Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~168


__ADS_3

"Lupakan omong kosongmu itu, ku harap kau bisa bekerja dengan profesional tanpa mencampur adukkan masalah pribadi." tegas James saat tiba-tiba istrinya itu meminta bercerai.


"Kenapa ?" ucap Anne singkat.


"Kenapa ?" ulang James menatap istrinya itu.


"Kenapa kamu masih mempertahankan pernikahan ini? jika kamu pun tak suka menjalaninya. Bukankah jika kita berpisah kamu akan lebih leluasa untuk berhubungan dengan kekasihmu itu ?" terang Anne, sungguh ia tak ingin terjebak dalam hubungan yang rumit.


Lagipula ia sudah bekerja dan mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa berharap belas kasih pria itu.


"Lupakan ide gilamu itu dan kembalilah bekerja karena sampai kapan pun kita tidak akan pernah bercerai." tegas James lalu kembali duduk di kursinya.


"Kenapa tidak bisa? apa kamu takut dengan tuan William? Hei tuan James, pernikahan memang bisa di paksakan tapi tidak dengan hati. Kita bisa mencari alasan untuk berpisah dan bukankah lebih baik kita berteman saja, kau juga bisa melanjutkan hubunganmu dengan wanita itu." ucap Anne , sepertinya wanita itu sudah bulat dengan keputusannya hingga tak ada kemarahan di setiap kata-kata yang ia lontarkan justru terdengar seperti sebuah bujukan.


James nampak terdiam, harusnya ini kesempatan yang bagus untuknya. Ia bisa bekerja sama dengan wanita itu untuk mencari alasan yang tepat pada sang tuan tapi kenapa tiba-tiba ia tak rela. Ada apa dengannya?


"Kembalilah bekerja, aku sedang sibuk !!" akhirnya hanya itu kata yang terlontar dari bibirnya.


"Hm, tentu saja. Ku tunggu jawabanmu segera dan untuk bonus buat karyawan ku harap kau mulai mempertimbangkannya agar mereka lebih bersemangat lagi." sahut Anne menatap suaminya itu, pandangan mereka nampak bertemu sejenak lalu wanita itu segera membuang wajahnya dengan berlalu pergi dari sana.


Setelah kepergian Anne, James nampak menghempaskan punggungnya di sandaran kursi belakangnya. Pria itu terlihat memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.


Lalu pandangannya tertuju ke arah berkas yang di berikan oleh istrinya itu tadi, kemudian ia segera memeriksanya. Keuntungan hari itu ternyata melebihi keuntungan dalam sebulan, karena akhir-akhir ini pasar sedang lesu dan manager marketing sebelumnya sedikit pun tak mempunyai inovasi untuk menggaet konsumen.


Namun wanita itu mampu membuktikan kemampuannya. "Menarik, aku semakin ingin melihat sejauh mana kemampuanmu itu." gumamnya kemudian.


Sementara itu Anne yang sudah selesai dengan pekerjaannya, bergegas meninggalkan kantornya sore itu. Wanita itu harus berjalan hampir satu kilo menuju stasiun.


"Ibu naik kereta juga ?" tanya Andrew tiba-tiba saat Anne duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Hm." Anne mengangguk kecil.


"Ibu yang sabar ya tuan James memang seperti itu, tapi sebenarnya beliau sangat baik." tukas Andrew mengingat sepanjang mereka meeting managernya dan wakil direkturnya itu selalu bersitegang.


"Baik apanya yang ada dia selalu bikin darah tinggiku naik." timpal Anne dengan tersenyum sinis.


"Sepertinya Ibu sudah mengenal tuan James sebelumnya ya, karena kalian terlihat tidak canggung satu sama lain." Andrew terlihat penasaran mengingat mereka bukan seperti bos dan bawahan tapi lebih seperti teman dekat yang sedang tidak akur.


"Kenal biasa saja dan itu tak penting." sahut Anne lalu membuka botol minumnya dan segera membasahi tenggorokannya yang kering.


"Semoga saja tuan James cepat menikah agar tidak terlalu galak." ucap Andrew yang langsung membuat Anne tersedak.


"Anda baik-baik saja bu ?" Andrew terlihat khawatir.


"Hm." Anne hanya mengangguk kecil.


