
"Sayang, hari ini aku ada pemotretan dekat kantormu. Kita berangkat bersama ya." ucap Natalie seraya berjalan mendekati William.
Tanpa berbasa-basi wanita itu langsung menarik kursi di samping kanan William lalu duduk tepat di hadapan Merry.
William yang sedang mengunyah sarapannya nampak melirik ke arah istrinya yang terlihat cuek.
"Aku membawakanmu suplemen, akhir-akhir ini kamu sepertinya terlalu lelah bekerja." Natalie mengambil sebuah botol suplemen dari dalam tasnya lalu meletakkannya di hadapan William.
"Aku baik-baik saja Nat, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku." sahut William dengan mengulas senyum tipisnya.
"Cari perhatian." gumam Merry seraya menggigit roti di tangannya dengan rakus.
"Ada pakaian dari brand favoritku yang baru launching, kamu mau kan nanti siang menemaniku belanja? sepertinya kita sudah lama tidak pernah belanja bersama. Lihatlah, pakaianmu juga perlu di ganti dengan yang baru." Natalie nampak memegang kemeja William lalu sedikit merapikannya.
"Matre dan gatal." gumam Merry lagi saat melirik Natalie dari ekor matanya.
Lagi-lagi William nampak menatap istrinya yang terlihat sama sekali tak terganggu oleh perbuatan Natalie padanya.
Lalu pria itu menghela nafas kasarnya. "Baiklah, nanti ku temani jika tidak sibuk." sahutnya kemudian yang langsung membuat Natalie girang.
"Terima kasih, sayang." sahutnya seraya memeluk lengan William, lalu menyandarkan kepalanya sejenak di sana.
"Murahan." gumam Merry lalu memakan sisa rotinya dengan lahap dan sekuat tenaga seakan roti tersebut adalah Natalie.
Merasa engap dengan pemandangan di depannya itu, Merry nampak meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja.
Kemudian wanita itu mengirim sebuah pesan, setelah terkirim lalu segera menghapusnya.
Dan tak berapa lama ponselnya langsung berdering nyaring yang sontak membuat William mengawasinya.
"Iya hallo, Jason." ucap Merry saat baru mengangkat panggilannya, wanita itu nampak tersenyum nyengir saat William dan Natalie memperhatikannya.
"Hm, aku juga sangat merindukanmu dan Sarah." ucap Merry lagi yang langsung membuat William memicing menatapnya.
"Aku kuliah sampai sore, tapi nanti siang aku ada jam kosong. Baiklah, nanti kita bertemu di tempat biasa ya." Merry terlihat sangat santai berbicara dengan teman kuliahnya itu tak peduli bagaimana sang suami sudah mulai keluar tanduknya.
Ehmm
William nampak berdehem, namun sepertinya istrinya itu tak mengindahkannya. Wanita itu justru terus bercerita dengan sang penelpon.
"Hm, aku baik-baik saja." ucap Merry lagi.
"Iya jangan khawatir, sebentar lagi aku sampai." imbuhnya lagi lalu mengakhiri panggilannya, setelah itu Merry segera beranjak dari duduknya.
"Siapa yang menghubungimu ?" geram William saat istrinya itu hendak melangkah.
__ADS_1
"Teman kuliah." sahut Merry.
"Siapa ?" tanya William lagi.
"Jason." sahut Merry.
"Pria ?" William menatap tajam gadis di depannya itu.
"Iya tentu saja, memang ada gitu namanya Jason tapi perempuan." Merry nampak menaikkan sebelah alisnya menatap suaminya itu, tak ada rasa takut di hatinya karena ia menilai jika pria itu bisa berbuat apapun dengan wanita lain kenapa dirinya tidak bisa.
William mengepalkan tangannya. "Siapa yang menyuruhmu berteman dan berbicara dengan pria itu ?" hardiknya kemudian.
Natalie yang berada di samping pria itu langsung menengahi. "Sudahlah sayang, namanya juga anak-anak biarkan mereka mempunyai banyak teman. Lagipula seusia ponakanmu ini memang sudah pantas pacaran." ucapnya meyakinkan.
Namun bukannya membuat William lebih baik, pria itu justru naik pitam.
"Nat, pergilah bersama bersama James. Saya akan mengantar dia ke kampusnya." William langsung menarik pergelangan tangan istrinya itu.
"Tapi, Will..." ucapan Natalie tertahan saat William mengangkat tangannya.
Akhirnya Natalie mengalah lalu melangkahkan kakinya mengikuti pria itu di belakangnya.
William nampak membuka pintu mobilnya dengan kasar lalu menyuruh Merry untuk segera masuk lalu pria itu memutari mobilnya menuju kursi kemudinya.
