Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~82


__ADS_3

"Kamu di larang masuk oleh tuan Martin, tolong jangan persulit kami." cegah beberapa pria bertubuh gempal saat William hendak masuk ke dalam mansion di hadapannya itu.


Tentu saja William masih sangat mengenal pria-pria tersebut, pernah tinggal bertahun-tahun dalam satu atap membuatnya tak mungkin lupa begitu saja dengan mereka.


"Minggirlah, aku ingin bertemu istriku." tegas William.


"Aku tidak peduli bagaimana kamu sekarang tapi ini adalah perintah dan perintah tuan Martin mutlak bagi kami." tegas Jack, pria 37 tahun yang sudah bertahun-tahun menjadi kepercayaan Martin itu langsung mengambil sikap.


William nampak menghela napasnya, rupanya Martin sudah menyiapkan orang untuk menghadangnya dan ia harus segera mencari jalan lain.


"Kita sudah lama kenal, tidakkah kau sedikit iba padaku? aku bukanlah penjahat, aku hanya seorang suami yang ingin bertemu istrinya." ujar William namun Jack dan beberapa pengawalnya tetap bergeming.


Dan pada akhirnya William menyerah lalu kembali ke dalam mobilnya.


Pria itu nampak menyandarkan tubuhnya di kursi mobilnya, setelah tak berhasil menghubungi ponsel Martin dan ponsel istrinya pun entah kemana karena sejak penculikan waktu itu ponselnya sudah tak dapat di hubungi.


Hingga beberapa hari kemudian William tetap berusaha datang ke Mansion Martin setiap hari namun hasilnya tetap nihil bahkan Martin lebih banyak menambahkan bodyguard di rumahnya.


Sepertinya Martin benar-benar ingin memisahkannya dengan sang istri, tapi William tak menyerah begitu saja.


Setiap saat pria itu selalu menunggu istrinya di depan mansionnya berharap gadis itu melihat keberadaannya.


"Daddy, ini sudah lebih dari satu minggu tapi William belum juga menjemputku. Aku khawatir padanya Dad, bisakah Daddy mengantarku pulang ?" mohon Merry pagi itu, semalam gadis itu gelisah dan keesokan harinya rasa rindunya pada William tak bisa ia bendung lagi.


"Itu berarti dia tidak mencintaimu." sahut Martin seraya membaca surat kabar di tangannya.


"William mencintaiku, Dad." keukeh Merry yang langsung membuat Martin menoleh ke arah putrinya tersebut.


"Kalau dia mencintaimu pasti akan datang kemari." ujarnya, kemudian melipat surat kabar di tangannya lalu meletakkannya kembali di atas meja.


Melihat remot yang tergeletak di atas meja, Martin langsung mengambilnya lalu menyalakan televisi yang berada tak jauh di hadapannya itu.


"William mengatakan dia sangat mencintaiku bahkan dari dulu semenjak aku masih kecil." ucap Merry dengan wajah sedihnya.


Martin nampak mengernyit saat melihat berita pagi di televisi tersebut, sebuah berita bisnis yang menguak kehidupan pribadi salah satu pengusaha muda di negerinya tersebut.


"Itu yang kamu bilang mencintaimu ?" cibir Martin seraya menunjuk televisi di hadapannya itu.

__ADS_1


Merry yang melihat sosok suaminya di dalam televisi langsung beranjak bangkit.


Di sana nampak William bersama seorang wanita dan anak kecil sedang di kejar oleh beberapa wartawan, terlihat jelas sekali wanita itu adalah Elena dan saat melihat bagaimana suaminya itu melindungi Elena dari wartawan membuatnya mendadak cemburu.


"Percayalah, William tak sebaik yang kau kira." ujar Martin mengingatkan putrinya tersebut.


"Kau baru tumbuh dewasa nak, tidak semua yang kau anggap baik itu memang baik. Jadi lebih baik lupakan pria itu, Daddy tidak mau kau kecewa di kemudian hari." imbuh Martin menasihati, kemudian pria paru baya itu bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan sang putri yang masih tercengang melihat berita di televisi tersebut.


Merry terlihat menitikkan air matanya. "Apa cinta yang kau katakan padaku itu hanya bohong belaka ?" gumamnya kemudian.