Kemudian Andrew melanjutkan perkataannya. "Karena dahulu tuan William juga sangat galak, tapi setelah menikah beliau jarang sekali marah dan siapa tahu jika tuan James juga menikah beliau lebih bisa mengolah emosinya." ucapnya.


"Maksud Ibu pak James sudah menikah ?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Bu-bukan begitu, namanya sifat itu susah di rubah Drew. Lagipula laki-laki seperti dia memang ada yang mau ?" Anne langsung meralat perkataannya.


"Banyak bu, semua karyawan wanita di kantor juga mengidolakan beliau tapi sepertinya mereka sudah tak ada harapan karena tuan James sudah mempunyai kekasih." tukas Andrew menjelaskan.


"Benarkah kamu tahu dari mana ?" pancing Anne.


Andrew segera membuka ponselnya lalu menunjukkan sebuah potret James yang sedang memeluk seorang wanita cantik berambut blonde.


"Ini seperti wanita yang ada di supermarket waktu itu."

__ADS_1


Anne menatap dalam foto itu dan di sana terlihat jika James sangat menyayangi wanita itu di lihat dari cara pria itu memeluknya dan mengusap puncak kepalanya.


Kenapa tiba-tiba hatinya sedikit nyeri? Anne langsung memalingkan wajahnya, ia tidak mungkin menyukai pria brengsek itu. Mungkin karena dirinya masih menjadi istri sah pria itu yang tentu saja harga dirinya terinjak-injak jika sang suami bermesraan dengan wanita lain apalagi sampai menjadi konsumsi publik.


Beberapa saat kemudian Anne berpisah dari Andrew karena ia sudah sampai di stasiun tujuannya, rupanya asistennya itu rumahnya lebih jauh namun pria yang mungkin seumuran dengannya itu terlihat selalu semangat.


Anne segera melangkahkan kakinya meninggalkan stasiun tersebut, ia harus berjalan satu kilo lagi hingga sampai di kompleks perumahannya.


Namun kali ini ia merasa seperti sedang di ikuti oleh seseorang, hingga membuatnya beberapa kali menoleh ke belakang atau mengedarkan pandangannya ke kanan dan kirinya.


Tak berapa lama ia sampai juga di kompleks perumahannya dan sekali lagi ia menoleh ke belakang namun tak ada siapapun di sana.


"Mungkin hanya perasaanku saja." gumamnya.


"Nyonya, anda dari mana sedari tadi saya menunggu di kantor tapi kata karyawan lain anda sudah pulang." ucap Mark saat Anne baru tiba di depan gerbang rumahnya.


"Aku naik kereta." sahut Anne.


"Kenapa anda tidak menghubungi saya, transportasi umum sangat berbahaya untuk anda nyonya." Mark terlihat sangat khawatir.


"Aku tidak mempunyai nomormu dan bahaya kenapa? aku tidak mempunyai musuh di luar sana jadi ngapain aku takut." Anne mengernyitkan dahinya menatap sopirnya itu.


"Tuan James yang mempunyai banyak musuh nyonya." sahut Mark yang sepertinya keceplosan karena pria itu segera meralatnya.


"Maksud saya sebagai seorang pebisnis, tuan James pasti mempunyai beberapa pesaing dan saya khawatir anda yang akan menjadi sasarannya." ucapnya menjelaskan.


"Jika mampu bersaing dengan sehat kenapa takut? kecuali suamiku seorang mafia mungkin itu semua bisa terjadi. Tapi itu tidak mungkin kan? aku yakin tuan William dan tuan James bukan orang seperti itu." timpal Anne, kemudian ia membuka gerbang rumahnya.


"Tapi jika kamu tidak merasa repot, mulai besok kamu bisa antar jemput saya ke kantor." imbuh Anne lagi seraya menatap sopirnya itu sejenak, lalu ia segera masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Baik nyonya." Mark sedikit membungkuk, lalu pria itu menatap kepergian istri bossnya itu hingga menghilang dari balik pintu rumahnya.


"Semoga sebelum anda mengetahui semua tentang tuan James, anda sudah jatuh cinta padanya nyonya. Karena di saat itu tiba saya yakin anda tidak akan tega meninggalkannya."


__ADS_2