"Sayang, nanti siang jadi kan ?" teriak Natalie saat akan memasuki mobil James.
"Baiklah, terima kasih." Natalie langsung mengulas senyum manisnya.
Merry yang berada di kursinya nampak tersenyum miring menatap Natalie, karena ternyata dirinya yang lebih di utamakan oleh William dari pada wanita itu dan menghubungi Jason adalah salah satu rencananya.
Kini mobil William nampak melaju kencang meninggalkan mansionnya hingga membuat Merry segera berpegangan.
"Siapa pria itu ?" ucapnya kemudian.
"Jason, hanya teman kuliah." sahut Merry.
"Siapa yang menyuruhmu berteman dengannya ?" tanya William lagi.
"Jason pria yang baik dan menyenangkan, semua orang pasti ingin berteman dengannya." sahut Merry kemudian.
"Jauhi dia !!" perintah William yang langsung membuat Merry melotot menatap pria tersebut.
"Tuan William yang terhormat, apa ada alasannya kenapa saya harus menjauhi Jason ?" Merry yang mulai kesal nampak menggunakan bahasa formal.
Mendengar ucapan istrinya, William langsung mengerem mendadak hingga membuat Merry hampir terjatuh.
__ADS_1
"Jika saya perintahkan untuk menjauhinya, maka jauhi dia !!" ucapnya dengan menatap wanita itu.
Merry bukannya takut namun justru ikut menatap balik suaminya itu bahkan wanita itu juga nampak mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan ?" William memicing saat istrinya mendekatkan wajahnya.
"Apa tuan William yang terhormat ini sedang cemburu ?" ucap Merry lirih namun sukses membuat seorang William langsung salah tingkah.
"Omong kosong." William langsung melajukan mobilnya kembali.
Merry yang kembali bersandar di kursinya nampak mencebik, karena sulit sekali baginya memahami perasaan pria itu.
"Belajar yang benar, nanti jam makan siang saya tunggu di sini. Terlambat satu menit saja maka hukuman akan menantimu nyonya Smith." tegas William saat baru menghentikan mobilnya di depan kampus sang istri.
"Bukannya kamu akan pergi dengan Natalie, pergilah aku...." ucapan Merry tertahan saat suaminya itu memotong perkataannya.
"Tugasmu hanya patuh honey, bukan mencari alasan." tegas William.
"Baiklah." akhirnya Merry mengalah lalu segera turun dari mobilnya.
Wanita itu nampak mengulas senyumnya saat melangkah pergi, entah kenapa rasanya senang sekali saat melihat suaminya itu marah seakan sedang cemburu.
Sedangkan William yang masih berada di balik kemudinya nampak mengawasi istrinya itu masuk ke dalam gedung kampus tersebut.
Sepanjang wanita itu melangkah terlihat beberapa pemuda nampak menatapnya bahkan beberapa ada yang menyapa secara langsung dan itu membuat seorang William langsung geram.
"Apa mereka sudah bosan hidup ?" gerutunya kemudian.
Setelah memastikan istrinya masuk ke dalam gedung universitasnya, William segera melajukan mobilnya meninggalkan area kampus tersebut.
Sementara itu di dalam kelasnya Merry nampak bersua dengan teman-temannya, mereka terlihat saling berpelukan dan di lanjutkan dengan bercengkerama bersama sembari menunggu kelas di mulai.
"Mer, apa kamu sudah mendengar berita terbaru di kampus ini ?" tanya Sarah kemudian.
"Tidak, kamu tahu sendirikan aku baru masuk." Merry langsung menggeleng cepat.
"Kamu tahu, beberapa hari yang lalu Lucy di temukan tewas di tengah jalan dengan keadaan mengenaskan dan polisi menyatakan jika dia sengaja menabrakkan diri." terang Sarah yang sontak membuat Merry tercengang.
"Apa kamu yakin ?" ucapnya tak percaya.
"Tentu saja itu kan hasil penyelidikan dari polisi, sepertinya Lucy mengalami gangguan jiwa karena di keluarkan dari kampus dan kamu tahu, perusahaan keluarganya juga mendadak bangkrut." sahut Sarah berapi-api, sepertinya gadis itu sedikit pun tak merasa iba mengingat perilaku Lucy yang selama ini selalu semena-mena di kampusnya.
Merry nampak terdiam. "Apa William yang melakukannya ?" gumamnya dalam hati, seketika gadis itu mengingat kamar rahasia yang berada di dalam ruang kerja suaminya itu.
Di mana waktu itu, ia mendengar suara teriakan seorang wanita yang sedang kesakitan.
__ADS_1
"Aku harus segera mencari tahu." gumamnya kemudian.