria itu sedang mempermainkannya? Anne langsung bersungut-sungut. "Siapa yang menginginkannya? lagipula kita pasti akan ketinggalan pesawat jika melakukan itu." ucapnya dengan sinis lalu segera memperbaiki pakaiannya yang berantakan.


James nampak tersenyum kecil, kemudian segera membawa wanita itu pergi dari sana.


"Semoga kita tidak ketinggalan pesawat." ucap Anne saat kendaraan yang membawa mereka terjebak macet.

__ADS_1


"Tidak akan." timpal James yang terlihat sibuk dengan macbook di tangannya.


"Tapi ini sangat macet, aku tidak yakin kita akan sampai dalam waktu 30 menit." sahut Anne seraya menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tidak akan terlambat, percayalah." timpal James dengan menahan senyumnya saat melihat istrinya itu mulai tak sabar, ia senang wanita itu begitu antusias untuk kembali ke Amerika bersamanya.


Dan ia berjanji akan selalu menjaganya sepanjang hidupnya mengingat kini wanita itu sebatang kara setelah ayahnya tiada.


"Kalau kita berangkat lebih awal tidak akan semacet ini, ini semua gara-gara kamu." gerutu Anne, harusnya ia sudah berangkat dari tadi tapi gara-gara ulah pria itu yang nyaris membuatnya tak berbusana hingga membuat mereka harus terjebak macet.


"Diamlah sayang, kamu mengganggu konsentrasiku bekerja." tukas James yang terlihat sibuk di depan layar monitornya.


Anne nampak mengerucutkan bibirnya, bagaimana bisa pria itu sesantai itu padahal mereka nyaris ketinggalan pesawat.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di Bandara dan segera menuju sebuah private jet.


"Tunggu !!" Anne langsung menghentikan langkahnya.


"Apa kita akan naik pesawat itu ?" tanyanya kemudian seraya menatap private jet tak jauh di hadapannya itu.


"Hm, apa ada masalah ?" James menautkan kedua alisnya menatap istrinya itu.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi jika kita akan naik pesawat itu? tahu gitu kita tidak usah terburu-buru dan panik seperti tadi." gerutu Anne dengan kesal.


"Sepertinya kamu sangat menyesal karena kita tak melanjutkan yang di rumah tadi ?" goda James yang langsung membuat wajah Anne memerah.


"Dasar mesum." umpatnya dengan kesal.


"Jika kamu mau kita bisa melanjutkannya di dalam sana." ucap James seraya melangkahkan kakinya meninggalkan istrinya yang masih enggan untuk melangkah.


"Apa dia bilang tadi ?" Anne nampak tak begitu jelas mendengar ucapan sang suami karena angin di sana yang sangat kencang.


"Cepatlah, apa kamu mau ku tinggal !! teriak James saat hendak menaiki anak tangga pesawat, sementara sang istri masih berdiam di tempatnya.

__ADS_1


"Dasar suami tak berperasaan." umpat Anne seraya mengejar pria itu dengan kesal.


__ADS_2