"Tidak, aku tidak akan percaya. Lebih baik aku memastikannya sendiri." Merry segera mengusap air matanya lalu bangkit dari duduknya.


"Dad, ku mohon biarkan aku menemui William sekarang." mohonnya saat memasuki kamar ayahnya, namun gadis itu langsung terperanjat saat melihat sang ayah nampak tak sadarkan diri di atas lantai.


"Dad, kau baik-baik saja ?" Merry segera mendatangi sang ayah.


"Kak Alex, Daddy pingsan." teriaknya kemudian dan tak berapa lama Alex langsung datang.


"Dad, bertahanlah." Alex segera membawa ayahnya itu ke atas ranjangnya, kemudian pria itu segera menghubungi dokter.


"Apa Daddy akan baik-baik saja ?" Merry nampak menangis di pelukan Alex saat seorang dokter sedang memeriksa ayahnya.


"Daddy pasti kuat." Alex mencoba menenangkan Merry.


"Dok, bagaimana keadaan ayah kami ?" tanya Alex kemudian saat dokter baru selesai memeriksa Martin.


"Beliau belum sepenuhnya pulih dan harus beristirahat total jika tidak keadaannya akan semakin bertambah parah." ujar dokter tersebut.


"Nona tolong jaga ayah anda baik-baik, usahakan jaga emosinya karena tekanan darah beliau terlalu tinggi." imbuh dokter lagi menatap Merry.


"Tentu saja dok, aku akan selalu berada di sampingnya." sahut Merry, ia bersyukur ayahnya baik-baik saja dan ia berjanji akan selalu berada di sisihnya.


Sejak saat itu Merry perlahan melupakan niatnya untuk mencari William, ayahnya benar jika William mencintainya pasti akan mencarinya namun hingga hampir satu bulan pria itu tak kunjung menemuinya.


Bahkan pria itu lebih memilih menghabiskan waktunya bersama putrinya dan juga Elena.


"Aku kecewa padamu Will." gumamnya kemudian.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain William nampak menemani putrinya tidur, sudah beberapa hari ini Emely sakit dan menginginkan kehadirannya.


Sebagai seorang ayah tentu saja William takkan bisa menolak, meski ia tak pernah mencintai ibunya tapi bagaimana pun juga Emely adalah darah dagingnya.


"Apa dia sudah tidur ?" tanya Elena setelah William keluar dari kamar Emely.


"Baru saja." sahut William


"Apa istrimu baik-baik saja saat kau menginap di sini ?" pancing Elena ingin tahu.


"Merry bersama ayahnya." sahut William seraya melangkahkan kakinya ke ruang kerjanya.


"Jadi tuan Martin sudah di temukan ?" Elena nampak terkejut namun juga merasa lega, itu berarti hubungan pria itu dan istrinya sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Hm." William terlihat malas menanggapi, pria itu lebih memilih menghempaskan bobot tubuhnya di kursi kerjanya lalu mulai menghidupkan macbook di hadapannya.


"Baiklah, bekerjalah aku tidak akan mengganggumu. Terima kasih sudah menyempatkan waktumu untuk menemani Emely." ujar Elena.


"Dia putriku jadi sudah sewajarnya aku menemaninya." tegas William menatap wanita itu.


Elena nampak mengangguk kecil kemudian segera meninggalkan ruangan kerja pria itu.


"Aku yakin hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, sudah ku bilang pada akhirnya kamu pasti akan jatuh ke pelukan ku Will dan tinggal menunggu waktunya saja." gumam Elena seraya melangkahkan kakinya pergi, sepertinya wanita itu sudah tak sabar menunggu waktu itu tiba.


Selepas kepergian Elena, William nampak menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Aku sangat merindukan mu, bersabarlah besok aku akan menjemputmu apapun yang terjadi bahkan melawan ayahmu sekali pun." gumam William bertekad.


Sementara itu Merry yang tak beranjak dari sisih sang ayah selama beberapa hari ini tiba-tiba merasakan perutnya sangat mual, lalu gadis itu segera berlari ke dalam kamar mandi.


"Kamu baik-baik saja, Nak ?" Martin yang sudah terlihat sehat langsung mendatangi putrinya tersebut.


Huekkk


Merry terus saja memuntahkan isi perutnya dan itu membuat Martin langsung panik.


"Lex, segera panggil dokter !!" teriaknya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2