Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~124


__ADS_3

"Katakan kabar apa itu ?" William nampak tak sabar saat asistennya memberikan kabar baik untuknya.


"Nyonya Merry bekerja part time di hotel anda, tuan." sahut James yang langsung membuat seorang William mimicing.


"Apa? kamu tidak sedang becandakan ?" ucapnya tak percaya, bagaimana bisa mantan istrinya yang mantan seorang CEO tiba-tiba menjadi pelayan di hotelnya.


"Itu benar tuan dan bukankah itu kabar baik untuk anda ?" sahut James.


"Ya kau benar, buat dia terikat dengan hotel itu James hingga takkan bisa kabur lagi." perintah William dengan tegas.


"Baik tuan, apa anda akan segera kesana ?" tanya James lagi.


"Tentu saja tapi tidak sekarang, kamu tahu sendirikan pekerjaan ku masih menumpuk dan kurasa wanita itu akan kabur jika melihatku jadi sepertinya aku harus menyusun sebuah rencana dahulu." sahut William.


"Anda benar tuan, nyonya Merry sangat keras kepala." timpal James.


"Tapi aku mencintainya James." ucap William dengan menekankan kata-katanya seakan melarang pria itu untuk tidak mengatai buruk tentang wanita itu.


"Maaf tuan." James langsung menunduk.


Sementara itu di tempat lain saat petang mulai datang Celine dan sang manager nampak pergi ke sebuah club malam.


Tinggal jauh dari sang suami membuat wanita itu merasa bebas dari pengawasan pria itu.


Kini wanita itu nampat meliukkan tubuhnya mengikuti irama musik yang memekikkan telinganya.


"Hai manis." ucap seorang pria bertubuh kekar dengan tato di seluruh lengannya.


"Hai juga tampan." sahut Celine sembari masih menggoyangkan tubuhnya, sepertinya wanita itu sangat menikmati hari bebasnya sebelum kembali berkutat dengan jadwal catwalk serta pengambilan foto.


"Kau sangat cantik dan sepertinya wajahmu tak asing." ucap pria tersebut yang kini menggunakan tubuh kekarnya untuk melindungi wanita itu dari beberapa pria yang nampak sangat menginginkannya.


"Benarkah ?" Celine berucap dengan nada menggoda, Celine sangat tahu siapa pria itu yaitu seorang mafia yang sangat berkuasa di kota tersebut selain William tentunya.


"Hm, sepertinya menghabiskan malam panjang bersamamu adalah suatu penghormatan bagiku." ucap pria tersebut yang kini mulai berani memeluk pinggang wanita itu.


"Tentu saja, hanya khusus buatmu tuan." sahut Celine seraya mengedipkan sebelah matanya.


Setelah itu pria tersebut langsung membawa wanita itu keluar dari lantai dansa.


Brukkk


Namun tiba-tiba seorang pelayan tak sengaja menabrak mereka atau justru mereka yang menabrak karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman beralkohol.


"Apa kau tidak mempunyai mata ?" teriak Celine menatap kesal gadis pelayan tersebut.


"Maaf nona, apa anda terluka ?" gadis itu merasa bersalah meski ia tak merasa menabraknya.


"Bodoh !!" umpat Celine dengan geram.

__ADS_1


"Sudahlah sayang jangan merusak mood kita malam ini." pria yang bernama Marco itu langsung membawa Celine menjauh dari sana.


"Itu bukannya nona Celine model yang sedang naik daun itu ya, cantik sekali tapi sayangnya sangat kasar." gumam gadis tersebut kemudian kembali bekerja.


Sementara itu Celine yang kini sudah berada di kamar hotel nampak berada di bawah kungkungan Marco.


Peluh dan keringat sudah membasahi tubuh keduanya seiring aktivitas panas yang mereka lakukan di atas ranjang empuknya.


Setiap hentakkan yang pria itu lakukan selalu membuat wanita itu mendesah kencang.


"Kau sangat nikmat sayang." racau sang pria saat kejantanannya keluar masuk liang kenikmatan wanita itu.


Nampaknya mereka enggan untuk cepat mengakhirinya, karena keduanya kini mencoba berbagai posisi percintaan meski sudah beberapa kali mendapatkan pelepasannya.


Keesokan harinya....


Pagi itu Celine nampak bersiap meninggalkan hotel karena William tiba-tiba menghubunginya.


Wanita itu nampak tersenyum tipis saat melihat seorang pria yang masih terlelap tidur seusai percintaan panas mereka semalam.


"Kita ke New York, tuan ?" Celine nampak menelan ludahnya saat William dan James sudah menunggunya di bandara.


Bagaimana tidak, New York adalah rumahnya bersama sang suami. Semoga saja keberadaannya di sana bersama William tak di ketahui oleh pria itu mengingat suaminya itu sangat pecemburu.


"Hm, aku ada sedikit pekerjaan di sana baru kita lanjut ke tempat tujuan." sahut William.


"Sepertinya kau kurang tidur, bukannya aku menyuruhmu untuk tetap bugar jika bekerja denganku ?" William nampak memperhatikan mata panda Celine.


"Lain kali kurangi job di luar pekerjaanmu sebagai brand ambasador di perusahaanku, karena tugasmu di sini tidak hanya di media elektronik tapi juga sesekali terjun langsung ke lapangan jika di butuhkan." tegas William.


"Baik tuan." Celine mengangguk setuju, ia bukannya tersinggung namun justru bangga karena menurutnya perkataan pria itu seolah sebagai sebuah perhatian untuknya.


