Istri Kedua Tuan Mafia

Istri Kedua Tuan Mafia
Part~111


__ADS_3

"Sayang, kamu mandi dulu ya. Setelah ini kita sarapan di bawa." perintah Merry pada sang putra.


"Baik mommy, tapi Daddy tinggal di cinikan ?" tanya Ariel memastikan.


"Tentu saja sayang." kali ini William yang menjawabnya.


"Holeee." Ariel bersorak senang, kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Siapa yang mengizinkanmu tinggal di sini ?" tanya Merry setelah putranya itu menutup pintu kamar mandinya.


"Tentu saja putraku." sahut William kemudian mendekati ranjang milik Ariel lantas merebahkan tubuhnya di sana.


"Will, kamu tidak bisa seenaknya tinggal di sini. Apa kamu lupa kita sudah bercerai dan tak sewajarnya orang yang bukan pasangannya tinggal dalam satu atap, apa kata orang nanti." tegas Merry menatap mantan suaminya dengan jengah.


"Aku sangat lelah, biarkan aku tidur sebentar." timpal William lalu memejamkan matanya.


"Kalau kamu mengantuk segera pulang dan tidur di rumahmu sendiri." geram Merry, pria itu seakan memanfaatkan putranya untuk kepentingannya sendiri.


Merry langsung menarik tangan William agar segera bangun, namun tenaganya yang tak seberapa tak mampu membuat pria itu bergeming dari sana. Justru dirinya yang tiba-tiba jatuh ke atas tubuh mantan suaminya itu.


"Lepaskan, a-apa yang kamu lakukan !!" protes Merry saat pria itu justru memeluk tubuhnya dengan posesif.


"Kau sedang membangunkan singa yang sedang tidur, honey." lirih William sembari menatap wanita cantik berada di atasnya itu.


"Tolong lepaskan aku." mohon Merry kemudian, berada dalam pelukan pria itu membuat napasnya tiba-tiba terasa sesak.


"Seorang singa mana mungkin melepaskan buruannya yang tiba-tiba menawarkan diri." cibir William, pria itu nampak meresapi setiap napas hangat wanita itu yang menerpa lembut wajahnya.


"Siapa yang menawarkan diri, kamu yang menarikku." Merry nampak bersungut-sungut, namun itu justru membuat seorang William terkekeh.


"Kamu sangat cantik." pujinya kemudian, mereka nampak bersitatap satu sama lainnya.


Entah siapa yang mulai hingga tanpa mereka sadari kini bibir keduanya sudah saling menempel.


Pertemuan dua benda kenyal itu sontak menimbulkan desiran aneh di setiap aliran darah mereka.


"Ahh." lenguhnya saat lidah mereka saling bertaut, saling mencecap dan menyesap bersama untuk melampiaskan rindu yang membuncah di dada.


Wanita itu seakan tersihir oleh sentuhan mantan suami yang sebenarnya sangat ia rindukan.

__ADS_1


Berbagi peluh dan kenikmatan bersama seperti dahulu seringkali merasuki jiwanya saat ia sedang sendiri.


Namun saat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana Merry langsung kembali pada kesadarannya, itu semua tidak benar karena mereka bukan lagi pasangan halal seperti dahulu kala.


"Kau melampaui batas." ucapnya seraya memaksa bangkit dari atas tubuh pria itu.


Wanita itu segera merapikan penampilannya yang berantakan, wajahnya terlihat memerah atas apa yang mereka lakukan tadi.


"Kau bahkan sangat menikmatinya." cibir William saat melihat bibir wanita itu yang sedikit bengkak karena ulahnya.


"Kamu selalu saja memanfaatkan keadaan." tuding wanita itu, mulai hari ini ia harus berhati-hati jika berdekatan dengan pria itu.


"Atu cudah celecai mommy." tiba-tiba Ariel membuka pintu dengan handuk menutupi tubuhnya.


"I-iya sayang, mommy akan segera mengambil pakaian gantimu." Merry segera melangkah menuju lemari dan itu tak luput dari pengawasan pria itu.


William semakin yakin jika perasaan wanita itu tidak pernah berubah, wanita itu tetap menginginkannya dan itu membuat otaknya banyak menemukan ide-ide licik.


"Baiklah, Daddy tunggu di bawah ya." ucap William seraya bangkit dari tidurnya, kemudian berlalu keluar dari kamar tersebut.


Merry yang melihat itu nampak bernapas lega, ia merutuki dirinya sendiri yang hilang akal saat berada di dekat pria itu.


"Mommy kenapa ?" tanya Ariel saat melihat ibunya itu nampak frustasi.


"Tidak sayang, mommy baik-baik saja." sahut Merry seraya tersenyum gemas pada putranya tersebut.


Beberapa saat kemudian mereka nampak berada di meja makan, menyantap sarapan bersama layaknya keluarga kecil yang berbahagia.


"Kenapa Daddy tidak tinggal di cini aja ?" tanya Ariel siang itu saat ayahnya itu hendak berpamitan pulang, sebenarnya pria itu ingin tinggal lebih lama bahkan menginap kalau bisa namun melihat mantan istrinya yang sedang tak bersahabat membuatnya harus tahu diri.


"Sayang, dengerin Daddy. Sebenarnya Daddy ingin sekali tinggal di sini tapi mommy tidak mengizinkan, tapi Daddy janji besok akan datang lagi. Apa kamu mau di antar sekolah oleh Daddy ?" William nampak memberikan pengertian pada putranya tersebut.


"Kenapa tidak bica Daddy? teman atu Daddy dan Mommynya tinggal berlcama." Ariel terlihat sedih dan itu membuat William nampak kesal pada mantan istrinya itu karena demi egonya harus mengorbankan perasaan putranya.


"Begini sayang, mommy dan Daddy telah berpisah jadi kami tidak mungkin tinggal bersama. Tapi jika Ariel mau kita tinggal bersama, Ariel harus membantu Daddy untuk membujuk Mommy." William mulai melancarkan aksinya membujuk putranya tersebut.


"Gitu ya Daddy ?" tanya Ariel kemudian.


"Tentu saja sayang." sahut William dengan gemas, pria itu masih tak percaya jika sudah mempunyai putra sebesar itu.

__ADS_1


"Tapi kata mommy, Daddy Alan juga akan menjadi Daddy atu." terang Ariel, bocah kecil itu mengingat ibunya sering mengatakan jika Alan akan menjadi ayahnya meski sebenarnya ia tak menyukai pria itu.


"Apa kamu suka sama Daddy Alan ?" tanya William yang langsung membuat bocah itu menggelengkan kepalanya.


"Atu cukanya cama Daddy." Ariel langsung memeluk ayahnya tersebut.


"Daddy juga, sayang." William balas memeluk putranya dengan erat.


Merry yang baru keluar dari dalam rumahnya nampak mengernyit saat melihat ayah dan anak itu sedang berbincang akrab.


Baru kali ini ia melihat putranya itu banyak bicara dengan seorang pria, bahkan dengan Alex pun bocah kecil itu hanya berbicara jika sedang di tanya saja.


Ehmm


Tiba-tiba Merry berdehem yang langsung membuat mereka menoleh ke arahnya.


"Ini sudah siang, apa kamu tak berniat untuk pulang ?" sindir Merry dengan melipat tangan di dadanya.


William yang memang akan pulang nampak mendesah kasar.


"Baiklah sayang, Daddy pulang dulu ya. Ingat yang tadi. oke ?" ucapnya berpamitan pada putranya tersebut.


"Baik Daddy." Ariel mengacungkan jempolnya dan itu membuat Merry nampak menatap curiga, entah apa yang sedang mereka rencanakan.


"Kamu tidak sedang mempengaruhi putraku yang aneh-aneh kan ?" tudingnya pada mantan suaminya itu.


"Ck, jangan terlalu percaya diri." sahut William dan bersamaan itu ponselnya nampak berdering nyaring.


"Ya, Vi. Baiklah aku akan segera kesana." ucapnya setelah mengangkat panggilan di ponselnya tersebut.


"Baiklah sayang, sepertinya mommy Vivian ingin segera bertemu Daddy. Apa kamu ingin titip salam padanya ?" ucap William menatap putranya tersebut.


"Hm, tentu caja." angguk Ariel dan itu membuat Merry langsung memicing, rasanya tidak rela jika putranya itu menganggap wanita lain sebagai ibunya juga.


Setelah itu William kembali memakai kaca mata ribennya lalu bergegas meninggalkan rumah tersebut.


Merry yang masih menatap kepergian mantan suaminya itu terlihat gelisah, apa keputusannya sudah benar ?


"Mommy kenapa ?" tanya Ariel saat menatap ibunya yang sedang melamun.

__ADS_1


"Nggak sayang, ayo masuk." sahut Merry lalu segera mengajak putranya itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


__ADS_2