Setelah menempuh 3 jam penerbangan kini mereka telah sampai di tempat tujuan.


"Selama aku ada pekerjaan di sini, kamu silakan liburan tapi saat ku butuhkan kau harus siap ku hubungi." ucap William setelah keluar dari sebuah pesawat.


"Baik, tuan." sahut Celine, inilah yang Celine suka dari seorang William pria yang sangat dominan dan suka memerintah tidak seperti suaminya yang menurutnya kurang tegas karena selalu mengikuti kemauannya dan itu sangat membosankan menurutnya.


Setelah itu mereka berpisah di bandara, William bersama James tentu saja pergi ke hotelnya sedangkan Celine bersama managernya memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


"Sayang, kau sudah pulang? kenapa tidak memgabariku dahulu aku kan bisa menjemputmu di bandara." Alex yang hendak masuk ke dalam mobilnya urung ia lakukan saat melihat istrinya tersebut datang bersama sang manager.


"Kebetulan aku longgar jadi mau kasih kejutan ke kamu." sahut Celine yang kini sudah berada dalam pelukan suaminya itu.


"Apa kau mau ke kantor ?" tanya Celine saat melihat pria itu nampak rapi dengan setelan kantornya.


"Tadinya tapi sepertinya harus ku tunda." sahut Alex dengan nada menggoda dan Celine langsung paham dengan maksud pria itu.


Ah tidak, wanita itu sangat lelah karena percintaannya bersama Marco semalam dan rasanya ia tak kuat harus mengimbangi tenaga suaminya yang tak pernah lelah saat berada di atas ranjang bersamanya.

__ADS_1


"Aku sangat lelah sayang, semalaman aku ada pemotretan hingga larut malam." tukas Celine dengan nada mengiba.


"Baiklah aku mengerti, beristirahatlah dan siapkan tenagamu untuk nanti malam." ucap Alex lalu mengecup bibir wanita itu sekilas, setelah itu Alex segera berpamitan pergi.


"Percintaanmu semalam tak meninggalkan bekas di tubuhmu kan ?" sang manager langsung mengingatkan setelah kepergian Alex.


"Tenang saja aku main aman dan tak pernah lupa juga pakai pengaman, lagipula penting bagiku untuk mendekati Marco sementara waktu karena William sepertinya sangat sulit ku dekati." sahut Celine, baginya sangat penting mempunyai seseorang yang berpengaruh di negara tersebut untuk menunjang karirnya.


"Baiklah." managernya tersebut hanya bisa pasrah, toh jika wanita itu sukses dirinya juga pasti sukses.


Kemudian Celine segera masuk ke dalam rumahnya, mata wanita itu langsung melotot saat melihat beberapa mobil-mobilan milik Ariel berserakan di lantai.


"Astaga, sudah berapa kali aunty katakan jika habis bermain itu di rapikan kembali." teriaknya pada Ariel yang nampak sedang bermain seorang diri di ruang tamunya.


"Aliel macih main aunty, nanti atu lapikan talau udah celecai." sahut Ariel.


"Jawab terus kalau di kasih tahu ya." sinis Celine dengan tak sabar.


"Astaga kak, kenapa harus berteriak sih nanti pasti Ariel rapikan lagi kalau sudah selesai." Merry yang baru keluar dari kamarnya langsung menegur Celine.


"Makanya kalau punya anak itu di urus yang benar, udah tahu anak haram juga kelakuannya tidak di jaga." ucap Celine dengan nada mengejek.


"Kak...." Merry langsung menatap tajam kakak iparnya tersebut.


"Baiklah-baiklah, lalu kamu mau pergi kemana ?" ucap Celine kemudian saat melihat penampilan adik iparnya itu yang sudah rapi.


"Beberapa hari ini saat Ariel sekolah, aku kerja part time di hotel." sahut Merry.


"Jadi pelayan ?" tanya Celine dengan pandangan merendahkan.


"Hm, tapi aku menikmati pekerjaan itu." sahut Merry.


"Pekerjaan itu memang cocok buat kamu." Celine benar-benar tak mengira adik iparnya yang tadinya seorang CEO lebih memilih pekerjaan rendahan seperti itu tapi bagus juga karena suaminya takkan lagi mengagung-agungkan wanita itu lagi seperti dulu.


"Oh ya bisa buatkan aku jus !!" imbuhnya kemudian pada adik iparnya tersebut.


"Aku akan menyuruh pelayan." sahut Merry.


"Bukankah kau sekarang juga seorang pelayan ?" ejek Celine dengan memindai pakaian pelayan yang di pakai oleh wanita itu.


Namun sepertinya Celine hanya ingin mengejek karena setelah itu wanita itu memilih berlalu ke kamarnya di lantai atas.


Merry yang merasa kakak iparnya tak begitu menyukainya hanya bisa menghela napasnya, sepertinya ia harus mencari pekerjaan lain dengan gaji yang lebih tinggi agar bisa segera pindah dari rumah kakaknya tersebut.


Setelah mengantar putranya ke sekolahnya, Merry segera pergi ke hotel tempatnya bekerja.


"Nona Merry pak manager memanggilmu." ucap salah satu rekannya.


"Memanggilku kenapa ?" Merry nampak terkejut, perasaan ia tak melakukan kesalahan sebelumnya.

__ADS_1


"Kurang tahu, tapi segera temui beliau di ruangannya sepertinya ada yang penting." perintah rekannya tersebut.


"Hm." Merry mengangguk kecil, kemudian segera pergi ke ruangan sang manager dengan perasaan gusar semoga ia tak di pecat.


__ADS_2